Dejavu

1506 Words
"Kenapa kau menelponku, Liliana?" tanya Princess Aluna Lucky yang sedang menuju ruangan Sakura. "Ah, tidak, kami sedang bersama Shawn," jawab Liliana Gerald dengan ragu. "Shawn? Kamu yakin itu Shawn?" tanya Princess Aluna Lucky dengan kebingungan. "Ya, tadinya kukira itu Adrian, ternyata itu Shawn. Kami baik-baik saja, Shawn mengantar kami pulang dengan selamat. Jangan khawatir," jelas Liliana Gerald dengan suara lega. Princess Aluna Lucky mengakhiri teleponnya dengan Liliana Gerald dan bergabung kembali dengan Bu Reina. "Ada apa?" tanya Bu Reina dengan penuh perhatian. "Mereka pulang diantar oleh Shawn," jawab Princess Aluna Lucky. "Shawn mencelakai Sakura?" tanya Bu Reina dengan khawatir. "Ya, tapi Liliana Gerald mengatakan Shawn mengantar mereka dengan selamat. Mungkin ada sesuatu yang kita belum tahu," ungkap Princess Aluna Lucky dengan rasa penasaran. Lalu mereka memasuki ruangan di mana Sakura dirawat. Sakura sedang bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Suasana di ruangan terasa tegang. "Apakah memang ada narkoba dalam pemeriksaan darah Sakura?" bisik Princess Aluna Lucky pada Oliver Richie. "Ya, mungkin itu ulah Shawn," jawab Oliver Richie dengan suara rendah. "Kamu yakin tidak ada kesalahpahaman antara kalian? Shawn sedang mengantar Liliana pulang ke rumah," tanya Princess Aluna Lucky dengan penuh keraguan. "Kami jarang berkomunikasi, Aluna. Aku sibuk dengan urusan perusahaan. Ada apa kamu datang ke sini?" tanya Oliver Richie dengan nada sedikit dingin. "Aku hanya ingin melihat keadaan Sakura," jawab Princess Aluna Lucky dengan lembut. "Aku baik-baik saja. Ayo, Oliver, kita pulang ke rumah," ucap Sakura dengan suara lemah. Sepanjang perjalanan, Oliver Richie dan Sakura tidak berkomunikasi. Mereka terdiam dalam keheningan. Tiba-tiba, sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan mobil mereka. Saat itulah, satu persatu ingatan Sakura mulai kembali. Ia merasakan sensasi seperti déjà vu yang membuat hatinya berdegup kencang. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi, tetapi ingatannya masih buram. Mobil yang berhenti di depan mereka membuat Sakura terkejut. Pintu mobil itu terbuka perlahan, dan seseorang keluar dari dalamnya. Saat Sakura melihat wajah orang itu, ingatannya tiba-tiba terbuka sepenuhnya. "Adrian!" seru Sakura dengan suara gemetar. Adrian, yang berdiri di depan mobil mereka, menatap Sakura dengan tatapan campuran antara kelegaan dan penyesalan. "Sakura, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu." Sakura merasa campur aduk. Hatinya dipenuhi dengan perasaan kebingungan, rasa sakit, dan kelegaan sekaligus. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa Adrian berada di sana. "Kenapa kamu melakukan semua ini?" tanya Sakura dengan suara terguncang.Adrian menghampiri Sakura dengan langkah ragu. "Sakura, ada banyak hal yang perlu aku jelaskan. Aku ingin kamu tahu bahwa aku peduli padamu dan tidak ingin menyakitimu. Semua ini adalah kekeliruan dan kesalahpahaman." Sakura menatap Adrian dengan perasaan campur aduk. Dia masih merasa bingung, tetapi dalam hatinya ada keinginan untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. "Jadi itu kamu, bukan Shawn?" tanya Oliver dengan wajah terkejut. Adrian mengangguk dengan sedih. "Ya, Oliver. Aku minta maaf atas semua kekeliruan dan kesalahpahaman yang terjadi." Saat kejadian itu, Adrian mengajak Sakura untuk bertemu dan membicarakan tentang hubungan mereka. Namun, Sakura telah memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan dengan Adrian karena dia merasa Adrian tidak berani melawan orangtuanya untuk bersama dengannya. Sakura bahkan mengambil keputusan yang sulit dengan menggugurkan kandungannya hasil dari hubungan mereka, karena Adrian memintanya. Namun, dalam perjalanan mereka, mereka terlibat dalam adu mulut yang memicu ketegangan, dan secara tidak sengaja mereka menabrak mobil orangtua Liliana Gerald yang sedang terparkir di pinggir jalan. Takut akan kesalahannya, Adrian yang sudah menyembunyikan narkoba di minuman Sakura, dengan cepat memindahkan Sakura ke kursi supir seolah-olah Sakura yang menyetir mobil itu sendiri. Oliver menatap Adrian dengan tatapan campuran antara kekecewaan dan kebingungan. "Adrian, apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu menyembunyikan narkoba dan memindahkan Sakura ke kursi supir?" "Adrian, hentikan!" ujar Oliver Richie sambil berusaha menahan Sakura ketika Adrian menarik lengan Sakura ke arah mobilnya. "Perutku sakit, apa yang kalian lakukan seperti anak kecil memperebutkan mainan?" Sakura menepis lengan mereka berdua. "Ini semua karenamu," ujar Adrian. "Apa yang kamu bilang? Sudah banyak yang kukorbankan untukmu, tapi apa tindakanmu? Membuatku seperti ini!!!" Sakura mengeluarkan amarahnya. Adrian terdiam, melihat amarah Sakura. "Oliver, maafkan aku. Bisakah kamu mengantarku pulang sekarang?" Sakura meminta Oliver untuk mengantarnya pulang. Oliver mengangguk dan masuk ke dalam mobil, melewati mobil Adrian. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Oliver pada Sakura yang memegang perutnya. "Tidak, Oliver. Mungkin luka bekas operasi yang membuat perutku terasa nyeri berulang kali." Oliver mengangguk paham, khawatir melihat Sakura yang merasa tidak nyaman. Dia mempercepat langkahnya untuk mengantar Sakura pulang secepat mungkin. Di dalam mobil, suasana menjadi hening. Sakura duduk dengan perasaan campur aduk, masih merasakan amarah dan kekecewaan yang meluap dalam dirinya. Oliver mencoba menciptakan suasana yang nyaman dengan bertanya, "Sakura, apa yang sebenarnya terjadi tadi? Apa yang membuatmu begitu marah?" Sakura menatap jauh ke depan, mencoba mengumpulkan pikirannya. "Oliver, aku merasa seperti semua ini adalah akibat dari pilihan yang aku buat. Aku mencintai Adrian, tapi dia terlalu posesif dan sering kali tidak memperhatikan perasaanku. Aku sudah banyak mengorbankan diri untuknya, tapi dia tidak pernah menghargainya." Oliver mendengarkan dengan penuh perhatian. Dia memahami betapa sulitnya situasi yang Sakura hadapi. "Sakura, kamu tidak seharusnya merasa terikat dengan seseorang yang tidak menghargaimu. Kamu pantas mendapatkan seseorang yang mencintaimu dengan tulus dan menghargai apa yang kamu lakukan." "Sudah berapa lama kamu tahu aku masih berhubungan dengan Adrian? Kenapa kamu tidak menolak saat dijodohkan denganku?" tanya Sakura dengan rasa penasaran. "Aku tahu semuanya, Sakura. Aku tidak mau membuat orangtua khawatir," jawab Oliver dengan tegas. "Apakah kamu punya wanita lain dalam hatimu?" tanya Sakura dengan sedikit kekhawatiran. Kenapa kau bertanya seperti itu?" balas Oliver, sedikit terkejut dengan pertanyaan Sakura. "Karena tidak biasanya kamu melibatkan dirimu dengan sesuatu yang ekstrim seperti usaha jasa sewa rahim," jelas Sakura dengan nada penasaran. "Maksud kamu?" tanya Oliver, mencoba memahami apa yang Sakura maksudkan. "Adrian selalu bercerita bahwa kamu selalu menuruti apa yang diinginkan orangtuamu, tapi dari sejak menikah, kamu sama sekali tidak menyentuhku. Dan secara tiba-tiba kamu ingin punya anak dengan aku setelah tahu tentang usaha itu," ungkap Sakura dengan perasaan campur aduk. "Kita juga harus punya anak bila ingin menyenangkan orangtua, dan sekarang kita punya alasan yang lebih tepat untuk usaha itu," jawab Oliver dengan senyuman misterius. Sakura melihat Oliver dengan penuh tanda tanya di benaknya, mencoba mencari jawaban dari senyuman misterius yang ditunjukkan oleh Oliver. Sakura merasa semakin bingung dengan senyuman misterius yang ditunjukkan oleh Oliver. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Oliver, namun dia tidak yakin apa itu. "Oliver, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu tiba-tiba tertarik pada ide memiliki anak dengan aku melalui usaha jasa sewa rahim?" tanya Sakura dengan suara gemetar. "Nanti kamu akan tahu sendiri seiring berjalannya waktu, Sakura," kata Oliver dengan suara yang penuh keyakinan. Oliver menekan pedal gas dengan kuat, membuat mobil melaju dengan kencang. Sakura merasa ketakutan dengan kecepatan mobil yang tinggi. Setelah beberapa saat, mobil akhirnya sampai di tujuan. Shawn berhenti di depan rumah Liliana Gerald. "Sudah sampai," ucap Shawn sambil membantu kedua orangtua Liliana Gerald turun dari mobil. Sementara itu, Shawn membawa tas mereka ke dalam rumah. "Mampir lah dulu," ajak Mama Liliana Gerald. "Tidak, Tante. Saya masih punya urusan yang belum diselesaikan," jawab Shawn. Shawn lalu pamit pergi setelah meletakkan tas di dalam rumah Liliana Gerald. "Hubungi aku," kata Liliana sambil menuliskan nomor teleponnya di selembar kertas dan memberikannya pada Shawn. Shawn kemudian menekan pedal gas mobilnya dan meninggalkan rumah Liliana Gerald. "Pria itu baik, Liliana," kata Mama Liliana Gerald. "Ya, Ma. Tampan lagi, sempurna," jawab Liliana dengan senyuman. "Kabari Aluna bahwa kita sudah sampai di rumah," kata Mama Liliana Gerald. Liliana segera menelepon Princess Aluna Lucky untuk memberi kabar bahwa mereka sudah sampai di rumah dengan selamat. "Aluna, kami sudah sampai di rumah dengan selamat," kata Liliana. "Ya, istirahatlah," balas Aluna. "Kalian lagi di mana?" tanya Liliana. "Kami lagi dalam perjalanan menuju ke rumah," jawab Aluna. "Oke, baiklah. Hati-hati," kata Liliana. Liliana mengakhiri teleponnya dengan Princess Aluna Lucky, merasa lega bahwa mereka sudah sampai dengan selamat. Sepanjang perjalanan, Shawn mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Sakura, Oliver, dan Adrian. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan dan kekhawatiran. Tiba-tiba, dia melihat Adrian berdiri di tepi jalan dengan mobilnya. Shawn memutuskan untuk berhenti dan menghampirinya. "Kamu kan yang membuat Sakura seperti itu?" tanya Shawn dengan nada tegas. Adrian menatap Shawn dengan tatapan sinis. "Iya, terus kenapa?" "Kenapa kamu selalu iri padaku?" tanya Shawn dengan rasa penasaran. Adrian tersenyum sinis. "Itu seperti suatu kebiasaan yang melekat di dalam diriku." Shawn merasa marah mendengar jawaban Adrian. "Kamu memang sakit jiwa." Tanpa ragu, Shawn mendorong tubuh Adrian hingga terjatuh di jalan, lalu pergi meninggalkannya. Dia merasa marah dan kecewa dengan perlakuan Adrian terhadap Sakura. Sebenarnya, Shawn mengenal Sakura duluan daripada Adrian. Namun, Adrian berhasil menggodanya dan mendapatkan hati Sakura dengan berpura-pura menjadi dirinya sendiri. Sementara itu, Princess Aluna Lucky dan Bu Reina mampir ke laboratorium sebelum pulang ke rumah. "Kebetulan sekali kamu datang, Aluna. Saya baru saja mau memberikan kabar bahwa percobaan IVF kita berulang kali gagal, dan kini kita sudah kehabisan stok ovum dari klien," kata dokter tersebut dengan nada sedih. Aluna dan Bu Reina terkejut mendengar kabar tersebut. "Bagaimana ini, Bu?" tanya Aluna dengan khawatir. Dokter tersebut memandang kedua wanita itu bergantian. "Klien kita sudah melakukan histerektomi akibat kecelakaan yabg dialaminya dan baru saja pulang dari rumah sakit."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD