Mata Yeye membulat sempurna. "Siapa?!" tanya Yeye penuh semangat.
"Ada pokoknya." Ray masih bertahan dengan posisi wajahnya yang menghadap jendela, belum berani menoleh.
Yeye berdecak sebal. "Besok bawa dia padaku, kalau tidak aku akan memilih acak salah satu dari wanita-wanita yang sering meneleponku. Aku tidak akan peduli latar belakang wanita itu, juga wajah dan penampilannya. Kalau kau tidak membawanya besok, siap-siaplah, aku tidak tahu-menahu kalau kau dapat gembel. Karena bisa saja saat ini kau sedang berbohong padaku."
Tio yang ikut mendengarkan terbahak. "Yeye tidak pernah bercanda dengan omongannya Ray, kau tau itu bukan? Siap-siaplah dijodohkan dengan gembel."
Ray menggerutu di dalam hati. 'Sudah berusaha untuk mapan, masa ujung-ujungnya jadian sama gembel, kayak gak ada wanita lain aja' bathin Ray kesal.
oOo
Tio tidak datang ke apartemen Ray hari ini, semalam dia ada dapat undangan ikut kompetisi bebas di Amerika-- malam langsung terbang diantar Yeye sampai ke bandara.
"Sudah siap Tuan?" tanya Dram, ajuan Tio yang diperintahkan Tio untuk membantu Ray selama 3 hari ke depan.
Ray mengangguk pelan. "Dram, boleh aku bertanya satu hal padamu?" Ray melirik rambut Dram yang sudah ganti model dan ganti warna lagi. Model rambutnya kini berubah seperti rambut Dr. Stone, hanya warnanya yang berbeda, merah. Mencolok sekali penampilan si keling ini.
"Ya Tuan Ray?" Dram menatap heran. Membukakan pintu mobil untuk Ray.
"Ah, nanti saja di jalan."
Dram mengangguk, menutup pintu setelah Ray masuk. Berputar ke pintu kemudi, masuk mobil, duduk di belakang setir, memasang sabuk pengaman.
Ray masih saja memperhatikan rambut Dram. Berandai-andai apa yang akan orang-orang katakan jika melihat dia berpenampilan seperti Dram. Ray jadi merinding sendiri memikirkannya, geli.
"Kenapa kau memilih mengecat rambutmu jadi merah?" tanya Ray yang sudah dari kemarin penasaran-- atau mungkin sejak beberapa tahun yang lalu.
Dram tertawa kecil mendengar pertanyaan Ray. "Saya pikir Tuan mau menanyakan perihal apa pada saya. Hahaha. Saya sudah terlanjur cemas sejak tadi, takut Tuan bertanya pertanyaan yang sulit, ternyata hanya soal rambut saja."
"Aku tidak akan bertanya hal-hal sulit padamu, karena aku sudah terlanjur tau jawabannya. Berbeda dengan rambutmu, kenapa kau memilih cat merah? Apa prospekmu sampai hampir setiap hari kulihat kau mengganti model dan warna rambutmu itu." Ray menatap bingung Dram. Sama sekali tidak mengerti.
"Tidak ada prospek apa-apa Tuan, ini hanya hobi saya saja, jawaban lebih mudahnya... mungkin karakter, Tuan. Setiap orang pasti punya karakter dan pemikiran yang berbeda satu sama lain bukan, Tuan?"
"Jadi maksudmu, karaktermu adalah sifat nyentrik begini?" Ray masih saja menatap Dram dengan wajah bingungnya.
Dram terbahak mendengar kesimpulan yang diberikan oleh Ray, menginjak rem karena lampu merah. "Bisa jadi Tuan." Dram melihat Ray sedang memperbaiki dasinya, Dram langsung menyesuaikan posisi kaca spion depan, agar Ray bisa berkaca lebih leluasa. "Semisal karakter Tuan yang ingin melajang walau sudah berusia matang. Seharusnya Tuan sudah punya istri atau pacar di usia itu, untuk bisa memasangkan dasi Tuan."
"Kau sedang mengatai aku?" tanya Ray, memasang wajah sebalnya. Lihat, ajudan Tio saja sampai menyindirnya hanya karena sedang memperbaiki pemakaian dasi. Kenapa orang-orang selalu menyindirnya hanya karena dasi?
"Ah maaf Tuan. Saya tidak ada maksud mengatai Tuan sama sekali." Dram jadi gelagapan. "Ah iya Tuan." Ingat sesuatu.
"Apa lagi?"
"Saya punya saran yang bagus untuk Tuan."
"Saran? Apa?"
"Sebelumnya saya ingin bertanya dulu. Apa Tuan sudah membaca berkas klien yang ingin kita temui hari ini?" tanya Dram.
Ray mengangguk samar, heran. "Sudah, memangnya apa kaitan saranmu dengan berkas klien kita?"
"Saya dengar dari Kakak Yeye, Tuan sedang mencari seorang wanita untuk mendampingi Tuan, bukan?" Kening Ray langsung terlipat mendengar perkataan Dram. "Profil klien Tuan hari ini sedikit menarik, Tuan dan nona itu juga ada kesamaan, terlebih nona itu masih muda, pintar, anak dari keluarga terpandang, dan sebagai bonusnya... dia cantik."
"Apa kesamaanku dengan dia? Aku tidak merasa bahwa aku sama dengan dia, bahkan setelah membaca setumpuk profilnya yang kau berikan padaku semalam." Ray penasaran, sekaligus bingung. Apanya dari kliennya nanti yang sama dengan dirinya?
Dram tertawa kecil. "Saya tidak berani menjawab Tuan, jika saya jawab sekarang, Tuan pasti akan menurunkan saya di tol ini."
"Oh, kau sedang berkata hal buruk tentangku ya?" Ray jengkel. Dia hanya bertanya tentang rambut Dram, sekarang topik pembahasan malah berbelok ke urusan mencari wanita untuk dirinya.
Dram tersenyum tipis, tidak lagi berkomentar. "Setelah melihatnya nanti, Tuan akan tau."
Ray tidak mau menanggapi, terlanjur kesal dengan Dram. Jika bukan karena Dram adalah ajudan sahabatnya, sekaligus orang yang ikut secara tidak langsung membantunya lewat Tio, Ray pasti sudah melempar Dram dari mobilnya.
"Saya tunggu di sini saja Tuan." Dram membungkuk, menorehkan senyum di bibirnya.
Ray memperbaiki jasnya. Menaikkan satu alisnya pada Dram. "Kau memang harus menunggu di sini. Memangnya kenapa? Kau ada urusan di dalam juga? Atau kau mau bertemu secara langsung dengan klienku yang muda dan cantik itu?" tanya Ray bermaksud menyindir balik Dram. Padahal sejak awal Dram tidak ada niatan menyindir Ray sedikit pun.
"Oh! Suatu kebanggaan bagi saya bisa dipuji oleh Tuan Ray Rexanzi, kandidat utama pemimpin di negara kita di masa depan, yang diidolakan para wanita."
Ray dan Dram tersentak kaget, menoleh ke arah sumber suara.
Perempuan dengan kemeja hitam dan rambut kuncir kuda itu tersenyum anggun pada Ray. Perempuan itu melepas kacamata hitamnya, mengulurkan tangan pada Ray. "Najwa Arguinya. Salam kenal, Tuan Ray."
Ray terpana sejenak melihat perempuan itu, kliennya hari ini, yang tadi dia bahas bersama Dram di mobil.
Dram mengambil inisiatif sendiri, mundur secara diam-diam dari lokasi, tidak mau menganggu mereka berdua.
"Ah, Ray." Ray membalas sodoran tangan perempuan itu. Tersenyum tanggung.
"Bisa kita masuk ke restorannya sekarang Tuan?" tanya Najwa.
Ray mengangguk, "Tentu Nona Najwa."
"Maaf sebelumnya Tuan, apa tidak masalah jika saya sarapan dulu? Saya belum sarapan sejak tadi. Apa Tuan Ray tidak keberatan?" Najwa memasang wajah memelas, Ray tidak bisa mengatakan tidak pada perempuan satu ini. Padahal biasanya dia selalu menolak perempuan mentah-mentah, secantik dan setinggi apa pun kelas perempuan itu.
"Silahkan, kebetulan saya juga belum sarapan."
"Ah baguslah kalau begitu." Senyuman di wajah Najwa langsung hilang. Dia memesan menu sarapannya, tidak basa-basi lagi pada Ray.
Sambil menunggu pesanan mereka selesai. Najwa mulai memperbaiki posisi duduk. "Saya sebenarnya tidak ada niatan mau meminta jasa konsultasi Anda." Najwa menatap serius Ray, sorot matanya amat tajam. "Anda sudah membaca semua profil saya bukan?"
'Apa-apaan perempuan ini? Tadi dia bersikap seperti kucing yang menggemaskan, sekarang dia berubah jadi singa yang siap menerkamku kapan saja,' bathin Ray, menghela nafas, dia sudah biasa mendapati klien seperti ini.
oOo
Ray tersenyum tipis. 'Perempuan yang menarik! Baiklah, akan kuiikuti cara mainmu.'
"Lengkap dengan profil keluarga Anda, sampai keluarga tiri Anda, saya sudah membaca semuanya Nona Najwa." Ray tersenyum. Menolak untuk memasang ekspresi serius dan mencekam seperti Najwa.
Najwa terdiam sejenak. Berdecak sebal. "Informasi tentang saya tidaklah banyak, tapi dengan koneksi Anda... Anda pasti menemukan banyak hal bukan?"
"Jujur, saya tidak tertarik dengan wanita." Ray tersenyum tipis, menyandarkan santai punggungnya ke sofa.
Alis Najwa terangkat sebelah. "Anda homo?" tanya Najwa, memastikan apa yang terlintas di pikirannya.
Ray tidak tertawa, juga tidak marah. Ray sudah menebak reaksi Najwa atas perkataannya tadi. "Sama sekali tidak." Ray kemudian tersenyum kembali. "Justru saya sedang mencari seorang wanita untuk dijadikan pacar pura-pura."
"Hmm? Bukanlah Anda tidak tertarik pada wanita? Lalu kenapa mencari pacar wanita?" tanya Najwa heran. "Ah, rasanya saya hanya menanyakan apa Anda homo, bukan menanyakan apa Anda sedang mencari pacar atau tidak."
Ray menggeleng. "4 detik yang lalu, Anda sudah bertanya kenapa saya mencari pacar," jawab Ray, tersenyum penuh kemenangan. "Ah saya punya tawaran yang bagus untuk Anda, Nona Najwa. Saya akan membantu menyelesaikan semua urusan Anda, dengan syarat Anda mau jadi pacar pura-pura saya."
Najwa menyipitkan matanya melihat Ray. "Saya tidak tertarik dengan tawaran Anda. Apalagi menjadi simpanan Anda."
Ray berdehem pelan. "Bisakah kita tidak berbicara formal dulu? Jika menurut Nona Najwa saya tidak sopan, tolong dengan kebaikan hati Nona, saya dimaafkan."
Najwa mengangguk, seolah ekspresi wajahnya mengatakan 'terserah'
Ray kembali berdehem, memasang wajah serius. "Kau memutuskan untuk meminta jasa konsultasi padaku karena sudah mempertimbangkan semua hal bukan? Terlebih kau pasti tau aku hanya memberi konsultasi untuk para pejabat yang mau mencalonkan diri jadi perangkat pemerintah negara. Di usia, catatan hidup, dan jurusan sekolahmu, kau tidak ada sangkut pautnya dengan dunia politik, apalagi sampai mencalonkan diri sebagai salah satu dari jenjang perangkat negera, benar? Hanya ada satu alasan kenapa kau menemuiku." Ray memperbaiki posisi duduknya, menaikkan paha kaki kiri ke atas paha kaki kanan.
"Kakak tirimu." Ray tersenyum penuh kebanggaan, percaya diri sekali dengan tebakannya.
Najwa tersentak kaget. Dia berusaha mengendalikan ekspresinya, menghela nafas. "Jika kau sehebat itu, apa kau juga bisa menebak perihalnya? Tentang kenapa aku harus campur tangan dengan urusan laki-laki itu?" Najwa kini mulai tersenyum, menunggu jawaban Ray dengan serius. Mulai respek.
Pelayan restoran masuk ke ruangan mereka, meletakkan pesanan Ray dan Najwa ke atas meja.
"Bukankah sebaiknya kita tidak menganggurkan hidangan yang ada di hadapan kita?" Kedua sudut bibir Ray terangkat. Mulai mengambil sendok, menyuap nasi goreng.
Najwa mendengus kesal. Tapi tidak apa, dia sendiri yang mulai mengajak dan memesan sarapan duluan. Tidak ada alasan untuk Najwa mengatakan tidak pada Ray.
Suara berkecap Najwa saat makan, sudah sejak tadi membuat Ray terusik, mengernyitkan keningnya. "Hei, kau bisa tidak nyeplak saat mengunyah?" tanya Ray memasang ekspresi kesal, sarapannya terganggu.
"Hmmm? Memangnya kenapa? Kalau nyeplak saat makan, maka makanan akan terasa lebih enak." Najwa menjawab santai, memasang wajah tanpa dosa.
"Kesimpulan dari mana pula itu?! Kau bodoh ya?" Ray bergidik ngeri, berpikir perempuan yang ada di depannya ini adalah perempuan aneh yang begitu bodoh. Tidak tau malu.
"Kau boleh mengataiku banyak hal, sampai pada hal-hal menyakitkan sekali pun, tapi jangan pernah mengatakan padaku satu kalimat ini, 'Bodoh' atau kau akan mati!" Najwa mengancam, mengacungkan jari telunjuknya ke kening Ray, dengan posisi jari yang sudah meniru bentuk pistol. Sorot matanya benar-benar marah.
'Oh, apa jangan-jangan kemiripanku dengan perempuan ini yang dikatakan Dram tadi adalah ini? Sama-sama tidak suka dipanggil bodoh? Tapi bukannya semua orang memang tidak suka dipanggil bodoh ya?' bathin Ray setelah teringat kata-kata Dram padanya di mobil tadi. 'Yah, walau yang mengancam orang sampai mati setelah dikatai bodoh, mungkin hanya aku dan perempuan ini.' Ray tergelak, Najwa menatap heran laki-laki aneh yang tiba-tiba tertawa sendiri di hadapannya ini.
"Sudah aku putuskan!" seru Ray senang.
"Apa?" tanya Najwa yang sudah selesai menyantap makanannya, sedang membersihkan bibir dengan tisu.
"Akan kuselesaikan urusanmu sampai kelar dengan bersih. Kau tidak perlu membayarku sepersen pun dengan uang, karena bayarannya tetap sama seperti tadi." Dari mata Ray, Najwa tau betul bahwa Ray sedang serius.
"Tidak, aku tidak ingin jadi simpananmu." Najwa menolak, tak sudi.
"Aku tidak bilang bahwa kau harus jadi simpananku, aku hanya memintamu untuk jadi pacar pura-puraku. Atau kau mau jadi pacar sungguhanku?" tanya Ray menaikkan satu alisnya.
"Itu lebih tidak lagi." Najwa menolak mentah-mentah. Melambai-lambaikan tangannya, tak sudi.
"Kenapa harus aku?" tanya Najwa.
"Karena hanya kau yang pantas."
Pupil mata Najwa membesar mendengar jawaban Ray, dia tersenyum tipis, mendekatkan wajahnya ke wajah Ray. "Tapi maaf Tuan Ray, aku sudah punya orang yang aku cintai. Dan lagi, aku pasti akan banyak dirugikan olehmu. Aku tau banyak perempuan di luar sana yang suka dengan kau, aku pasti di-bully."
"Tidak masalah. Aku hanya memintamu untuk jadi pacar pura-puraku sementara ini saja, lagian aku juga tak tertarik padamu sebagai perempuan. Dan justru karena itu aku mau kau jadi pacarku, bukan?"
"Hah?! Apa maksudmu?" tanya Najwa, marah.
"Hanya kau yang memenuhi semua syarat untuk menjadi pacarku." Ray tersenyum tipis. "Satu-satunya alasan kenapa aku ingin menjadikanmu pacarku-- walau pura-pura, karena kamu memenuhi syaratnya, yaitu punya skandal buruk yang bisa dipastikan akan terus bertahan lama, ditambah seminggu lagi nama dan fotomu akan terpapar di banyak media. Aku bisa memanfaatkan popularitasmu untuk menambah rumor baru dan namaku akan semakin di kenal dunia."
"Hah? Tunggu-tunggu... aku heran satu hal, kenapa kau begitu suka popularitas? Sejak 2 minggu yang lalu, namamu muncul di kolom pencarian teratas, kau terus jadi trending topik. Bukankah kau sudah sangat seterkenal itu? Bahkan mengalahkan pemain drama populer dunia saat ini? Kenapa kau masih ingin lebih terkenal lagi?" Apa sebenarnya yang ada di otak laki-laki ini? Yah, aku tidak akan mempermasalahkan soal 'skandal buruk' yang dia katakan tadi, toh itu benar adanya.
"Tidak ada alasan khusus." Ray acuh, tidak peduli dengan maksud pertanyaan Najwa.
"Lagian apa maksudmu kau tidak tertarik padaku sebagai perempuan?! Apa kau sedang menghinaku?" kesal Najwa.
"Ah, apa itu menyinggungmu?" tanya Ray sedikit kaget.
"Menurutmu!?" seru Najwa.
"Ah baiklah-baiklah, aku tidak ada maksud mengataimu, aku hanya mengatakan bahwa aku tidak melihatmu sebagai sosok perempuan yang bisa aku cintai."
Najwa menghela nafas. "Kau sedepresi itu ya dengan masalah percintaan?"
Kening Ray langsung berlipat mendengar pertanyaan Najwa. Najwa segera mengalihkan pembicaraan, bisa gawat urusannya kalau laki-laki yang ada di hadapannya saat ini terpancing lalu marah.
"Bagaimana jika aku menolak?" tanya Najwa.
"Tidak masalah. Aku hanya akan memastikan kakak tirimu terpilih sebagai gubernur, mempamorkan semua prestasinya, melebih-lebihkan dan sedikit membuka tentang keluarganya. Dia akan jadi trending topik di internet, akan banyak wanita-wanita yang mengidolakannya sampai jadi stalker, dan ujung-ujungnya namamu akan semakin buruk. Karirmu sebagai pemilik teater terkemuka akan hancur berantakan."
"Oh, kau sedang mengancamku?" Najwa tersenyum tanggung, nampak tidak takut sama sekali dengan ucapan Ray.
"Sama sekali tidak. Aku hanya akan mengatakan fakta yang ada. Kau bisa memilih mau yang mana. Yang terbaik untukmu, atau yang terburuk. Satu hal yang kau perlu tau, aku sama sekali tidak dirugikan dalam kasus ini, justru aku untung." Ray tersenyum tipis. Memperbaiki posisi duduknya lagi.
"Poin pertama. Kakak tirimu itu sudah mengirimkan permintaan untuk konsultasi pada asistenku. Aku memilihmu hanya karena kau mungkin akan sedikit lebih menguntungkan bagiku dari pada dia. Poin kedua, namaku juga akan ikut naik, karena sudah bisa dipastikan, dia mendapatkan jabatan itu. Aku yang berdiri di baliknya akan terbawa tenar. Dan poin terakhir sekaligus poin terpenting, sekretarisku tidak akan marah-marah padaku lagi karena menerima banyak telepon tidak penting dari fans-fansku, karena mereka bisa saja tertarik pada kakak tirimu walau hanya sebentar saja. Tapi itu tetap saja menguntungkan, karena aku masih punya waktu untuk mencari wanita lain."