4. Dukungan Antar Saudara

1567 Words
Sepanjang malam, Dante tidak bisa memejamkan matanya. Mamanya marah besar dan memaki-maki Dante dengan kasar. Sesuatu yang selama ini tidak pernah Dante dengar sebelumnya. Mama yang ia kenal adalah wanita berpendidikan yang tidak pernah mengeluarkan kata-k********r. Namun, malam ini, ia seakan melihat sosok yang berbeda dari diri Mama. Pintu kamarnya diketuk pelan sebanyak dua kali. Dante melirik jam di meja samping ranjangnya, dan melihat jika saat itu sudah hampir tengah malam. Siapa yang belum tidur selarut ini? Apa Mama memutuskan akan memarahinya lagi? Atau Papa akan mencegahnya pergi dan menuruti Mama? Dante ingin diam saja dan membuat siapapun yang berdiri di belakang pintunya itu pergi. Namun, ketika terdengar ketukan lagi dengan lebih tidak sabar, ia bangkit dari tidurnya, dan berjalan ke pintu tanpa menyalakan lampu kamarnya. Dari balik cahaya yang berpendar di pintu, ia melihat bayangan orang yang berdiri di sana, dua orang. Dante membuka kunci dan pintunya, kemudian mendapati kedua kakaknya berdiri di sana. Tanpa permisi atau menunggu Dante membuka mulut, Rasya dan Tasya masuk ke kamarnya, menyalakan lampu dan duduk di ranjang Dante. Tasya setengah berbaring, sementara Rasya duduk bersila di tengah ranjang seakan mereka sudah sering melakukan ini. Padahal, mungkin ini kali pertama setelah bertahun-tahun, kedua kakaknya itu berada di kamarnya. “Ada apa ini?” tanya Dante heran setelah kembali menutup pintu kamarnya. Selama ini, Dante tidak pernah sangat dekat dengan kedua kakaknya. Ia sudah bilang kan jika keluarganya bukan tipe keluarga yang hangat? Mereka terbiasa menjalani hidup dan kesibukan mereka masing-masing, berkumpul hanya untuk makan dan tanpa percakapan akrab. Mereka semua hampir seperti orang asing satu sama lain. Kecuali mungkin Tasya dan Rasya. Dua kakaknya itu selalu akrab dan saling mendukung satu sama lain. “Malam perpisahan,” kata Tasya sambil membuka bungkusan yang tadi ia peluk dengan erat. Di balik kantong kertas itu, ada beberapa kaleng minuman soda, keripik, dan snack-snack lainnya. “Kita berpesta dengan semua soda dan keripik itu? Mama bilang itu tidak sehat, kakak dapat dari mana?” tanya Dante sambil mengerutkan keningnya. Di rumah ini, tidak pernah tersedia makanan seperti itu. Bagi Mama, itu dosa besar. Rasya menyeringai. “Makanya jangan kerja mulu sampai nggak tahu kalau kita punya gudang penyimpanan ‘sampah’ seperti ini.” Dante tersenyum dan bergabung bersama mereka. Rasya dan Tasya memang jauh lebih dekat satu sama lain karena umur mereka yang hanya berjarak satu setengah tahun. Mereka lebih seperti anak kembar daripada kakak beradik. Di rumah ini, hanya Dante yang mewarisi wajah Mama. Sedangkan kedua kakaknya lebih mirip dengan ayah mereka. Baik secara fisik maupun sifatnya. Sejak kecil, Rasya dan Tasya selalu menuruti apa yang Mama katakan. Mereka jarang membantah perintah Mama dan selalu berprestasi sejak masih sekolah. Berbeda dengan Dante yang badung dan biasa-biasa saja, mereka berdua adalah anak teladan sejak sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi. Tidak heran jika mereka sudah menjadi dokter spesialis sebelum berusia tiga puluh. Tasya bahkan pernah loncat kelas sehingga ia selalu satu kelas dengan Rasya. Saat ini, Rasya menjadi dokter spesialis bedah jantung, sementara Tasya adalah dokter spesialis bedah syaraf. Dan jika dilihat dari komposisinya, pasti mama berharap ia menjadi spesialis bedah umum. Mama selalu berusaha menjadikan keluarga mereka yang paling unggul dari keluarga lainnya. Dalam hal ini, para adik-adik ayahnya. Meskipun semua adik ayahnya juga menjadi dokter, tetapi beberapa anak mereka memutuskan untuk mengambil profesi lain dan para orang tua menghargai pilihan itu. Sayangnya, menurut Mama itu berarti kegagalan dalam mendidik anak hanya karena memilih profesi berbeda. Menjadi berbeda itu aib, dan bagi Mama, Dante adalah aibnya. Ia mencoreng kesempurnaan yang selama ini Mama ciptakan dengan sangat memalukan. Orang berakal mana yang rela menukar kesempatan bekerja di rumah sakit ternama, gaji yang bahkan tidak pernah habis Dante belanjakan setiap bulannya, dan kesempatan menjadi dewan direksi dengan menjadi dokter PNS? Mama pasti akan menangis darah mengetahui besaran gaji yang Dante terima sekarang. Juga lingkungan tempat tinggal Dante nanti. Namun, lagi-lagi, bukan itu yang membuat Dante tetap pada keputusannya untuk pergi. Menjadi dokter di lingkungan terpencil dan berbeda dari sekarang, akan menjadi pembuktian jika Dante bisa berdiri di atas kakinya sendiri tanpa nama besar ayah dan ibunya. “Mama pasti murka kalau tahu kalian makan keripik malem-malem begini,” kata Dante sambil membuka satu botol soda dan menenggaknya. Ia tidak bisa membayangkan kedua anak kebanggaan Mama itu melakukan kesalahan dan diomeli seperti dirinya. “Mama nggak akan tahu kalau kamu diem aja.” Rasya nyengir sambil meraih coklat. “Kenapa kamu nggak bilang kalau daftar tes PNS? Terus gimana kamu ngurus pengunduran diri kamu dari rumah sakit?” Tasya bertanya sambil sibuk memakan keripik kentang asin yang penuh dengan penyedap buatan. Dokter makan keripik dan coklat tengah malam buta begini? Mohon maaf, dokter juga manusia biasa yang memiliki guilty pleasure-nya sendiri. “Papa yang akan mengurus pengunduran diri Dante.” “Papa tahu?” tanya Rasya dengan sedikit terkejut. Dante mengangguk. “Nggak sengaja. Dante ketemu Papa pas mau lengkapin berkas.” Kedua kakaknya menunggu Dante bicara lebih lanjut jadi ia menceritakan semuanya pada mereka. Mungkin, jika dihitung, ini adalah saat terlama Dante bicara pada kedua kakaknya. Sebelumnya, ia hanya bertanya atau bicara basa basi saja dengan mereka. Ia tidak menduga jika kakaknya akan ‘perhatian’ padanya seperti ini. Mungkin, selama ini ia memang terlalu cuek dan tidak peduli pada keluarganya. Ia merasa terasing karena mereka berdua lebih dekat satu sama lain. Seharusnya, Dante mengabaikan itu dan mencoba untuk dekat dengan mereka. Walau bagaimanapun, mereka berdua adalah kakaknya dan Dante sering meminta bantuan mereka. “Mama benar-benar marah, Dante. Kakak nggak akan heran kalau kamu dikeluarin dari kartu keluarga beneran.” Tasya menatapnya dengan prihatin. Dante memandang Tasya dan mengangkat bahu. “Dante anggap itu sebagai risiko yang harus Dante tanggung. Dante capek, Kak, ngikutin semua keinginan Mama. Dante udah dewasa dan bisa memilih jalan hidup Dante sendiri. Dante nggak mau selamanya hanya hidup di bawah kaki Mama.” Kedua kakaknya saling berpandangan, dan seketika ia diliputi perasaan tidak enak. Kedua kakaknya sekarang sudah berusia lebih dari tiga puluh tahun dan masih hidup bersama di satu rumah, juga mengikuti semua yang mama perintahkan. Tasya bahkan belum menikah hingga saat ini, meskipun sudah hampir berusia tiga puluh dua, karena Mama berniat menjodohkan dia dengan ‘seseorang yang tepat’. Entah seseorang seperti apa yang menurut Mama tepat. Dante duga, Mama ingin Tasya menikah dengan pria yang juga seorang dokter, tetapi memiliki kehidupan yang lebih hebat daripada mereka. Tasya pernah mengajak pacarnya ke rumah dulu. Yang Dante ingat, ada dua kali dan semua hubungan itu ditentang oleh Mama karena mereka tidak sederajat. Sejak itu, Tasya tidak pernah lagi membawa kekasihnya pulang, atau apakah ia menjalin hubungan lagi dengan seseorang tanpa sepengetahuan Mama. Sedangkan Rasya, kakak sulungnya itu sama sekali tidak pernah membawa seorang gadis untuk pulang dan dikenalkan pada Mama. Mungkin, Rasya juga sadar jika itu semua hanya akan sia-sia belaka. Mama selalu pandai melihat keburukan orang lain. Tidak ada seorang pun yang jauh lebih hebat dari anggota keluarga Darmawan. “Maafin, Dante. Dante nggak maksud buat nyindir kakak.” “It’s okey. Kamu berani. Sejak dulu kamu yang selalu bisa menyuarakan semua keinginan kamu,” ucap Rasya santai diikuti anggukan kepala Tasya. “Dan kami berharap kami berdua bisa seberani kamu,” sambung wanita itu kemudian. “Kalian anak kebanggaan Mama, nggak seperti Dante.” Tasya mendengkus dengan tidak anggun dan bersandar di kepala ranjang. “Dan kakak berharap bisa memiliki setengah saja keberanian yang kamu miliki untuk melawan Mama.” Tidak semua permukaan seperti yang selama ini terlihat. Dante pikir kedua kakaknya menjalani hidup mereka dengan sangat baik dan menikmatinya. Namun, dari apa yang Dante lihat sekarang, keduanya justru terlihat sedih dan menyesal. Apa mereka punya mimpi lain yang tidak pernah diungkapkan? Keinginan untuk memilih profesi yang lain? Atau keinginan untuk menjalin hubungan dengan seseorang yang mereka pilih sendiri? “Kakak pernah punya keinginan lain selain menjadi dokter?” Kedua kakaknya kembali saling memandang sebelum menatap Dante, dan mengangguk. “Kakak pengen jadi pilot biar bisa terbang ke mana aja,” ucap Rasya sambil tersenyum menyesal. “Sementara kakak pengen jadi model dan pergi ke mana aja untuk menjalani fashion show dan pemotretan.” Dante tersenyum. Tasya memang sangat cantik dengan rambut hitamnya yang tebal dan panjang. Ia juga memiliki tubuh langsing yang merupakan impian para gadis-gadis di luar sana. sementara Rasya, kakaknya itu bertubuh tinggi dan tegap. Wajahnya juga tampan dan kalem seperti Papa. Di rumah sakit, Rasya selalu menjadi dokter idola. “Maafin Dante harus pergi dari rumah dengan cara seperti ini.” Jika ada cara lain untuk membuat Mama bisa menerima keputusannya, Dante pasti akan melakukannya dengan senang hati. Sayangnya, ia tahu Mama tidak akan pernah memberikan kesempatan itu padanya. Mulai hari ini, ia bukan lagi anak Mama. Dante yakin itu. Bahkan apa yang Tasya katakan mungkin benar bahwa ia akan dicoret dari kartu keluarga. Tasya dan Rasya mendekat dan duduk di sisi tubuh Dante kanan kiri. Tangan mereka berada di bahu Dante. “Apapun yang terjadi, kamu tetap adik kami,” kata Rasya pelan. “Mau jadi dokter di rumah sakit kita, atau sebagai dokter PNS, kami akan selalu memberikan dukungan buat kamu, Dek. Telepon kami kalau kamu butuh bantuan kami untuk hal apapun. Oke?” sambung Tasya. Dante tersenyum dan mengangguk. Ia ingin memeluk mereka, tetapi dirinya malu. Meskipun Mama tidak mendukungnya, setidaknya dukungan antar saudara sudah cukup baginya. Besok, ia akan memulai hidup yang baru dan membuktikan pada Mama bahwa apa yang ia pilih adalah jalan yang benar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD