Bab 3 : Menggoda

1128 Words
Rheva kembali ke kamarnya dengan mulut yang tidak hentinya menggerutu. Memaki Naren dengan berbagai macam sumpah serapah. Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana bisa sikap Naren sangat berbeda 180 derajat dengan n*vel aslinya. Memikirkannya saja membuat Rheva mendadak sakit kepala. Ia menghela napas, lalu menatap tajam kertas di tangannya. Surat perjanjian yang sudah ditandatangani oleh Naren. “Naren benar-benar pria berengsek. Sepertinya mulai saat ini aku harus menghindari pria itu sejauh mungkin. Aku tidak tahu kapan pria itu akan benar-benar memperkosaku.” Rheva bermonolog sembari menyimpan kertas itu di laci nakas. Rheva meringis saat merasakan tangannya sakit. Ia menghela napas pelan melihat telapak tangannya yang kini berwarna kemerahan. Ia segera meninggalkan kamar dan menuju ke dapur. Meminta pelayan menyiapka air es untuk ia mengompres telapak tangannya. Sementara itu, di dalam kamar Naren. Naren segera membersihkan diri dan mengenakan pakaian rapi. Tujuan kakeknya menelepon dirinya tadi, yaitu meminta dirinya dan Rheva untuk datang ke kediaman utama Mahendra. Kakeknya ingin mereka berdua makan malam bersama di sana. Setelah memastikan bahwa penampilannya rapi, Naren meninggalkan kamar dan menemui Rheva untuk mengajaknya pergi. Namun, ia terkejut saat mendapati Rheva duduk di ruang keluarga, mengompres telapak tangannya. “Ada apa dengan tanganmu?” nadanya terdengar sangat khawatir sekali. Diperiksanya tangan Rheva dengan cepat. Rheva tidak menjawab. Ia malas berbicara dengan Naren. Sebenarnya ingin sekali ia berteriak memaki dan memukuli Naren untuk menumpahkan kekesalannya kepada pria itu. Sayangnya ia sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Saat ini dirinya kehabisan tenaga. Baik tubuh dan mentalnya sangat lelah dengan apa yang terjadi hari ini. “Sakit?” Naren mengambil alih handuk kecil di tangan Rheva dan mengompresnya. Rheva masih diam seribu bahasa. Naren menghela napas pelan. Merasa aneh dengan sikap Rheva yang mendadak diam seperti ini. Tanpa menatap Rheva, ia berkata, “Yang meneleponku tadi kakek. Dia menyuruh kita ke sana untuk makan malam bersama di kediaman utama Mahendra.” “Kamu pergi saja sendiri.” Naren mengalihkan pandangannya dari tangan Rheva ke wajah istrinya. Wanita itu memasang wajah datar. “Kenapa kamu tidak mau ikut?” Rheva mengambil alih handuk di tangan Naren dengan kasar. Lalu mengompres tangannya sendiri. “Apa aku harus memiliki alasan untuk tidak ikut bersamamu?” “Tentu. Jika tidak, bagaimana aku mengatakan kepada kakek kenapa kamu tidak mau ikut denganku makan malam di kediaman Mahendra?” “Kalau begitu katakan saja aku ingin menyendiri di rumah karena aku malas melihat wajahmu.” “Aku tidak tahu kenapa kamu terlihat begitu marah padaku.” Naren menyipitkan matanya. “Jangan bilang kemarahanmu ini karena kita tidak bisa berc*nta karena harus makan malam bersama kakek.” Rheva yang sejak tadi menahan diri, kini tidak bisa menahan diri lagi usai mendengar ucapan Naren yang terdengar melecehkan di telinganya. Ia menatap nyalang Naren dan menamparnya. Namun, seketika ia menjerit keras sambil memegangi tangannya yang kesakitan. Naren yang mendengar jerit kesakitan Rheva, refleks menarik tangan istrinya dan mengompresnya dengan cepat. “Kamu tidak apa-apa?” Rheva tidak menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit. Karena diselimuti amarah, ia mengerahkan semua kekuatan untuk menampar wajah Naren. Lupa jika tangannya sedang sakit. Naren menghela napas. “Cobalah untuk mengontrol emosimu. Kuperhatikan hari ini kamu suka marah-marah. Tidak seperti biasanya yang kalem.” “Naren?” “Hm!” “Bisakah kamu diam saja? Aku ingin ketenangan. Jadi bisakah kamu tidak menggangguku dan pergi ke rumah kakek saja?” Naren menatap Rheva tanpa menghentikan gerakan tangannya yang mengompres tangan Rheva yang semakin merah. “Jadi kamu ingin tetap di rumah? Tidak ingin ikut bersamaku ke rumah kakek?” “Ya.” “Baiklah. Aku akan menghubungi kakek kalau kita tidak bisa ke sana. Sebenarnya aku juga malas ke kediaman Mahendra. Lebih baik di rumah saja. Lagi pula, aku ingin menghabiskan malam bersamamu.” Naren mendekatkan mulut ke telinga Rheva dan berbisik, “Aku ingin meminta jatahku malam ini.” Rheva pun refleks menghindar sejauh mungkin dari Naren. Ia melemparkan handuk untuk mengompres ke wajah Naren. Sayangnya Naren berhasil menghindarinya. Rheva menatap tajam Naren. “Dasar laki-laki berengsek!” Naren tertawa keras mendengar makian Rheva. Hal itu semakin membuat Rheva kesal dan marah. Ia hendak meninggalkan ruang keluarga, tetapi Naren berhasil meraih tangannya. “Jangan marah, Sayang. Lebih baik kita pergi ke kediaman utama Mahendra. Kakek akan marah padaku jika kita tidak ke sana untuk makan malam bersamanya.” Naren mendekati Rheva, meraih pinggangnya. Dipeluknya erat Rheva supaya tidak memberontak. Ia berbisik, “Kecuali kalau kamu benar-benar ingin aku menidurimu. Dengan senang hati aku akan memberitahu kakek alasan kita tidak datang ke sana. Lagi pula kakek sudah lama menginginkan cicit dari kita.” Rheva yang sudah sangat marah, menggigit bahu Naren sekuat-kuatnya. Sementara Naren hanya bisa meringis, menahan sakit di bahunya. Meskipun begitu, ia masih setia memeluk Rheva. “Lepas!” “Beri aku jawabannya dulu.” “Iya, iya! Kita pergi ke sana.” Rheva memilih untuk mengalah saat ini. Ia benar-benar lelah menghadapi Naren yang berubah sikap. Tidak sama seperti dalam n*vel aslinya. Naren tersenyum lebar. Ia pun melepaskan pelukannya dan langsung membawa Rheva ke kediaman utama Mahendra. “Jangan memasang wajah cemberut begitu. Kalau tidak, jangan salahkan aku menciummu,” ancam Naren ketika mereka hampir mendekati kediaman utama Mahendra. Rheva menatap Naren dengan memasang senyum kaku. Senyum yang jelas sangat dipaksakan. Lalu ia kembali menatap ke luar jendela. Sesampainya di kediaman utama Mahendra, Aditya sudah menuggu kedatangan mereka di depan rumah. Pria itu ditemani Adam yang berdiri di belakang pria itu. Rheva bergegas keluar dari mobil. Menghampiri Aditya yang tersenyum lebar kepadanya. “Kakek, kenapa kakek di sini? Kakek tidak perlu menunggu kami di luar.” Rheva meraih tangan Aditya. Ia mengernyit kesakitan ketika tangannya terasa sakit saat menggenggam tangan Aditya. Namun, ia berusaha menjaga ekespresinya tetap tenang. Seolah tidak merasakan apa-apa. “Aku tidak mempercayai Naren. Karena itu aku menunggu kedatangan kalian untuk memastikan Naren menepati janjinya untuk datang bersamamu.” Aditya senang dengan perhatian cucu menantunya. Naren hanya diam saja dengan ucapan kakeknya yang memojokkan dirinya. Karena sudah waktunya makan malam, mereka semua langsung menuju ke ruang makan. Di meja makan, semua hidangan sudah tertata rapi. Seketika perut Rheva berbunyi keras saat aroma makanan memasuki indra penciumannya. Rheva menunduk malu. Sementara Aditya dan Naren yang mendengar itu hanya tersenyum kecil. Naren dengan sigap menarik kursi untuk Rheva. Ia juga mengambilkan makanan untuk Rheva. Namun, ia membatalkan niatnya yang hendak menyuapi Rheva ketika wanita itu menatapnya tajam. Sayangnya saat ini mereka berada di kediaman utama Mahendra. Jika mereka berada di rumah mereka sendiri, Naren pasti akan menggoda Rheva. Rasanya sangat menyenangkan menggoda istrinya yang tampak berubah itu. Tangan Rheva sedikit bergetar saat menyuap makanan. Hal itu tidak luput dari pandangan Aditya. Matanya membulat sempurna ketika melihat telapak tangan Rheva yang sangat merah. “Rheva, ada apa dengan tanganmu? Kenapa telapak tanganmu begitu merah?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD