Realita hidup

1504 Words
"Aku selama ini sudah berjuang untuk menyenangkan keluargaku. Lalu ketika perusahaan di ambang kehancuran, aku juga yang dikorbankan untuk menyelamatkannya. Pria yang kucintai selama ini ternyata pria yang salah, dan pria yang kunikahi hanya pura-pura baik karena urusan bisnis," batin Sakura, mencoba membulatkan tekadnya untuk bunuh diri. Brakkkk! Pintu terdobrak terbuka, Adrian masuk dan memeluknya, membuang silet yang dipegangnya. Tangan Sakura terlihat beberapa sayatan, penuh keraguan namun tidak terlalu dalam sehingga tidak berbahaya. "Maafkan aku, Sakura," ucap Adrian penuh penyesalan. "Aku sampai tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, Adrian. Aku tidak yakin tujuan hidupku, semua yang kukasihi meninggalkanku," tangis Sakura terisak. "Maafkan aku, Sakura. Aku tahu semuanya tidak bisa terulang dan diperbaiki, dan itu membuatku semakin frustasi dan bersalah." "Aku sekarang tidak bisa punya anak lagi, Adrian. Kenapa harus aku?" "Bersabarlah, Sakura." "Sampai kapan aku harus bersabar di posisi ini?" "Inilah realita kehidupan, Sakura.Meskipun tidak ada kata-kata yang bisa menghapus semua rasa sakit yang kamu rasakan, ada harapan untuk memperbaiki dan membangun kembali kehidupanmu." Adrian meminta maaf dengan tulus atas kesalahannya dan menyadari bahwa tindakannya tidak dapat dibenarkan. Meskipun tidak ada yang bisa mengubah masa lalu. Terdiam sejenak, Sakura merenungkan kata-kata Adrian. Air mata masih mengalir di pipinya, namun ada kekuatan baru yang mulai tumbuh di dalam dirinya. Dia merasa perlu menghadapi realita kehidupan dan mencari cara untuk bangkit dari keputusasaan yang melanda. "Lalu katakan padaku, aku harus bagaimana sekarang?" Sakura menghapus air matanya, mendorong tubuh Adrian yang memeluknya, dan menatap matanya dengan tatapan serius. Adrian berpikir dan mencoba mencari jalan keluar terbaik bagi Sakura. "Aku rasa kamu harus tinggal dengan Aluna sementara, Sakura." "Kenapa kamu menyarankanku untuk tinggal bersamanya yang tidak ada hubungan apapun denganku?" "Dia membawa calon masa depanmu dengan mengorbankan hidupnya." "Itu hanya demi uang." "Aku rasa Princess Aluna Lucky wanita yang berbeda, dia berasal dari keluarga terpandang. Dia hanya menuruti kemauan kalian sebagai klien pertamanya. Pasti ada sesuatu yang bisa membuatmu berpikir akan sesuatu yang baru di masa depan." "Baiklah, aku akan memikirkan saranmu malam ini." Sakura kehilangan ibunya dan ayahnya depresi sehingga mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan perusahaan, atau Sakura yang menawarkan dirinya untuk membuat ayahnya melihat bahwa masih ada dirinya dalam hidup ayahnya. Semuanya masih menjadi teka-teki. Bagaimana takdir mereka terjalin begitu rapi sehingga dia harus kehilangan rahimnya di saat Princess Aluna Lucky, wanita yatim piatu yang tak kekurangan apapun, rela mengorbankan semuanya untuk mengandung anak mereka. Adrian kemudian membelai rambut Sakura, kemudian membiarkannya sendiri di kamar. Kali ini dia yakin Sakura tidak akan berbuat aneh lagi. **** "Oliver, kamu pemimpin perusahaan, tapi mengendalikan istrimu saja kamu tidak bisa," kata Papa Oliver sambil melemparkan foto Sakura bersama Adrian dan beberapa foto lainnya saat dia sedang melakukan janji di klinik spesialis kandungan. "Maaf, Pa. Oliver akan berusaha membuat Sakura berubah dan tidak berhubungan lagi dengan Adrian." Oliver Richie juga sebenarnya merasa tertekan dengan hidupnya karena obsesi orangtuanya. Dia tidak ingin si kembar Adrian dan Shawn harus seperti b***k orangtuanya. Oliver Richie berusaha mengubah prinsip yang diajarkan oleh orangtuanya. "Sudah keluarlah kamu, segera bereskan secara diam-diam urusan istri dan adik kandungmu sendiri. Papa akan pura-pura tidak tahu mengenai hal ini." "Terima kasih, Pa. Oliver akan berusaha," jawab Oliver. Oliver keluar dari kantor Papa dan masuk ke dalam kantornya, lalu meminum segelas wine. "Sial... Semoga saja Papa tidak menyelidiki lebih jauh," batinnya dalam hati. Oliver duduk di kursinya, memandang keluar jendela dengan perasaan gelisah. Dia merasa tertekan dengan situasi yang sedang dihadapinya. Pikirannya dipenuhi dengan kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi jika rahasia hubungan Sakura dan Adrian terbongkar. "Sakura, aku harus mencari cara untuk melindungimu," gumam Oliver sambil menggenggam erat gelas wine di tangannya. Dia merenung sejenak, mencoba merumuskan rencana yang bisa menghindarkan Sakura dari kemungkinan bahaya. **** "Dimana Shawn dan Adrian?" tanya Bu Reina masuk membawa Pizza Hut dan 2 bucket KFC Winger. "Sudah pulang, Bu. Sini, Bu, makanannya. Kebetulan kita lagi lapar, kan, Aluna?" Liliana dengan semangat mengambil sekotak pizza dari tangan Bu Reina. "Makanlah, Aluna. Kamu harus makan meskipun sedikit. Kandunganmu butuh gizi untuk berkembang," kata Bu Reina dengan penuh perhatian. "Bu, bagaimana pendapat Ibu tentang Shawn?" Riana mencomot pizza dan memakannya dengan semangat. "Shawn? Kenapa?" tanya Bu Reina sambil duduk di sofa dan mengambil satu buah Winger dan memakannya. "Liliana sedang jatuh cinta dengan Shawn, Bu," timpal Princess Aluna Lucky. "Shawn tampan, dari keluarga kaya, tapi Ibu tidak tahu baik atau tidak untukmu, Liliana," jawab Bu Reina dengan ragu. "Aku yakin Shawn anak yang baik, Bu. Feelingku bilang seperti itu," ujar Liliana mantap. "Lanjutkanlah kalau begitu. Ibu hanya bisa memberi dukungan atas hubungan kalian," kata Bu Reina dengan senyum hangat. Liliana tersenyum lega mendengar dukungan dari Bu Reina. Dia merasa bahagia bahwa ibunya menerima hubungannya dengan Shawn. Rasa cinta yang tumbuh di antara mereka semakin kuat, dan mereka berdua berkomitmen untuk menjaga hubungan mereka dengan baik. "Terima kasih, Bu. aku sangat menghargai dukungan dan kepercayaan Ibu," ucap Liliana Gerald dengan tulus. "Ibu ku menerima hubungan kita, Shawn," tulis Liliana Gerald membalas pesan Shawn dengan semangat. "Bagaimana, Aluna?" tanya Shawn. "Enak kok, tidak mual, Bu. Mungkin sukanya sama makanan instan," tulis Liliana. "Tapi makanan seperti ini tidak sehat, Aluna," balas Shawn khawatir. Setelah berbincang sambil menghabiskan makanan yang dibawa Bu Reina, mereka pun tidur malam itu. Keesokan paginya, Sakura datang membawa kopernya ke rumah sakit. "Sakura?" Princess Aluna Lucky cukup terkejut melihat Sakura pagi itu. "Aluna, mulai sekarang aku akan merawatmu," ucap Sakura dengan tegas. "Kenapa, Sakura? Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" tanya Princess Aluna Lucky. "Aku sebenarnya sangat sedih, Aluna," kata Sakura sambil memeluk Princess Aluna Lucky. Bu Reina dan Liliana Gerald masih tertidur pulas di kamar tamu yang disediakan di ruangan di mana Princess Aluna Lucky dirawat. "Kenapa? Coba ceritakan padaku," pinta Princess Aluna Lucky. "Aku sedih karena ternyata rahimku sudah diangkat. Aku tidak lagi bisa menjadi wanita seutuhnya," ucap Sakura dengan suara terisak. "Maafkan aku, Sakura, atas kehilanganmu," kata Princess Aluna Lucky sambil menepuk punggung Sakura dengan penuh kasih sayang. Princess Aluna Lucky merasa sedih melihat kesedihan Sakura. Dia memahami betapa beratnya kehilangan yang Sakura alami. Dalam keheningan, mereka saling memeluk, memberikan dukungan dan kekuatan satu sama lain. "Sakura, aku tidak bisa membayangkan seberapa sulitnya perasaan yang kamu alami. Tapi kamu harus tahu bahwa kamu tetap berharga dan berarti, meskipun rahimmu sudah diangkat," kata Princess Aluna Lucky dengan lembut. Princess Aluna Lucky tersenyum penuh kehangatan. "Kita akan melalui ini bersama, Sakura. Aku akan selalu ada untukmu." Mereka berdua duduk di samping tempat tidur, saling berbagi cerita dan perasaan. Princess Aluna Lucky mendengarkan dengan penuh perhatian, memberikan dukungan dan menghibur Sakura dalam setiap kata yang diucapkan. "Aluna, aku ingin memulai lembaran baru dalam hidupku. Aku ingin menemukan arti sejati dari kebahagiaan dan tujuan hidupku," ucap Sakura dengan tekad yang baru. "Kamu tahu, Sakura, pertama kali aku mendengar kedua orangtuaku meninggal, aku merasa seperti itu hanya mimpi. Kami tidak pernah punya waktu bersama, dan seandainya aku tahu hidup mereka tidak akan lama, aku pasti akan selalu merengek meminta waktu bersama mereka," ucap Princess Aluna Lucky dengan suara penuh penyesalan. "Maafkan aku, Aluna. Aku tidak bermaksud membuka luka lama di hatimu," kata Sakura dengan penuh kepedulian. "Semua orang menilaiku terlalu arogan karena perkataanku yang sarkastik. Padahal, aku hanya tidak tahu bagaimana harus bicara dengan mereka. Liliana adalah orang yang paling mengerti aku," lanjut Princess Aluna Lucky. "Sesungguhnya, Adrian menyaranku untuk tinggal bersamamu. Aku baru saja berantem dengan Oliver," ujar Sakura. "Sakura, aku yakin Oliver punya maksud tersendiri dengan menyakitimu. Sepertinya hal itu terkait dengan Adrian, orangtuamu, dan kehidupanmu," kata Princess Aluna Lucky dengan penuh kehati-hatian. "Aku harus banyak belajar darimu, Aluna," ucap Sakura dengan rasa kagum. "Tidak, Sakura. Aku belajar banyak ketika bertemu dengan Bu Reina," jawab Princess Aluna Lucky. "Bu Riana, wanita yang bersamamu itu?" tanya Sakura penasaran. "Bu Reina adalah wanita yang hebat. Itu salah satu alasanku menerima permintaan Oliver. Selain itu, ada uang yang cukup banyak, dan tentu saja, kamu, Sakura," jelas Princess Aluna Lucky. "Aku?" Sakura terkejut. "Iya, Sakura. Tidak semua wanita terlahir beruntung untuk bisa menjadi seorang ibu. Banyak di luar sana yang sangat menginginkan buah hati," kata Princess Aluna Lucky dengan penuh makna. Sakura terdiam sejenak, merenungkan kata-kata yang baru saja didengarnya dari Princess Aluna Lucky. Dia merasa terharu dan bersyukur atas keberadaan Princess Aluna Lucky dan Bu Reina dalam hidupnya. Mereka memberikan perspektif baru dan pemahaman yang dalam tentang arti pentingnya keluarga dan kasih sayang. "Aluna, aku tidak pernah benar-benar menyadari betapa beruntungnya aku memiliki seseorang seperti Bu Reina dan kamu di sampingku. Kalian berdua adalah contoh nyata tentang kekuatan keluarga dan keinginan untuk saling mendukung," ucap Sakura dengan suara penuh rasa terima kasih. Sakura merasa hatinya dipenuhi oleh rasa hangat dan kebahagiaan. Dia berjanji untuk terus belajar dan tumbuh bersama dengan Princess Aluna Lucky dan Bu Reina. Mereka akan menjadi sumber inspirasi dan kekuatan dalam perjalanan hidupnya. Princess Aluna Lucky tersenyum bangga. "Aku tahu kamu bisa melakukannya, Sakura. Kita akan saling mendukung dan tumbuh bersama dalam perjalanan ini." Mereka berdua saling memeluk dengan penuh kasih sayang. Masa depan yang cerah menanti mereka, dan dengan cinta dan dukungan yang mereka miliki, mereka siap menghadapi setiap tantangan yang ada di depan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD