Najwa menghela nafas. "Baiklah, aku terima tawaranmu. Dengan syarat! Jangan pernah menyentuhku tanpa izin! Ok?!" Najwa menyodorkan tangannya pada Ray. Memasang wajah serius.
Rey tersenyum senang, menerima sodoran tangan Najwa. "Deal!"
oOo
Yeye : "Ya? Saya Ye--"
... : "Mana sayangku Ra--"
Tut...
"Haaah..." Bruk. Yeye memukul meja kerjanya sendiri, mendengus kesal. "Itu panggilan telepon ke-62 siang ini. Aku bisa gila kalau Ray belum mengumumkan tentang pacarnya ke publik!" Yeye meremas rambutnya, depresi berat. Melirik jam tangannya. "Sudah pukul 2 siang, kemana perjaka itu pergi?!" Yeye menggerutu sendiri, menyandarkan punggungnya ke kursi.
Perjaka yang dicari Yeye akhirnya datang juga, mengandeng seorang wanita cantik dengan kemeja hitam dan rambut yang kini sudah tergerai.
Yeye yang tadi sudah siap untuk mengomeli Ray jadi terdiam, pudar sudah semua niatnya untuk mengomeli Ray. Yeye menyelidik Najwa dari atas sampai bawah, tersenyum tipis, menghela nafas. "Pilihan yang bagus Ray!" seru Yeye senang, langsung menarik tangan Najwa, duduk di hadapannya saat ini. "Berapa bayaran yang kamu butuhkan?" tanya Yeye langsung.
Najwa tersenyum tipis, menggeleng. "Saya tidak butuh bayaran apa-apa."
Kening Yeye berkernyit, menatap Ray yang pura-pura memalingkan wajah-- melihat vas bunga.
Hanya hitungan detik, Yeye sudah berdiri di depan Ray, meminta penjelasan.
Ray menghela nafas, menyapu wajahnya. "Aku membutuhkan dia, dan dia membutuhkanku, jadi kau tak perlu membayarnya Ye. Kau tak perlu sampai tau apa yang dia butuhkan dariku bukan? Tenang saja, ini tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan," jelas Ray.
Yeye menatap tajam, menyelidik. "Baiklah." Yeye meninggalkan Ray, kembali duduk di kursinya. "Nona Najwa, saya sudah tau siapa Anda, jadi Anda tak payah memperkenalkan diri. Bisa nanti sore saya langsung menyebarkan berita bahwa kalian berpacaran?" tanya Yeye memastikan, meminta persetujuan Najwa.
Najwa diam sejenak, melirik Ray yang nampak berpikir.
"Jangan sekarang Ye. Sebarkan berita bahwa kami berpacaran seminggu lagi," ujar Ray. Memasang mimik wajah serius.
"Kenapa?" tanya Yeye kaget.
Ray tersenyum tipis. "Tenang saja, ini akan menguntungkan kita." Ray menyodorkan tangannya pada Najwa. "Aku akan antar dia ke depan dulu, kita bisa bahas urusan itu nanti."
Yeye menghela nafas, terserahlah.
Najwa mengacuhkan sodoran tangan Ray, dia bisa berdiri dan melangkah sendiri. Ray menghela nafas, menarik kembali tangannya. Melangkah bersama Najwa keluar perusahaan.
Yeye langsung merebahkan punggungnya ke kursi, memain-mainkan pulpennya, menebak-nebak apa yang ada di otak Ray saat ini. Jika berita Ray sudah mempunyai pacar ditunda sampai minggu depan, Yeye harus kembali repot menghadapi telepon tidak penting dari orang-orang yang tidak penting itu.
Derereeet.
Yeye mendengus kesal, kembali mengangkat telepon, telepon ke-63 di hari ini. Suara perempuan terdengar di balik telepon dengan nada centil, Yeye langsung melempar gagang telepon, beranjak dari kursinya, menahan kesal. Dia harus siap mental menghadapi telepon tidak penting selama seminggu lagi.
"Terima kasih sudah mengantarku." Najwa langsung melangkah ko mobil yang sudah menunggunya, tak menoleh pada Ray barang sekali pun.
"Ah iya, aku hanya memberitahu, mungkin isu bahwa aku adalah kandidat utama calon pemimpin di masa depan benar, tapi aku sama sekali tidak tertarik untuk menjadi seorang pemimpin negara." Ray tersenyum tipis, menjelaskan tanggapan pertama Najwa padanya tadi.
Najwa yang sudah menghentikan langkahnya beberapa waktu lalu menoleh ke belakang, balas tersenyum tipis. "Aku tau."
Ray menatap punggung Najwa yang sudah masuk ke dalam mobil. Berbalik.
"Kenapa kau tidak duduk di ruanganmu Ye? Kenapa kau malah santai tiduran di sofa ruanganku?" tanya Ray sambil menutup pintu, baru selesai mengantar Najwa sampai resepsionis. Najwa sudah pergi bersama sopirnya.
Yeye santai memainkan tab nya di atas sofa ruangan Ray. Walau terkesan santai begitu, Yeye tidak sedang main game yang tidak bermanfaat, dia tetap bekerja, membaca statisik perusahaan, menghitung-hitung nilai penjualan dengan perusahaan lain, pun surat resmi perusahaan yang meminta kerjasama, memilah-milah. Yeye melirik Ray, memperbaiki posisi duduknya. "Jadi ada rencana apa lagi di dalam kepalamu itu?" tanya Yeye menyelidik. Meletakkannya tab nya di atas meja.
Ray melepas dasinya, gerah. Meraih remote AC, menaikkan suhu, duduk di kursi kerja. "Apa judul berita hari ini?"
Wajah penasaran Yeye langsung berubah masam, dia kembali meraih tab di atas meja, jari-jari Yeye lincah menari di atas layar. "Trending topik hari ini masih berisi kejadian kemarin, antara kau dan pejabat itu." Yeye mendengus melihat ekspresi bangga Ray. "Sedangkan berita utama hari ini adalah tentang... ah." Yeye meletakkan tab nya di atas meja kembali. Ray tersenyum tipis, sudah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Yeye yang tak berhenti menatapnya sejak tab lepas dari tangan Yeye.
"Sekarang kau sudah tau maksudku bukan?" tanya Ray sambil memperbaiki posisi duduknya, lagi-lagi tersenyum bangga, penuh percaya diri.
"Lalu? Kau ingin mendapatkan popularitas kembali dari perempuan itu? Memanfaatkan kakak tirinya yang sekarang dicap publik sebagai kandidat gubernur terbaik? Menjatuhkan kakak tiri perempuan itu sampai akhirnya berita buruk perempuan itu terkuak satu-persatu baru kau muncul ke publik sebagai pacarnya?" tanya Yeye menebak dengan benar semua isi kepala Ray. Yeye kembali menghela nafas, berpikir Ray benar-benar suka menghalalkan segala cara demi ambisinya yang hanya dipenuhi dengan popularitas.
Ray menepuk kedua tangannya, memberi apresiasi pada Yeye yang berhasil menebak semua rencananya dengan tepat. "Kau tak perlu khawatir, aku bukan sedang menjatuhkan seseorang dari posisinya di masa depan nanti, aku hanya akan membuat laki-laki itu tidak bisa merangkak mencapai posisinya, jadi dia tak perlu jatuh. Dia punya banyak skandal buruk yang tak diketahui publik Ye, sejak awal dia memang tak pantas menjadi kandidat utama gubernur. Jadi kau jangan menganggapku sebagai penjahat." Ray tau maksud dari helaan nafas Yeye tadi, jadi Ray menjelaskan semuanya pada Yeye agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Yeye meraih kembali tab nya, kembali mengotak-atik layar, membaca dengan teliti tulisan yang muncul di layar.
Ray meraih ponselnya yang berdering, mengangkat telepon. Mengangguk-angguk. Ray langsung berdiri dari duduknya setelah menerima telepon, membuat Yeye yang masih membaca tulisan di layar tab menoleh.
"Maaf Ye, kita bisa membahas urusan itu nanti. Sekarang aku harus pergi, aku ada jadwal dari orang yang beritanya sedang kau baca itu." Mata Ray berhenti cukup lama melihat tab yang dipegang Yeye, kembali tersenyum tipis, melangkah keluar ruangan.
Yeye menatap punggung Ray yang menghilang dari balik pintu, mengabaikan telepon di meja kerjanya yang sejak tadi terus berdering. Yeye memilih melanjutkan membaca berita sang kandidat utama gubernur periode selanjutnya, kakak tiri Najwa. Bodo amat soal pekerjaan, dia lebih tertarik dengan apa yang akan dilakukan Ray untuk menjatuhkan sang kandidat utama ini.
Dram gesit membuka pintu saat Ray keluar dari gedung perusahaan. Ray langsung masuk ke dalam mobil. Disusul Dram setelah menutup pintu.
Ray melirik sekilas rambut Dram yang masih berwarna merah. "Dram."
"Ya Tuan Ray?"
"Kau 3 hari menggantikan Tio bukan?" tanya Ray.
Dram mengangguk. "Iya Tuan. Ada yang bisa saya bantu?"
"Selama 3 hari itu, bisa kau ganti warna rambutmu jadi hitam? Dan model rambutmu, rapikan. Penampilan seperti itu tak baik untuk bekerja, apalagi kau harus menemui klienku di beberapa waktu. Kau paham?"
Dram diam sejenak, kemudian mengangguk mantap. "Siap Tuan."
Ray menghela nafas lega, besok dia bisa melihat penampilan normal dari si keling ini. Tak ada lagi penampilan nyentrik yang merusak pemandangan matanya-- walau hanya 2 hari.
Di lantai 3 ruangan VIP restoran sudah duduk seorang laki-laki bersetelan rapi usia 30-an ditemani oleh sosok pengawalnya di balik kursi. Laki-laki itu berdiri, menyalami Ray yang baru datang.
"Terima kasih sudah menyempatkan waktu Anda yang super sibuk untuk menemui saya Tuan Ray," sapa laki-laki itu, sopan.
Ray tersenyum tipis, menggeleng ringan. "Justru saya yang lebih senang berjumpa dengan Anda, Tuan Tom. Waktu saya tak sebanding dengan pertemuan istimewa ini." Ray balas memuji, ini trik menjilat terbaik yang sudah dipelajari Ray untuk menenangkan suasana lawan bicaranya.
Tom mengangguk, berterima kasih kembali pada Ray. Dia nampak sangat menghormati Ray.
Mereka duduk berseberangan. Waiters datang membawa buku menu, Ray mengangkat tangannya, menolak diganggu. Waiters itu menganguk, berbalik.
"Anda tidak mau memesan minum dulu Tuan Ray?" tanya Tom.
Ray menggeleng ringan. "Ah, apa Anda mau minum dulu Tuan? Kalau begitu saya bisa panggilkan kembali waiters tadi."
Tom tertawa kecil, menggeleng ringan. "Tidak perlu Tuan Ray." Tom melirik pengawalnya yang masih berdiri di belakangnya, melambaikan tangan, kode untuk menyuruh pengawalnya beranjak keluar.
Ray menatap punggung pengawal Tom yang sudah keluar ruangan VIP. Pengawal Tom sempat menganggukkan kepala pada Ray sebelum berbalik, sopan-santun. "Jadi... ada apa Tuan sampai menghubungi saya? Saya tau Anda tidak membutuhkan konsultan politik bukan? Melihat nama Anda yang sudah ditetapkan sebagai kandidat utama gubernur di periode berikutnya, saya yakin 95% Anda akan mendapatkan jabatan itu. Toh, keluarga Anda juga sudah lama berkecimpung di dunia politik, Anda sangat tau bagaimana sistem politik di dunia ini."
Tom memperbaiki posisi duduknya, takzim melihat ekspresi wajah Ray yang seolah tau segalanya. "Kurang lebih Anda benar Tuan Ray. Tapi..." Tom menghentikan kalimatnya, menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan, nampak ragu untuk melanjutkan.
Ray tetap diam, menunggu lawan bicaranya sampai siap bercerita.
"Saya menduga 90% Anda sudah tau permasalahan yang sebenarnya Tuan." Tom menghela nafas, semangat di wajahnya pudar seketika.
Ray mengangguk, respek melihat lawan bicaranya yang terbuka, mau jujur, tidak berbelit-belit. Jika Ray tak punya perjanjian dengan Najwa, Ray pasti mendukung Tom sebagai gubernur periode selanjutnya. Melupakan sejenak skandal masa lalunya. Laki-laki yang duduk di hadapan Ray saat ini punya prospek yang sangat menjanjikan. Pendidikannya tinggi, jiwa sosialnya tak perlu dipertanyakan lagi, dia juga keturunan politikus, tak ada yang kurang darinya. Ya, nampak luarnya memang begitu.
Satu hal lagi yang tak boleh dilupakan... politik, adalah permainan paling kejam. Semua popularitas baik itu, bisa jatuh hanya dengan jentikan jari.
Kini, ruangan 4×4 itu lengang sejenak. Suhu AC sesuai, air putih yang ada di atas meja sejak awal masih diam. Bunga-bunga di atas meja mengeluarkan bau harumnya, membuat ruangan VIP restoran ini begitu nyaman dan tenang.
"Saya takut salah bicara Tuan Tom. Jadi, bisa Anda jelaskan sendiri pada saya apa permasalahannya? Mungkin saya bisa membantu Anda keluar dari urusan itu." Ray tersenyum tipis, tak ada keraguan di wajahnya sedikit pun, Ray sama sekali tidak punya niat untuk membantu laki-laki yang duduk di hadapannya saat ini.
Tom melirik Ray sekilas, mengalihkan pandangannya dari Ray, keraguan untuk bercerita menghinggapi dirinya kembali. Ini permasalahan yang berat, terlalu berat diceritakan oleh si subjek itu sendiri.
Pertemuan ini tak akan mencapai titik akhirnya jika Tom masih ragu bercerita. Ray tak punya pilihan lain selain mengarang skandal buruk Tom yang tidak diketahui publik itu. Dia tak punya banyak waktu untuk menunggu mental laki-laki yang duduk di hadapannya ini sampai mentok mau bercerita, membuka aib nya sendiri. Itu memang berat.
Ray menghela nafas pelan, melirik Tom yang masih terdiam. "Pemerkosaan, pembunuhan."
Cukup 2 kata untuk membuat Tom menoleh pada Ray, tangan laki-laki itu langsung gemetaran, dia meremas rambutnya, wajahnya tiba-tiba pucat. Pikirannya kembali mem-flashback semua hal buruk itu.
2 tahun silam, di sebuah bar mewah di di pusat kota. Semua orang-orang penting berkumpul, menikmati hiburan dunia malam. Beragam kalangan tinggi sibuk menghambur-hamburkan uang, mulai dari kalangan artis, pengusaha, sampai pejabat. Semuanya diisi oleh orang-orang terkenal. Sampai terjadi hal buruk di kamar bar malam itu, membuat semua orang di bar itu memilih menutup mulut, sebagian banyak memang tidak tau, beberapa lainnya tidak mau menceritakannya, takut namanya terbawa buruk, dan sisanya, sudah menerima uang suap. Sehingga kejadian malam itu, tak pernah diketahui publik sampai kini. Walau tentu saja ada kemungkinan skandal itu terbang bagai kabar angin yang tidak pasti, sebab tidak semua manusia bisa menutup rapat-rapat mulutnya.
Dan benar, yang namanya peristiwa buruk, pasti susah dilupakan. Sekuat apa kita menutup perbuatan buruk, ujung-ujungnya akan terbongkar juga. Mulut manusia tidak bisa dipegang, hati manusia itu mudah ditebak isinya. Kejadian buruk itu suatu saat juga akan sampai di telinga publik, terlebih yang menjadi aktor dalam kejadian itu adalah orang yang sangat terkenal, siapa yang tak tahan untuk membongkar kejadian 2 tahun lalu yang seolah sudah terlupakan itu.
Kembali lagi, semua orang penting yang ada di bar malam 2 tahun lalu itu mempunyai tujuan masing-masing, ada yang mencari hiburan, kesenangan diri, reunian, bisnis, transaksi obat-obatan terlarang, menghamburkan uang yang menggunung, atau mau mencari pasangan untuk bermalam.
Seorang wanita dengan dress merah berjalan mendekat ke arah laki-laki yang sedang duduk di meja bartender, sedang meminum vodka, menunggu rekan bisnisnya datang. Tiba-tiba wanita dengan dress merah itu melingkarkan tangannya ke leher si lelaki, menggoda laki-laki itu. Wajah wanita itu merah, senada dengan dress nya, mabuk berat. Pakaiannya amat seksi, memperlihatkan jelas bentuk tubuhnya.
Laki-laki itu menelan ludah, dia adalah laki-laki normal yang tak tahan dengan syahwat. Nafsu menggoroti dirinya, pikirannya telah teralihkan pada wanita dengan dress merah itu.
Laki-laki itu bercakap sebentar dengan bartender, meminta si bartender untuk menyuruh rekan bisnisnya pulang, pertemuan dibatalkan karena urusan mendesak. Lalu laki-laki itu mengandeng si wanita ke kamar yang ada di bar, memenuhi panggilan nafsunya. Malam itu, mereka telah melakukan perbuatan tak senonoh, sama-sama dicambuk oleh nafsu.
Menjelang subuh, saat pesta di luar masih berlangsung, laki-laki itu terbangun karena suara musik yang keras, kaget melihat wanita yang tertidur di sebelahnya. Laki-laki itu segera mengenakan seragamnya yang sudah terlempar jauh dari ranjang. Wanita yang masih tertidur tadi menggeram, terbangun, dan tak ada sehelai pakaian pun hinggap di tubuhnya. Dia menjerit, tak sadar dengan apa yang sudah dilakukannya semalam.
Wanita itu langsung menatap si lelaki, meminta pertanggung jawaban pada si lelaki yang telah merebut kesuciannya, tanpa mengingat bahwa dia sendiri yang telah menggoda si lelaki. Wanita itu adalah artis terkenal, namanya sedang naik daun, dan dia juga mengenal lelaki yang menidurinya.
Laki-laki itu menjelaskan bahwa si wanita sendiri yang telah menggodanya, wanita itu menegaskan bahwa dia sama sekali tidak menggoda si lelaki, wajah si wanita serius, tak ada kebohongan sedikit pun di wajahnya. Ia benar-benar melupakan apa saja yang terjadi selama dia mabuk. Laki-laki itu menelan ludah, dia tak mungkin bertanggung jawab pada si wanita, mengingat lusa dia akan menikah. Teriakan histeris si wanita itu sampai terdengar keluar kamar, beberapa pelayan berlarian menuju kamar, juga tamu-tamu yang berada di dalam kamar yang bersebelahan dengan kamar lelaki dan wanita itu.
Saat pintu didobrak, saat itu pula si laki-laki sedang memegang guci yang bernodakan darah, di depannya tergeletak seorang wanita tanpa busana bersimbah darah, darahnya membasahi lantai, terus mengucur deras.
Pelayan dan beberapa tamu wanita yang melihat kejadian itu berteriak histeris, mereka baru saja melihat penampakan yang menakutkan, pembunuhan.
Gelap mata membuat si lelaki mengangkat guci yang ada di sebelahnya, menghantamkan keras ke kepala si wanita.
Kini, kejadian malam 2 tahun yang lalu itu terlupakan begitu saja, seolah kejadian itu memang tak pernah ada. Semua pelayan bar sudah disuap, pun petugas polisi, beberapa tamu penting pura-pura tidak melihat kejadian itu, karena jika mereka memaparkannya ke publik, nama mereka juga akan terbawa buruk, karena mereka berada di bar ilegal, dunia malam yang hina di mata publik, tapi sebagai jaminan, sebagian dari mereka tetap menerima uang suap.
Nama sang artis terkenal itu juga terlupakan begitu saja, di media masa dikatakan, dia kecelakaan saat pulang syuting. Publik berduka atas kepergiannya, namun itu hanya hitungan hari, setelah itu berita duka penuh kebohongan itu terlupakan begitu saja, tak ada media yang mengungkitnya lagi.