"Kalian ini sebenarnya siapa?" tanya Adrian tiba-tiba, menyadari keberadaan Princess Aluna Lucky, Bu Reina, dan Liliana Gerald.
"Kami hanya kebetulan mengenal satu sama lain," ujar Princess Aluna Lucky dengan santai.
"Ya, kami adalah rekan bisnis," tambah Oliver Richie.
"Rekan bisnis?" tanya Liliana Gerald dengan kecurigaan dalam suaranya.
Akhirnya, dokter kandungan dan dokter spesialis bedah keluar dari ruang operasi dan memberitahu mereka bahwa operasi Sakura berjalan dengan lancar, dan sekarang mereka tinggal menunggu Sakura sadar.
"Kalau ada apa-apa dengan Sakura, aku tidak akan pernah memaafkanmu, Bang," ujar Adrian dengan serius, menunjukkan kekhawatirannya yang mendalam.
"Terima kasih, Aluna," kata Princess Aluna Lucky dengan tulus, mengapresiasi dukungan dari teman-temannya.
Princess Aluna Lucky, Bu Reina, dan Liliana Gerald pergi ke kantin rumah sakit untuk makan malam, lalu melihat keadaan orangtua Liliana Gerald.
"Aku akan tidur di rumah sakit untuk menemani Liliana. Bu, Ibu pulanglah sendiri," ujar Princess Aluna Lucky kepada Bu Reina.
"Tidak, Ibu akan menemani kalian di rumah sakit. Lagian, besok kita semua tidak ada jadwal yang penting," jawab Bu Reina dengan tegas.
Setelah orangtua Liliana Gerald dipindahkan ke ruangan VVIP dengan 2 ruang tamu, Liliana Gerald akhirnya tertidur pulas, ditemani oleh Princess Aluna Lucky dan Bu Reina yang tetap berada di sampingnya.
Keesokan paginya, orangtua Liliana Gerald belum juga sadar dari tidurnya. Princess Aluna Lucky terbangun dan melihat Liliana Gerald masih tertidur nyenyak, sementara Bu Reina sudah tidak ada di sana. Princess Aluna Lucky pun keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan Bu Reina.
Tiba-tiba, Bu Reina masuk ke ruangan dengan membawa beberapa bungkusan.
"Ibu, darimana saja?" tanya Princess Aluna Lucky.
"Ibu membeli sarapan untuk kita. Kita harus menjaga kesehatan kita di rumah sakit," jawab Bu Reina.
"Bu, Aluna khawatir bahwa lama kelamaan rahasia kita akan terbongkar oleh Liliana Gerald," kata Princess Aluna Lucky khawatir.
"Tidak akan terbongkar, Aluna, selama kita satu suara," tegas Bu Reina.
Saat itu, Liliana Gerald keluar dari kamarnya dengan wajah penasaran dan melihat kami berdua. Princess Aluna Lucky dan Bu Reina saling bertatapan.
"Aluna, biar Ibu saja yang menjelaskan," kata Bu Reina.
Liliana Gerald menatap Bu Reina dengan penasaran. Aku pun ikut merasa bingung dan penasaran apa yang akan Bu Reina jelaskan pada Liliana Gerald.
"Liliana," panggil Bu Reina dengan lembut.
Tepat saat itu, Bu Axel membuka matanya dan memanggil nama Liliana Gerald. Liliana Gerald bergegas menghampiri mamanya dan memegang tangannya.
"Mama sudah sadar?" tanya Liliana Gerald dengan harap-harap cemas.
"Ya, Liliana Gerald. Mama pikir mama tidak akan bisa bertemu denganmu lagi," ucap Bu Axel sambil meneteskan air mata dan memegang pipi Liliana Gerald yang duduk di samping kasurnya.
"Mama, jangan bicara seperti itu," sahut Liliana Gerald dengan penuh kasih sayang.
Lalu Liliana Gerald bertanya, "Bagaimana dengan papa?"
"Papa masih belum sadar, Nak," jawab Bu Axel sambil mereka berdua melihat ke samping kasur tempat Bu Axel berbaring.
"Ternyata ada Aluna juga. Siapa dia?" tanya Bu Axel sambil melihat ke arah Bu Reina.
"Saya adalah teman orangtua Princess Aluna Lucky. Almarhum berpesan kepada saya untuk menjaga Aluna jika terjadi apa-apa pada mereka," jelas Bu Reina.
Kemudian, dokter masuk ke ruangan dan memeriksa keadaan Bu Axel dan suaminya.
"Kenapa papa masih belum sadar, Dok?" tanya Liliana Gerald dengan cemas.
"Kita akan mendoakan agar beliau segera pulih. Apa yang ibu rasakan sekarang? Apakah ada pusing atau keluhan lain?" tanya dokter dengan penuh perhatian.
"Sedikit pusing, Dokter," jawab Bu Axel.
"Baiklah, saya akan meresepkan obat penghilang rasa nyeri untuk ibu," kata dokter sambil mencatat di berkas.
Setelah dokter dan perawat keluar dari ruangan, Bu Reina mengajak Liliana Gerald, "Liliana, mari makan dulu. Tadi ibu sudah beli sarapan untuk kita."
Mereka berdua pun duduk bersama, mencoba untuk makan meskipun hati mereka masih penuh kekhawatiran. Mereka berharap dan mendoakan agar Bu Axel dan suaminya segera pulih dan keluarga mereka bisa bersama dalam keadaan yang lebih baik.
Mereka berdua duduk di samping kasur Bu Axel, saling memberikan dukungan dan mengobrol dengan penuh kehangatan. Meskipun situasinya sulit, mereka berusaha menjaga semangat dan harapan.
Beberapa saat kemudian, Liliana Gerald merasa lapar dan memutuskan untuk memulai sarapan. Bu Reina membantu mengatur makanan dan mereka mulai menikmati hidangan bersama.
Sambil makan, mereka saling berbagi cerita dan kenangan tentang Bu Axel dan suaminya. Liliana Gerald mengingat saat-saat bahagia bersama orangtuanya, sementara Bu Reina memberikan dukungan dan pengertian.
Tiba-tiba, seorang perawat masuk ke dalam ruangan dengan membawa nampan sarapan untuk Bu Axel. Dia juga menyuntikkan obat penghilang rasa nyeri melalui selang infus Bu Axel.
"Liliana," terdengar suara pelan dari kasur sebelah Bu Axel. Liliana Gerald menghentikan makanannya dan melihat ke arah suara tersebut. Ternyata, papanya membuka matanya perlahan.
"Papa, syukurlah akhirnya papa sadar juga," ucap Liliana Gerald dengan sukacita.
"Papa lagi di mana, Liliana? Bagaimana keadaan mama mu?" tanya Bu Axel dengan rasa khawatir.
"Ini mama, Pa. Kami sedang sarapan. Biar Liliana panggilkan dokter ya," jawab Liliana Gerald sambil memegang tangan Bu Axel.
Liliana Gerald segera memanggil dokter, dan dokter pun bergegas memeriksa keadaan Bu Axel.
"Jika tidak ada keluhan selama semalam ini,p kalian sudah bisa pulang besok pagi. Saya akan meresepkan obat selama 3 hari, kemudian kalian bisa melakukan rawat jalan di poliklinik saya," jelas dokter dengan penuh perhatian.
"Terima kasih, Dokter," ucap Liliana Gerald dengan tulus.
Setelah dokter keluar dari ruangan, perawat kembali masuk dengan membawa nampan sarapan untuk Bu Axel. Dia dengan penuh keceriaan menempatkan nampan di atas meja dan memastikan Bu Axel merasa nyaman.
Liliana Gerald merasa lega melihat papanya sudah sadar dan kondisinya membaik. Mereka berdua merasa bersyukur atas perawatan yang diberikan oleh tim medis.
Mereka melanjutkan sarapan dengan penuh rasa syukur dan harapan. Meskipun masih ada proses pemulihan yang harus dijalani, mereka yakin bahwa dengan dukungan dan perawatan yang baik, semuanya akan kembali normal.
Mereka berdua duduk di samping Bu Axel, sambil memperhatikan dan memberi dukungan padanya saat ia makan dengan hati-hati. Liliana Gerald merasa bahagia melihat papanya sudah sadar dan kondisinya membaik.
Bu Axel memandang Liliana Gerald dengan penuh kasih sayang, "Terima kasih, Liliana, karena selalu menjaga mama dengan baik. Kamu adalah anak yang hebat."
Liliana Gerald tersenyum dan membalas, "Sama-sama, Pa. Aku hanya ingin melihat mama dan papa sehat dan bahagia."
Mereka melanjutkan sarapan dengan penuh kehangatan dan kebersamaan. Bu Reina juga bergabung dengan mereka, memberikan dukungan dan kebahagiaan dalam momen ini.
Setelah selesai makan, perawat kembali masuk ke ruangan dengan senyum cerah di wajahnya. Dia membantu membersihkan meja sarapan dan memastikan Bu Axel merasa nyaman.
"Bu Axel, kemajuannya sangat baik. Jika tidak ada komplikasi, Anda bisa pulang besok pagi," ucap perawat dengan penuh kegembiraan.
Liliana Gerald dan Bu Reina merasa lega mendengar kabar baik ini. Mereka berterima kasih kepada perawat atas perawatan yang baik dan berjanji untuk tetap memperhatikan dan merawat Bu Axel dengan baik.
Saat perawat keluar dari ruangan, Liliana Gerald memandang papanya dengan penuh harap, "Pa, kita akan pulang besok. Aku akan merawat dan menjaga papa dengan baik di rumah."
Bu Axel tersenyum lembut, "Aku tahu kamu akan melakukannya, Liliana. Kamu adalah kekuatan dan cinta dalam hidupku."
Mereka saling memeluk dengan penuh kasih sayang. Meskipun masih ada tantangan yang harus dihadapi, mereka yakin bahwa dengan cinta dan dukungan mereka, mereka akan melewati masa sulit ini dan menjadi lebih kuat.
Malam itu, mereka menghabiskan waktu bersama, berbicara tentang masa depan dan rencana perawatan untuk Bu Axel. Mereka berkomitmen untuk saling mendukung dan menjaga kebahagiaan keluarga mereka.
Dalam kehangatan dan cinta keluarga, mereka merasa optimis dan penuh harapan. Mereka tahu bahwa bersama, mereka akan mampu mengatasi setiap rintangan dan menjalani kehidupan yang bahagia.
Tidak lama setelah itu, Oliver Richie masuk ke dalam ruangan kami.
"Siapa dia, Liliana?" tanya Oliver Richie dengan rasa penasaran.
"Ah, teman Aluna," jawab Liliana Gerald dengan canggung, menyembunyikan fakta bahwa Oliver adalah suami dari Sakura yang menabrak mobil orangtuanya dan menyebabkan kecelakaan.
"Bagaimana kabar kedua orangtuamu, Liliana?" tanya Oliver Richie tanpa mengetahui apa-apa.
Liliana Gerald merasa tegang, tetapi mencoba menjawab dengan tenang, "Ah, Oliver, ada apa kamu ke sini?" ujar Princess Aluna Lucky sambil membawa Oliver Richie keluar dari ruangan.
"Ada apa? Kenapa kamu membawa ku keluar? Aku hanya ingin menanyakan kabar orangtua Liliana," ucap Oliver Richie dengan kebingungan.
"Mereka baru saja sadar dan Liliana Gerald tidak ingin mengungkit soal kecelakaan itu dan mempersulit keadaan," jelaskan Princess Aluna Lucky dengan lembut.
"Hmm... baiklah," Oliver Richie merespons dengan sedikit kebingungan.
Lalu, Oliver Richie bertanya, "Bagaimana keadaan istri mu, Sakura?"
"Sakura sudah sadar dan tidak mengingat kejadian yang dialaminya. Dia hanya ingat bertemu dengan Adrian, tapi Adrian merasa dia tidak pernah menjumpainya. Mungkin itu ulah Shawn," cerita Oliver richie dengan sedih.
"Lalu, bagaimana proses IVF di laboratorium?" tanya Oliver Richie dengan rasa penasaran.
"Prosesnya berjalan dengan lancar dan tanpa masalah. Tapi, tolong jangan ceritakan hal ini di depan Liliana Gerald. Ini menjadi rahasia kita," ujar Princess Aluna Lucky dengan hati-hati.
Oliver Richie terkejut, "Liliana Gerald, bukan sahabatmu? Kenapa harus dirahasiakan?"
"Iya, dia memang sahabatku. Tapi aku belum siap untuk menceritakan hal ini kepada orang lain, terutama pada Liliana Gerald yang baru saja mengalami kejadian yang naas," jelas Princess Aluna Lucky dengan penuh kekhawatiran.
Oliver Richie memahami kekhawatiran Princess Aluna Lucky, "Baiklah, aku mengerti. Aku akan beritahu Liliana Gerald mengenai biaya rumah sakit orangtuanya yang sudah kubayar lunas, agar dia tidak kebingungan saat keluar dari rumah sakit."
Princess Aluna Lucky mengangguk, "Terima kasih, Oliver, karena mau bertanggung jawab pada sahabatku. Aku tidak akan pernah melupakan ini."