Hujan rintik membasahi tanah kemerahan taman belakang rumah keluarga Prasetyo. Amira berjongkok di bawah pohon flamboyan, jari-jarinya berlumur tanah basah. Aroma hujan yang menghantam debu menyeruak ke dalam hidungnya—wangi khas yang tidak pernah gagal membangkitkan kenangan masa kecil. Enam minggu telah berlalu sejak ia membuka studionya, enam minggu penuh karya dan penyembuhan.
"Menurutmu, fondasi ini cukup?" tanyanya pada Prasetyo yang duduk di beranda belakang, mengawasi dari balik secangkir teh panas.
Ayahnya menyipitkan mata, menilai ukiran tanah yang telah dibuat Amira sebagai pola dasar gazebo peringatan untuk Sekar. "Lebih lebar sedikit di sisi timur," sarannya, suaranya kini hampir sepenuhnya pulih. "Agar menangkap matahari pagi lebih banyak."
Amira mengangguk, menyeka peluh yang bercampur tetesan hujan di keningnya. Tangannya bergerak membentuk garis baru, melebarkan pola tanah di sisi yang ditunjuk ayahnya. Dari dalam rumah terdengar denting peralatan dapur—ibunya dan Adara sedang menyiapkan makan siang. Aroma tumisan bawang dan cabai mengambang samar, bersaing dengan wangi tanah basah.
"Tukangnya datang besok," gumam Amira, bangkit menegakkan tubuh. Otot-otot punggungnya terasa kaku setelah berjam-jam membungkuk. "Kalau cuaca bersahabat, fondasi bisa mulai dicor lusa."
"Tepat waktu untuk kedatangan Ratna," Prasetyo tersenyum tipis. "Dia selalu ingin melihat bunga flamboyan mekar penuh."
Amira mendongak, menatap kuncup-kuncup merah yang mulai menyembul di dahan-dahan tinggi. Masih seminggu lagi sebelum mekar sempurna, pikir Amira, persis saat Ratna dijadwalkan tiba dari Yogyakarta. Seakan alam pun bersekongkol untuk membuat pertemuan mereka seindah mungkin.
Hujan mereda menjadi gerimis lembut. Amira melepas sarung tangan kebun, melangkah ke beranda tempat ayahnya duduk. Di meja kayu sederhana terhampar sketsa gazebo yang telah ia rancang—struktur segi enam dengan tiang-tiang kayu jati, atap sirap mengerucut, dan lantai batu alam. Di setiap tiang, puisi-puisi Sekar akan diukir mengelilingi, menciptakan pusaran kata yang memeluk siapapun yang duduk di dalamnya.
"Aku mendapat telepon dari klien Menteng pagi ini," ucap Amira, mengeringkan tangannya dengan handuk kecil. "Pembangunan sudah mencapai tujuh puluh persen. Mereka sangat puas."
Prasetyo mengangguk bangga. "Tentu saja. Putriku memang berbakat."
"Putra-putri," koreksi Amira lembut. "Sekar juga berbakat. Sketsanya membantu banyak dalam desain gazebo ini."
Hening sejenak. Nama Sekar kini tak lagi terasa seperti pisau yang mengiris, melainkan seperti angin segar yang menyapu halus. Kehadirannya dalam percakapan keluarga telah menjadi hal lumrah, bahkan menenangkan—seperti akhirnya menemukan kepingan terakhir puzzle yang lama hilang.
"Ayah," Amira duduk di samping ayahnya, tangannya meraih tangan keriput Prasetyo. "Surat Sekar sudah hampir habis dibacakan semua."
"Masih ada satu lagi," Prasetyo tersenyum misterius. "Yang belum pernah kubacakan pada siapapun."
Amira mengerjap. "Surat yang mana?"
"Nanti, saat gazebo selesai." Ayahnya meremas lembut jemarinya. "Saat Ratna hadir bersama kita."
Rintik hujan akhirnya berhenti sepenuhnya, meninggalkan jejak basah dan aroma tanah yang menguar kuat. Matahari mengintip malu-malu dari sela awan kelabu, menciptakan efek pelangi samar di atas rumah tetangga. Dari dapur terdengar panggilan Hapsari, memberitahu bahwa makan siang telah siap.
"Angkat jemuran dulu, Mira," pesan ibunya saat Amira melangkah ke arah dapur. "Pakaian kantor ayahmu belum kering semuanya."
Amira berbelok ke samping rumah, tempat tiang jemuran berdiri dengan pakaian basah bergelantungan. Kemeja putih ayahnya, yang sudah lama tidak dipakai sejak stroke menyerang, kini digantung dengan harapan baru. Minggu depan, Prasetyo akan kembali ke kampus untuk pertama kalinya—bukan untuk mengajar, masih terlalu dini, tetapi untuk menghadiri peluncuran buku antologi puisi mahasiswanya.
Jemari Amira menyentuh kemeja itu, merasakan kelembaban yang tersisa. Begitu banyak yang berubah dalam beberapa bulan ini. Ayahnya yang sakit kini berangsur pulih. Studinya yang baru mulai mendapat nama. Gazebo peringatan untuk Sekar akan segera berdiri. Dan dirinya—yang dulu lari dari segala yang bernama rumah dan keluarga—kini menemukan kekuatan justru dalam pelukan hal-hal yang dulu ditinggalkannya.
Makan siang berlangsung hangat di meja makan keluarga. Nasi putih mengepul, sayur asem beraroma kemangi, tempe goreng garing, dan sambal terasi yang menggugah selera. Amira menyendok nasi ke piring ayahnya, kegiatan sederhana yang kini terasa begitu bermakna.
"Ada proyek baru di studio?" tanya Adara sembari menyeruput kuah sayur asemnya.
"Tiga proposal masuk minggu ini." Amira tersenyum, menuangkan air ke gelas ibunya tanpa diminta. "Dua rumah tinggal dan satu kafe. Sepertinya kabar tentang kepulanganku menyebar cepat."
"Atau kabar tentang proyek Mentengmu," tambah Hapsari, mengedipkan mata bangga. "Koran arsitektur minggu lalu memujimu habis-habisan."
Amira tertawa kecil, tawa yang kini terdengar lebih sering di rumah bergenting merah itu. "Aku harus mulai mencari asisten kalau begini terus."
"Pakailah kamar belakang untuk ruang kerja tambahan," usul ibunya. "Dulu itu kamar Bibi Yati sebelum dia pindah ke Tasik."
Gagasan itu membuat Amira terdiam. Bekerja dari rumah berarti melingkarkan kehidupan profesional dan personalnya menjadi satu kesatuan tak terpisahkan. Dulu, pemikiran semacam itu akan membuatnya ngeri—ia selalu berusaha memisahkan kedua dunianya dengan tembok tebal. Kini, gagasan itu terasa menarik, bahkan menenangkan.
"Akan kupikirkan, Bu," jawabnya akhirnya. "Terima kasih."
Sore itu, Amira duduk di studio barunya, mengerjakan detail interior kafe terbarunya. Jendela-jendela tinggi dibiarkan terbuka, membiarkan angin sejuk pasca hujan membelai wajahnya yang berkeringat. Kuas dan pensil berserakan di meja gambar, secangkir kopi yang sudah mendingin terabaikan di sudut.
Telepon genggamnya berdering, menampilkan nama Ratna di layar.
"Halo?" Amira mengapit telepon di antara telinga dan bahu, tangannya masih menggoreskan pensil.
"Amira," suara Ratna terdengar hangat dari seberang. "Bagaimana kabarmu?"
"Baik, Tante." Panggilan itu kini terasa wajar di lidahnya, tidak lagi canggung seperti dulu. "Aku sedang menyelesaikan desain gazebo untuk Sekar. Fondasi mulai dicor lusa."
"Kuharap aku bisa melihat prosesnya dari awal," terdengar sedikit penyesalan dalam suara Ratna. "Tapi ujian akhir semester membuatku terjebak di sini hingga minggu depan."
"Justru lebih baik Tante datang saat sudah hampir jadi," Amira tersenyum meski tahu Ratna tidak melihatnya. "Akan ada kejutan."
Mereka berbincang beberapa menit tentang detail perjalanan Ratna ke Bandung minggu depan. Tentang bunga flamboyan yang akan mekar sempurna. Tentang kemajuan kesehatan Prasetyo. Tentang studio baru Amira. Obrolan yang mengalir tanpa beban, seolah mereka telah mengenal satu sama lain seumur hidup.
"Amira," nada suara Ratna berubah serius sebelum mengakhiri percakapan. "Terima kasih."
"Untuk apa, Tante?"
"Untuk pulang. Untuk memberi kesempatan pada kebenaran. Untuk membangun kembali yang sempat runtuh."
Tenggorokan Amira tercekat, matanya tiba-tiba terasa panas. "Aku yang harusnya berterima kasih. Untuk kesabaran Tante. Untuk... memaafkanku."
Setelah menutup telepon, Amira berdiri di depan jendela studionya, menatap langit Bandung yang mulai berwarna jingga. Matahari terbenam dengan anggun di balik gunung, meninggalkan jejak keemasan di tepian awan. Di dinding studionya, foto Sekar tersenyum abadi dalam bingkai kayu sederhana, menyaksikan perjalanan Amira yang tak lagi berlari dari masa lalu.
Ia meraih tas dan jaketnya, memutuskan pulang lebih awal. Hari ini entah mengapa, ia merasa perlu berada di rumah, mendengar derit tangga kayu, mencium aroma masakan ibunya, mendengar ayahnya membaca puisi di beranda.
Bandung menyambutnya dengan kemacetan khas sore hari. Angkot berwarna biru berseliweran, pedagang kaki lima mulai menggelar dagangan, aroma sate dan baso mengambang di udara. Amira duduk di dekat jendela angkot, membiarkan wajahnya dibelai angin yang membawa kenangan masa kecil—kenangan yang kini tidak lagi menyakitkan.
Ketika angkot berbelok memasuki kompleks perumahannya, jantung Amira berdegup sedikit lebih kencang. Entah sejak kapan, pulang ke rumah menjadi momen yang ia nantikan tiap hari. Mungkin sejak ia berhenti memandang rumah sebagai penjara kenangan buruk, dan mulai melihatnya sebagai tempat penyembuhan.
Dari kejauhan, atap rumah bergenting merah menyembul di antara pepohonan. Langkah Amira dipercepat. Dari halaman, ia bisa melihat lampu beranda telah dinyalakan—ibunya selalu menyalakan lampu depan lebih awal sejak Prasetyo sakit, seakan cahaya itu menjadi penunjuk jalan bagi anggota keluarga yang pulang.
Amira membuka pagar, langkahnya terhenti sejenak di halaman, menatap rumah yang dulu ia tinggalkan. Cat putihnya sedikit mengelupas, genting merahnya sedikit berlumut, tangga kayunya sedikit aus—tapi di matanya, rumah itu tak pernah terlihat lebih sempurna.
Di balik tirai jendela, bayangan ibunya bergerak-gerak menyiapkan makan malam. Di beranda, ayahnya duduk dengan buku terbuka di pangkuan. Dan di taman belakang, tanah yang telah digali menunggu fondasi gazebo untuk Sekar—sebuah proyek penghormatan, sebuah janji yang kini akan ditepati.
"Aku pulang," bisik Amira, lebih kepada dirinya sendiri. Bukan sekadar kembali, tapi pulang dengan seluruh jiwa. Bukan sekadar hadir, tapi benar-benar memeluk kenyataan dengan segala kompleksitasnya.
Rumah—dengan segala ketidaksempurnaannya—membuka pintu menyambutnya.