"Kamu sendiri, Liliana?" tanya Princess Aluna Lucky.
"Tidak, aku bersama kedua orangtuaku," lalu masuklah Bu Axel dan Pak Doddy, orangtua Liliana yang kelihatan sudah berumur, bahkan lebih pantas dibilang kakek neneknya.
"Oh, ada Aluna," ujar Bu Axel tersenyum pada Princess Aluna Lucky.
"Ayo, Ma, masuk. Jangan menghalangi pintu masuk. Kami masuk ya, Aluna. Selamat menikmati makanmu."
"Wajahnya terlihat tidak asing, Aluna," ujar Bu Reina, merasa seperti pernah berjumpa sebelumnya dengan Liliana Gerald.
"Liliana adalah anak satu-satunya dari orangtuanya. Dia berumur setahun lebih muda dariku, tapi pintar luar biasa. Kenapa, Bu?"
"Hmmmm, ya sudah, ayo kita makan lagi."
"Jadi, apa langkah selanjutnya yang akan kita lakukan, Bu, pada pasangan suami istri Richie?"
"Oh iya, kamu tidak bilang kamu mengenal Tuan Richie."
"Aku tidak punya banyak teman dan tidak pintar bergaul, Bu. Apa yang keluar dari mulutku dinilai terlalu menyakiti perasaan, padahal aku hanya bilang kenyataannya."
"Bagaimana kamu mengenal Tuan Richie?"
"Aku tidak ingat, Bu, tapi sepertinya Richie terlalu mengenal aku, seperti dendam pribadi."
"Lalu, bagaimana kamu bisa berteman dengan Liliana Gerald?"
"Semua terjadi begitu saja, Bu. Ketika pertama kali masuk kuliah, Liliana membantuku berkomunikasi dengan teman sekelas, dan akhirnya kami berteman hingga sekarang."
"Princess Aluna Lucky mengangguk mengerti. Dia melanjutkan pertanyaannya, 'Bu, apa langkah selanjutnya yang akan kita lakukan pada pasangan suami istri Richie?'
Bu Rianamemikirkan sejenak sebelum menjawab, 'Langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa pasangan suami istri Richie mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan. Kita bisa membantu mereka dengan memberikan saran dan bimbingan dalam menghadapi masalah perkawinan mereka.'
"auuu." jerit liliana dari meja lain di dalam warung bakso itu.
"ohh anak ku... kenapa tidak hati-hati. Sakitkah?" tanya bu axel
Kami berdua melihat ke meja liliana. tangan nya ketumpahan teh manis panas pesanan papa nya.
Liliana menggulung baju lengan panjangnya dan terlihat lah tanda lahir berbentuk bunga di lengan atas liliana yang selama ini tidak kuperhatikan.
"Aluna..." bu reina terkejut sampai berdiri
"Kenapa ibu?"
"kamu sudah berapa lama berteman dengan liliana gerald?"
"Sejak awal kuliah bu, kenapa?"
Bu reina tidak menjawab namun wajah nya terlihat pucat pasi.
"Ibu kenapa? kurang enak badan?"
"Bukan aluna.. Aluna ayo kita pergi."
Sesampainya di mobil, princess aluna lucky masih penasaran dengan bu reina.
"Ibu kenapa tiba- tiba seperti ini? kenapa?"
"Aluna.. Anak yang dulu ibu lahirkan punya tanda yang sama seperti liliana gerald di lengan atasnya."
"oh ya? jadi liliana itu anak ibu?"
"tidak tahu aluna, ibu tidak mau membayangkan nya."
Bu reina menyetir pulang ke rumah.Setelah melihat tanda lahir yang sama pada Liliana Gerald, Bu Reina merasakan kebingungan, kekhawatiran, dan mungkin juga sedikit ketakutan. Tanda lahir yang sama tersebut mungkin telah membangkitkan kenangan dan emosi yang rumit dalam dirinya. Bu Reina mungkin merasa terkejut dan tidak mengerti mengapa Liliana memiliki tanda yang serupa dengan anak yang pernah ia lahirkan. Rasanya sulit bagi Bu Reina untuk menerima dan memahami situasi ini secara mendalam. Keadaan ini membuatnya merasa pucat pasi dan tidak mampu memberikan penjelasan yang jelas kepada Aluna.
"Bu, besok kita memiliki janji temu dengan Pak Richie, kan?"
"Iya, kita akan pergi ke laboratorium yang biasa kita kunjungi untuk memeriksa s****a dan ovum dari kedua pasangan tersebut. Jika semuanya baik, kita akan melanjutkan dengan proses pembuahan dan menyuntikkan embrio ke rahim Aluna."
"Apakah prosesnya begitu cepat?"
"Proses IVF biasanya memakan waktu sekitar sebulan, Aluna. Semoga semuanya berjalan lancar. Apakah Aluna yakin untuk menjadi ibu pengganti?"
"Yakin, Bu? Ibu mau bertanya pada Aluna berapa kali?" sahut Princess Aluna Lucky, terlihat kesal.
Kemudian kami pulang ke rumah tanpa banyak bicara. Sesampainya di rumah, Bu Reina terlihat sedang melamun di sofa ruang tamu.
"Ayo, Bu. Ini sudah tidak benar," Princess Aluna Lucky menarik lengan Bu Reina ke ruang rahasia di kantor papanya.
"Mau apa kita ke sini, Aluna?" tanya Bu Reina.
"Ibu terlihat sangat penasaran dengan Liliana Gerald. Bagaimana kalau kita mencari berkas tentang orangtuanya?" usul Princess Aluna Lucky.
"Aluna, ibu takut akan kebenaran ini," kata Bu Reina.
"Tidak apa-apa, Bu. Kita akan menghadapinya bersama-sama," jawab Princess Aluna Lucky.
Kami pun mencari satu per satu nama kedua orangtua dalam laci berkas para orangtua yang memakai jasa sewa rahim.
"Ini ketemu, Bu," kata Princess Aluna Lucky.
"Di sini ada kontrak yang ditandatangani oleh Bu Axel dan Pak Doddy. Di belakangnya tertulis nama ibu yang mengandungnya, Ibu Riana," jelaskan Princess Aluna Lucky.
Bu Riana meraih berkas itu dari tangannya dan jatuh terduduk di lantai, terdiam sejenak.
"Bu," panggilku dengan suara pelan.
Bu Riana tidak bergerak, hanya menatap lembar kedua tentang ciri-ciri anak yang dilahirkannya dan namanya sebagai ibu yang mengandungnya.
"Aluna," perlahan ditatapnya Princess Aluna Lucky yang berdiri di sampingnya.
Air mata mengalir deras dari matanya, mengalir di pipinya.
"Ternyata dia anak yang ibu kandung selama 9 bulan dengan susah payah. Membuat perut ibu memiliki luka caesar, yang membuat air s**u ibu menetes saat ibu mandi, yang membuat ibu menderita demam akibat mastitis," ucap Bu Riana.
Princess Aluna Lucky memeluk erat Bu Reina dan menepuk punggungnya dengan lembut.
"Kini dia sudah di depan mata ibu. Dia sehat, cantik, dan pintar. Orangtuanya juga sangat menyayanginya, Bu," ucap Princess Aluna Lucky dengan penuh pengertian.
Bu Riana mengangkat wajahnya dan menatap Princess Aluna Lucky dengan mata penuh cinta dan kehangatan.
"Terima kasih, Aluna. Kamu selalu menjadi sumber kekuatan dan keberanian bagiku. Aku tidak pernah menyesali setiap perjuangan yang aku lakukan untukmu," ucap Bu Riana dengan suara yang penuh emosi.
Princess Aluna Lucky tersenyum lembut, "Bu, kita semua saling mendukung dan mencintai satu sama lain. Kita adalah keluarga yang kuat dan tak terpisahkan. Apapun yang terjadi, kita akan menghadapinya bersama-sama."
"Aluna, ibu bisa minta tolong?" tanya Bu Riana.
"Apa saja untuk ibu," jawab Princess Aluna Lucky.
"Tolong, kamu ajak Liliana bermain atau menginap di rumah kita sesekali. Ibu ingin melihatnya dari dekat," pinta Bu Riana.
"Baiklah, Bu," jawab Princess Aluna Lucky dengan senang hati.
Princess Aluna Lucky pun menelepon sahabatnya, Liliana Gerald.
"Bestie, kamu lagi sibuk?" tanya Princess Aluna Lucky.
"Aku lagi di rumah sakit," jawab Liliana Gerald.
"Ada apa? Siapa yang sakit?" tanya Princess Aluna Lucky khawatir.
"Orangtuaku khawatir akan luka bakar yang kudapatkan ketika kami makan bakso tadi, Aluna. Kenapa?" cerita Liliana Gerald.
"Bisakah kamu menginap di rumahku malam ini?" tanya Princess Aluna Lucky.
"Kenapa?" tanya Liliana Gerald penasaran.
"Aku hanya kangen sama kamu," ucap Princess Aluna Lucky dengan tulus.
"Pa, Ma, Aluna mengajakku menginap di rumahnya malam ini," ujar Liliana Gerald pada kedua orangtuanya yang mungkin berada di sampingnya.
"Baiklah, kirim salam sama Aluna ya," bisik Bu Axel yang terdengar jelas dari handphone.
"Mama, Papa membolehkannya, Aluna. Nanti aku akan diantar oleh mereka setelah kami selesai dari rumah sakit," kata Liliana Gerald dengan senang.
"Ditunggu ya, Liliana," ucap Princess Aluna Lucky dengan antusias.
Princess Aluna Lucky mengakhiri teleponnya dengan sahabatnya, Liliana Gerald, dengan senyuman di wajahnya. Mereka berdua sudah tidak sabar untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama di rumah Princess Aluna Lucky.
Setelah menutup telepon, Princess Aluna Lucky merasa senang dan bersemangat untuk bertemu dengan sahabatnya. Dia segera memberitahu Bu Riana tentang rencana mereka.
"Bu, Liliana akan datang menginap malam ini. Orangtuanya mengizinkannya," ucap Princess Aluna Lucky dengan gembira.
Bu Riana tersenyum dan berkata, "Itu sangat baik, Aluna. Aku sangat berharap bisa mengenal Liliana lebih dekat."
Malam pun tiba, Princess Aluna Lucky dan Bu Riana menunggu dengan penuh antusiasme kedatangan Liliana. Mereka merapikan rumah dan menyiapkan segala sesuatu agar Liliana merasa nyaman.
Tak lama kemudian, terdengar bel rumah berbunyi. Princess Aluna Lucky dengan cepat membukakan pintu dan disambut oleh Liliana dan orangtuanya.
"Aluna, Bu Riana, ini orangtuaku, Pak Doddy dan Bu Riana," perkenalkan Liliana dengan senyuman cerah di wajahnya.
"Salam kenal, Pak Doddy dan Bu Riana. Terima kasih sudah mengizinkan Liliana menginap di rumah kami," ucap Princess Aluna Lucky dengan sopan.
Pak Doddy dan Bu Riana tersenyum dan mengucapkan salam kenal. Mereka merasa senang bisa bertemu dengan keluarga Princess Aluna Lucky.
Malam itu, mereka menghabiskan waktu dengan penuh keceriaan. Mereka berbincang, tertawa, dan saling berbagi cerita. Princess Aluna Lucky dan Liliana merasa bahagia bisa bersama lagi.
Setelah makan malam, mereka berempat duduk di ruang keluarga, menikmati momen kebersamaan yang hangat.
"Terima kasih, Aluna, atas undanganmu. Aku merasa sangat bahagia bisa berada di sini," kata Liliana dengan tulus.
"Kami juga senang bisa memilikimu di sini, Liliana. Kamu adalah bagian dari keluarga kami," ucap Bu Riana dengan penuh kasih sayang.
"Sejak kedatangan Bu Riana, kamu terlihat lebih ceria dan hangat, Aluna."
"Karena Bu Riana memang sudah kuanggap sebagai orangtuaku sendiri."
"Bolehkah... bolehkah Ibu memelukmu, Liliana?"
"Ya, tentu saja. Kemarilah," ujar Liliana Gerald sambil membentangkan kedua lengannya siap memeluk Bu Riana tanpa rasa curiga.
"Kamu tumbuh dengan baik, Nak," bisik Bu Riana saat memeluk Liliana Gerald sambil meneteskan air mata.
"Ibu, kenapa?" tanya Liliana Gerald yang merasa Bu Riana menangis.
"Oh, tidak apa-apa," ujar Bu Riana mengusap air matanya dan mengajak Liliana Gerald dan Princess Aluna Lucky untuk makan malam bersama.
Bu Riana memasak tumis sayur labu kuning dan steam ikan pare.
"Wah, enak sekali," ujar Liliana Gerald.
"Ah, biasa saja kali, Liliana. Orangtuamu juga sering memasak yang seperti ini untukmu kan?"
"No, no... chef yang memasak, bukan Mama," ujar Liliana sambil menggelengkan kepalanya.
"Ayo, kita makan," ujar Bu Riana mengajak Liliana Gerald dan Princess Aluna Lucky untuk makan malam.