Perjalanan Dante ke desa Girimulyo itu berjalan cukup lancar. Tidak seperti di Jakarta yang selalu macet, kondisi jalanan di tempat ini begitu jauh berbeda. Beberapa titik memang sedikit macet, tetapi ketika mereka sudah meninggalkan pusat kota, kondisinya benar-benar berbeda dengan yang dilihat Dante selama dirinya tinggal di Jakarta.
Sepanjang jalan, Dante mengamati suasana di sekitarnya yang menampilkan pemandangan yang jarang ditemuinya. Warung makan atau pertokoan pinggir jalan memang banyak di Jakarta, tetapi selain pemandangan tersebut, masih banyak sawah dan pepohonan hijau yang sudah sangat sedikit di Jakarta. Sepeda, becak, dan andong juga masih terlihat di beberapa jalanan desa.
Beberapa petani, ia lihat sedang beristirahat di sela pekerjaan mereka sambil mengobrol dengan temannya di sebuah gubuk sederhana. Dante tersenyum melihatnya. Masyarakat di kota ini dikenal dengan orang-orang yang ramah. Ia harap, apa yang akan ditemuinya di tempat yang baru nanti juga tidak akan berbeda. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain mendapatkan sambutan yang ramah di tempat yang asing.
“Bapak udah pernah ke tempat saya mau kerja ini belum, Pak?” Tanya Dante untuk membuka percakapan.
Sejak tadi, hanya suara radio yang menemani perjalanan mereka. Dante sibuk dengan memperhatikan pemandangan yang ia lihat sementara Pak Anwar sibuk dengan pekerjaan menyetir di bangku depan. Pria itu menolak keras saat Dante meminta duduk di sampingnya hingga kini dirinya berada di bangku belakang.
Pak Anwar menatap kaca spion, memandangnya sejenak sebelum menjawab, “belum, Mas. Tapi desa itu lumayan dekat sama desa asal saya.”
“Oh, Bapak berasal dari sana juga?”
Pria itu mengangguk dan kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Dante ajukan dengan senang hati mengenai tempat itu, juga keluarga yang Pak Anwar miliki. Dante selalu suka mengobrol. Di rumah, ia juga sering menghabiskan waktu dengan tukang kebun, sopir, atau asisten rumah tangganya yang lain.
Dari orang-orang itu, Dante mendapatkan kehangatan yang tidak pernah ia dapatkan dari keluarganya sendiri. Mereka selalu bicara dengan riang, penuh senyum, juga penuh rasa bersyukur. Jika ada yang akan Dante rindukan dari rumah, itu adalah para pekerja di rumahnya. Mereka menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya daripada keluarganya sendiri.
Bi Titin, bahkan membawakannya banyak bekal lauk untuk Dante. Wanita itu menyuruh Dante untuk langsung menghubunginya jika semua makanan itu habis, dan wanita paruh baya itu akan langsung mengirimkannya. Wanita itu berpesan agar Dante tidak lupa makan dan banyak nasihat lain yang seharusnya ia dapatkan dari Mama.
Satu hal yang harus langsung Dante beli nanti, mungkin adalah kulkas untuk menyimpan semua lauk yang Bi Titin berikan padanya. Ia tidak akan bisa memakan semua itu dalam sekejap.
“Tapi di sana itu masih kampung banget lho, Mas,” kata Pak Anwar kemudian setelah mereka membicarakan tentang anak-anak pria itu.
“Beda sama kampung Bapak?”
“Saya di bawah tinggalnya. Itu kampung di atas pesisir. Kalau turun ke sisi lainnya, udah langsung dapet laut Selatan.”
Dante tersenyum membayangkan tempat itu. Pastilah itu menjadi pemandangan terindah yang akan bisa ia lihat setiap hari selama dua tahun ini. Tidak butuh banyak usaha jika dirinya ingin menenangkan pikiran.
“Dulu, mobil ndak bisa naik ke sana soale jalannya sempit banget. Udah gitu, naik jalannya.”
“Kalau sekarang?”
“Nah kalau itu saya ndak tau, Mas. Harusnya sih udah ya? Itu dulu tahun 90-an yang nggak bisa dilewati mobil.”
Seharusnya keadaan sudah berubah. Pembangunan di Negara ini sudah semakin maju. Terlebih dengan kabupaten ini yang sering menjadi jujugan para pelancong untuk menikmati pemandangan pantai, seharusnya pemerintah setempat sudah menyiapkan segala pendukungnya termasuk kondisi jalanan yang baik.
“Semoga saja, Pak. Tapi pegawai desa setempat meminta saya menemui mereka di balai desa tetangga, dan setelah itu akan mengantarkan saya ke desa tersebut.”
Pak Anwar mengangguk dan setelah itu, perjalanan mereka lanjutkan dalam keheningan seperti sebelumnya. Jalanan yang ramai mulai menghilang, berganti dengan jalan sepi yang di sekelilingnya terdapat banyak pohon jati dan juga perkebunan tandus.
Walaupun angin bertiup sepoi-sepoi, kondisi di sana cukup panas hingga Dante menutup jendela yang sejak tadi ia biarkan terbuka, dan meminta Pak Anwar menyetel pendingin. Tidak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman balai desa. Di depannya sudah ada kepala desa, dan beberapa pejabat setempat yang berseragam coklat dan berpeci.
Dante turun dari mobil dan menyalami mereka. Pria-pria itu menyambutnya dengan ramah, sama seperti yang dibayangkan Dante sebelumnya. Senyum tidak lepas dari bibir mereka saat sedang mengobrol.
Ketika Pak Susilo mengajaknya untuk segera pergi ke desa yang akan ditujunya, Pak Anwar tampak khawatir saat Dante pamit padanya.
“Mas Dante bener nggak mau tinggal di guest house? Kalau Bapak marah gimana? Saya bisa antar jemput Mas Dante tiap hari.”
Dante tersenyum dan meraih tangan pria itu. “Bapak nggak usah khawatir. Papa nggak akan marah.” Seakan papanya bisa marah saja. “Nanti saya hubungi Bapak kalau butuh bantuan.”
Yang tidak Dante duga, pria itu memeluknya dengan erat setelah Dante melepaskan genggaman tangannya. Dante tersenyum dan balas memeluk Pak Anwar sebelum pamit kepada pria itu. Ia membonceng sepeda motor Pak Susilo sementara kopernya di bawa dua orang anak buah beliau di dua sepeda motor matic.
Desa itu cukup dekat, tetapi seperti yang tadi dikatakan Pak Anwar, jalanannya menanjak dan sempit meskipun sepertinya, mobil sudah bisa lewat sana. Asal tidak berpapasan dengan mobil lain karena pinggirannya jurang yang cukup dalam.
Tampaknya, pendapatnya bahwa pembangunan sudah merata tidak benar. Tempat ini seakan terlupakan dari hingar bingar pembangunan yang digaungkan pemerintah. Jalanan yang mereka lewati anak jalan tanah yang tidak rata dan banyak bebatuan. Ia tidak bisa membayangkan akan seperti apa kondisinya saat hujan turun nanti.
“Tidak ada jalan lain menuju desa itu, Pak?” tanya Dante setelah jalan yang mereka lewati akhirnya mulai melandai.
Di kejauhan, ia bisa melihat laut yang biru dan deru ombak menghantam karang. Udara panas dan sejuk ia rasakan bersamaan. Tempat ini cukup rindang karena dikelilingi pepohonan, tetapi tidak dipungkiri, kondisi dekat laut juga membuatnya menjadi panas.
“Nggak ada, Mas. Ya cuma satu ini,” jawab Pak Susilo sambil menoleh sekilas. “Di sana ada sekolah satu, puskesmas satu. Kantor desa gabung sama kantor saya.”
Terdengar seperti desa yang tidak pernah mendapatkan perhatian dari pemerintah. Dante tidak bisa membayangkan seperti apa puskesmas yang akan menjadi tempatnya bekerja nanti.
Sepeda motor yang mereka tumpangi akhirnya memasuki desa tersebut. Rumah pertama yang sederhana terlihat, disusul rumah-rumah lain yang serupa. Hampir semuanya masih berdinding bambu atau kayu. Ia juga pastikan jika rumah-rumah itu berlantai tanah.
Sejenak, Dante merasa gugup dan khawatir. Apa ia akan tinggal di salah satu rumah itu? Bukan masalah rumahnya yang sederhana, tetapi bagaimana dengan kamar mandi, listrik, atau sinyal telepon?
Sebelum pertanyaan Dante terjawab, Pak Susilo berhenti di depan balai warga yang tampak ramai. Musik-musik dinyalakan seperti mereka sedang menyambut seorang pengantin. Pria rapi berpeci mendekatinya dan mengenalkan diri sebagai Pak RT.
Lagi-lagi, suasana perkenalan berlangsung hangat dan akrab. Mereka tampak begitu gembira menyambut Dante. Di atas tikar juga sudah tersuguh banyak makanan kecil. Kekhawatirannya saat memasuki desa ini mendadak sirna. Para warga di sini tampak begitu hangat menyambutnya. Mungkin, ia bisa bertahan tanpa sinyal internet atau telepon jika dikelilingi keramahan yang seperti ini.
Dante duduk menikmati teh manis dan beberapa kue yang disajikan untuknya sambil mengobrol dengan Pak Susilo dan pak RT. Mereka berdua menunjukkan dua bangunan utama di dekat balai desa itu. Sebuah sekolah yang menyedihkan, dan puskesmas kosong yang kondisinya tidak jauh berbeda.
Dante tersenyum miris. Tampaknya, besok akan menjadi hari yang sibuk baginya. Tempat itu pasti butuh usaha ekstra untuk membersihkannya sebelum ia bisa mulai menggunakannya. Dari yang didengarnya, tempat itu sudah kosong cukup lama.
“Pak Dokter nggak usah khawatir, besok warga desa bantu Pak Dokter bersihin puskesmas,” ucap Pak RT sambil tersenyum, seakan bisa membaca ekspresi Dante.
“Saya juga sudah koordinasi sama puskesmas pusat, peralatan dan obat-obatan akan dikirimkan lusa ke balai desa. Jadi saya akan mengantarkan ke sini. Sebelum itu, kita semua bisa bersih-bersih.”
Dante mengangguk seraya mengucapkan terima kasih mendengar ucapan pak Susilo. Pria itu juga yang memberikan tempat tinggalnya pada Dante di sini, tetapi ia belum tahu rumah yang mana yang akan ditempatinya. Ia tidak berani mengharapkan salah satu rumah dengan dinding tembok dekat balai desa itu yang akan ditempatinya. Apa ia akan tinggal bersama dengan Pak Susilo dan keluarganya, Dante juga belum bertanya.
“Sekolah itu juga masih berfungsi, Pak?” tanya Dante sambil menunjuk bangunan yang temboknya sudah retak-retak dan atap yang kayunya sudah lapuk. Tempat itu terlihat sepi dan tidak ada aktivitas mengajar.
“Masih, Mas. Cuma hari ini lagi libur. Anak-anak lagi pada bantu panen atau melaut.”
Kening Dante berkerut saat ia menatap Pak RT yang menjawab pertanyaannya. “Apa ada hari libur seperti itu?”
Pak RT dan Pak Susilo berpandangan sebelum mereka berdua tertawa getir.
“Di sini ada, Mas. Musim panen, musim melaut, musim tanam, itu hari-hari libur nggak resmi. Anak-anak banyak yang membantu orang tuanya, hingga yang masuk kelas bisa dihitung dengan jari.”
Ya Tuhan. Ia pikir, hal-hal seperti itu hanya ada di film yang pernah ditontonnya tentang desa terpencil. Tidak disangkanya, itu juga terjadi di sini. Dunia macam apa yang sebenarnya sedang Dante masuki ini? Kenapa desa ini bisa begitu tertinggal dari desa sebelahnya? Apa Pak Susilo sebagai seorang perangkat desa tidak bisa mengajukan bantuan pembangunan untuk desa ini?
“Tapi, berarti gurunya juga masih ada sekolah itu, Pak?” tanya Dante lagi setelah keheranannya sedikit berkurang.
Pak RT mengangguk. “Anaknya Pak Susilo yang jadi guru di sini sama dua temennya yang lain. Itu dia anaknya.”
Dante menoleh menunjuk ke tempat para wanita berkumpul menyiapkan makan siang. Matanya bertemu dengan tatapan mata gadis manis berjilbab hijau, dan tiba-tiba saja, jantung Dante berdetak dengan begitu kencangnya.