BAB EMPAT

1571 Words
Sementara di sisi lain, di sebuah perbukitan selatan Yogyakarta tepatnya di daerah Gunung Kidul. Suara bising dari motor trail memecah keheningan area hutan siang itu. Sekelompok komunitas yang menamakan dirinya Monster Hunter melakukan kegiatan trabas dengan rute kawasan wisata Sri Gethuk Desa Bleberan Kecamatan Playen, dilanjutkan ke Kecamatan Girisubo dan Kecamatan Panggang. Kegiatan trabas ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan dengan anggota kelompok yang berjumlah sekitar tiga puluh orang. Suara gelak tawa dan teriakan saat menaklukan medan yang tentunya memacu adrenalin membuat suasana kebersamaan semakin terasa erat. Banyak anggota yang berhasil menaklukan medan terjal dengan mulus, ada juga beberapa anggota baru yang gagal manaklukan medan. Bukan berhasil atau tidaknya menaklukan track tujuan dari terbentuknya komunitas ini. Tetapi rasa persaudaraan dan kekompakan serta kepedulian terhadap kelestarian alam lah yang menjadi concern utama. Dua jam dilalui seluruh anggota Monster Hunter dengan melintasi medan gunung batu yang terjal. Satu persatu para rider harus menaklukan satu tanjakan terjal untuk sampai di pos peristirahatan terakhir. Komunitas trabas sering menyebutnya dengan tanjakan vertical limit. Benar saja dinamai seperti itu karena ketinggiannya sekitar seratus meter dengan sudut kemiringan sekitar tujuh puluh derajat lebih tepatnya dengan bebatuan cadas di sepanjang track. Satu motor mencoba dan berhasil, diikuti motor yang lainnya menyusul. Beberapa gagal menaklukan medan yang ujungnya dibantu dengan ditarik menggunakan tali dari atas, atau di dorong bersama-sama sembari diiringi gelak tawa. Komunitas ini tidak hanya berisikan anggota laki-laki sepenuhnya. Ada beberapa anggota wanita yang memang mempunyai hobi menantang adrenalin ini ikut bergabung. Tersisa dua motor lagi yang mengantri untuk menaklukan tanjakan vertical limit. Teman-teman satu komunitas yang sudah berhasil sampai diatas memberikan semangat dengan meneriakan nama dua rider terakhir. “Jimbo ... Leon ... Jimbo ... Leon ....” Sorakan nama rider yang akan mulai menanjak pun semakin keras terdengar. Rider yang bernama Jimbo itu pun mulai bergerak perlahan mendekati area tanjakan. Ditancapnya gas penuh dan motor mulai menaiki batuan cadas. Pelan tapi pasti motor itu bergerak merangkak menaiki tanjakan terakhir. Suara erangan motor yang di gas pun terdengar terengah-engah. Walaupun sekuat tenaga telah di curahkan sang rider dengan skill nya, demikian motor itu pun berhenti dengan sedikit kepulan asap. Orang-orang yang berada diatas dan berjaga di sepanjang bibir tebing pun langsung mendekat untuk membantu menalikan tali derek. Mereka bersama-sama mendorong motor milik jimbo itu agar bisa survive sampai ke atas bukit. Sedikit dengan kerja keras, akhirnya Jimbo berhasil sampai diatas dengan selamat. Suara gelak tawa dan tepuk tangan langsung memenuhi area pos peristirahatan, menyoraki aksi Jimbo sekaligus memuji keberanian anggota baru itu. Giliran motor terakhir yang akan melaksanakan tugas untuk menaklukan tanjakan vertical limit. Motor jenis KTM 500 EXC-F SIX DAYS dengan bernomor 99 mulai terdengar meraung-raung bersiap menanjak. Suara riuh menyemangati kembali terdengar dari teman-teman yang sudah berada diatas bukit. Teriakan-teriakan yang memanggil nama rider terakhir itu pun menggema ditelinga. Matanya terpejam sesaat sebelum rider itu menarik gas motor. "Tarik nafas dalam ... hembuskan. Kamu tau tanjakan itu tak ada apa-apa nya. Kamu pasti bisa. Yakinlah akan kemampuan hebat sang naga" Beberapa detik mata itu terbuka kembali dan menatap tajam lurus tanjakan yang ada didepan matanya. Perlahan motor itu pun bergerak mulai merangkak. Tanpa menunggu waktu lama, dengan gesitnya rider itu berhasil melewati batuan cadas yang banyak membuat teman-temannya siang itu gagal menaklukan. Sampailah ia diatas dengan selamat disertai hamburan pelukan dari teman-teman yang telah menunggunya. “Leon … Leon ... Leon ….” Beberapa orang laki-laki yang berbadan besar pun mengangkat tubuhnya, melemparkannya berkali-kali ke udara. Satu-satunya orang yang disebut sebagai raja tanjakan di komunitas itu hanyalah dia, ya ... dia itu adalah Leon. Lelaki itu memberikan isyarat dengan tangan untuk segera menurunkan tubuhnya. Cukup untuk melakukan selebrasi berlebihan seperti itu hanya karena menaklukan sebuah tanjakan, pikirnya. Badannya pun diturunkan dan segera ia membuka helm cakil yang sedari tadi melekat dikepala. Sesungging senyum dari wajah tampan sekaligus manis terumbar di bibir. Lelaki berdarah Jawa tulen itu nampak puas atas keberhasilan nya kali ini. Tingkahnya yang cuek dan petakilan namun ramah membuat siapapun yang berteman dengan nya sangatlah beruntung. Bagaimana tidak beruntung? Sankara Leonaga Chandra merupakan seorang dokter dan putera bungsu dari keluarga pebisnis kaya raya yang sukses Amartya Chandra. Menyandang nama besar keluarga membuat lelaki berusia 28 tahun itu lebih suka menyembunyikan identitas asli serta lebih menyukai orang-orang mengenal dirinya sebagai Leon si dokter trabas. Penampilannya yang sederhana dan biasa saja menjadikan pergaulannya sangat luas. Hal ini dapat dibuktikan dengan jumlah relasi yang hampir ada di setiap kota di Indonesia. Belum lagi loyalitas dan kepedulian kepada teman, sahabat dan orang yang sedang kesusahan tanpa pandang bulu sudah tidak bisa diragukan lagi. Itulah mengapa teman-teman nya selalu mengatakan sebuah keberuntungan mempunyai seorang teman seperti Leon. Suara sorak sorai masih terdengar ramai saat mereka menyanyikan lagu mars komunitas mereka. “Kami … kami Monster Hunter Kami ... kami Monster Hunter Monster Hunter yang terdepan Menjaga hutan dan lingkungan … terabas! ….” Tepuk tangan dan tos saling dilayangkan oleh masing-masing anggota menutup selebrasi siang itu. Hidangan di pos peristirahatan sungguh sangat nikmat mereka rasakan. Menu sederhana yang terdiri dari kopi hitam panas, ubi rebus dan kacang rebus pun mendadak terasa nikmat beratus-ratus kali lipat. Walaupun menu sederhana asalkan bisa dinikmati dengan orang dan di waktu yang tepat pasti akan terasa nikmat. Seseorang melambaikan tangan ke arah Leon yang baru selesai mengkondisikan motornya sembari mengangkat sebuah cangkir kopi ditangan. Leon pun berjalan mendekat kearah segerombolan anggota yang terdiri dari dua orang sedang duduk-duduk santai dibawah rindangnya pohon cemara. “Dokter Leon!” sapa Bragawan Jiwangga yang merupakan sahabat sekaligus anggota dari komunitas Monster Hunter. Dua sahabat karib itu saling melayangkan tos dan berjabat tangan. “Gila yon, elu itu jarang ikutan trabas gara-gara kerjaan elu yang super duper sibuk. Begitu giliran elu bisa ikutan, tanjakan setan kayak gitu bisa langsung ditaklukan. Nyebelin nggak si bro hah?” tutur Aloysius Dewakaton yang merupakan sahabat satu jurusan waktu kuliah dulu. Leon menyeringai memandang dua sahabat karib yang akhir-akhir ini jarang bertemu. Ia segera duduk di sebelah Aloy sembari memandangi pemandangan Gunung Kidul dari atas bukit dimana mereka berada. “Yang penting itu bukan kuantitas bro, tapi kualitas haha.” Leon terkekeh “Ah bisa ae lu bro. Hhmm lagian elu sibuk apa si bro sampai-sampai elu absen trabas beberapa minggu ini?” Braga penasaran karena memang sahabatnya itu dirasa terlalu workaholic. “Palingan sibuk tahun ajaran baru ya?” Alloy mencoba menebak. Leon hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala. “Bukan lah, itu sudah terlalu biasa buat Leon bro. Palingan juga sibuk pacaran terus sama Ivonne hahaha.” ledek Braga dengan girangnya. Raut muka Leon semakin terlihat keheranan disusul tawa ringan keluar dari bibirnya. “What? Ivonne? No … no … no ... kalian itu pada kemakan gosip darimana si hah?” Leon terkekeh mendengar sahabatnya mengira dia berpacaran dengan seorang wanita bernama Ivonne. “Bro, kedekatan elu sama Ivonne itu sudah jadi rahasia umum di Jogja. Apalagi anak-anak kampus UBM.” timpal Alloy sembari terkekeh. Ivonne Catherine Abigail, sejak dua bulan terakhir namanya sering dikaitkan dengan Leonaga Chandra. Para awak media sering mengkaitkan kedua nama itu tatkala pertemuan Leon dan Ivonne dimulai saat acara Jogja Fashion Week yang berlangsung lima bulan lalu. Ivonne yang ikut menjadi salah satu peraga busana disana memang sempat menyihir mata Leon dengan wajah ayu khas gadis jawa. Tetapi hal itu hanya bagian dari kekaguman sesaat. Setelah acara fashion show itu selesai, mereka kemudian dipertemukan kembali satu sama lain oleh seorang Agatha Jones yang merupakan desainer terkenal berasal dari Jogja. Sejak saat itulah Leon dan Ivonne sering tertangkap kamera jalan dan hangout bersama, mengingat seorang Ivonne jarang bahkan tidak pernah serius dekat dengan pria manapun. Reputasi Ivonne yang notabene seorang model sekaligus pengusaha muda dari keluarga Abigail membuat berita kedekatan mereka berdua semakin santer tersebar di Jogja. “Ya, emang salah kalau kita deket? Bukan berarti juga kalau kita deket itu pasti punya hubungan spesial kan?” Leon menanggapi pertanyaan teman-temannya dengan santai. “Iya juga si, tapi gosip elu yang rame kemarin itu kan udah bikin mindset publik beda bro. Eh tetapi inget! Selama elu dan Ivonne nggak buka mulut tentang bagaimana aslinya hubungan kalian, media nggak akan tahu bro.” Alloy sembari menyeruput kopi nya. “Heh denger ya, kalau kita klarifikasi sama aja kita nge iya in berita yang beredar selama ini tau.” Leon sembari terkekeh. “Hhmm perlu pertimbangan khusus si emang, soalnya kalau sampai salah ucap bisa-bisa berabe. Jangan sampai bikin butterfly effect di hidup elu.” Braga turut memberikan masukan. “Nah, itu lu tau. Lagian ngapain si kita bahas masalah cewek-cewek nggak jelas? Gue kesini liburan mau cari hiburan coy, bukan mau dipusingin sama masalah cewek apalagi gosip nggak jelas.” Leon sembari menenggak sisa kopi di cangkirnya. “Yasudah, berarti habis ini kita tinggal hangout cari makan dong, iya nggak?” Braga menunjukan wajah sumringahnya. “Wah kalau siang habis ini gue kagak bisa bro. Ada kerjaan.” Leon sembari kembali memakai helm cakilnya. “Yaudah berarti sore, bisa?” Alloy memastikan jadwal sahabat nya. “Mmm … ya oke, kalau sore kayaknya aku bisa.” Leon sembari berdiri dan sedikit melakukan stretching. “Yaudah ketemu ditempat biasa ya.” Alloy turut memakai kembali helm cakilnya. “Oke.” ucap Leon singkat. Lelaki itu kembali berjalan menuju motor trailnya yang terparkir. Setelah istirahat sembari menikmati pemandangan alam dari atas bukit yang super duper memanjakan mata dirasa cukup, semua anggota Monster Hunter pun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke titik kumpul garis finis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD