kebetulan atau takdir?

1518 Words
"Ngapain kamu di sini?" tanya Princess Aluna Lucky. "Sakura... sakura..." ucap Oliver Richie terbata-bata. "Kenapa dengan Sakura?" tanya Princess Aluna Lucky dengan kebingungan. "Keluarga nya Bu Sakura?" tanya perawat di UGD. "Ya, saya," jawab Oliver Richie menghampiri perawat tersebut. Dari kejauhan, Bu Reina, Princess Aluna Lucky, dan Liliana Gerald melihat ke arah wanita yang bernama Sakura itu terbaring dengan perutnya berlumuran darah. "Itu wanita yang menabrak orangtuaku!" pekik Liliana Gerald. "Kamu yakin, Liliana?" tanya Bu Reina. "Ya, tapi dia tidak sendiri. Dia bersama seorang pria yang duduk di kursi supir. Mereka seperti nya teler karena narkoba." "Bagaimana kamu bisa tahu pasti?" tanya Bu Reina memastikan. "Setelah kecelakaan, sebelum ambulance datang, aku menghampiri kedua orangtuaku yang sudah tidak sadar di mobil. Lalu aku melihat wanita itu dipindahkan dari kursi penumpang ke kursi supir oleh pria yang bersamanya." "Sementara kita rahasiakan dulu, Liliana, sampai kita tahu pasti siapa pria itu." Sementara itu, dokter menjelaskan keadaan Sakura pada Oliver Richie yang sudah terguncang karena kecelakaan Sakura. "Sakura sepertinya mengalami perdarahan di bagian dalam perut. Kami harus melakukan CT-scan segera. Saya menduga pasien mengonsumsi narkoba dari ukuran pupilnya." Tiba-tiba, Oliver Richie merasa perlu membela Sakura. Dia yakin bahwa Sakura tidak mungkin terlibat dalam penggunaan narkoba. "Dokter, saya yakin Sakura tidak mengonsumsi narkoba. Mungkin ada faktor lain yang menyebabkan ukuran pupilnya terlihat tidak normal," kata Oliver dengan tegas. Dokter mengangguk mengerti, namun tetap ingin melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan kondisi Sakura. Mereka segera membawa Sakura ke ruang CT-scan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang cedera dalam perutnya. Sementara itu, Bu Reina, Princess Aluna Lucky, dan Liliana Gerald berusaha mencari tahu lebih banyak tentang pria yang ada bersama Sakura. Mereka ingin mencari kebenaran dan memastikan bahwa Sakura mendapatkan keadilan. "Kita harus mencari tahu siapa pria itu dan apa hubungannya dengan kecelakaan ini. Jika benar dia terlibat dalam penggunaan narkoba, kita harus melaporkannya kepada pihak berwenang," kata Princess Aluna Lucky dengan tekad. "Kamu kenal dengan mereka, Aluna?" tanya Oliver Richie. "Oliver Richie adalah teman sekolahku dulu. Kami hanya kebetulan bertemu dengan istrinya ketika sedang makan siang," jawab Princess Aluna Lucky. "Benarkah?" tanya Oliver dengan rasa ingin tahu. "Liliana, masih ingatkah kamu seperti apa tampang pria yang bersama Sakura?" tanya Princess Aluna Lucky kepada Liliana Gerald. "Ya, berperawakan tinggi sekitar 170 cm, memakai topi hitam dan kaos hitam dengan celana jeans," jawab Liliana. "Pria yang sama dengan yang kita lihat, Bu?" tanya Princess Aluna Lucky kepada Bu Reina. "Ya, saya sudah merasa aneh ketika dia terlihat sangat riang bersama pria itu," jawab Bu Reina. Setelah hasil CT-scan keluar, dokter menjelaskan bahwa Sakura mengalami robekan serius pada organ rahimnya, dan otaknya juga mengalami cedera serius. Pembedahan harus dilakukan untuk mengeluarkan gumpalan darah yang menekan otak dan juga histerektomi atau pengangkatan rahim. "Lakukan apa saja untuk menyelamatkan istri saya, Dokter!" tangis Oliver Richie. Sakura pun dibawa ke ruang operasi. Oliver Richie duduk dengan lemas di luar ruang operasi, dekat dengan tempat duduk Bu Reina, Princess Aluna Lucky, dan Liliana Gerald. "Semangat, Oliver. Aku sungguh berharap yang terbaik," ujar Princess Aluna Lucky dengan tulus. "Terima kasih," ujar Oliver Richie dengan lemah. "Mungkin istri Anda dijebak," ujar Liliana Gerald spontan. "Maksud kamu?" tanya Oliver Richie, langsung menegakkan kepalanya dan melihat ke arah Liliana Gerald dengan harapan menemukan jawaban. "Ini temanku, Liliana. Sakura menabrak mobil orangtuanya," Princess Aluna Lucky memotong pembicaraan mereka. "Aluna, aku harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," kata Oliver Richie, tampak kebingungan melihat Princess Aluna Lucky yang tidak sependapat dengan Liliana Gerald. "Aku mewakili istriku, Sakura, meminta maaf sebesar-besarnya atas kecelakaan ini. Semua biaya rumah sakit orangtuamu akan saya bayar sebagai bentuk pertanggungjawaban," ujar Oliver Richie dengan tulus. "Oliver, aku merasa harus menjelaskan sesuatu padamu," kata Liliana Gerald. "Liliana!!" Princess Aluna Lucky berusaha menghentikan Liliana Gerald. "Ibu merasa Pak Oliver harus tahu, Aluna. Biarkan Liliana memberitahunya," ujar Bu Reina. Princess Aluna Lucky akhirnya mengalah dan membiarkan Liliana Gerald berbicara. "Aku melihat Sakura, wanita itu, dipindahkan dari kursi penumpang ke kursi supir oleh seorang pria berperawakan tinggi," ungkap Liliana Gerald. "Sepertinya itu adikku," kata Oliver Richie dengan kebingungan. "Apa?!!!" Bu Riana, Princess Aluna Lucky, dan Liliana Gerald terkejut mendengarnya. "Adikmu?" tanya Princess Aluna Lucky dengan rasa ingin tahu. Oliver Richie mengangguk dengan cemas. Dia tidak pernah menduga bahwa adiknya, yang seharusnya menjaga keamanan dan keselamatan Sakura, mungkin terlibat dalam kejadian ini. "Ya, adikku. Namanya Adrian. Aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan atau mengapa dia melakukan hal seperti ini," kata Oliver dengan suara gemetar. Princess Aluna Lucky, Bu Riana, dan Liliana Gerald saling bertatapan, mencoba memproses informasi yang baru saja mereka dengar. "Tapi mengapa Adrian melakukannya? Apa motifnya?" tanya Princess Aluna Lucky dengan kebingungan. "Adrian dan Sakura sebenarnya sudah berpacaran dan akan menikah sebelum akhirnya aku dijodohkan dengan Sakura. Aku juga tahu bahwa mereka menjalani hubungan diam-diam di belakangku. Awalnya, aku tidak peduli karena pernikahan kami hanya untuk kepentingan bisnis" ungkap Oliver Richie dengan suara penuh penyesalan. Princess Aluna Lucky mendengarkan dengan penuh perhatian. "Aku baru tahu bahwa kamu memiliki hubungan suami istri yang begitu rumit," ujar Princess Aluna Lucky. "Perasaanku berubah ketika aku mengalami kecelakaan dan kehilangan kedua kakiku. Sakura merawatku dengan penuh perhatian, meskipun dia tidak memiliki perasaan yang sama padaku," lanjut Oliver. Princess Aluna Lucky terkejut mendengarnya. "Jadi, kaki-kamu..." Princess Aluna Lucky terhenti saat Oliver mengangkat celananya hingga selutut dan menunjukkan kakinya yang merupakan kaki robot. "Ini hanya kaki robot, Aluna," kata Oliver dengan nada sedih. Princess Aluna Lucky merasa iba dan menyesal atas apa yang telah terjadi. "Jadi, kamu tidak pernah bertanya kepada Sakura tentang hubungannya dengan Adrian?" tanya Princess Aluna Lucky dengan rasa ingin tahu. "Aku mencoba berulang kali, tapi waktunya selalu tidak tepat. Adrian mungkin akan marah melihat Sakura lebih perhatian padaku, bahkan saat dia hamil anakku yang kemudian mengalami keguguran," jelas Oliver dengan suara penuh duka. "Maaf, Oliver. Aku tidak bermaksud..." Princess Aluna Lucky terhenti karena dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. "Ya, aku tahu. Sakura sengaja menggugurkan kandungannya. Aku yakin dia tidak bermaksud begitu, pasti Adrian yang memaksanya," kata Oliver dengan nada sedih. Oliver Richie menatap jauh ke depan, mencoba mengatasi rasa sedih dan kekecewaan yang melingkupi dirinya. Dia merasa terjebak dalam lingkaran cinta yang rumit dan penuh dengan pengkhianatan. "Sakura telah menjalani hidup yang sulit, terjebak antara cinta yang seharusnya untuk Adrian dan perasaan yang tumbuh di antara kita. Aku tidak ingin menyalahkannya karena aku juga ikut bertanggung jawab dalam kekacauan ini," ujar Oliver dengan suara penuh penyesalan. Princess Aluna Lucky merasa terharu mendengar pengakuan Oliver. Dia bisa merasakan betapa sulitnya situasi ini bagi mereka berdua. Oliver, aku bisa merasakan betapa rumitnya situasi ini bagimu. Tapi sekarang, yang terpenting adalah mencari keadilan untuk Sakura dan mengungkap kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi," kata Princess Aluna Lucky dengan penuh empati. Oliver mengangguk, mengerti pentingnya mengungkap kebenaran dan melindungi Sakura dari bahaya yang mungkin mengancamnya. Tiba-tiba, seorang lelaki datang dengan kaos warna abu-abu, celana panjang, dan sepatu sneakers. "Adrian!!!" teriak Oliver Richie, bersiap untuk melayangkan tinju ke arah Adrian. "Tunggu," ujar Liliana Gerald, mencoba menahan tangan Oliver Richie. "Awas, jangan ikut campur urusan kami!" Oliver Richie menepis tangan Liliana Gerald. Liliana Gerald terjatuh ke lantai. Bu Reina dan Princess Aluna Lucky segera membantunya berdiri. "Bukan pria itu yang kami lihat!" pekik Liliana Gerald dan Princess Aluna Lucky hampir bersamaan. "Bukan?" Oliver Richie menahan diri sebelum melancarkan pukulannya. "Bagaimana keadaan Sakura?" tanya Adrian dengan rasa khawatir. "Mungkinkah itu Shawn? Kembaran Adrian?" tanya Oliver Richie dengan kebingungan. "Sakura berhubungan lagi dengan Shawn?" tanya Adrian dengan emosi yang memuncak. "Adrian punya kembaran?" tanya Liliana Gerald dengan keheranan. "Ya, namanya Shawn. Mungkin Sakura mengira Shawn adalah Adrian," jelas Oliver Richie. "Sudah, nanti saja dibicarakan lagi. Bagaimana keadaan Sakura?" tanya Adrian dengan rasa khawatir yang semakin memuncak. "Sakura sedang dalam ruang operasi. Dia harus menjalani pembedahan otak dan histerektomi karena robekan di rahimnya cukup serius sehingga harus dilakukan pengangkatan rahim," jawab Oliver Richie dengan suara sedih. "Sudah kubilang, kamu tidak bisa melindungi Sakura!" Adrian mendorong tubuh Oliver Richie dengan keras. Princess Aluna Lucky dan Bu Reina segera melangkah ke depan, mencoba meredakan situasi yang semakin memanas. Bu Reina segera berdiri di antara Oliver Richie dan Adrian, berusaha untuk menghentikan pertikaian mereka. "Cukup! Kalian berdua harus tenang!" seru Bu Reina dengan suara tegas. Princess Aluna Lucky mendekati Adrian dengan penuh empati. "Adrian, kami semua khawatir tentang Sakura. Saat ini, yang terpenting adalah fokus pada keadaannya dan mencari cara untuk membantu dan melindunginya." Adrian menatap Oliver Richie dengan pandangan penuh kebencian, tetapi akhirnya mengendurkan sikapnya. "Baiklah, aku akan menahan diri untuk saat ini. Tapi setelah ini, kita harus membicarakan semuanya dengan jujur dan menemukan cara untuk melindungi Sakura." "Ada apa dengan keluarga kalian sebenarnya?" tanya Princess Aluna Lucky dengan rasa penasaran. "Ini karena Oliver merasa sebagai anak tertua dan merasa berhak mendapatkan segalanya," jawab Adrian dengan nada kesal. "Aku tidak ingin menikahi Sakura, kamu tahu kan? Kalian hanya belum siap untuk menikah, dan aku dipaksa untuk menikahinya demi kepentingan bisnis," jelas Oliver dengan suara penuh kekecewaan. "Oh, jadi kamu merasa bahwa Sakura hanya merupakan objek bisnis bagimu?" tanya Adrian dengan amarah yang memuncak. "Sudah, sudah... Ini rumah sakit, jangan berkelahi di sini," sahut Bu Reina dengan suara tegas, berusaha mengendalikan situasi yang semakin memanas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD