Bagian yang paling buruk dari apa yang Dante pikirkan, meskipun ia sudah menduga bahwa itu akan terjadi, adalah kenyataan bahwa Mama memang benar-benar serius dengan apa yang beliau katakan tadi malam.
Ketika ia turun untuk berpamitan kepada anggota keluarganya, Mama tidak ada di ruang makan atau di manapun di rumah mereka. Papa membuat alasan bahwa Mama harus ke rumah sakit lebih pagi karena ada pasien naratama yang butuh diperiksa lebih cepat. Namun, Dante tahu jika itu hanyalah alasan. Mama memang tidak ingin bertemu ataupun melihatnya sebelum ia berangkat ke Yogyakarta.
Ia berusaha menutupi kekecewaan di hatinya dengan sebuah senyuman yang selalu tersungging untuk Papa dan kedua kakaknya. Sudah cukup baginya, mereka mendukung Dante, dan bahkan kedua kakaknya bersedia mengantarnya ke bandara.
Papa menyusul pergi ke rumah sakit dengan alasan yang sama, dan Dante tahu jika itu juga hanya agar Mama tidak terlalu marah kepada mereka karena mendukung pilihan Dante untuk pergi. Tidak akan mengherankan jika beberapa hari lagi, ia mungkin akan menerima surat pemberitahuan bahwa dirinya benar-benar dicoret dari kartu keluarga Darmawan.
Sejak dulu, Mama memang selalu teguh dengan pendiriannya, jika ia tidak boleh menyebut ibunya sendiri seorang yang keras hati dan keras kepala. A akan selalu menjadi A, dan tidak akan berubah menjadi B. Begitulah yang selama ini Mama ajarkan kepada anak-anaknya.
Untuk kakak-kakaknya, jelas itu berhasil, tetapi tidak bagi dirinya. Sejak kecil, Dante selalu menjadi yang paling pemberontak di antara mereka bertiga. Ia memang tidak berhasil untuk kuliah sesuai jurusan yang diinginkannya, tetapi Dante membalas itu dengan malas belajar. Ia tidak ingin menjadi mahasiswa berprestasi yang lulus dengan nilai cumlaude seperti kakak-kakaknya walaupun Dante tahu ia mampu.
Dan berhubung dirinya kuliah di tempat yang sama dengan kedua kakaknya, ia selalu mendapatkan kerutan kening dari para dosen, dekan, dan juga rektor yang sudah sangat mengenal siapa keluarganya. Ia selalu dikenal sebagai anak bungsu yang gagal. Anak bungsu yang tidak mampu menyamai prestasi kakaknya.
Selama ini, Dante tidak pernah peduli dengan anggapan itu. Ia tahu para dokter, perawat, dan juga staff di rumah sakit menggunjingkannya. Ia tahu mereka berpikir jika ia bisa menjadi dokter adalah berkat orang tuanya. Ia bisa bekerja dengan jas putih adalah karena rumah sakit itu milik keluarganya. Jika bukan karena semua itu, mungkin dirinya tidak akan pernah memakai jas putih dan menjadi seorang dokter.
Mendengarkan, memikirkan, dan juga mengikuti apa yang diinginkan orang lain selalu menjadi sesuatu yang sangat melelahkan. Karena itu, Damar tidak pernah mencoba meluruskan apa yang sudah beredar luas selama ini tentang dirinya. Yang penting baginya adalah, dirinya tahu apa yang sebenarnya, bagaimana kemampuannya, dan sekarang, apa yang benar-benar ia inginkan.
Dengan menjadi dokter di tempat terpencil, Dante akan bisa melakukan apa yang selama ini begitu diinginkannya, tetapi tidak mampu dilakukannya selama ia masih bekerja di rumah sakit keluarganya. Ia bisa menolong masyarakat yang membutuhkan pelayanan, tetapi tidak mampu melakukannya karena keterbatasan yang mereka miliki.
Di tempat yang asing itu nanti, ia hanya akan dikenal sebagai Dokter Dante, dokter muda yang mengabdi di daerah. Bukan anak dari Dokter Darmawan yang gagal memenuhi ekspektasi orang tuanya.
Setelah perjalanan udara selama sekitar satu jam, Dante menginjakkan kakinya di bandara Internasional kota pelajar yang terkenal nyaman itu. Embusan pendingin udara, suara petugas bandara yang terdengar melalui pengeras, orang yang berlalu lalang dengan tergesa, juga pelukan dan tangisan, membuat Dante tersenyum.
Ia pernah beberapa kali datang ke kota ini untuk seminar kesehatan, studi banding, atau hanya sekedar untuk liburan. Namun, tempat yang akan menjadi tujuannya bekerja kali ini, sama sekali belum pernah ia kunjungi. Di internet pun, berita tentang tempat itu sangat minim sehingga Dante sama sekali tidak memiliki bayangan akan apa yang ia temui nanti. Satu yang ia tahu, tempat itu terletak di perbukitan yang dekat dengan pesisir.
Seorang pria paruh baya berseragam hitam, memegang kartu bertuliskan namanya saat Dante keluar dari terminal kedatangan. Ia sudah berkata akan baik-baik saja dan bisa mengurus semuanya sendiri, tetapi Papa berkeras untuk menyewakan sopir beserta mobilnya untuk Dante.
Menurut Papa, pria itu yang selalu mengurus semuanya saat Papa datang ke kota ini, dan juga tahu mengenai jalan yang harus ditempuh untuk menuju tempatnya bekerja nanti.
“Mas Dante,” sapa pria itu sopan sambil mengulurkan tangan untuk meraih kopernya.
Alih-alih membiarkan pria itu mengambil kopernya, Dante ikut mengulurkan tangan dan menjabat tangan yang sudah terulur tersebut.
“Terima kasih sudah repot-repot menjemput saya, Pak…”
“Anwar. Mas bisa panggil saya Anwar. Saya yang biasa antar Bapak ke mana-mana kalau beliau kemari.”
Dante mengangguk dan tersenyum. “Terima kasih, Pak Anwar,” ulangnya lagi dengan tulus.
“Monggo, Mas, mobil sudah siap. Biar saya bawakan kopernya.”
Kali ini, Dante membiarkan pria itu meraih dua koper besarnya, dan ia berjalan tenang di belakang Pak Anwar menuju kendaraannya diparkirkan. Sesuai dugaan Damar, pria itu tentu saja membawa sebuah mobil mewah untuknya. Papa tidak akan mau menaiki minibus biasa setiap kali berkunjung ke mana-mana.
“Pak,” panggil Dante ketika pria itu membuka bagasi mobil besar tersebut.
“Ya, Mas?”
“Apa tidak ada mobil yang lebih kecil dari ini? Mobil biasa saja. Saya datang kemari bukan sebagai tamu penting atau apa. Mungkin Papa tidak mengatakannya pada Bapak.”
Pria itu mengerutkan keningnya, yang menguatkan dugaan Dante jika Papa memang tidak menjelaskan posisinya.
“Saya datang sebagai dokter pemerintah yang ditempatkan di desa. Bagaimana tanggapan orang-orang desa itu jika dokter mereka datang dengan mobil semewah ini sementara kondisi mereka mungkin sangat berbeda?”
Selama ini, Dante memang terbiasa hidup mewah dan mengendarai mobil bagus di Jakarta. Namun, ia tahu masa-masa itu sudah berakhir sekarang. Ia tidak bisa terlihat mewah agar orang-orang tidak tahu dari mana dirinya berasal dan dari keluarga seperti apa.
“Kalau begitu kita mampir ke Guest House dulu buat naroh barang-barang, lalu saya akan mengganti mobilnya. Monggo.” Pria itu membuka pintu mobil dan menyuruh Dante masuk.
Dante bergeming saat mendengar apa yang Pak Anwar katakan. “Guest house? Maksud Bapak, saya akan tinggal di Guest house?”
“Seperti itulah intruksi Dokter Darmawan. Kami sudah menyiapkan semuanya untuk keperluan Mas Dante di sini.”
“Tapi saya nggak akan tinggal di guest house, Pak. Saya sudah disiapkan rumah dinas di sana.”
Salah seorang perangkat desa yang beberapa hari menghubungi Dante, mengatakan bahwa sebuah rumah sudah disiapkan untuk dirinya tinggal di desa tersebut karena itu akan lebih memudahkan mobilitasnya selama bekerja di sana.
“Tapi…Bapak bilang…”
Damte tersenyum dan menepuk bahu Pak Anwar. “Kita ganti mobil sekarang, Pak. Saya dengar, perjalanan ke desa itu memakan waktu lebih dari dua jam.”
Walaupun masih heran dengan apa yang baru saja didengarnya, Pak Anwar menuruti perintah Dante dan menjalankan mobil itu keluar dari bandara. Ini adalah jenis kemewahan yang jelas tidak akan ia rindukan.
Bagi kebanyakan orang, terutama yang hidup di level bawah mereka, selalu menganggap bahwa menjadi bagian dari keluarga kaya dan terhormat adalah anugrah terindah yang pernah manusia miliki. Beberapa menyebut mereka memiliki keberuntungan terbesar. Namun, bagi Dante, hal itu seperti memiliki dua sisi mata pedang.
Tentu saja, dengan kekayaan yang dimiliki orang tuanya, bukan hal sulit bagi Dante untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Pendidikan terbaik, pakaian terbaik, dan berbagai fasilitas pendukung yang akan membuat orang lain berdecak iri, atau bahkan mencibir.
Namun, di sisi lain, sulit untuk menjadi diri sendiri dengan semua kemewahan itu. Orang akan menganggap pencapaiannya sebagai hal yang lumrah karena ia anak orang kaya. Orang akan lebih memandang nama belakangnya, daripada diri Dante yang sebenarnya. Ia bahkan tidak memiliki banyak teman dekat karena semua teman di sekolah internasionalnya dulu, berasal dari latar belakang yang hampir sama.
Ia memang sering mengobrol, berkirim pesan di grup, atau berkumpul sesekali di kafe. Namun, hanya sebatas itu. Untuk memiliki hubungan pertemanan yang lebih, sangat sulit dilakukan karena mereka semua memiliki beban yang harus mereka penuhi dari standar orang tua mereka masing-masing.
Dante selalu berharap ia bisa memiliki seorang teman yang tidak akan melihat latar belakang keluarganya, seseorang yang tidak menjalin hubungan dengannya karena tujuan di baliknya, seseorang yang akan melihat Dante apa adanya. Dan hal itu jelas tidak akan ia dapatkan selama dirinya masih memakai pakaian kemewahan yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya.
Walau sangat kecil kemungkinan ia bisa memiliki seorang teman di tempat yang akan ditujunya nanti, Dante berharap dengan hidup sederhana, ia bisa memiliki kebahagiaan lain yang selama ini tidak pernah ia dapatkan. Orang-orang yang sederhana, kadang malah hidup jauh lebih bahagia daripada orang yang berlimpah harta dan jabatan.
“Nanti kalau Bapak marah gimana, Mas? Kalau Mas Dante nggak mau tinggal di sini?”
Pertanyaan Pak Anwar itu menimbulkan senyum di bibir Dante. Mereka sudah berganti dengan mobil minibus biasa yang sama sekali tidak mencolok, dan banyak berseliweran di jalanan. Tadinya, Pak Anwar menawarkan sebuah sedan yang tidak kalah mewah, tetapi Dante langsung menolaknya. Seandainya ia tahu jalan menuju ke tempat itu, Dante pasti akan lebih memilih naik kendaraan umum atau sepeda motor. Sayangnya, saat ini hanya Pak Anwar yang bisa mengantarnya.
“Dante yang akan bicara sama Papa. Bapak nggak usah khawatir.”
Papa memang tidak seperti Mama yang mudah meledak-ledak, tetapi sikap diam pria itu saat marah, justru membuat banyak orang lebih merasa segan.
Dante mengirim pesan kepada papanya, menuliskan apa yang ia inginkan, juga tentang rumah yang sudah disiapkan untuknya. Papa mungkin akan kesal sebentar, tetapi Dante tahu jika tidak ada yang bisa Papa lakukan.
Balasan Papa datang beberapa saat kemudian, membuat Dante tersenyum. Papa memang paling mengerti dirinya.
“Nah, Bapak tenang aja. Papa udah setuju. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”