BAB 2 : Surat Perjanjian

1201 Words
Rheva bergegas membuka laci nakas saat pelayan memberitahunya bahwa Naren sudah pulang. Diambilnya kertas dan bolpoin, lalu keluar kamar dengan berlari. Ia menunggu Naren di ruang keluarga. “Akhirnya kamu pulang juga,” ucap Rheva begitu Naren memasuki ruang keluarga. Naren menghentikan langkahnya, menatap Rheva yang berdiri di hadapannya dengan alis terangkat. “Kenapa? Apa kamu merindukanku?” Rheva tertawa keras. “Aku merindukanmu? Itu hanya ada dalam mimpimu.” “Oh!” Naren melangkahkan kaki menuju ke kamarnya. “Hei, Naren, tunggu!” Rheva mengikuti langkah Naren yang menuju ke kamarnya. “Aku ingin bicara denganmu.” Tanpa menghentikan langkahnya, Naren berkata, “Apa yang ingin kamu katakan?” “Bisakah kita duduk dulu?” “Aku mendengarkanmu. Jadi katakan saja apa yang ingin kamu katakan.” Rheva mencebik keras. Namun, ia segera melupakan kekesalannya dan kembali pada tujuannya. “Hei, Naren. Kamu mengatakan bahwa kamu tidak akan melepaskan diriku, bukan?” “Hm!” “Baiklah. Aku tidak akan menggugat cerai kamu, tapi aku punya satu syarat.” “Apa?” “Aku ingin kamu menandatangani surat perjanjian yang sudah kubuat ini.” Seketika langkah Naren terhenti dan berbalik. Atas tindakan Naren itu, Rheva yang berjalan di belakangnya pun terkejut. Terlambat bagi dirinya untuk menghentikan langkahnya. Alhasil ia pun menabrak d*da bidang Naren. “Kamu ini! Kenapa berhenti mendadak, sih?” gerutu Rheva kesal. Naren mengabaikan gerutuan Rheva. “Surat perjanjian apa?” Rheva menatap Naren dengan wajah terangkat, sebab Naren yang memang memiliki tubuh tinggi. Membuat Rheva harus mendongakkan sedikit wajahnya jika ingin menatap wajah pria itu. Apalagi dalam jarak yang begitu dekat. “Ini!” Rheva meletakkan tangannya yang memegang kertas dan bolpoin di d*da Naren dengan keras. Naren refleks mengambil kertas dan bolpoin itu sebelum jatuh ke lantai ketika Rheva melepaskan tangannya. Dibacanya tulisan yang tertera pada kertas itu. Senyum lebar menghiasi wajah Rheva saat melihat Naren mengeryit ketika membaca isi perjanjian yang dibuatnya. Setibanya di rumah setelah pulang dari perusahaan Naren, Rheva berpikir keras bagaimana caranya bisa berpisah dengan Naren. Berjam-jam ia berpikir, tetapi tidak menemukannya. Otaknya seketika buntu. Ia baru mendapatkan ide saat pergi ke dapur untuk minum, tidak sengaja melihat pelayan menulis daftar belanjaan. Jadi, karena Naren tidak membiarkan ia menceraikan pria itu, maka Rheva akan membuat Naren sendiri yang menceraikan dirinya. Itu adalah ide terbaik yang Rheva dapatkan setelah berpikir hingga kepalanya ingin pecah. “Kamu yakin dengan ini semua?” Naren menatap Rheva setelah selesai membaca isi dari perjanjian itu. “Ya, aku sangat yakin.” Rheva menjawab tegas. Tanpa ada sedikit pun keraguan dalam intonasinya. Naren kembali menatap kertas di tangannya. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut. Lalu menyerahkan kembali kertas dan bolpoin kepada Rheva. “Aku sudah menandatanganinya. Jadi bisakah aku mendapatkan hadiahku?” Rheva menerima dan menatap kertas di tangannya dengan tatapan tidak percaya. Senyum di wajahnya luntur saat melihat tanda tangan Naren. Hatinya menjerit keras. ‘Tidak mungkin! Kenapa dia tidak protes dan justru menandatanganinya begitu saja?!’ Rheva hanya bisa menangis dalam hati. Reaksi Naren sangat berbading terbalik dengan apa yang ia harapkan. Seharusnya pria itu marah dan menolak syarat yang ia tulis. Lalu Naren akan menceraikannya saat itu juga. Bukan justru menandatanganinya tanpa protes sedikit pun. Kenapa? Kenapa semuanya menjadi berbeda seperti ini? Tidak mendapatkan respons dari Rheva, Naren pun meraih dagu Rheva hingga sedikit mendongak, lalu menciumnya. Rheva terkejut dan refleks mendorong Naren. Menampar wajah pria itu dengan kekuatan penuh. Ia menatap nyalang Naren. “Siapa yang memberimu izin untuk menciumku?” Naren tidak marah, ia justru memperpendek jarak di antara mereka. “Aku suamimu. Tidak perlu izin darimu untuk menciummu. Jangankan menciummu, menidurimu pun aku berhak.” “Apa yang ingin kamu lakukan?!” Rheva melangkah mudur untuk menghindari Naren, suaranya sedikit bergetar ketika ia berteriak marah. Takut Naren akan benar-benar memperkosanya. Bagaimanapun dirinya masih perawan di kehidupan nyata. Dan seandainya dirinya harus kehilangan keperawanannya pun, ia tidak mau keperawanannya direnggut oleh Naren. Kening Naren berkerut dengan reaksi Rheva, tetapi langkahnya tidak berhenti sampai tubuh Rheva terhalang dinding. Wanita itu tidak bisa menghindar lagi. Ekspresi ketakutan terlihat jelas di wajah Rheva. Naren meletakkan kedua tangannya tepat di sisi kepala Rheva. Dengan tatapan m*sum, Naren mendekatkan kepalanya ke kepala Rheva. Wanita itu refleks memejamkan matanya dengan sangat rapat. Kedua bibirnya tertutup rapat bagaikan diberi lem. Rheva tidak akan membiarkan Naren menciumnya lagi untuk yang kesekian kalinya. “Ck! Halo? Ada apa, Kek?” tanya Naren setelah mengangkat ponselnya yang berdering. Nadanya terdengar kesal. Rheva menghela napas lega, perlahan ia membuka mata. Lalu menggeser tubuhnya, mencoba untuk melepaskan diri dari kungkungan Naren. Namun, Naren dengan sigap menghadang pergerakan Rheva dengan kakinya yang bertumpu pada dinding. Rheva menatap Naren yang tersenyum miring kepadanya. Namun, Rheva tidak menyerah. Selagi Naren menerima panggilan, ia berusaha melarikan diri, tetapi Naren justru mendekatkan tubuhnya. Hanya memberi jarak selebar satu jengkal. Naren sedikit menjauhkan ponselnya, lalu mendekatkan kepalanya ke telinga Rheva. Dengan suara sangat pelan bagaikan angin, ia berkata, “Diam dan patuhlah. Jika tidak, jangan salahkan aku menidurimu setelah panggilan ini berakhir.” Rheva menelan saliva dengan susah payah mendengar ancaman Naren. Namun, bukan Rheva jika menurut begitu saja. Dengan kekuatan penuh, Rheva menginjak kaki Naren. Seketika pria itu mengerang keras karena kesakitan, melepaskan kungkungannya pada Rheva. Kesempatan itu tidak Rheva sia-siakan. Ia segera berlari. Sayangnya Naren berhasil meraih tangannya. Kembali menyudutkan Rheva ke dinding. Menghimpit tubuh Rheva dengan tubuhnya. Sementara tangannya yang bebas melingkar erat di pinggang Rheva. “Naren berengsek! Lepaskan aku!” teriak Rheva. Tidak peduli Naren masih menerima telepon atau tidak. Ia memukul punggung Naren dengan keras. “Tidak apa-apa, Kek. Hanya pertengkaran kecil. Kami baik-baik saja.” Naren menjawab cepat saat kakeknya yang berada di seberang telepon menanyakan keadaan mereka. “Sudah dulu ya, Kek. Aku tutup teleponnya ... Iya, Kek. Iya. Aku akan datang ke sana bersama Rheva.” Naren mematikan sambungan telepon dan memasukkan ponselnya ke saku jas. Lalu ia meletakkan tangannya di dinding. Mendekatkan wajahnya ke wajah Rheva. Refleks Rheva memejamkan mata. Menggigit bibir bawahnya erat-erat. Ia tidak akan membiarkan Naren menciumnya. Tidak akan! Namun, lagi-lagi, apa yang Rheva pikirkan tidak menjadi kenyataan. Saat ia berpikir Naren akan mencium bibirnya, ternyata pria itu justru mencium keningnya. Naren tertawa pelan. “Apa kamu berharap aku akan menciummu di bibir?” “Naren sialan!” raung Rheva murka. Ia memukul punggung Naren. “Jika tidak ingin aku menidurimu, maka berhentilah memukuliku.” Rheva tidak peduli. Ia sangat marah saat ini. Naren yang kehilangan kesabarannya, mencium Rheva di bibir. Membuat pergerakan Rheva seketika terhenti. Naren melumat bibir ranum itu dengan agresif. Namun, itu hanya berlangsung sebentar. Ia segera melepaskan ciumannya dan segera melarikan diri sebelum Rheva tersadar dari keterkejutannya. “Naren sialan! Akan kubunuh kamu!” teriak Rheva menggelegar begitu sadar dari keterkejutannya. Ia mengejar Naren yang berlari ke kamarnya. Sayangnya Naren sudah masuk ke kamarnya. Menutup pintu dan menguncinya. Rheva menggedor pintu dengan sangat kuat sambil berteriak, “Naren! Buka pintunya, Naren! Keluar kamu!” Sayangnya, sekeras apa pun Rheva berteriak, bahkan hingga suaranya mulai serak dan tangannya mulai sakit pun, Naren tetap tidak membuka pintu kamarnya. “Awas kamu, Naren! Aku akan membalasmu nanti!” teriak Rheva mengancam. Lalu meninggalkan kamar Naren dengan wajah merah padam karena marah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD