Ibu pengganti untuk klienku

1501 Words
Pak Oliver Richie membaca dokumen kontrak dengan serius. Ekspresinya berubah menjadi lebih serius saat ia menyerahkan kembali dokumen tersebut. "Baik, saya telah membaca kontrak ini. Terlihat bagus," kata Pak Oliver Richie dengan nada yang lebih serius. "Kami berharap bisa bekerja sama dengan Anda untuk menjalankan program jasa sewa rahim ini," kata Princess Aluna Lucky dengan penuh semangat. "Namun, saya memiliki beberapa pertanyaan sebelum kami menandatangani kontrak ini," lanjut Pak Oliver Richie. "Silakan tanyakan pertanyaan Anda, Pak," kata Bu Reina dengan ramah. Pak Oliver Richie mulai mengajukan pertanyaan tentang aspek hukum, keuangan, dan etika dari program jasa sewa rahim. Princess Aluna Lucky dan Bu Reina dengan sabar menjawab setiap pertanyaan dengan rinci dan meyakinkan. Setelah diskusi yang panjang, Pak Oliver Richie akhirnya menganggukkan kepala. "Baik, saya puas dengan jawaban Anda. Saya melihat potensi besar dalam program ini. Kita bisa memulai kerja sama," kata Pak Oliver Richie dengan senyuman. Princess Aluna Lucky dan Bu Reina merasa lega mendengar kabar tersebut. Mereka tahu bahwa ini adalah langkah awal yang penting untuk mewujudkan impian mereka. "Mari kita kerjakan kontrak ini dengan segera," kata Bu Reina sambil menyiapkan dokumen yang diperlukan. Pak Oliver Richie dan Princess Aluna Lucky menandatangani kontrak dengan penuh keyakinan. Mereka berharap bahwa kerja sama ini akan membawa manfaat bagi semua pihak yang terlibat. "Oh ya, sebelumnya saya ingin Aluna menjadi ibu pengganti yang akan mengandung anak saya dan istri saya," ujar Oliver Richie sambil tersenyum licik. "Tapi itu tidak ada dalam kontrak yang sudah kita tandatangani, tidak ada kesepakatan itu sebelumnya," jawab Bu Reina dengan keberatan. "Tidak apa-apa, Bu. Saya bersedia menjadi ibu pengganti," kata Princess Aluna Lucky sambil menahan amarah Bu Reina. "Baiklah, saya akan menggandakan jumlahnya menjadi 2 triliun karena Aluna sendiri yang akan menjadi ibu pengganti," kata Oliver Richie sambil tertawa. "Kita akan melakukan pertemuan kedua di laboratorium yang akan saya beritahukan nanti. Saya mohon kerjasama Anda untuk hadir. Pertemuan tersebut akan digunakan untuk menguji kualitas s****a dan ovum sebelum dilakukan IVF atau bayi tabung sebelum disuntikkan ke dalam rahim ibu pengganti." "Aluna, aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi seperti ini," kata Oliver Richie dengan rasa bahagia, namun juga terlihat merendahkan Princess Aluna Lucky. ***** Saat itu, Princess Aluna Lucky berada di kelas 3 SMA, sekelas dengan Oliver Richie. Saat itu, Oliver Richie adalah anak yang bandel dan selalu membuat ulah serta ditakuti di kelas. Suatu hari, dia memberi bunga pada Princess Aluna Lucky di hari Valentine dan berharap diterima. Namun, tidak seperti yang dia harapkan, Princess Aluna Lucky tidak menghiraukannya dan membuat harga dirinya terinjak-injak. "Sombong sekali kamu, Aluna. Aku akan menyumpahimu bahwa kamu tidak akan pernah mendapatkan pasangan yang tulus mencintaimu seumur hidupmu." Sejak itu, Princess Aluna Lucky memang tidak pernah didekati oleh laki-laki secara tulus, selalu karena tampangnya yang cantik atau karena latar belakang keluarganya yang kaya. **** Bu Reina dan Princess Aluna Lucky keluar dari kantor Oliver Richie. "Aluna, kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Bu Reina. "Aku sebenarnya ragu, Bu," jawab Aluna. "Ayo kita kembali ke dalam kantor Pak Oliver Richie dan meminta maaf padanya," kata Bu Reina. "Tapi tawarannya 2 triliun, Bu. Itu bukan jumlah yang kecil." "Iya, Aluna, tapi bagaimana dengan kuliahmu dan kehidupanmu ke depan?" tanya Bu Reina. "Aku bisa tetap hadir kuliah, Bu. Aku akan bisa menyembunyikan kehamilanku hingga 5 bulan dan kemudian mengajukan cuti setengah tahun." "Kamu berpikirlah dahulu, Aluna. Tidak mudah menjadi ibu pengganti." Princess Aluna Lucky hanya diam sepanjang perjalanan dan melihat foto kedua orangtuanya yang telah meninggal. "Bu, ayo kita ke makam orangtuaku," kata Aluna dengan penuh kebimbangan. "Baiklah, Aluna," jawab Bu Reina. Mereka singgah ke toko bunga dan minimarket untuk membeli beberapa kue kesukaan Papa Mama Princess Aluna Lucky. "Ibu, tidak pernahkah ibu pulang ke keluarga ibu?" tanya Aluna. "Selama ibu kabur dari rumah, mereka sama sekali tidak mencari ibu. Pernah suatu kali ibu meminta orangtua mu mengantarkan ibu pulang, ternyata mereka semua sedang makan bakso dengan penuh kegembiraan. Rasanya hati ibu hancur, sejak saat itu ibu tidak pernah pulang. Ibu hanya mengirim 4 juta setiap bulan secara diam-diam lewat pos," jelas Bu Reina. "Jadi selama ini ibu berada di mana?" tanya Aluna penasaran. "Ibu berkeliling dunia dan pacaran," jawab Bu Reina. "Lalu kenapa ibu tidak menikah dengan mereka?" tanya Aluna. "Karena ini, Aluna," kata Bu Reina sambil menunjukkan bekas luka caesar di perutnya. "Maafkan aku, Bu. Bukan maksudku," ujar Princess Aluna Lucky dengan penuh penyesalan. Akhirnya, mereka sampai di makam orangtua Princess Aluna Lucky. Mereka berdua duduk menghadap batu nisan orangtua Aluna. "Bu, Pak, ini saya, Reina. Saya menepati janji bapak dan ibu untuk menjaga dan membimbing Aluna ketika kalian sudah tiada," kata Bu Reina dengan suara terisak. "Ma, Pa, ini Aluna. Aluna akan menjadi ibu pengganti untuk klien pertama kami. Ma, Pa, Aluna merindukan kalian. Kenapa kalian begitu cepat meninggalkan Aluna sendirian?" ucap Princess Aluna Lucky dengan suara bergetar. Bu Reina memeluk Princess Aluna Lucky dan keduanya menangis bersama di depan makam orangtua Aluna. Setelah itu, mereka meletakkan bunga dan kue kesukaan kedua orangtua Aluna di samping makam. Tiba-tiba, beberapa wanita datang ke kuburan orangtua Princess Aluna Lucky. "Kalian siapa?" tanya Aluna dengan rasa penasaran. Para wanita itu menunjukkan barcode di perut mereka. Ternyata, mereka adalah ibu pengganti yang selama ini bekerja untuk Papa Mama Aluna. "Berkat kedua orangtuamu, kami terbantu secara finansial. Almarhum sangat baik pada kami semasa hidupnya," kata salah satu wanita dengan suara haru. Semua wanita, yang berjumlah 15 orang, memeluk Princess Aluna Lucky dengan penuh kasih sayang. "Terima kasih," ucap Princess Aluna Lucky dengan tulus. Setelah itu, Bu Reina dan Princess Aluna Lucky pulang ke rumah. "Bagaimana rasanya hamil, Bu?" tanya Aluna. "Tiga bulan pertama, tidak ada makanan yang bisa masuk ke perut ibu. Berulang kali ibu harus diinfus oleh orangtua mu. Setelah melewati tiga bulan itu, masuk ke trimester kedua, akhirnya perlahan-lahan ibu mulai memiliki nafsu makan. Perut ibu semakin besar, dan pada kehamilan 17 minggu, ibu mendengar denyut jantung bayi untuk pertama kalinya. Saat berusia 28 minggu, makhluk kecil di perut ibu mulai menendang," jelas Bu Reina. "Lalu?" tanya Aluna penasaran. "Lalu tibalah saatnya untuk melahirkan. Setelah menunggu seharian dengan kesakitan, pembukaan jalan lahir tidak kunjung maju meskipun diberi obat perangsang lewat infus. Akhirnya, ibu harus melakukan caesar, dan akhirnya bayi mungil itu lahir," cerita Bu Reina. "Ibu tidak sedih saat bayi itu diambil dari ibu?" tanya Aluna. "Itulah nasib ibu pengganti, Aluna. Kami tidak boleh melihat bayi kami setelah diserahkan pada klien. Awalnya, ibu menangis selama seminggu karena mastitis. p******a ibu bengkak karena ASI yang tidak dikeluarkan," ungkap Bu Reina dengan sedih. "Pasti sakit sekali rasanya, Bu," ucap Aluna dengan simpati. "Ibu sampai demam, sakit sekali, Aluna. Setelah 40 hari, ibu merindukan suara denyut jantung bayi, tendangan bayi," kata Bu Reina dengan suara terisak. "Ibu menyewakan rahim lagi setelah itu?" tanya Aluna. "Ya, kedua kalinya pada pasangan suami istri yang divonis harus melakukan histerektomi atau pengangkatan rahim oleh dokter karena kanker. Sebelum dilakukan histerektomi, kami sudah melakukan IVF sebelumnya dan berhasil," jelas Bu Reina. "Bagaimana kehamilan kedua, Bu?" tanya Aluna. "Kehamilan kedua lebih mudah, tapi bayinya besar dan kembar identik," jawab Bu Reina. "Apakah mereka pernah mencari tahu tentang ibu?" tanya Aluna. "Ibu pengganti tidak bertemu langsung dengan klien. Kita hanya menyerahkan hasil pemeriksaan medis ibu pengganti kepada klien. Ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di masa depan," jelas Bu Reina. "Oh, Bu, Aluna lapar. Kita singgah sebentar makan bakso?" ajak Aluna. "Baiklah, Aluna. Kita bisa mampir sebentar," jawab Bu Reina sambil tersenyum. Mereka berdua masuk ke warung bakso yang terlihat ramai. Mereka memesan bakso dan duduk di salah satu meja. "Saat ini, Aluna, apa yang kamu rasakan tentang menjadi ibu pengganti?" tanya Bu Reina sambil mengaduk-aduk bakso di mangkoknya. Aluna mengambil waktu sejenak untuk berpikir sebelum menjawab, "Awalnya, Bu, aku merasa ragu dan takut. Tapi seiring berjalannya waktu, aku merasa bahwa ini adalah kesempatan untuk memberikan harapan dan kebahagiaan bagi pasangan yang tidak bisa memiliki anak secara alami. Aku merasa terpanggil untuk membantu mereka." Bu Reina mengangguk mengerti. "Aluna, aku bangga padamu. Menjadi ibu pengganti bukanlah hal yang mudah. Kamu harus menghadapi tantangan fisik dan emosional yang besar. Tapi aku yakin, kamu memiliki kekuatan dan kebaikan hati untuk menjalani peran ini dengan baik." Aluna tersenyum dan menggenggam tangan Bu Reina. "Terima kasih, Bu. Aku berharap bisa memberikan kebahagiaan bagi pasangan yang membutuhkan. Dan aku juga berterima kasih padamu, Bu, karena telah mendukungku dalam perjalanan ini." Bu Reina tersenyum hangat. "Kita akan selalu saling mendukung, Aluna. Kita adalah tim yang kuat. Bersama-sama, kita bisa menghadapi segala hal." Mereka berdua menikmati bakso mereka sambil berbicara tentang rencana-rencana masa depan. Aluna merasa semakin yakin dengan keputusannya dan siap untuk menjalani peran sebagai ibu pengganti dengan penuh dedikasi. Aluna?" tanya Liliana Gerald yang kebetulan baru masuk ke warung bakso tersebut. "Liliana," ujar Princess Aluna Lucky sambil terkejut melihat Liliana Gerald. "Wanita yang sedang bersamamu ini siapa?" tanya Liliana Gerald sambil menunjuk ke arah Bu Reina. "Ini..." Princess Aluna Lucky terlihat bingung untuk menjelaskan pada Liliana Gerald. "Saya ibu teman almarhum orangtua Aluna. Kamu Liliana Gerald, teman baik Aluna," jawab Bu Reina akhirnya untuk menjawab pertanyaan Liliana Gerald.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD