Alasan

1514 Words
Kedua wanita itu terdiam, tidak tahu apa yang harus mereka katakan. Mereka merasa sedih dan kecewa dengan berita tersebut. "Lalu, bagaimana kita melanjutkan dari sini?" tanya Aluna dengan suara lemah. Dokter tersebut mengambil nafas dalam-dalam sebelum menjawab. "Kita harus mencari solusi lain, seperti donor ovum atau pertimbangan lainnya. Kita akan mencari jalan keluar yang terbaik untuk kita." Aluna dan Bu Reina saling menatap, siap untuk menghadapi tantangan baru yang ada di depan mereka. "Kalau begitu, kita bisa mencoba menggunakan ovumku" ujar Princess Aluna Lucky dengan ragu. Bu Reina menatap Princess Aluna Lucky dengan mata memicing, "Kamu yakin, Aluna?" Princess Aluna Lucky terlihat bimbang, "Aku... aku..." "Tidak apa-apa, Aluna. Kita bisa memberitahu mereka agar lebih siap dengan pilihan lain," kata Bu Reina dengan pengertian. "Tidak, Bu. Aluna saja. Kasihan Sakura sudah kehilangan kesempatan untuk memiliki anak, jangan tambahkan beban pikiran lagi untuknya," ujar Princess Aluna Lucky dengan mantap. "Jadi sudah pasti, Aluna? Apakah perlu memberitahu mereka?" tanya Bu Reina. "Jangan, Bu. Biarkan saja. Aku takut klien kita akan kecewa," Princess Aluna Lucky menjawab. "Baiklah, jika itu keputusanmu yang mantap, Aluna," kata Bu Reina dengan pengertian. Princess Aluna Lucky mengangguk, "Ya, Bu. Aku yakin dengan pilihan ini." Bu Reina tersenyum, "Baiklah, Aluna. Aku akan mendukungmu sepenuhnya." Princess Aluna Lucky merasa lega mendapatkan dukungan dari Bu Reina. Mereka berdua lalu merencanakan langkah-langkah selanjutnya untuk menjalani proses menggunakan ovum Princess Aluna Lucky. Beberapa hari kemudian, mereka memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis reproduksi. Dokter memberikan penjelasan detail tentang prosedur dan risiko yang terkait dengan penggunaan ovum Princess Aluna Lucky. Princess Aluna Lucky merasa sedikit gugup, namun dengan dukungan dan keberanian yang dimiliki, ia memutuskan untuk melanjutkan proses ini. Bu Reina tetap berada di sisinya, memberikan dukungan dan semangat. Proses menggunakan ovum Princess Aluna Lucky berjalan lancar, meskipun ada beberapa tantangan di sepanjang jalan Dua bulan telah berlalu, dan akhirnya proses IVF dengan menggunakan ovum Princess Aluna Lucky berhasil menghasilkan embrio. "Pak Oliver, embrio akan disuntikkan ke rahim Princess Aluna Lucky," kata Bu Reina memberitahu Oliver Richie melalui telepon. "Iya, silahkan lanjutkan sesuai prosedur. Sakura masih dalam masa pemulihan," jawab Oliver Richie. Setelah menunggu proses implantasi, Princess Aluna Lucky mengalami mual muntah parah sehingga sering tidak bisa masuk kuliah. "Aluna, bagaimana ini? Sepertinya kamu kesulitan untuk mengikuti perkuliahan kita," kata Liliana Gerald yang menemaninya di rumah sakit karena mual muntah parah akibat kehamilannya. "Ibu harus memberitahu Oliver tentang keadaanmu," saran bu reina. "Jangan, Bu," tolak Princess Aluna Lucky. Ternyata, Oliver Richie mencari tahu kabarnya dengan menyewa orang untuk mengikutinya. "Aluna, bagaimana rasanya menjadi ibu hamil?" tanya Oliver Richie saat mengunjunginya di rumah sakit sambil membawa buah dan bunga. "Apa maksudmu, Oliver? Dia sedang mengandung anakmu," jawab Liliana Gerald dengan nada tegas. Liliana Gerald tampak marah dengan respons Oliver Richie. "Ini sebanding dengan tawaran yang kuberikan padamu, Aluna," jawab Oliver Richie dengan angkuh. Princess Aluna Lucky membalikkan badannya, membelakangi Oliver Richie. "Aluna, apa kau ingin aku mengusirnya?" ujar Liliana Gerald. "Tidak usah, aku hanya singgah sebentar untuk melihat penderitaan yang dialaminya. Begitulah rasanya dulu keadaanku saat kamu menolakku," sahut Oliver Richie sambil meninggalkan ruangan. "Ada apa dengan Pak Oliver sebenarnya, Aluna? Kamu yakin akan meneruskannya hingga akhir?" "Tentu saja, aku ingin melihat bagaimana akhir dari semua ini," ujar Aluna dengan mukanya yang pucat. Setelah Oliver Richie meninggalkan ruangan, Liliana Gerald menatap Aluna dengan penuh kekhawatiran. "Aluna, apakah kamu yakin akan meneruskannya hingga akhir? Aku khawatir dengan apa yang bisa terjadi." Aluna menatap Liliana dengan tekad di matanya. "Ya, aku yakin. Aku ingin melihat bagaimana akhir dari semua ini. Aku tidak ingin membiarkan diriku terus hidup dalam penyesalan dan penderitaan. Aku ingin menyelesaikan masalah ini dengan caraku sendiri." Lalu Adrian dan Shawn masuk ke dalam ruangan, membawa sekeranjang coklat. "Kami mendengar semuanya dari Oliver Richie. Terima kasih sudah membantu Sakura dalam banyak hal," jelas Adrian sambil tersenyum. "Mohon maaf, aku kehilangan kertas yang diberikan olehmu," jelas Shawn kepada Liliana Gerald. "Kalian berpacaran?" tanya Princess Aluna Lucky dengan muka terkejut. "Ah, tidak," Liliana Gerald tersenyum malu. "Aku ingin mencoba membuka hati pada wanita lain," Shawn terlihat menatap Liliana Gerald dengan serius. "Serius?" Liliana Gerald dengan mata berbinar melihat ke arah Shawn. "Sepertinya dunia milik berdua," ujar Bu Riana sambil keluar ruangan, merasa sumpek dengan situasi sekarang. "Jadi, benar kamu, Adrian, yang menyebabkan kecelakaan pada Sakura?" tanya Princess Aluna Lucky. "Makanya, jangan menilai segala sesuatu dari penampilan," sahut Shawn sambil mendengus. "Apakah itu benar, Adrian?" tanya Liliana Gerald dengan ekspresi tak percaya. "Ya, itu benar. Aku tidak akan menyangkalnya. Aku dan Sakura bertemu saat itu dan bertengkar, dan aku terlalu takut sehingga ya, jadilah seperti itu," jelas Adrian dengan singkat. Shawn menahan kepalan tangannya, tampak sangat terbebani. "Kamu... Setiap kali memikirkannya lagi, ingin rasanya aku membunuhmu, tapi itu tidak akan bisa membalikkan situasi..." Liliana Gerald cepat tanggap dan mencoba meredakan pertikaian. "Sudah, sudah... Kita di sini untuk melihat kondisi Aluna, bukan untuk mempermasalahkan yang sudah berlalu. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan bijaksana." "Kamu mau sebatang coklat, Aluna?" tanya Liliana Gerald sambil mengambil coklat yang dibawa oleh Adrian dan Shawn. "Ya, coba aku makan," Princess Aluna Lucky mengambil coklat yang diberikan oleh Liliana Gerald. "Bagaimana rasanya?" tanya Adrian dan Shawn dengan perasaan cemas. "Hmmm, enak," ujar Princess Aluna Lucky. "Baguslah kalau begitu, ada sesuatu yang bisa kamu makan," ujar Liliana Gerald dengan wajah bahagia. "Bagaimana rasanya?" tanya Shawn. "Manis," jawab Princess Aluna Lucky sambil tersenyum. "Bukan coklatnya, kehamilanmu," sela Shawn dengan senyuman. "Oh, sangat tidak menyenangkan. Mual, muntah, terkadang mencium aroma sesuatu yang kusuka pun bisa memicu mual," Princess Aluna Lucky mengeluh. "Semangatlah, kamu membawa generasi penerus usaha kami," kata Shawn sambil tertawa. "Ayo, kita pulang, Shawn. Aluna harus istirahat," ajak Adrian sambil mengajak Shawn untuk pulang ke rumah. "Terima kasih atas coklatnya," ujar Liliana Gerald sambil tersenyum pada Shawn. "Bagaimana keadaan Aluna?" tanya Sakura sesampainya Oliver di rumah. "Kamu penasaran atau hanya pura-pura?" tanya Oliver Richie dengan nada sinis. "Tentu saja aku khawatir, dia membawa bayi kita," ujar Sakura dengan nada cemas. "Dia hanya mengalami mual muntah, kenapa kamu tidak ikut saja tadi kalau memang khawatir?" tanya Oliver dengan nada acuh. "Aku takut terlihat menyedihkan di depan wanita yang menggantikanku untuk hamil," jawab Sakura dengan suara terguncang. "Takut?" tanya Oliver dengan nada tidak percaya. "Ya, aku takut terlihat menyedihkan karena rahimku sudah diangkat dan tidak ada seorang pun yang memberitahuku, hingga aku mencari tahu sendiri ke dokter spesialis kandungan," ujar Sakura dengan suara penuh kesedihan. "Jadi, sekarang aku sudah tidak perlu berpura-pura peduli padamu? Kamu seperti boneka sekarang, hanya bisa menjadi tontonan," kata Oliver dengan nada sinis dan tajam. Sakura menatap Oliver dengan air mata di matanya. "Aku tidak pernah berharap kamu berpura-pura peduli padaku. Aku hanya ingin kamu menghargai situasi yang sedang aku hadapi. Aku tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi pada rahimku, tapi aku berjuang untuk menjaga bayi kita." Oliver richie tertawa cukup keras, " kalau kau memang benar peduli sakura, kita tidak perlu melakukan hal seperti ini. " " bagaimana aku bisa meluluhkan hatimu yang serasa punya 2 sisi oliver, bagaimana aku bisa mengenal mu bila kamu tidak membuka dirimu padaku. " " selama ini kamu sibuk dengan kehidupan mu sakura, dan aku tidak pernah mempermasalahlan, bahkan aku selalu membereskan setiap masalahmu" " jadi kamu mau nya apa oliver?" " aku sudah mendapatkan apa yang kumau, kamu sekarang hanya perlu terus seperti itu, menjadi wanita lemah tanpa daya dan diam di rumah" " maksud kamu? aluna?" " kamu tidak perlu tahu terlalu banyak tentang diriku, kami bisa miliki apa yang ingin kamu inginkan asal tidak mengusik kehidupan pribadiku. " Sakura menangis melihat kelakuan oliver yang semena- mena pada dirinya yang tidak berdaya. Shawn dan adrian yang baru sampai rumah setelah menjenguk princess aluna lucky pun berusaha menenangkan sakura. " Dia memang seperti itu sakura" ujar shawn Oliver richie pun pergi keluar rumah menuju ke perusahaan. "Kalian tidak ada bedanya dengan Oliver, kalian semua sama," kata Sakura sambil pergi ke kamarnya dan membanting pintu kamar. Adrian dan Shawn pun pergi ke kamar masing-masing. Shawn mengetik beberapa kata di handphonenya dan mengirim pesan kepada Liliana Gerald. Wanita itu terlihat berbeda dari wanita yang selama ini Shawn kenal, termasuk Sakura. Sambil tersenyum, Shawn membaca balasan pesan dari Liliana Gerald. **** "Menurutmu, Shawn, bagaimana orangnya Aluna?" tanya Liliana Gerald dengan muka seperti kepiting rebus. "Oh, bestieku, Liliana Gerald, akhirnya kamu menemukan laki-laki pujaan hatimu. Aku turut bahagia," jawab princess aluna lucky. "Liliana, jawab dulu Aluna," ujar liliana gerald. Sementara itu, di kamarnya sendiri, Adrian merenung tentang situasi yang terjadi. Dia merasa sedih melihat Sakura sedang menderita dan tidak tahu bagaimana cara membantu. Di kamar Shawn, dia terus berkomunikasi dengan Liliana melalui pesan. Sementara itu, Oliver Richie berjalan keluar rumah menuju perusahaan dengan pikiran yang penuh dengan rencananya sendiri. Dia merasa puas dengan kekuasaan dan kendalinya atas Sakura, tanpa menyadari dampak negatif yang dia timbulkan. Sakura duduk sendirian di kamarnya, air matanya masih mengalir. Dia merenung tentang kata-kata yang diucapkan Oliver dan perasaan kebingungan yang dia rasakan. Dia merasa terjebak dalam hubungan yang membingungkan dan tidak sehat.Berulang kali dia mengambil silet dan berusaha menggoreskan di tangan nya, tetapi dia takut salah memilih jalan dan menjadi penyesalan nya seumur hidup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD