Bermula dari Jogja Fashion Week, satu hari sebelum acara itu dimulai. Tepatnya pada Sabtu malam yang berlangsung di Jogja Expo Center (JEC) lima bulan yang lalu. Ivonne Catherine Abigail sebagai salah satu model yang sudah tiga tahun layang melintang di dunia modeling akan ikut serta meramaikan gelaran akbar fashion show tahun ini. Nampak kali ini ia sudah mempersiapkan semuanya dengan baik dan sesempurna mungkin di event satu tahun sekali ini.
Model lulusan Colour Management itu sudah tidak diragukan lagi akan kemampuannya berlenggak lenggok diatas catwalk. Pada acara itu, Ivonne akan memperagakan busana dari beberapa desainer terkenal seperti Agatha Jones yang hasil karyanya sudah mendunia dengan ciri khas batik tulis nya. Aryani Abhiwara desainer asal Surakarta yang sudah terkenal dengan desain etnichity elegance legacy dan masih banyak lagi.
Bagi gadis muda itu, dunia modeling sudah menjadi hobi yang menghasilkan walaupun ayahnya yang seorang pengusaha lebih ingin anak tunggalnya itu bisa lebih fokus membantu mengurus bisnis keluarga. Joice Kamala yang merupakan asisten pribadi sedari pagi sudah disibukan dengan persiapan alat tempur yang akan dipakai nona besarnya tampil di catwalk nanti malam.
Sementara Stevani Greesa sang manager sudah menyiapkan segala akomodasi yang diperlukan agar Ivonne tidak ada kendala saat tampil. Beberapa deret jadwal pemotretan baru telah ia entry di tab yang selalu ia bawa. Perawatan kulit dan rambut telah selesai dijalani Ivonne siang itu. Segelas lemon tea telah tersaji di atas meja dimana sang model sedang menikmati waktu santai nya sebelum perhelatan akbar sore itu tiba.
“Ivy, semua sudah beres. Ini id card dan key pass buat masuk ke lokasi nanti malam.” Stevie menunjukan sebuah amplop berwarna emas di tangannya.
“Okay, ada info lain?” Ivonne menikmati segelas lemon tea dingin di tangan.
“Gue udah make sure buat perlengkapan nanti malam beres. Kabarnya beberapa tamu VVIP akan hadir buat lihat perform lu diatas catwalk. Oh ya, jadwal baru pemotretan sudah aku entry. Nanti aku share di grup.” Stevie duduk disebelah Ivonne.
“Wow really? Ada bocoran nggak siapa tamu VVIP yang datang nanti malam?” Ivonne terlihat semakin antusias.
Event sekelas Jogja Fashion week adalah moment dimana banyak pengusaha tajir maupun seniman papan atas berkumpul menjadi satu. Baginya laki-laki kaya hanyalah bank berjalan untuknya. Tidak dapat dipungkiri, sejak dirinya terjun di dunia modeling, lelaki dari berbagai kalangan datang silih berganti tak bosan-bosan. Semua hanya ingin memamerkan kekayaan, menghamburkan uang dari orang tuanya untuk bersenang-senang bersama dan tentunya menginginkan tubuh sexy seorang Ivonne Abigail.
Model cantik itu tidaklah bodoh, dia tahu apa yang laki-laki inginkan jika dekat dengannya. Maka dari itu dia selalu menganggap laki-laki hanya mainan atau bank berjalan untuknya. Tak pernah ia menganggap serius setiap laki-laki yang berusaha mendekati. Bagi Ivonne, harga diri dan kehormatan seorang model profesional yang berkelas haruslah dipertahankan dan dijaga sampai akhir hayat.
“Hhmm siapa ya? Reykian Hartono, Adam Alexis, Evander Darmawangsa,”
Stevie berusaha keras mengingat nama-nama orang kaya yang akan datang ke acara itu. Terlihat wajah Ivonne kembali tak berantusias begitu mendengar nama-nama yang terucap dari mulut sang manager.
“Itu mah biasa, basi,” celotehnya.
Agaknya Stevie berusaha mengingat kembali nama-nama tamu VVIP yang diberitahu oleh panitia JFW nanti malam.
“Oh ya ada satu lagi. Leonaga Chandra!” seru Stevie yang membuat Ivonne kembali bangun dari posisi rebahan.
“Siapa?” Ivonne menatap manager nya dengan heran.
“Leonaga Chandra.” ulang Stevie.
Sedikit raut bingung nampak di wajah cantik Ivonne.
“Siapa itu? Kok aku baru denger ya?” Ivonne penasaran.
“Nggak tahu, baru pernah denger si gue.” Stevie sama bingungnya.
“Apakah dia salah satu anggota dari keluarga Chandra?” Ivonne semakin dibuat penasaran dengan nama itu.
“Bisa juga. Tetapi kan, anak keluarga Chandra yang pertama sudah menikah. Anak pertamanya bernama Sankara Abirama Chandra. Sedangkan anak keduanya kuliah di luar negeri ambil S3.” jelas Stevie berdasarkan berita yang pernah dia dengar.
“Wow … buat tahu jawabannya, gue nggak sabar menunggu acara nanti malam.” Ivonne tersenyum.
Mereka tak mau ambil pusing dengan banyak menerka-nerka yang hanya membuat rasa penasaran mereka semakin meningkat. Melihat sendiri nanti malam adalah jawaban yang paling tepat pikir Ivonne.
Sejak pukul lima sore, Ivonne telah berada di JEC untuk persiapan make up dan penataan rambut. Acara yang akan dimulai pukul delapan malam sudah terlihat banyak aktivitas sedari siang. Panitia sudah memberikan arahan kepada para model untuk mulai dilakukan touch up di ruang make up artist.
Banyak model mempertanyakan tamu VVIP yang mereka dengar sebagai sponsor utama Jogja Fashion Week beberapa tahun kemarin. Ada yang tebak-tebak sponsor utama itu merupakan anggota keluarga Chandra, ada yang menebak bukan dari keluarga Chandra dan masih banyak lagi dugaan yang bergulir.
Mendekati pukul tujuh malam, awak media dan tamu penting serta penggiat fashion mulai berdatangan.
Suasana di hall utama telah ramai dengan alunan musik dari penyanyi yang mengisi acara. Beberapa stand produk lokal dibanjiri hadirin dan tamu undangan yang berburu merchandise. Sebuah mobil mewah berwarna merah berhenti di depan pintu masuk utama berkarpet merah. Seseorang turun dari dalam mobil disambut langsung oleh ketua panitia acara Jogja fashion Week.
Leonaga Chandra datang di acara fashion show tersebut untuk pertama kalinya sebagai tamu undangan VVIP. Awak media langsung mengarahkan kamera kepadanya untuk mengambil gambar. Penampilan yang maskulin dengan rambut sedikit berwarna pirang menjadi pusat perhatian seluruh tamu yang hadir. Kaum hawa mulai berbisik-bisik tentang Leonaga Chandra si dokter sukses berwajah tampan yang mampu mengalihkan perhatian semua orang.
Leon langsung diarahkan untuk duduk di ruang tamu VVIP yang telah disiapkan di lantai dua. Dari posisinya di lantai dua itu akan membuat pandangannya lebih bebas mengamati seluruh model yang akan memperagakan busana malam ini diatas catwalk.
Sepuluh menit sebelum acara dimulai, dua orang master of ceremony sudah berdiri diatas panggung untuk membuka acara dimana jam telah menunjukan angka delapan.
“Selamat malam hadirin sekalian di Jogja Fashion Week Season ke empat!”
Kedua pembawa acara membuka perhelatan akbar fashion show di Indonesia malam itu. Suara gemuruh riuh tepuk tangan para hadirin sangat menggema di hall utama, sementara Leon duduk dengan tenang bersama asisten dan panitia penyelenggara JFW.
“Malam hari ini Jogja Fashion Week season ke empat kembali digelar dalam rangka memperingati hari Kartini. Oleh karena itu, tema malam ini akan mengangkat tentang emansipasi wanita yang akan di representasikan dengan hadirnya tiga puluh desainar wanita dari seluruh penjuru Indonesia. Akan ada juga lima puluh model yang siap beraksi untuk memperagakan hasil karya dari para desainer emansipasi wanita malam hari ini.” jelas pembawa acara pria dengan penuh semangat.
“Dan kami mengucapkan terimakasih kepada sponsor utama acara Jogja Fashion Week Season empat malam hari ini, karena berkat beliau acara malam ini di JEC bisa terlaksana dengan luar biasa. Beri tepuk tangan meriah kepada sponsor utama kita yang duduk di lantai dua, Sankara Leonaga Chandra.” teriak pembawa acara wanita sembari menunjuk kearah dimana Leon berada.
Semua orang memberikan standing applouse kearah dimana Leon berada. Kamera dan lampu sorot mengarah kepada sponsor utama JFW dan dia pun berdiri sembari membungkukan badan.Tepuk tangan riuh semakin menggema setelah Leon memberikan penghormatan.
Berpindah ke sisi belakang panggung, para model menyaksikan acara dipanggung utama dari layar LCD besar tak terkecuali Ivonne. Sejenak gadis yang telah selesai dilakukan touch up memandang wajah Leonaga Chandra yang disebut sebagai sponsor utama dengan seksama. Rasa tertarik mulai terselip di hati saat melihat wajah seseorang yang memang tampan menurutnya. Mendengar dia sudah menjadi sponsor utama Jogja Fashion Week selama ini pasti orang yang tidak boleh dianggap remeh dari segi finansial.
Acara pun dimulai dan segera para barisan model mulai berlenggak lenggok satu persatu di atas catwalk.
Beberapa model memperagakan busana dari para desainer dengan sangat baik dan apik. Tibalah giliran Ivonne untuk beraksi diatas catwalk. Dengan tenang, dia mulai berjalan memasuki arena catwalk dengan memperagakan busana dari Agatha Jones. Hal itu membuatnya sangat terlihat cantik sekaligus elegan dengan busana batik bergaya kemben tetapi tidak meninggalkan kesan glamor.
Lampu blitz dari para awak media langsung menyoroti aksinya. Sejenak dari lantai dua, Leon memperhatikan aksi model yang beraksi dengan seksama. Wajah cantik sekaligus manis sebagai model sudah jelas mampu menyihir mata siapapun yang memandangnya. Tingginya yang hampir mencapai 175 cm serta badannya yang sangat proporsional membuat gadis berhidung mancung itu terlihat sangat ideal sebagai seorang model. Tak dapat dipungkiri Leon, sejenak model itu mampu menyihir matanya.
“Philip, model itu siapa namanya?” Leon menunjuk ke arah Ivonne yang masih beraksi diatas catwalk.
“Sebentar kak.”
Philip menanyakan nama model yang sedang beraksi kepada ketua panitia acara yang memang duduk satu lokasi dengan Leon.
“Kak, model itu bernama Ivonne. Ivonne Abigail.” Philip berbisik di telinga Leon.
“Ivonne Abigail? Putri pemilik Resort The Arnawama? Darmawan Abigail?” Leon menanyakan kembali kepada Philip.
“Iya kak, putri satu-satunya dari Darmawan Abigail.” Philip memastikan.
Leon hanya mengangguk-anggukan kepala saat tahu siapa sebenarnya model yang tengah ramai menjadi perbincangan itu. Darmawan Abigail merupakan pengusaha beberapa resort di Jogja yang tergabung di Chandraka Group. Chandraka Group sendiri merupakan anak perusahaan dari perusahaan multinasional Chandra Universe Group. Chandraka Group merupakan perusahaan resort dari Indonesia dengan resort-resort nya yang terkenal menawan dan mewah di kancah internasional. Pemilik Chandra Universe Group itu tak lain adalah ayah dari Leonaga Chandra yang sudah merintis group itu dari semasa kuliah.
Kurang lebih selama dua jam seluruh model berhasil menampilkan performanya diatas catwalk. Acara Jogja Fashion Week Season empat malam itu pun ditutup dengan pemberian penghargaan kepada para desainer yang telah berjuang menghasilkan mahakarya terbaiknya.
Selanjutnya dipilih sepuluh model terbaik dan Ivonne pun menempati urutan pertama sebagai model paling popular dan terbaik selama acara JFW berlangsung malam itu.
Leon naik ke atas panggung untuk memberikan hadiah simbolis kepada para model pemenang. Sampai saat dua pasang mata bertemu, berhadapan dengan seorang Ivonne Abigail. Leon segera menyerahkan papan hadiah yang tertulis 500.000.000,- dan buket bunga mawar Juliet ke tangan Ivonne. Mereka saling memandang untuk pertama kali dengan jarak yang sangat dekat dan sesaat mencoba saling membaca karakter masing-masing.
“Congratulation.” Leon seraya menjabat tangan.
“Thank you.” Ivonne menyambut jabatan tangan kekar lelaki yang memang berparas tampan saat dilihat langsung dari jarak sedekat itu dengan senyum terkembang di bibirnya.
Leon pun segera kembali ke tempat duduk dan ditutuplah acara malam itu dengan berbagai hiburan dengan penampilan dari band-band lokal Jogja. Sementara sebelum kembali ke rumah, sponsor utama itu menyempatkan menghadiri jamuan kecil yang diadakan oleh panitia acara sebagai bentuk syukur dan rasa terimakasih karena acara malam ini sudah berjalan dengan sangat baik.
Jam menunjukan pukul sebelas malam tatkala Leon menunggu sopirnya yang sedang mengambil mobil di tempat parkir. Berdiri mematung di lobi JEC ditemani oleh asisten setianya Philip. Dia memandang lurus mencoba merenungi penawaran dari kedua orang tua yang meminta agar anak bungsunya itu lebih fokus mengurus bisnis daripada menjadi dokter.
Sejujurnya meneruskan bisnis keluarga adalah hal yang tidak membanggakan bagi seorang pekerja keras seperti Leon. Dia lebih senang membangun kerajaan bisnis sendiri walaupun dari nol, tentunya dengan uang hasil jerih payahnya sendiri. Apalagi dokter adalah cita-cita mutlaknya sedari kecil. Dia ingin selalu membantu dan mengabdikan ilmu dan tenaganya untuk kemanusiaan.
Setidaknya jika dia mati kelak, hidupnya telah bermanfaat untuk orang lain pikirnya sederhana. Hembusan nafas berat kembali terdengar seiring dengan suara hiruk pikuk yang sudah tidak terlalu ramai terdengar.
“Kenapa boss sponsor malam-malam begini bermuram durja?” celoteh seorang wanita membuyarkan lamunan Leon.
Dicarinya suara itu, terlihat Ivonne yang sudah berdiri di sisi kanannya tersenyum. Leon hanya tersenyum mendengar celotehan gadis yang sempat menyihir matanya dan baru saja memanggilnya dengan sebutan "Boss".
“Leon, panggil saja Leon,”
“Oke Leon, aku Ivonne Abigail, salam kenal.”
Sekarang giliran Ivonne tersenyum sembari mengulurkan tangannya terlebih dahulu. Leon hanya tersenyum dan membalas jabatan tangan model itu.
“Salam kenal,”
“Aku mengira bahwa kau adalah putra kedua keluarga Chandra. Apakah tebakanku benar?” Tebak Ivonne.
Leon hanya tersenyum tanpa berminat untuk menjawab pertanyaan yang baru saja Ivonne lontarkan. Mobil mewah milik Leon pun sudah tiba didepannya. Asistennya dengan segera berlari membukakan pintu untuk tuan mudanya.
“Semoga kita bisa ngobrol banyak lagi di lain kesempatan. Selamat malam.” dengan tersenyum Leon berpamitan dan segera meninggalkan gadis itu menuju kedalam mobil mewahnya.
Ivonne memandangi mobil itu sampai hilang di pintu keluar gedung. Perasaannya tergelitik karena dia tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Gadis bermata sipit itu semakin bertambah penasaran kepada laki-laki yang sangat cuek itu. Baru kali ini ada seorang lelaki yang tidak berminat mengobrol banyak dengannya. Manajernya menyenggol lengan Ivonne yang seketika membuat lamunannya buyar.
“Woy, ngelamunin apa si?” Stevie bertanya dengan penasaran karena diperhatikan setelah sponsor utama itu pergi, sang talent langsung terlihat melamun.
“Nggak, aku cuma lagi mikir aja. Bisa-bisa nya dia nggak minat ngobrol sama aku Stev.” Ivonne memandang Stevie sembari tersenyum.
“Kalau udah kepikiran, hati-hati lho,” ledek Stevie
“Hati-hati kenapa?” Ivonne heran dengan ucapan manajernya.
“Hati-hati jadi suka hahaha.” Stevie terkekeh.
Seketika Ivonne sedikit salah tingkah mendengar gurauan dari sang manajer. Kalau saja malam itu penerangan di lobi terang, pasti pipi merahnya seketika langsung terlihat.
“Diih apaan si. Udah yok balik.” ajak Ivonne sembari tersenyum.
Stevie hanya terkekeh melihat sikap salah tingkahnya. Mereka bertiga pun memasuki mobil yang sudah ada dihadapan mereka dan segera kembali ke rumah malam itu.