Suara hiruk pikuk siswa SMAN 8 Kota Bandung mewarnai suasana di hari Senin pagi. Hari-hari kelulusan yang telah dinantikan oleh seluruh siswa kelas XII akhirnya tiba. Ketegangan selama dua bulan menunggu hasil pengumuman ujian nasional terjawab sudah. Seorang gadis remaja berambut pirang mendekat ke papan informasi yang sedari tadi penuh sesak oleh anak-anak dari kelas lain yang tampak sibuk mencari nama masing-masing di daftar kelulusan.
Kegalauan sempat melanda ketika namanya yang dicari belum juga ketemu diantara deretan kertas pengumuman yang tertempel di papan. Jangan sampai seorang Rhea Ebenheimer tidak lulus, gumamnya.
“Rhea, gimana lulus kagak lu?” Sapa seorang Winda Kirai Djamaris sembari merangkul bahu sahabat bule nya.
Gadis bermata sipit yang merupakan teman sebangku sekaligus teman masa kecil itu sudah Rhea anggap seperti saudara sendiri.
Wanita berdarah Minang-Bandung itu merupakan anak terakhir dari dua bersaudara. Jarak usia dari abangnya lumayan terpaut jauh sekitar tujuh tahun. Sudah tiga tahun ini abang yang seorang tentara mendapat tugas di daerah perbatasan, hingga membuat Winda tidak bisa tinggal jauh dari orang tuanya. Melihat wajah gadis berkepang dua itu semakin panik, dia hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala dengan heran.
“Win, nama gue kagak ada nih. Mati lah gue kalau sampe kagak lulus,”
“Serius kagak ada nama Rhea Amalia Lael Ebenheimer?” Winda keheranan melihat wajah panik sang sahabat.
“Enteu, teu aya nami abdi teh kumaha ieu?” Rhea tetap berusaha mencari namanya.
Winda sedikit tertawa saat sahabatnya sudah mulai mengeluarkan jurus bahasa Sunda. Dasar bule Sunda gumamnya dalam hati.
“Hei itu nama kamu Rhea!” sambil menunjukan Rhea ke sebuah kertas yang tertempel paling atas dengan tulisan ranking tertinggi nilai Ujian Nasional “Nilai elu itu yang paling tertinggi di sekolah kita. Bahkan se kota Bandung kali, atau se Jawa Barat mungkin.” Winda sambil mengarahkan wajah Rhea ke kertas itu.
“Yang bener nih Win? Gua lulus gua lulus!” Rhea sembari berjingkrak-jingkrak girang meluapkan kegembiraan.
Winda hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu.
“Udah yuk selebrasi nya nggak usah kelamaan. Udah biasa dapat nilai bagus juga. Kita ke kantin aja hehe,” ajak Winda
“Ngapain ke kantin?” Rhea bingung mendengar ajakan sahabatnya.
“Traktir gue lah, lu kan juara. Lagian ini otak kebuat dari apa si? Kagak pernah lihat belajar juga, eh tiba-tiba udah jadi urutan teratas hahaha.” ledek Winda bangga dengan sahabat satu itu.
“Oke, gue traktir sepuasnya hari ini.” Rhea menggandeng tangan sahabatnya menuju kantin.
Kantin adalah tempat yang mungkin akan di rindukan setelah mereka meninggalkan sekolah untuk lanjut ke jenjang perkuliahan. Selama tiga tahun, hanya tempat ini yang paling mengerti disaat mereka lapar, galau, senang bahkan sedih. Warung mie ayam pojok sisi barat adalah tempat nongkrong favorit mereka selama ini. Dua mojang Bandung cantik itupun segera menuju ke meja yang tidak terlalu ramai. Terlihat pak Dirman sedang sedang bersenandung lirih sembari asyik mengaduk-aduk mie di beberapa mangkok yang akan disajikan.
“Pak Dirman, Rhea biasa ya pak. Winda juga.” teriak Rhea memesan dua porsi mie ayam
“Siap neng. Lulus kan neng ujiannya?” Pak Dirman tersenyum memandang kearah mereka berdua.
“Jangan ditanya pak, ranking teratas dia.” Winda sembari menepuk bahu sahabatnya itu.
“Syukurlah bapak ikut senang.” pak Dirman berjalan ke arah Rhea dan Winda sambil menyodorkan dua mangkok mie ayam. “Buat kali ini gratis untuk neng Rhea dan neng Winda karena sudah lulus dengan nilai baik.” pak Dirman sambil tersenyum
“Serius pak?” celetuk Winda dan Rhea bersamaan.
“Yah padahal Rhea lho yang mau traktir, eh malahan pak Dirman yang traktir kita hehe.” Winda menggeser mangkok yang diturunkan dari baki.
“Iya neng serius atuh.” pak Dirman meyakinkan.
“Kita bakalan kangen banget sama bapak dan mie ayam ini.” Rhea memperhatikan mie ayam dimangkoknya. “Doain kita sukses ya pak.” Rhea memandang wajah tua pak Dirman yang usianya memang sudah berkepala lima itu.
“Doa itu pasti atuh neng, bapak senang kalau lulusan sekolah ini jadi orang sukses semua.” pak Dirman tersenyum
“Amiin.” Rhea dan Winda bersamaan.
Segera saja mereka menikmati mie ayam ceker Bandung spesial yang sudah disuguhkan Pak Dirman.
“Jadinya mau ambil kuliah dimana lu?” Winda membuka obrolan kembali.
“Udah di UBM aku Win.”
Rhea tetap asyik menyeruput mie ayam yang entah kapan lagi bisa dinikmati setelah sibuk dengan jadwal kuliah nanti.
“Serius kamu di Universitas Bumi Mataram? Ambil jurusan apa?” Winda nampak antusias mendengar kabar bahagia dari sahabatnya.
“Serius lah, ambil Fakultas Kedokteran lewat jalur undangan dong,” Rhea menatap sahabatnya sekilas.
Gadis bermata sipit itu masih sibuk mengunyah ceker yang merupakan toping favoritnya jika memesan mie ayam.
"Kenapa nggak kuliah di Jakarta? Yang masih deket sama Bandung?" Winda masih tak percaya.
“Soalnya disana ada tante gue juga, yah hitung-hitung biar nyokap nggak terlalu khawatir gue jauh sama dia untuk yang pertama kali,” sambung Rhea
“Demi apa temen bule gue mau jadi dokter? Asal jangan dokter jiwa ya entar susah ngebedain mana dokternya, mana pasiennya hahaha,” ledek Winda
“Nah elu jadinya mau ambil jurusan apa dan kuliah dimana?” Rhea penasaran dengan sahabat yang satu itu. Hal ini karena beberapa hari terakhir sebelum kelulusan dia sempat galau menentukan jurusan kuliah. Pernah sahabatnya ingin menjadi desainer karena menggambar sudah menjadi hobi sejak kecil. Dia juga berminat ingin menjadi dokter tetapi nampaknya hal itu sulit untuk di raih. Disamping alasan takut melihat banyak darah dan biaya kuliah kedokteran yang sudah pasti sangat mahal, pertimbangan lain nya adalah sang ayah hanya seorang pensiunan PNS dan ibunya yang seorang pedagang tas dan sepatu di pasar Cibaduyut.
“Gue jadinya ambil Akuntansi. Nggak bisa jauh-jauh gue, palingan di Bandung sini aja.” jelas Winda yang memang tidak bisa jauh dari orang tuanya.
“Oke lah dimana pun kita berada nantinya, gue selalu doain yang terbaik buat elu Win. All the best pokoknya.” Rhea memandang wajah sahabatnya sembari tersenyum.
Matahari kian terasa teriknya mengalahkan udara dingin siang itu. Lembaran cakrawala baru sekarang ada didepan mata seorang Rhea. Ragu dan khawatir akan dunia perkuliahan pasti ada, tetapi ia tak boleh menyerah. Dia tahu saat ini ayahnya sedang memandang dan tersenyum bangga kepada dirinya di suatu tempat.
&&&&
Hari keberangkatan menuju Yogyakarta pun tiba. Sedari pagi nyonya Rosita sudah terlihat sibuk membereskan barang-barang yang akan dibawa sang anak. Memastikan tidak ada yang akan tertinggal lebih tepatnya. Sementara udara dingin Bandung masih memaksa gadis berambut pirang itu agar tidak beranjak dari tempat tidur hangatnya. Dia ingin menikmati setiap momen dan setiap detik di kamar kesayangan ini sebelum statusnya berubah menjadi anak rantau.
Masih terlihat nyonya Rosita mengepak koper-koper besar yang akan di bawa. Tak lama kemudian, samar-samar terdengar langkah kaki menaiki tangga menuju kearah kamar Rhea.
“Rhea sayang, ayo bangun nak. Kamu nggak ingin ketinggalan pesawatmu hari ini kan?” nyonya Rosita membangunkan anak gadisnya sembari membuka tirai-tirai jendela.
Sinar mentari pun sudah tidak sabar ingin menyeruak masuk dan menyapa si penghuni kamar yang masih tergulung rapi di dalam selimut.
“Mamah, jangan dibuka dong tirainya, silau nih.” Rhea menggeliat sembari kembali masuk kedalam selimut.
“Ayo bangun, malu sama ayam dong subuh-subuh mereka udah bangun.” nyonya Rosita menarik selimut tebal yang menempel di tubuh putri semata wayangnya.
“Maaaah jahil banget si, Rhea masih pengen bobo sebentar aja. Lima menit lagi ya?” Rhea kembali menarik selimut dan tidak menggubris instruksi sang mamah.
“Nggak ada lima menit nggak ada sepuluh menit, yang ada sekarang! Ayo bangun sayang.” Nyonya Rosita masih berusaha membangunkan anaknya dengan menarik badan Rhea dari dalam selimut.
“Aww Mamah, iya iya Rhea bangun.” Rhea memaksa badannya untuk bangun walaupun matanya masih nampak terpejam.
“Hei dengar.” nyonya Rosita duduk disamping Rhea. “Kalau ayah tahu betapa susahnya ngebangunin kamu kayak sekarang, pasti ayah sedih melihat anak gadisnya yang super cantik ini suka malas bangun tidur.” nyonya Rosita memandang wajah anaknya yang bisa dikatakan 90% lebih mirip mendiang suami daripada dirinya sembari tersenyum.
“Hhmm masa si mah? Ayah juga kadang bangun siang.” Rhea memeluk mamahnya.
“Enggak dong, ayahmu adalah orang yang paling rajin bangun pagi. Rajin olahraga apalagi. Mamah aja kalah hahaha.” nyonya Rosita tertawa lepas.
“Mah, mamah kenapa enggak pindah ke Jogja aja si bareng Rhea? Rhea khawatir ninggalin mamah sendirian disini.” Rhea masih memeluk dengan manja.
“Hhmm Rhea sayang. Kalau mamah ke Jogja, terus kerjaan disini siapa dong yang nanganin? Mamah janji nanti akan sering tengokin kamu dan tantemu disana. Lagian disana tante Lydia pasti senang banget ada yang nemenin. Sudah sepuluh tahun dia enggak lihat kamu, pasti dia kangen juga sama kamu.” nyonya Rosita membelai rambut pirang anaknya yang lembut.
“Iya mah, yang penting mamah jaga kesehatan disini. Jangan telat makan dan insomnia nya jangan kambuh-kambuhan.” pesan Rhea sembari memandang wajah seorang single parents yang sangat luar biasa.
“Oh itu sudah pasti dong bu dokter hehehe, yasudah sekarang mandi, sarapan terus cek lagi barang-barang kamu. Jangan sampai ada yang ketinggalan.” Nyonya Rosita mengecup kening anaknya dan beranjak untuk segera membuat sarapan.
Rhea menghela nafas dalam-dalam memperhatikan langkah sang mamah sampai hilang dibalik pintu kamar. Dia menatap jauh ke luar jendela, terlihat beberapa tetangga dan penghuni komplek silih berganti melakukan lari kecil, jogging atau sekedar mencari sarapan. Gadis bule itu segera beranjak untuk bersiap-siap melakukan perjalanan pertamanya.
"Jogja, I’m coming …."