Merah menyala, mekar sempurna. Kelopak bunga flamboyan berguguran seperti hujan api kecil, menari-nari ditiup angin sebelum mendarat lembut di atap gazebo yang baru selesai. Amira berdiri di tengah struktur kayu segi enam itu, kepala menengadah, mengagumi kanopi alami yang terbentuk dari dahan-dahan berbunga. Matahari pagi merembes di antara celah-celah daun, menciptakan pola cahaya bergerak di lantai batu alam—seperti tulisan rahasia yang hanya bisa dibaca oleh mata yang memahami bahasa kehilangan dan penemuan kembali.
Seminggu penuh pengerjaan, dan hari ini, tepat saat kelopak flamboyan mulai berguguran, gazebo peringatan untuk Sekar telah berdiri kokoh. Tiang-tiangnya dari kayu jati tua yang dipoles hingga mengkilat, setiap sisinya diukir dengan bait-bait puisi yang tertulis dalam jurnal Sekar. Atap sirap meruncing ke atas, menciptakan akustik unik saat angin menerpa—seperti bisikan lembut yang mengingatkan bahwa setiap kehilangan membawa pesan tersendiri.
Jemari Amira menyusuri ukiran di tiang terdekat, merasakan tekstur huruf yang terbenam dalam kayu:
*Ketika namaku menjadi bisikan angin,
Carilah aku dalam setiap kepak sayap kupu-kupu
Yang hinggap di bunga-bunga kenangan kita.*
Matanya memejam, membayangkan gadis berambut ikal yang tak pernah ditemuinya menulis baris-baris itu—mungkin di ranjang rumah sakit, mungkin di taman belakang rumah Ratna, mungkin sambil menatap foto Amira yang tergantung di dindingnya. Kehadiran yang tak pernah nyata kini diabadikan dalam kayu dan batu, dalam ruang yang dibangun dengan kesadaran penuh atas kerumitan cinta dan kehilangan.
"Bagus sekali."
Suara Prasetyo mengejutkannya. Amira berbalik, mendapati ayahnya berdiri di ambang gazebo dengan tongkat di tangan kanan. Wajahnya yang dulu tirus kini hampir kembali normal, sepasang mata yang diwariskan pada Amira dan Sekar memancarkan perpaduan bangga dan haru.
"Menurutmu Sekar akan menyukainya?" tanya Amira, membiarkan ayahnya masuk dan duduk di bangku kayu yang melingkari bagian dalam gazebo.
"Dia akan mencintainya," Prasetyo tersenyum, matanya menelusuri ukiran-ukiran puisi di setiap tiang. "Seperti dia mencintaimu tanpa pernah bertemu."
Semilir angin membawa wangi tanah dan rumput basah. Pagi masih muda, matahari belum sepenuhnya naik, namun kehangatan sudah merambat ke setiap sudut taman belakang. Dari dalam rumah terdengar denting sendok dan panci—Hapsari dan Adara menyiapkan sarapan spesial menyambut kedatangan Ratna siang nanti.
"Kapan Ratna tiba?" tanya Prasetyo, tangannya yang mulai kembali kuat mengeluarkan amplop dari saku kemejanya.
"Kereta dari Yogya sampai Bandung pukul satu," Amira duduk di samping ayahnya. "Aku dan Adara akan menjemputnya di stasiun."
Prasetyo mengangguk, tatapannya tertuju pada amplop di tangannya. Amira mengenalinya sebagai amplop yang sama dengan surat-surat Sekar lainnya—berwarna biru muda dengan tulisan tangan yang kini telah akrab di matanya.
"Ini surat terakhir Sekar," ucap Prasetyo pelan, menyerahkan amplop itu pada Amira. "Ditulis tiga hari sebelum kepergiannya. Dia memintaku menyimpannya, hanya boleh dibuka saat kita semua... utuh kembali."
Tenggorokan Amira tercekat. "Utuh?"
"Saat kau, aku, ibumu, dan Ratna akhirnya bisa duduk bersama tanpa beban masa lalu," Prasetyo tersenyum tipis. "Saat rumah kita benar-benar menjadi rumah lagi."
Amira menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Namanya tertulis rapi di bagian depan, dalam tulisan yang tampak lebih lemah dari surat-surat sebelumnya. *Untuk Kakakku, Amira. Dibuka ketika keluarga kita telah utuh kembali.*
"Kita akan membukanya nanti malam," bisik Amira, menyimpan amplop itu dalam sakunya. "Bersama Ratna."
Siang merangkak naik, matahari berdiri tegak di atas kepala. Amira dan Adara berangkat ke stasiun dengan perasaan berbeda dari hari-hari biasa. Ada antisipasi hangat yang mengambang di antara mereka—hari ini, untuk pertama kalinya, keluarga mereka akan berkumpul dalam formasi yang utuh. Bukan hanya Prasetyo, Hapsari, Amira, dan Adara, tapi juga Ratna, yang selama puluhan tahun menjadi rahasia yang mengikat mereka tanpa pernah hadir secara fisik.
Stasiun Bandung dipenuhi lalu lalang manusia seperti biasa. Pedagang asongan menawarkan dagangan dengan suara lantang, pengumuman kereta datang dan pergi bergema dari pengeras suara, aroma gorengan dan keringat bercampur dalam pusaran udara yang pengap. Amira dan Adara berdiri di peron, mata keduanya awas mencari sosok Ratna di antara penumpang yang turun dari kereta Yogya-Bandung.
"Itu dia," Adara menunjuk ke arah wanita berambut ikal keperakan yang berjalan dengan tas selempang besar. Gaun terusan bermotif batik parang menyelimuti tubuhnya yang kurus namun tegap, mengingatkan Amira pada foto-foto Sekar—perpaduan antara kerentanan dan kekuatan yang sama.
"Tante Ratna!" panggil Adara, melambai.
Ratna menoleh, wajahnya seketika berbinar saat melihat dua wanita muda yang menunggunya. Langkahnya dipercepat, lengannya terbuka lebar—sebuah pelukan menunggu untuk dibagikan.
"Anak-anakku," bisiknya saat memeluk Amira dan Adara bergantian, suaranya bergetar oleh emosi tertahan. "Benar-benar anak-anakku sekarang."
Perjalanan dari stasiun ke rumah diisi obrolan hangat tentang perjalanan Ratna, tentang gazebo yang baru selesai, tentang kesehatan Prasetyo yang terus membaik. Tidak ada lagi kecanggungan seperti saat pertama Amira bertemu Ratna di Yogya. Tidak ada lagi ketegangan yang menggantung di udara. Hanya kehangatan saling memahami, saling menerima tanpa syarat.
"Kudengar studiomu semakin ramai," ucap Ratna dari kursi belakang taksi. "Pras bilang kau hampir tidak punya waktu istirahat minggu lalu."
Amira tersenyum, mengangguk. "Tiga proyek sekaligus. Aku berpikir untuk mencari asisten."
"Kau harus," Ratna menepuk lembut bahunya. "Tubuh punya batasnya, Mira. Percayalah, Sekar akan lebih senang melihatmu menikmati hidup daripada menenggelamkan diri dalam kerja."
Ada keheningan sejenak—bukan hening yang canggung, tapi hening pengertian. Nama Sekar kini terucap wajar dalam percakapan mereka, seperti anggota keluarga yang memang selalu hadir meski tak terlihat.
Rumah bergenting merah menyambut mereka dengan pintu terbuka lebar. Prasetyo berdiri di beranda tanpa tongkat—pencapaian baru yang membuat Amira tertegun sejenak. Di sampingnya, Hapsari tampak anggun dalam kebaya biru laut sederhana, rambutnya yang beruban disanggul rapi, wajahnya berbinar oleh sukacita yang tak berusaha disembunyikan.
Momen Ratna dan Hapsari berpelukan membuat tenggorokan Amira tercekat. Dua wanita berbeda yang mencintai pria yang sama dengan cara mereka masing-masing, kini berpelukan tanpa kata-kata, hanya isyarat tubuh yang menyampaikan pengertian mendalam yang tak perlu diucapkan. Lalu Ratna beralih pada Prasetyo, memeluknya lama, membisikkan sesuatu yang membuat mata ayahnya berkaca-kaca.
"Keluarga kita akhirnya lengkap," bisik Adara, berdiri di samping Amira.
*Lengkap?* Amira membatin. Matanya menatap empat orang dewasa yang kini berkumpul di beranda, berbagi tawa dan cerita seperti sahabat lama yang kembali bersua. *Ya, lengkap dengan cara kita sendiri.*
Senja merangkak turun saat mereka akhirnya berkumpul di gazebo peringatan Sekar. Langit Bandung memulas diri dalam semburat jingga dan ungu, menciptakan latar sempurna bagi momen penting yang akan mereka lewati. Lilin-lilin kecil dinyalakan di setiap sudut gazebo, cahayanya menari-nari ditiup angin lembut, memantul pada ukiran kayu, menciptakan ilusi kehadiran yang tak kasat mata.
Mereka duduk melingkar di bangku kayu—Prasetyo, Hapsari, Ratna, Amira, dan Adara. Di tengah gazebo, sebuah foto besar Sekar dalam pigura kayu diletakkan di atas meja kecil, tersenyum pada mereka semua, menyaksikan pertemuan yang mungkin selalu dia impikan.
"Sudah saatnya," ucap Prasetyo lembut, mengangguk pada Amira.
Dengan jemari gemetar, Amira mengeluarkan amplop biru muda dari sakunya. Kertas yang sudah sedikit menguning di tepiannya, tersimpan bertahun-tahun menanti momen seperti ini. Ia membukanya perlahan, takut merobeknya, takut merusak jejak tangan terakhir Sekar di dunia. Secarik kertas terlipat rapi di dalamnya, tulisan tangan yang lemah namun jelas menghiasi permukaannya.
"Maukah kau membacakannya untuk kami?" pinta Ratna, matanya berkaca-kaca.
Amira menarik napas dalam, merentangkan kertas di tangannya, dan mulai membaca:
*"Untuk keluargaku yang terkasih,*
*Jika surat ini terbuka, maka satu hal yang paling kuimpikan telah terwujud—kalian akhirnya bersama, tanpa beban masa lalu, tanpa rahasia yang memisahkan.*
*Ayah, Ibu Hapsari, Ibu Ratna, Kakak Amira, Dara... akhirnya kalian menemukan jalan pulang pada satu sama lain. Betapa inginnya aku hadir di tengah kalian saat ini, merasakan kehangatan yang selalu kubayangkan, mendengar tawa yang selalu kumimpikan.*
*Tapi percayalah, aku hadir. Dalam setiap kelopak flamboyan yang berguguran. Dalam setiap napas angin yang membelai rambut kalian. Dalam setiap puisi yang terukir di kayu-kayu gazebo ini.*
*Jangan menangisi kepergianku terlalu lama. Jangan menyesali waktu yang telah berlalu. Setiap detik hidup ini membawa pelajarannya sendiri, setiap kehilangan membawa temuannya sendiri.*
*Kakak Amira, mungkin kita tak pernah bertemu dalam hidup ini, tapi jiwa kita telah bertemu dalam puisi dan gambar-gambar. Suatu hari nanti, entah dalam kehidupan mana, kita akan duduk bersama, bertukar cerita tanpa batas waktu yang mengekang.*
*Terima kasih telah menjadi inspirasiku. Terima kasih telah memberiku alasan untuk bertahan selama mungkin. Terima kasih telah kembali pulang dan menyatukan keluarga kita.*
*Ayah, Ibu Hapsari, Ibu Ratna... cinta kalian membuktikan bahwa kasih tidak selalu harus masuk dalam kotak-kotak yang diciptakan manusia. Kadang, cinta menemukan jalannya sendiri, bentuknya sendiri. Dan itu tidak apa-apa.*
*Dara adikku, jagalah mereka semua untukku. Jadilah mata dan telingaku di dunia. Ceritakanlah padaku dalam doamu tentang perjalanan kalian selanjutnya.*
*Selamat tinggal, selamat jalan, dan selamat kembali pulang. Ke tempat kalian seharusnya berada—dalam lingkaran cinta yang sama, dalam rumah yang sama meski dengan kamar-kamar berbeda.*
*Dengan segala cinta yang kumiliki,*
*Sekar."*
Suara Amira pecah di akhir bacaan, air mata mengalir deras membasahi pipinya. Di sekelilingnya, isak tangis tertahan terdengar—Ratna yang terisak dalam pelukan Hapsari, Prasetyo yang menunduk dengan bahu berguncang, Adara yang menggigit bibir menahan luapan emosi.
Keheningan yang mengikuti terasa suci, dipenuhi kesadaran akan hadir tak kasat mata yang melingkupi mereka. Angin berembus lembut, menerbangkan kelopak-kelopak flamboyan masuk ke dalam gazebo, berjatuhan di atas foto Sekar seperti hujan berkat yang tak pernah berhenti.
"Dia tahu," bisik Ratna akhirnya. "Dia tahu kita akan kembali bersama."
Prasetyo mengangguk, tangannya menggenggam jemari Hapsari dan Ratna sekaligus. "Dia selalu lebih bijak dari usianya."
Malam turun perlahan, menyelimuti mereka dengan kegelapan yang tak menakutkan. Bintang-bintang bermunculan satu per satu, mengintip dari celah dedaunan flamboyan, menyaksikan lima orang dewasa yang duduk dalam lingkaran cahaya lilin, berbagi kesedihan dan sukacita yang telah lama tertahan.
Di tengah mereka, foto Sekar tersenyum abadi, menjadi pusat gravitasi yang menarik mereka kembali pada satu sama lain, menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan.
*Pulang*, pikir Amira, menatap wajah-wajah yang kini begitu berarti baginya. *Sekar benar. Kami akhirnya pulang.*
Dan di atas mereka, bulan separuh bersinar lembut dalam kelam, menerangi gazebo dengan cahaya perak yang mengalir bagai air, menerangi rumah bergenting merah yang telah kembali menjadi rumah dalam arti sesungguhnya—bukan hanya tempat bernaung, tapi tempat menemukan diri, tempat menyembuhkan luka, tempat membangun kembali dari puing-puing kesalahpahaman.
Tempat untuk kembali, untuk menghadapi, dan akhirnya, untuk pulang.