Suara hiruk pikuk terdengar ramai di basecamp trabas Gunungsewu saat tim Monster Hunter sudah menyelesaikan ekspedisi siang itu. Sederet kelapa muda sudah disajikan oleh pengelola basecamp dengan harapan tenaga para rider bisa pulih kembali setelah melakukan ekspedisi yang memakan waktu selama dua setengah jam di hutan.
Beberapa pengurus tim mengkoordinir beberapa anggota yang bertanggung jawab mengangkut motor trail untuk dinaikan ke atas mobil yang telah disiapkan. Leon dan teman-temannya bahu membahu menaikan motor-motor mereka ke atas mobil agar aman selama perjalanan kembali ke Kota. Berkat kerjasama dan gotong royong seluruh anggota, akhirnya semua motor pun berhasil dinaikan ke atas mobil pick up.
Satu persatu mobil berjalan untuk kembali ke Kota dengan beberapa anggota pengurus ikut didalamnya. Sebagian anggota masih bersiap-siap dengan membersihkan badan dan membereskan perlengkapan yang mereka bawa selama trabas, tak terkecuali Leon. Setelah membersihkan diri dan ganti baju selesai, dia segera membereskan barang bawaan kedalam tas.
Sebuah mobil Mercedes Benz GLC class berwarna putih masuk perlahan ke halaman basecamp. Tak tampak siapa yang mengemudi dikarenakan kaca mobil berwarna gelap. Semua anggota Monster Hunter menatap kearah datangnya mobil itu dengan tatapan penasaran. Hal ini karena anggota Monster Hunter yang mempunyai mobil Mercy hanyalah si dokter Leon seorang.
Selang beberapa menit, seorang wanita berpostur tinggi berkaca mata hitam dengan rambut panjang pirang bergelombang keluar dari dalam mobil. Wajah manis dengan pipi tirus dan hidung mancungnya membuat semua laki-laki yang berada di basecamp terpana sesaat. Wanita itu berjalan perlahan menuju basecamp, dimana sederet orang yang sedang duduk masih memperhatikan wajahnya dengan seksama.
“Ivonne bukan ya?” celetuk salah seorang mencoba menebak.
“Iya Ivonne nih.” pemuda yang lain menambahkan dengan antusias sembari terlihat riang.
"Apakah Leon masih disini?" Gadis itu memperhatikan sekitar. Mencari sosok lelaki yang sedari tadi dicarinya.
"Masih, kak Leon masih disini. Mari saya antar." Seorang anggota mengajukan diri untuk mengantar gadis itu ketempat dimana Leon berada.
Suara sorak sorai terdengar dari arah depan basecamp dimana semua laki-laki yang berada disana berdiri menghampiri model cantik itu. Ada yang meminta swa foto maupun tanda tangan di baju. Dari samping basecamp, Leon dan ketiga temannya sedikit kaget dengan suara riuh yang mendadak terdengar dari arah depan.
“Apaan si berisik banget, Jim lihat deh kedepan ada apa si sebenernya.” celetuk Alloy meminta tolong kepada Jimbo untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Sementara Leon tak mau ambil pusing dan kembali melanjutkan mengemas peralatannya. Selang beberapa detik, Jimbo kembali lagi ketempat dimana Alloy, Braga dan Leon berada dengan sedikit berlari. Terheran melihat anggota baru itu kembali dengan tersenyum walaupun nafas nya terdengar sedikit terengah, Alloy pun menjadi semakin penasaran.
“Lu kenapa si Jim? Kenapa malahan elunya yang mendadak jadi asma?” Alloy semakin heran.
Sembari mencolek lengan Leon, Jimbo pun tersenyum.
“Apaan?” Leon memandang anggota baru itu dengan heran.
“Boss, cewek lu datang.” lapor Jimbo sembari tersenyum. Merasa tak mempunyai pacar, Leon pun merasa bingung.
“Cewek yang mana? Mana ada gue punya cewek Jimbo.” Leon mengernyitkan dahi nya mencoba berfikir.
“Haduh apa si namanya, ya gebetan juga boleh lah boss.” timpal Jimbo sembari tersenyum.
Tak lama kemudian, wanita cantik yang turun dari mobil dengan diantar dua anggota Monster Hunter berjalan ke arah dimana Leon dan ketiga temannya berada.
“Ngapain tu cewe disini?” gumam Leon pelan saat melihat gebetan yang dimaksut temannya itu adalah Ivonne Abigail.
Sesungging senyum manis merekah dibibir tatkala Ivonne melihat orang yang dicarinya sudah ketemu. Kacamata hitam yang masih terpakai pun dilepas sekaligus dia mengucapkan terimakasih kepada kedua teman Leon yang telah mengantar. Sembari melipat kedua tangan di didepan d**a, Ivonne nampak menggeleng-gelengkan kepala melihat kegiatan yang sedang dilakukan Leon.
“Bilangnya ada acara penting banget, eh ternyata taunya disini?” celoteh Ivonne.
“Ya emang ini penting banget buat aku. Trabas penting kali buat aku.” timpal Leon dengan santai.
“Hai Ivonne, ternyata emang benar ya kata orang. Lihat kamu di majalah sama lihat aslinya emang lebih cantik aslinya dah.” Jimbo kegirangan memandang seorang model cantik yang baru pertama kali ia lihat.
Ivonne hanya tersenyum mendengar ucapan Jimbo, tanpa berminat membalas celotehannya. Sementara kegiatan packing barang-barang telah selesai, Leon pun segera menghampiri dimana Ivonne berdiri.
“Tau aku disini dari siapa?” Leon menghampiri sembari mengecup pipi kiri dan kanan sang model. Sembari menyibak rambut panjang pirangnya kebelakang telinga, nampak Ivonne mengambil nafas dalam.
“Dari Braga lah, emang siapa lagi.” Ivonne melirik ke arah Braga yang sedari tadi memilih diam dan menahan tawa.
Leon pun memandang tajam ke arah Braga yang tampak berpura-pura kembali menyibukan diri dengan kegiatan packingnya.
“Hhmm nggak usah pura-pura sibuk lu bambang.” Leon melemparkan handuk keringat kearah sahabatnya dengan sedikit kesal.
“Haduh, ya maaf lah. Lagian Ivonne juga nanya masa nggak gue jawab.” Braga sembari terkekeh, sementara Ivonne mengacungkan kedua jempolnya kearah Braga sembari tersenyum.
“Terus kamu sengaja kesini dari kota?” Leon menatap dengan penasaran.
“Nggak lah, kebetulan aku ada photosession di pantai Watu Lawang, terus lihat status Braga kalian bertiga lagi trabas. Langsung aku tanya dan ternyata basecamp kalian lumayan deket. Berhubung photoshoot nya udah selesai, ya sekalian aja aku kesini.” jelas Ivonne.
Bagi seorang Ivonne, tidak ada yang namanya waktu libur. Bahkan di hari minggu pun, pekerjaan dia sebagai model sangat padat dengan jadwal photoshoot. Nampak Leon mengangguk-anggukan kepala mendengar jawaban dari Ivonne.
“Kita juga udah selesai sekarang. Mendingan kamu langsung pulang aja.” usir Leon dengan halus.
“Justru karena kalian udah selesai dan aku juga udah selesai, aku mau ajakin kalian makan siang nih. Kita kuliner seafood di pantai.” ajak Ivonne dengan antusias.
“Naah kalau itu kita setuju.” Alloy dan Braga bersamaan.
Sementara Leon nampak kaget melihat sahabat-sahabatnya yang mendadak antusias kalau sudah urusan mengisi perut.
“Iya kak Leon, ayo kita kuliner bareng.” Jimbo menambahkan.
“Haduh gue masih ada acara lain nih.” Leon sedikit enggan dengan ajakan dari Ivonne.
“Yaelah acara apa lagi? Kan acara elu baru jam 15.00 WIB, ini kan masih jam 12.30 WIB,” jelas Alloy
“Come on Leon, don’t let your friend down.” Ivonne memandang sembari tersenyum.
Sejenak berfikir, nampaknya Leon benar-benar harus mempertimbangkan tawaran Ivonne dengan matang. Sekali anggukan membuat teman-teman Leon berteriak kegirangan, begitu juga dengan Ivonne yang nampak tersenyum lebar melihat tingkah teman-teman dari orang yang dia sukai sejak pertama mereka kenal.
Suka?