“Nih, Pak, bener kan yang ibu bilang kemaren, Mbakyu Welas mau mantu lagi bulan depan. Si Sari, dapet anak juragan kain dari Solo. Ibu udah diulemi barusan.”
Itu adalah apa yang Astari dan Bapak dengar ketika ibu memasuki ruang makan pagi itu. Sejak pagi, ibunya belum keluar dari kamar. Astari mendengar wanita itu berbicara di telepon untuk waktu yang cukup lama. Tadi, ia bertanya-tanya siapa yang berbicara dengan ibu selama itu, tetapi sekarang Astari sudah tahu jawabannya. Itu adalah Bude Welas, kakak kandung ibu yang nomer dua.
Setiap pagi, memang menjadi kewajiban Astari untuk menyiapkan sarapan, menyapu rumah, mengepel, dan juga mencuci. Itu sudah ia lakukan semenjak dirinya masuk SMP. Ibu, yang notabene berasal dari keluarga kaya, jarang sekali keluar kamar pagi-pagi dan melakukan tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga. Setiap pagi, ibu hanya akan berada di kamar hingga waktunya sarapan tiba.
Dulu, saat Astari dan adiknya masih kecil, Bapak yang akan melakukan semua itu. Ibu selalu menginginkan seorang pembantu rumah tangga yang akan mengurus segala keperluan rumah, tetapi Bapak dengan gajinya yang sudah dipotong sana sini, tidak sanggup memberikan apa yang ibu minta.
Bukan salah Bapak jika beliau memiliki begitu banyak potongan dari gajinya. Itu juga adalah untuk memenuhi keinginan ibu. Beli rumah, beli mobil, beli televisi besar, dan belum lagi jika ada tetangga atau saudara yang akan punya hajat seperti ini, ibu selalu meminta uang dalam jumlah besar hanya agar beliau tidak malu saat mengulurkan amplop dengan nama ibu tertulis jelas di sana.
Hingga detik ini, Astari masih tidak pernah mengerti bagaimana watak dan pola pikir ibunya bisa sekeras itu. Seharusnya, dengan menikahi Bapak yang bukan orang kaya, Ibu sudah siap dengan semua risikonya, termasuk hidup dalam kondisi yang biasa-biasa saja. Sayangnya, bukan semakin mengerti, tingkah ibu malah semakin menjadi-jadi. Terutama setelah Astari menjadi guru.
“Ya Sari kan memang sudah umur, Bu. Wajar kalau mau menikah,” sahut Bapak santai sambil menggigit telur dadarnya. Bagi Bapak, pembicaraan seperti ini sudah seperti makanan sehari-hari.
Astari memilih untuk tidak terlibat dalam pembicaraan itu karena ia tahu, meskipun tidak melibatkan diri, dirinya akan terseret nanti. Terutama karena ini membahas tentang pernikahan, pekerjaan, dan juga calon mantu yang berasal dari keluarga berada.
Ibu selalu memiliki keinginan untuk menikahkan Astari sebelum usianya dua puluh lima. Itu berarti, tahun ini adalah ‘batas akhir’ Astari untuk menikah, menurut ibunya. Dan wanita itu menjadi semakin senewen karena ia yang sama sekali belum memiliki kekasih, apalagi calon suami.
Sejujurnya, menikah bukanlah sesuatu yang sangat ingin Astari lakukan hingga beberapa tahun ke depan. Bahkan sebenarnya, hal itu masih belum terlintas di benaknya sama sekali meskipun teman-teman di desanya, atau teman kuliahnya dulu, sudah banyak yang melepas masa lajang.
Bagi Astari, yang menjadi prioritasnya saat ini adalah terus berupaya agar sekolah jauh lebih baik lagi. Agar pemerintah provinsi memperhatikan kondisi sekolah, dan memberikan bantuan untuk memperbaiki sarana sekolah. Juga untuk melakukan berbagai upaya agar para orang tua di sekitar tempatnya tinggal, menjadi sadar bahwa menyekolahkan anaknya adalah hal yang sangat penting demi masa depan yang lebih cerah.
“Sari emang telat menikah, tapi itu kan karena dia ngejar karir dulu. Lihat aja dia udah bisa beli mobil sendiri, beliin emas buat ibunya, benerin rumah. Kalau ndak gajinya gede kan nggak mungkin bisa beli semua itu.”
Nasi goreng yang tadi terasa nikmat untuk disantap itu, kini terasa bagaikan segenggam pasir yang berjuang untuk melewati tenggorokan Astari. Selain menikah, masalah uang dan pekerjaan juga selalu menjadi topik yang ‘harus’ diangkat ibu di rumah ini setiap hari. Tidak peduli pagi, siang, sore, ataupun malam.
Apakah para ibu memang selalu seperti itu? Atau, ini hanya ibunya saja?
“Ya emang udah jodohnya, Bu. Udah nggak usah dibahas, masih pagi juga,” sahut Bapak dengan kalem seperti biasa.
“Nggak usah dibahas bagaimana? Lha ini Mbakyuku sendiri lho, Pak, yang mantu. Nanti aku mesti jawab opo kalau mereka nanya-nanya kenapa aku jarang ikut arisan keluarga lagi? Kalau mereka nanya Astari masih jadi guru apa ndak? Kapan dia menikah?”
“Ya, jawab aja apa adanya, Bu.”
“Bapak ini lho, mesti begitu. Yo ibu malu tho, Pak.”
“Malu kenapa tho, Bu? Anak kita punya pekerjaan terhormat jadi guru. Surya juga sebentar lagi lulus kuliah. Apa yang bikin ibu malu? Karena Bapak nggak bisa beliin ibu emas seperti saudara-saudara ibu yang lain?? Karena mobil kita hanya mobil tua yang bukan keluaran terbaru seperti punya mereka??”
Biasanya, Bapak selalu menanggapi apapun ocehan ibu dengan kalem, tetapi pagi ini, Astari melihat sedikit emosi Bapak yang naik saat mendengar apa yang ibu katakan itu. Ia sendiri juga hampir tidak bisa menahan amarahnya mendengar pembahasan ibu yang selalu sama itu.
“Jadi guru honor aja di mana bangganya! Mending kalau gajinya besar. Lha ini, udah nggak ada gajinya, nggak ada muridnya, apa yang mau dibanggain!”
Astari tidak tahan lagi. Ia meletakkan sendoknya dengan kasar, lalu bangkit dari duduknya tanpa bicara apa-apa lagi. Lebih baik ia segera berangkat ke sekolah.
“Lho, kan ndak sopan! Kebiasaan kalau diajak bicara langsung ngambek! Begitu kok disebut guru. Apane yang mau digugu lan ditiru!”
Setelah membanting pintu depan, Astari mengambil sepedanya dan keluar dari halaman. Dadanya terasa sakit dan matanya perih karena menahan air mata yang sudah hendak turun, tetapi Astari menahannya sekuat tenaga. Ia tidak ingin menangis. Ia selalu kuat dengan apapun yang ibu katakan meskipun hal tersebut tidak pernah membuatnya senang.
Sejak awal memilih profesi ini, Astari sudah tahu bahwa ia akan selalu menghadapi sikap nyinyir ibunya setiap kali mereka berada dalam ruangan yang sama. Sudah bertahun-tahun semenjak Astari memilih pekerjaannya itu, dan hal-hal tadi adalah bahasan yang selalu dibicarakan di rumah.
Ia tidak ingin menjadi anak yang durhaka, tetapi setiap kali mendengar itu, hati Astari selalu meneriakkan berbagai kata-kata marah untuk ibu yang tidak bisa ia ungkapkan dengan keras.
Seandainya saja Bapak mengijinkan Astari untuk tinggal di rumah lama mereka, ia tentu akan menjalani hari-hari yang lebih bahagia daripada sekarang. Bukannya ia ingin meninggalkan Bapak di rumah itu dan mendengar ocehan ibu sendirian, tetapi Astari hanya takut jika suatu saat nanti ia tidak bisa menahan diri lagi dan menghadapi ibunya.
Astari turun dari sepedanya saat hendak melewati jalan terjal dan sedikit naik menuju desa tempat tinggalnya dulu sekaligus tempat mengajarnya itu. Desa tersebut adalah yang paling tertinggal dari desa lain di sekitarnya meskipun tetap ada fasilitas lengkap di sana seperti sekolah dasar dan puskesmas.
Jika boleh memilih, Astari akan lebih senang tinggal di sana daripada di rumah. Masyarakat di tempat itu jauh lebih ramah daripada tempatnya tinggal sekarang. Kesibukan mereka dalam mencari nafkah juga membuat para ibu-ibunya jarang sekali bergosip.
Sambil menuntun sepedanya, Astari menatap pemandangan menakjubkan yang selalu dilihatnya setiap hari. Hamparan laut yang berwarna biru hijau, membentang di sepanjang jalan yang ia lewati. Tingginya pohon kelapa, siulan rendah burung-burung yang terbang di atas laut, langit yang berwarna biru cerah, akan membuat siapapun merasa iri karena bisa melihat pemandangan seindah ini setiap hari.
Akan tetapi, apa yang tampak indah, belum tentu seperti itulah kondisi yang sebenarnya. Faktanya, hampir semua kelapa keluarga di desa yang indah ini tidak memiliki waktu untuk duduk dan mengagumi lukisan alam yang ada di hadapannya karena tuntutan nafkah yang harus dicari demi kelangsungan hidup keluarganya.
Sungguh sebuah ironi yang tidak bisa dipungkiri, di mana pemerintah banyak menggaungkan tentang pembangunan ekonomi yang merata di seluruh aspek kehidupan. Sayangnya, aspek tersebut tidak sampai di desa kecil ini.
Wisatawan yang datang ketika hari libur, juga tidak mampu mendongkrak perekonomian setempat. Bagaimana mungkin mereka hanya menggantungkan penghasilan saat akhir pekan dan hari libur nasional, sedangkan keluarga mereka harus makan setiap hari?
Sekolah tempatnya mengajar memang sudah mendapatkan fasilitas sekolah gratis dari pemerintah kota setempat, tetapi itu tetap tidak membuat para orang tua menyekolahkan anaknya dengan suka rela. Sekali lagi, urusan perut jauh lebih penting daripada urusan pendidikan.
“Pagi, Bu Astari. Tumben pagi banget udah sampai,” sapa seorang ibu yang hendak pergi ke ladang. Wanita itu juga adaah ibu dari salah satu muridnya di kelas tiga.
Astari tersenyum sambil membalas sapaan itu dengan bahasa Jawa halus. “Iya, Bu, mau beres-beres sekolah dulu sebelum anak-anak masuk.”
“Bu, hari ini Mirna ijin nggak masuk ya. Mau bantu saya di ladang. Lagi panen kacang.”
Musim panen, musim melaut, musim menanam, adalah serangkaian hari ‘libur’ tidak resmi yang selalu ada di sekolahnya. Walaupun sebenarnya sangat keberatan dengan hal itu, Astari tidak bisa menolak permintaan tersebut. Terutama karena ia tahu seperti apa kondisi di sana saat musim-musim tersebut.
Semua orang akan sibuk bekerja dan saling membantu hanya agar mereka bisa mendapatkan uang dengan lebih cepat jika pekerjaan itu selesai. Tidak jarang, hanya akan kurang dari lima siswa yang akan datang ke sekolah. Malah pernah sama sekali tidak ada murid yang datang selain anak-anak kelas satu.
“Kalau bisa jangan tiap hari disuruh ke ladangnya ya, Bu. Anak-anak sudah mau ujian.”
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum seraya undur diri dari hadapan Astari. Ia sudah menawarkan diri untuk mengajar setelah anak-anak tersebut pulang dari ladang atau laut, tetapi sejauh ini, mereka tidak mau dengan alasan lelah. Dan lagi, Astari tidak bisa memaksakan hal tersebut.
Ia baru melangkah beberapa jauhnya saat kini berpapasan dengan Pak RT setempat. Tidak seperti biasanya yang hanya mengenakan kaus dalaman tanpa lengan dan sarung, sedang minum kopi di depan rumah, kali ini Pak RT sudah berpakaian rapi. Mengenakan celana kain warna coklat, hem batik, dan juga peci. Jelas Pak RT sedang bersiap untuk sebuah acara.
“Mau ada acara, Pak RT?” Tanya Astari saat pria itu berjalan di sampingnya.
Sebentar lagi ia akan sampai ke sekolah yang dekat dengan balai desa dan puskesmas yang teah bertahun-tahun kosong karena tidak ada dokter yang ditempatkan di sana. Yah, tidak hanya guru, dokter juga tidak mau bertugas di tempat terpencil ini. Dokter terakhir yang ada di sana adalah pria tua yang hampir memasuki masa pensiun. Beliau hanya bertugas selama enam bulan sebelum akhirnya pensiun dari pekerjaannya tersebut.
“Lho, masa Mbak Astari ini nggak tahu. Opo Bapak ndak bilang apa-apa di rumah? Kita kan mau kedatangan tamu spesial.”
Astari mengerutkan kening mendengar pernyataan itu. Mungkin, ini waktunya posyandu bagi anak-anak balita, atau penyuluhan dari pegawai pemerintahan.
“Ndak denger berita saya, Pak. Mau ada apa tho, Pak? Posyandu? Penyuluhan?”
“Bukan. Kita mau kedatangan dokter.”
“Dokter?”
Mata Astari menatap bangunan puskesmas terbengkalai itu. Apa itu dokter untuk bertugas di sini untuk waktu yang lama, atau hanya singgah sementara? Atau, seperti yang sebelumnya, menunggu waktu untuk pensiun?
Pak RT mengangguk. “Iya, dokter buat memeriksa semua penduduk di sini. Jadi kalau ada yang sakit, kita ndak perlu lagi bingung pergi ke kota.”
“Maksud Bapak, puskesmasnya akan kembali aktif?” Tanya Astari dengan penuh harap.
Bukan sekali dua kali saja, para penduduk desa ini harus pergi berobat ke puskesmas di tempat lain karena tidak ada dokter di sini. Bahkan tidak jarang, para penduduk memilih untuk membiarkan sakitnya itu, dan tentu saja banyak yang berakibat fatal karena hal tersebut.
Walaupun sangat ingin membantu mereka, tetapi Astari bukanlah lulusan bidang kedokteran sehingga ia tidak tahu menahu tentang banyak penyakit. Jika ada dokter, setidaknya penyakit mereka akan lebih cepat ditangani.
“Alhamdulillah kalau ada dokter lagi, Pak. Saya ikut senang. Ada yang bisa saya bantu, Pak?” Tanya Astari dengan tulus.
Ia tahu hari ini pasti kelasnya akan hampir kosong karena kesibukan anak-anak membantu orang tuanya, jadi akan lebih baik bagi Astari jika memiliki kegiatan lain.
Pak RT yang adalah sahabat Bapak itu tersenyum sambil menepuk bahu Astari dan berkata, “sana bantu Bu RT aja di dapur siapin makanan.”
Astari tersenyum sambil meletakkan sepedanya di depan balai desa, lalu berjalan kaki menuju rumah Pak RT yang tidak jauh darinya. Setidaknya, hari ini ia tidak akan diam di kelas menunggu muridnya datang, dan hanya berakhir dengan kekecewaan.