"Mas, apa kita hanya akan diam saja?" tanya mama di dalam mobil taksi yang mereka tumpangi. "Walau bagaimana pun, Bintang adalah putri kita. Sifatnya yang salah saat ini adalah buah didikan kita," sesal sang mama sambil menahan kesedihannya. "Bintang layak mendapatkannya, tapi ... sebagai orang tua, pemikiranmu itu benar." Papa menunduk, sesaat setelah menghela napas panjang. "Dia banyak mengikuti tabiatku, tidak pantas untuk dimaafkan." "Jangan membahas yang lain, Mas!" pinta mama Marta tidak ingin mengingat apa pun dari kenangan dan kegagalan masa lalunya. "Tapi semua ini berawal dari saya. Bagaimana bisa tutup mata dan mengatakan anak itu sangat keterlaluan?" "Sudahlah, Mas!" Mama Marta menatap kosong ke arah jalanan. Rasanya, semua ini sangat menyedihkan. Perasaannya hancur berkep

