BAB SATU

1069 Words
Namanya adalah Rhea. Rheana Amalia Lael Ebenheimer lebih tepatnya. Namun, sedari lahir orang tuanya lebih suka memanggil gadis itu Rhea. Nama yang tersemat itu mempunyai arti kecantikan laksana seorang Ratu. Mungkin saja kedua orang tuanya mengharapkan dia menjadi wanita yang cerdas, cantik dan terdidik agar bisa bersaing di era globalisasi ini. Ayahnya bernama Michael Van Ebenheimer, seorang berdarah Belanda yang sangat mengagumi keindahan Indonesia. Kakek dari ayahnya adalah seorang veteran Belanda yang ikut terjun pada Agresi Militer Dua tahun 1948 di Yogyakarta. Tentunya Kota Budaya saat itu masih menjadi ibu kota Indonesia. Hati kecil sang kakek selalu berkata peperangan bukanlah sebuah solusi, melainkan hanya akan menyisakan kesedihan dan kerugian di kedua belah pihak. Dan hal itu memang benar adanya. Disisi lain, hal itu sangatlah bertentangan dengan kewajiban yang harus dijalani saat itu. Sebagai prajurit yang baik, sang kakek hanya berusaha menjalankan tugas sebagai bentuk bakti kepada Kerajaan dan Ratunya. Nyatanya, keikutsertaan ke Indonesia menjadi titik balik dimana ia menjadi sangat mencintai negeri yang indah ini dan berharap kelak salah satu keturunannya bisa mempunyai jodoh orang Indonesia. Nampaknya, ucapan tulus sang prajurit akan menjadi kenyataan suatu hari nanti. Perkenalan kedua orang tuanya terjadi tatkala seorang wanita yang bernama Rosita Widjaya sebagai seorang mahasiswi Indonesia, berkesempatan mendapat beasiswa S2 untuk belajar ke negeri Belanda. Saat itu tahun 1998 di University of Groningen, minggu kedua saat musim dingin berada pada titik beku terendahnya. Seorang lelaki berhidung mancung, bermata biru dan berambut pirang kemerahan sedang duduk termenung dipinggir danau kampus. Suara musik menghentak pesta prom night yang masih berlangsung di aula kampus terdengar sangat jelas malam itu. Hal yang dianggap sebagian besar mahasiswa sangat menyenangkan, tidak cukup menarik perhatian lelaki berparas tampan itu. Mengetahui seorang laki-laki lebih suka menyendiri daripada ikut menikmati pesta membuat hati Rosita muda tergelitik untuk mencari tahu. Dan kemudian, mulailah percakapan pertama mereka pada malam itu. “Hoi, waarom zit je alleen?” sapa Rosita dengan heran. Sapaan itu membuat Michael terperanjat. Melihat seorang wanita dengan wajah manis khas Asia tersenyum, membuat Michael muda mengurungkan niat marahnya. “Oh ja, je hebt me verrast. Ben je een Indonesische student?” Michael tersenyum. “Ja, ik ben Indonesische student. Apakah kamu bisa berbahasa Indonesia?” Rosita semakin dibuat penasaran. “Ya, saya bisa berbahasa Indonesia. Keluarga kami sangat mencintai keindahan negeri kalian.” Senyum Michael pun terkembang. Rosita mengambil duduk disamping Michael masih dengan raut muka heran. “Pesta belum selesai, kenapa kamu memilih berada disini sendirian?” Rosita menatap dengan rasa penasaran. “Langit cerah, bintang bertaburan. Haruskah aku meninggalkan mereka yang jelas lebih menawan?” Michael menatap langit dimana ribuan bintang bertabur diatasnya malam itu. Udara dingin membuat langit nampak lebih cerah dari biasanya walaupun malam sudah semakin larut. Rosita menarik napas sembari ikut memperhatikan langit yang penuh dengan gemerlap cahaya bintang diatas kepala mereka. ”Kau benar juga, tak ada yang lebih indah dari ciptaan tangan agung Nya.” Rosita sembari tersenyum. “Namaku Michael. Maukah kamu menemaniku sebentar disini?” pinta Michael Ebenheimer memandang gadis manis itu. Rosita hanya mengangguk-anggukan kepala. Dia tak terlalu keberatan untuk menemani seorang lelaki yang baru saja dikenalnya. Lagi pula dilihat dari raut wajahnya, lelaki itu nampak baik. “Kedengarannya mengasyikan. Aku Rosita,” “Rosita, senang berkenalan denganmu.” Michael mengulurkan tangannya sembari tersenyum. Mereka saling menjabat tangan ditengah butiran salju yang perlahan mulai turun di bumi Groningen. Hawa dingin seketika tak terasa lagi dengan obrolan hangat yang bergulir diantara mereka. Sejak kelahirannya di tahun 2000, kedua orang tua Rhea memutuskan untuk menetap di Indonesia. Ayahnya mendapat pekerjaan di Kedutaan Besar Belanda untuk Indonesia di Jakarta sebagai research team. Sementara sang mamah bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung. Disamping itu kedua orang tuanya juga disibukan sebagai penerus pengelola perkebunan teh keluarga di daerah Pengalengan. Walaupun sang kakek sangat berharap menantu, cucu dan anak semata wayang nya itu tinggal bersama mereka di daerah Friesland. Tuntutan pekerjaan yang mengharuskan ayahnya untuk sering melakukan perjalanan keluar pulau membuat Rhea kecil merasa sedikit terabaikan. Mungkin lebih tepatnya dia merindukan sosok ayah yang bisa setiap hari menemani bermain, belajar, bahkan mendongengkan sebuah cerita pengantar tidur. Beruntung dengan kesabaran sang mamah yang selalu memberikan pengertian kenapa ayahnya sering bekerja keluar pulau, Rhea sedikit-sedikit mulai memahami. Sampai ketika saat usia Rhea menginjak delapan tahun. Mendung tebal yang menyelimuti Kota Bandung seakan-akan belum ada tanda-tanda memudar. Semalaman hujan besar dan petir yang saling bersahutan menemani tidur Rhea yang seketika merindukan sosok sang ayah. Dia gelisah dan menangis perlahan dibawah selimut tebal. Sudah tiga bulan ayahnya belum kembali pulang karena tugas di Kalimantan. Hingga pagi menjelang, dia mendapati mamahnya menangis hebat setelah beberapa pria asing berkunjung ke rumahnya di Bandung. Utusan kedutaan besar tempat ayahnya bekerja memberikan kabar bahwa tim peneliti yang di pimpin Michael Ebenheimer hilang kontak saat sedang melakukan ekspedisi ditengah belantara Kalimantan. Pencarian helikopter yang membawa sang ayah pun sudah ditemukan, dengan semua kru ekspedisi tidak ada yang selamat. Rhea berlari ke dalam kamar dan menangis sejadi-jadinya. Mamahnya yang mendengar tangisan Rhea pun langsung berlari mengejar putri semata wayangnya itu dan segera memeluknya dengan erat. Upacara pemakaman dilakukan dua hari kemudian setelah jasad ayahnya berhasil di evakuasi. Rhea memandang foto sang ayah yang tertempel di depan batu nisan. Gadis kecil itu tak akan pernah menyangka dirinya akan menjadi yatim saat dia masih berada di kelas tiga sekolah dasar. Teman-teman kelas dan perwakilan guru yang ikut datang ke pemakaman tidak lelah memberikan semangat kepada gadis manis itu. Sejak hari itu pula nyonya Rosita lebih berfokus terhadap pekerjaannya. Alih-alih agar tidak terus menerus larut dalam kesedihan selalu menjadi alasan. Keluarga dan sahabat Rosita tak segan-segan membantunya untuk segera move on dan tidak berlarut meratapi kepergian mendiang Michael. Mereka sering mengenalkan beberapa teman pria agar Rosita bisa segera memulai kehidupan baru lagi. Tetapi nampaknya, ibu muda itu enggan membagi hatinya untuk pria lain. Nama mendiang suaminya masih tetap bertahan di hati. Baginya tak ada pria yang sebaik dan setulus Michael. Lagi pula ia tak ingin menghadirkan ayah tiri bagi anak semata wayang nya itu. Disisi lain, Rhea sangat memahami menjadi tulang punggung keluarga adalah hal terberat yang harus dijalani mamahnya. Sejak saat itu pula dia berjanji kepada mamah dan Almarhum Ayahnya untuk menjadi wanita yang cerdas dan menjadi wanita yang mandiri sesuai dengan harapan dan cita-cita kedua orang tuanya. Sepuluh Tahun Kemudian ….  ********************************************************************************************************** Translate : "Hai, kenapa duduk termenung sendiri?" "Hai, kau mengagetkanku. Apakah kamu mahasiswa Indonesia?" "Ya saya mahasiswa Indonesia."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD