BAB LIMA

843 Words
Bunyi klakson mobil terdengar nyaring didepan gerbang sebuah rumah berlantai dua di kawasan Jalan Palagan. Mobil suv berwarna putih milik Lydia perlahan segera masuk ke halaman rumah tatkala seorang satpam membukakan pintu gerbang berwarna hitam itu. Setelah mereka selesai makan siang di restaurant teman Lydia, mereka memutuskan untuk langsung kembali ke rumah. Mengingat Rhea yang baru saja melakukan perjalanan jauh, tentunya anak itu masih capek dan lelah pikir Lydia. Sedari tadi di perjalanan pun kakaknya sudah mencereweti di telepon agar benar-benar menjaga Rhea. Kakak adik yang memang jarang bertemu semenjak kedua orang tua mereka meninggal selalu berakhir dengan perdebatan jika mereka sudah berbicara di telepon. Jika diberi pilihan, Lydia pun lebih memilih hidup mandiri memulai usaha dari nol ketimbang harus mengurus perusahaan keluarga, dimana saat ini sang kakak lah yang mengelola. “Iya teh Rosi iya, ya ampun tenang aja deh kamu ah. Kamu kalau udah gini cerewetnya tuh sebelas dua belas kayak almarhum mamah. Gue jamin Rhea di Jogja happy. Happy banget malahan.” Lydia keluar dari mobil masih sibuk dengan menjawab telfon. Setelah Lydia memastikan kepada kakak nya bahwa Rhea akan aman dan terjamin selama tinggal di rumahnya, wanita jangkung itu pun segera menutup telepon sembari memanyun-manyunkan bibirnya. Rhea hanya tersenyum melihat tingkah wanita yang dirasa tidak pantas kalau dipanggil tante. Usianya yang masih terbilang muda di umur tiga puluh tahunan membuat layaknya mereka seorang kakak dan adik. “Mamah pasti ngomel ya tante? Nggak usah diambil hati ya tant.” Rhea mengikuti tantenya berjalan masuk ke rumah sembari tersenyum. “Haduh … kamu nggak perlu tanya lagi, tahu sendiri kan mamahmu seperti apa Rhe? Kalau nggak riweuh, bukan mamah Rosita namanya hehe. Ayoo masuk.” ajak Lydia sembari membuka pintu besar rumahnya. Mereka berdua memasuki rumah berlantai dua itu. Melihat sekeliling rumah yang baru dibeli tantenya, beberapa ornament dari Jepang menghiasi dinding rumah dan lemari buffet yang berjejer di area ruang tamu. Rumah pertama yang Lydia beli berada di Kabupaten Bantul. Tetapi semenjak membuka café di jalan Kaliurang, Lydia memutuskan untuk pindah rumah di area jalan Palagan yang notabene lebih dekat dengan tempat kerjanya. Datang dengan dua gelas oren jus dingin berada di tangan, mereka berdua memutuskan untuk mendinginkan badan sejenak di area teras dengan kolam renang indah di samping rumah. "Rhe, pacar kamu siapa sekarang? Coba tante pengen tau dong." Lydia mencoba menggoda keponakan nya itu. Nampak raut wajah kaget Rhea terpancar. "Diih tante, boro-boro punya pacar. Temen cowok main ke rumah aja ditungguin sampe pulang sama mamah." Rhea terkekeh. "What? Mamah mu masih kayak gitu? Masih jadi satpam dadakan? Hahaha." Tawa Lydia pecah. "Heem tant, makanya kalau tante tanya Rhea udah punya pacar apa belum, tante juga udah tau jawaban nya kek gimana." Rhea tersenyum. “Haduuh iya deh iya, mamahmu itu emang unik. Kayak dia nggak pernah muda aja. Eh Rhe, kamu jadinya mau ambil jurusan apa di UBM?” Lydia duduk sembari mencelupkan kedua kakinya di kolam renang. Rhea pun mengikuti aktivitas tantenya itu dengan harapan rasa panas dan ngilu di kaki nya segera menghilang. “Ya sesuai rencana awal tant, ambil kedokteran.” Rhea menatap wajah tantenya sembari tersenyum. “Emang, kamu nggak takut ambil kedokteran? Lihat banyak darah, banyak luka hiiih ... kalau tante mah nggak kuat Rhe. Bisa pingsan malahan.” Lydia bergidik ngeri. “Hahaha … ya Rhea ngebayanginnya juga lumayan ngeri tante, tapi kan nanti kalau sudah terbiasa lihat juga bakalan biasa aja kan?” terlihat lesung pipi terukir saat senyum terkembang di bibir mojang Bandung itu. “Iya juga si, ah tante mah yakin kamu anaknya pinter pasti bisa lah. Oh ya, persiapannya udah beres atau masih ada yang kurang?” Lydia mencoba memastikan keperluan keponakan nya agar tidak ada yang kurang satupun. “Mmmm … semua udah beres tant, tinggal besok harus ke kampus buat ambil perlengkapan di Dekanat sama expo UKM,” jelas Rhea. “Oke deh kalau gitu, mendingan sekarang kamu istirahat. Besok kamu bawa mobil tante yang satu nya aja kalau mau ke kampus. Besok tante full di café soalnya Rhe. Maaf ya nggak bisa anter. Nggak apa-apa kan?” Lydia memandang sembari tersenyum. “Iya tante, nggak apa-apa. Rhea ngerti tante sibuk banget sekarang. Kalau gitu, Rhea ke kamar dulu ya mau beres-beres isi koper.” Rhea menenggak habis oren jus di gelasnya kemudian mengecup pipi tantenya. Dilihat keponakan cantiknya itu beranjak dari tepi kolam dan berjalan kedalam rumah. Lydia masih ingat betul keponakan bule satu-satu nya itu merupakan anak yang ceria, manja dan menggemaskan saat masih kecil. Semenjak ayahnya meninggal, perubahan memang terlihat dari sikapnya yang semakin dewasa serta mandiri. Bagaimanapun, kakaknya telah mempercayakan dia untuk menjaga keponakannya selama di Jogja, yang artinya selama empat tahun kedepan dia akan menjadi wali selama Rhea berkuliah Lydia menenggak habis minuman di gelas tanpa sisa. Tak ada waktu istirahat karena sebentar lagi dia harus bertemu dengan beberapa relasi yang berminat untuk investasi di beberapa usaha yang sedang di rintis nya. Setelah memastikan barang-barang Rhea telah tertata rapi di kamar, tante muda itu segera berpamitan untuk kembali ke cafe dan coffee shop yang telah ia tinggal beberapa saat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD