1. Pantaskah Aku Dengannya?

1935 Words
MAKASSAR adalah kota yang terkenal dengan banyak ikon wisata alamnya. Pantai Kanipang, Pinrang. Jika ingin mendapatkan ketenangan, sekaligus menikmati suasana pantai yang syahdu, Pantai Kanipang di Pinrang bisa menjadi opsi yang menarik. Kemudian, air Terjun Leang Pa’niki. Air terjun Leang Pa’niki tidak hanya menyuguhkan panorama yang asyik, tapi juga menawarkan suasana yang asyik untuk bersantai. Air yang mengalir sangat segar dan dingin, pas untuk kita mandi di bawahnya. Tapi kita pun harus waspada dan hati-hati apabila debit air cukup tinggi karena arusnya bakal kuat. Juga ada pantai tersembunyi, Apparalang, Bulukumba. Di balik tebing Apparang yang kokoh terdapat pantai indah yang harus kamu kunjungi. Alam bawah lautnya juga keren, hal yang tidak boleh kamu lewatkan kala berkunjung ke sana. Nuansa alami yang menyegarkan Air Terjun Tama’lulua, Jeneponto. Air terjun ini termasuk salah satu yang cukup ngehits di Sulawesi Selatan. Debit air yang besar dan ketinggian air terjun yang di atas rata-rata menjadi keistimewaan dari air terjun Tama’lulua di Jeneponto ini. Batu Lappa, Kab Barru. Batu Lappa berarti batu yang bersusun, dan dengan tambahan aliran air yang mengalir di atasnya, juga panorama alam yang asri, destinasi wisata di Kabupaten Barru itu kini menjadi trendy di Sulawesi Selatan. Kemudian, yang paling terkenal adalah Pantai Losari. Bagi turis atau masyarakat lokal yang berasal dari kota lain mungkin tidak akan melewatkan destinasi wisata satu ini. Lalu lalang kendaraan, suara desir ombak, serta jajanan pisang epe' yang cocok di makan saat matahari tenggelam adalah salah satu daya tariknya. Siapa yang tahu bahwa kota ini akan menjadi tempat bagi dua insan untuk saling mencintai atau pun mungkin mencoba melupakan, juga siapa yang tahu bahwa pantai losari akan menjadi salah satu dari sekian tempat yang mengukir kenangan mereka. Siapa pula yang tahu bahwa pantai losari akan menjadi saksi bisu terjalinnya cinta seorang keturunan Nabi Adam Alaihi salam dan Siti Hawa? *** Pagi ini seperti biasa, Aisyah Adira Akbar, gadis bertubuh mungil itu menjalani rutinitasnya seperti hari kemarin. Dia sedang libur sekolah selama dua pekan, jadi aktivitasnya hanyalah membantu Ibu, membaca dan melanjutkan tulisannya di kamar atau pun jalan dengan teman-teman jika ada yang mengajak. Aisyah menyukai dunia kepenulisan. Dia sering mengikuti lomba menulis, baik menulis cerpen, puisi dan novel. Tak heran jika dia sering keluar sebagai juara satu. Uang yang dia dapat dari hasil tulisannya rutin dia berikan kepada para dhuafa dekat rumahnya, salah satunya tetangganya yang sudah janda dan berumur. Toh, Aisyah alhamdulillah masih memiliki orang tua yang berkecukupan, sementara para dguafa tersebut begitu kesulitan untuk mencari rupiah, jangankan untuk mencari pekerjaan untuk jalan saja beliau kesusahan dan harus dibantu oleh orang sekitarnya. Hari ini Aisyah akan menemani Caca ke rumah sakit untuk menjenguk salah satu temannya di sekolah, Caca adalah tetangga Aisyah sekaligus anak Ustadz Firdaus. Sahabat karib Aisyah dari zaman makan pentol-pentol depan SD. Ah, bukan. Zaman berebut naik perosotan TK nampaknya lebih cocok. Aisyah dan Caca bisa dibilang sudah seperti saudara kandung. Jika ada yang mengganggu Aisyah maka Caca akan segera turun tangan, perempuan itu benar-benar tidak memiliki rasa takut sama sekali. Bahkan pernah Caca harus menerima hukuman untuk tidak keluar rumah selain untuk mengaji dan sekolah karena membela Aisyah yang diganggu oleh teman sekelasnya. Alhasil Aisyah menangis karena merasa bersalah kepada Caca, dan Caca hanya tertawa melihat kehebohan Aisyah. Lagipula dia juga merasa nyaman-nyaman saja di rumahnya. "Aisyah, ada Caca di depan" ucap Ibu Aisyah. "Suruh masuk saja bu" Aisyah nyengir "Minta tolong bu, Caca di suruh masuk ke kamar saja" ulang Aisyah karena ucapan pertamanya mendapat teguran halus dari ibu. Ibunya pun tersenyum "Caca di suruh masuk ke kamar katanya" terdengar suara ibu dari arah ruang tamu. "Assalamualaikum warohmatullohi Wabarakatuh" salam Caca dan duduk di kasur Aisyah yang berwarna merah muda. "Wa'alaikumussalam warohmatullohi Wabarakatuh" jawab Aisyah yang sedang memasukkan beberapa barang seperti Novel yang sekarang ini sedang dibacanya juga beberapa barang yang dapat membuatnya menyibukkan diri saat Caca bersama temannya nanti di rumah sakit. "Masyaa Alloh cantiknya temanku ini" Caca mencubit pipi Aisyah gemas. "Apasih Ca?" Ucap Aisyah yang sangat-sangat tidak suka jika Caca mencubit pipinya. "Icah" Aisyah melirik Caca, kalau sudah memanggilnya dengan sebutan 'Icah' pasti gadis di depannya sedang ada maunya. "Jangan minta yang aneh-aneh" Aisyah memperingati "Ketahuan deh" Caca nyengir "Aku mau jujur, supaya kamu nggak kaget nanti di rumah sakit, sebenarnya yang ku jenguk nanti itu bukan teman kelasku, tapi.." "Tapi, siapa Ca?" "Anuu.. itu loh, kakak kelas yang sudah lama ku kagumi." Ucap Caca salah tingkah, mau berbohong pun tidak bisa karena pasti Aisyah akan lebih mudah membaca kebohongannya. "Astagfirullah al adzim, kamu tuh yah benar-benar, Aku gak mau ikut ah" Aisyah menghentikan aktivitasnya memandang sahabatnya intens. "Aku kan cuma menjenguk, nggak ada maksud apa-apa." Aisyah diam "Janji deh nggak macam-macam setelah menjenguk kita akan pulang." Ada keseriusan di balik wajah Caca yang bisa membuat hati Aisyah goyah. "Tapi janji, jangan pakai acara senyam-senyum apalagi kedip mata, suaranya jangan di lembut-lembutin. Kalau sampai kedapatan, aku laporin ke bapakmu." Ancam Aisyah, Caca lalu memeluk Aisyah. "Iyaaa Icah, aku janji" Caca benar-benar tak habis pikir dengan sahabatnya ini. "Lagipula bisa dihukum aku sama Abi kalau sampai ketahuan godain cowok bukan mahram." Caca tersenyum lebar memandangi sahabatnya yang mudah luluh itu. *** Sesampai di rumah sakit, Aisyah lebih memilih menunggu di luar, sembari membaca novel bergenre Romance Islami, dia dibuat kagum dengan tokoh fiksi yang ada di dalam novel. Seorang dokter muda paham Agama, romantis, tampan dan mapan. Dokter, siapa yang mampu menolak pesonanya, melihatnya memakai Snelli saja Masyaa Allah sekali, sulit menolak lelaki yang agamanya baik, apalagi ditambah dengan profesinya yang bertugas untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Aisyah Aisyah, Sadar, memangnya ada lelaki semacam itu di dunia nyata, dia itu tak lebih hanya tokoh fiksi. Ucapnya dalam hati menepuk kedua pipinya "Aisyah?" merasa namanya disebut, Aisyah mencari asal suara. "Kak Adnan?" Aisyah tersenyum "Kakak praktek di sini?" Tanyanya "Iya benar, kamu ngapain ke sini?" Tanya Adnan "Menemani Caca, dia menjenguk temannya" jawab Aisyah "Caca anaknya Ustaz Firdaus?" Aisyah mengangguk "Lantas, kenapa tidak ikut masuk ke dalam?" "Mmm" Aisyah tidak mau masuk karena gak mau menganggu kebersamaan Caca dan teman-temannya, Aisyah telah bersuudzon. Aisyah pikir Caca hanya sendiri, ternyata dia bersama teman-temannya yang lain. Tidak ingin merasa dicueki Aisyah memilih untuk membaca Novel favoritnya di luar ruangan. "Aisyah takut di kacangin, makanya nggak mau masuk." Ucap Aisyah jujur. Adnan tertawa, manis sekali batin Aisyah. Astagfirullah "Daripada bosan disini, yuk jalan-jalan kita keliling rumah sakit" ajak Adnan yang segera membuat wanita yang tingginya hanya sampai dibahunya itu semangat. "Memangnya kakak nggak sibuk?" Aisyah bertanya. Pasalnya dokter itu adalah pekerjaan yang begitu menguras tenaga. Istirahatnya jarang, makan dan minum tidak teratur, tidur tidak nyenyak dan berbagai kesusahan lainnya. Adnan mengangkat kedua bahunya "Kalau kakak sibuk, mengapa kakak ada di depanmu sekarang?" Adnan baru saja menyelesaikan operasi keduanya hari ini. Bayangkan, dia datang subuh hari dan melaksanakan salat di mushalla masjid karena ada dua operasi pagi ini. Dia sangat menghargai waktu, untuk menghindari macetnya kota Makassar lebih baik dia datang dini hari, dan melaksanakan operasi tepat waktu. Dia baru saja keluar dan begitu ingin mengistirahatkan dirinya karena semalam pun dia baru sampai pukul sepuluh malam di rumahnya. Tapi, melihat wajah lucu Aisyah membaca novel semua rasa lelahnya hilang. Aisyah nyengir "Benar juga" Aisyah menepuk kepalanya, kebiasaannya. "Berhentilah melakukan itu Syah, kamu memang nggak pernah berubah." Ucap Adnan. "Kebiasaan" ucapnya tersenyum. Aisyah memang sering menepuk kepalanya jika sedang lupa, kesal, atau salah menyebut sesuatu. Aisyah dan Adnan berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit, di samping lorong ada halaman yang begitu luas. Seperti taman, banyak pepohonan rindang disana. Ada seorang kakek yang sedang berlatih untuk berjalan dibantu dengan anak-anaknya. Aisyah berdecak kagum "Masyaa Allah" mereka tersenyum memandangi kakek itu, tak henti-hentinya di semangati oleh cucu dan anak-anaknya. "Ayo, kakek cemangat" ucap anak kecil yang kira-kira berumur 4 atau lima tahun itu. Sepertinya dia adalah cucu dari kakek tersebut. "Nanti, Intan belikan es klim" orang yang ada disana tertawa termasuk Adnan dan Aisyah. "Sebenarnya, hal yang paling penting agar pasien lekas pulih bukan dari seberapa ahli dokter dan perawatnya tapi dari berapa besar semangat dan keinginan mereka untuk sembuh dari penyakitnya." Ucap Adnan "Aisyah setuju kak. Dorongan dari orang-orang yang mereka cintai juga, pasti menjadi salah satu alasan terbesar mereka untuk sembuh." "Aisyah" ucap Adnan Kau tahu Adnan benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa cintanya lebih lama lagi kepada Aisyah dia begitu ingin segera melamar perempuan yang ada di sampingnya. "Kenapa kak?" Aisyah berbalik menatap Adnan. "Tidak, yuk lanjut jalan lagi." dahi Aisyah mengerut tapi tetap mengikuti langkah Adnan. "Kak, itu apa?" Ucap Aisyah menunjuk pohon yang bertempelkan banyak kertas post it berwarna-warni. "Ini namanya Kepingan harapan, para pasien yang ada di rumah sakit ini menuliskan harapan mereka disana, kamu mau lihat?" Aisyah mengangguk. Membaca beberapa kertas yang bertuliskan harapan-harapan itu, Aisyah terharu. Untuk : Ayah dan bunda, Maafkan Sarah karena selalu membuat kalian kerepotan, sarah akan selalu semangat untuk sembuh. Bunda bilang rambut Sarah akan di ganti dengan rambut yang lebih baik dan cantik oleh Allah makanya kalau rambutnya rontok Sarah nggak boleh nangis, tapi harus berterima kasih sama Allah. Sarah harap rambutnya bisa segera tumbuh dan Sarah bisa main lagi sama teman-teman. Tulisan anak kecil itu membuat Aisyah menitihkan air mata "Sarah menderita Leukimia, dia sudah di rawat sejak setahun yang lalu disini. Ayah dan Bundanya adalah orang yang baik, Kakak tidak pernah mendapati mereka berdua mengeluh melainkan mengajarkan anaknya jika sakit yang di deritanya adalah tanda bahwa Allah menyayanginya." Ucap Adnan "Sedih yah kak, betapa banyak orang yang sehat tapi malah enggan untuk bersyukur. Sedangkan mereka yang sakit tidak henti-hentinya mengucap syukur dan tidak putus asa untuk berdo'a agar di beri kesembuhan." "Maka dari itu jangan lah kita menjadi orang-orang yang lalai. Banyak mengeluh namun sedikit bersyukur." Ucap Adnan. *** Sehabis berkeliling Rumah sakit, Aisyah dan Caca memesan taksi untuk pulang, cuaca di Makassar hari ini lumayan panas, hampir mencapai angka tiga puluh tujuh derajat. "Kamu suka yah sama Dokter Adnan? Aku liat kalian seperti pasangan kekasih. Tatapannya ke kamu itu benar-benar teduh tahu nggak?" Ucap Caca to the point saat mereka sudah duduk di kursi penumpang. Aisyah tertawa "Suka bagimana sih Ca? Nggak mungkin lah, aku itu cuma diajak melihat-lihat rumah sakit, bukan di ajak menikah. Dia juga hanya menganggapku sebagai adik, tidak lebih." Ucap Aisyah. "Hati manusia itu nggak ada yang tahu Icah. Kamu tahu bukan Allah itu Maha membolak-balikan hati. Hari ini memang Allah belum kasih kamu dan dia rasa cinta, tapi kedepannya bisa jadi dia adalah lelaki yang mampu mengisi kekosongan hati kamu alias lelaki yang tertulis di Lauh Mahfudzmu" ucap Icah lugas. "Tapi mana mungkin aku dengan Kak Adnan bersama, umur kita saja beda 7 tahun." Ucap Aisyah masih mengelak. "Terus Nabi Muhammad dan Ummu Aisyah Radiallahu anhu beda berapa Tahun? Ummu Khadijah dan Rasulullah juga beda berapa tahun." Jawab Caca berapi-api. "Aku nggak cocok sama dia." Ucap Aisyah akhirnya. "Loh, nggak cocok kenapa? Kamu cantik, pinter, followers instagramnya banyak, keluarga kamu beradab. Ibaratnya nih bibit, bebet, bobot kamu udah dilevel atas." "Bagaimana dengan dokter Adnan, dokter muda, parasnya rupawan, agamanya baik, mapan, semua suster dan dokter di sini pun dari tadi hanya menunjuk satu nama lelaki di sini, Adnan. Kamu pun pasti dengar bisik-bisik para suster saat Kak Adnan lewat. Aku ini siapa?" "Kalian itu pasangan yang sangat serasi, wajah kalian saja hampir mirip. Kata orang dulu, kalau wajah lelaki dan perempuan mirip itu bisa jadi jodoh." Aisyah cemberut "Udah ah, itu cuma mitos. Aku nggak mau bahas yang berat-berat dulu." Caca malah senyum-senyum penuh arti. "Kenapa hati aku bilang kalau kalian berjodoh yah?" Aisyah menatap tajam ke arah Caca lalu mengisyaratkan sahabatnya untuk diam. Adnan memang memiliki rasa pada Aisyah, sudah sejak lama tapi dia memilih untuk memendamnya. Sedang Aisyah? Jangan di tanya gadis polos ini belum pernah mencintai seorang pria selain Ayah dan Adiknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD