Bab 16

1295 Words
Debu menari-nari dalam cahaya pagi yang menerobos jendela tinggi studio barunya. Amira berdiri di tengah ruangan, menghirup aroma kayu tua yang bercampur dengan wangi cat segar. Dinding putih gading kini menjadi kanvas kosong bagi mimpi-mimpi yang tertunda. Di sudut ruangan, sebuah meja gambar besar telah terpasang menghadap jendela, tempat cahaya pagi membanjir tanpa halangan. Sisa ruangan masih kosong, menunggu sentuhan yang akan mengubahnya dari sekadar tempat menjadi ruang bernyawa. "Bagaimana menurutmu?" tanyanya pada Adara yang berdiri di ambang pintu dengan dua cangkir kopi mengepul. "Berpotensi," jawab adiknya, melangkah masuk dengan hati-hati melewati beberapa kardus yang berserakan. "Cahayanya sempurna. Aku bisa membayangkanmu duduk di sini berjam-jam, lupa waktu seperti dulu." Amira tersenyum, mengambil cangkir yang disodorkan. Kopi hitam pekat tanpa gula, cara Bandung meminumnya—tidak diperhalus, langsung menohok, membangunkan seluruh indera. Seperti kehidupan yang kini dihadapinya tanpa pelarian. Sebulan telah berlalu sejak ia resmi mengundurkan diri dari firma arsitektur Jakarta. Sebulan penuh penyesuaian, tantangan, dan penemuan kembali ritme yang pernah tertinggalkan. Studio ini adalah bukti fisik perubahan arahnya—Amira Prasetyo kini berdiri di atas kakinya sendiri. "Aku sudah menandatangani kontrak dengan klien pertama kemarin," ucapnya, meletakkan cangkir di ambang jendela. "Renovasi rumah keluarga di Setiabudhi. Tidak besar, tapi cukup untuk langkah awal." "Dan proyek Menteng?" "Berjalan dari sini. Minggu depan aku akan ke Jakarta untuk presentasi final." Amira berjongkok, membuka salah satu kardus berisi bingkai-bingkai foto. "Dimas akhirnya mengerti, meski butuh tiga kali percakapan dan satu surat penjelasan panjang." Jemarinya mengeluarkan bingkai kayu sederhana berisi foto Sekar yang tersenyum lebar di depan pameran arsitektur Yogyakarta—foto yang diberikan Ratna sebelum mereka pulang. Dengan hati-hati, Amira meletakkannya di rak kecil dekat meja gambar. Tempat pertama yang diisi dalam studio barunya, pusat spiritual tidak terucap yang akan menyaksikan setiap karyanya lahir. "Ibu menelepon tadi pagi," Adara memecah keheningan, duduk di ambang jendela besar. "Ayah sudah bisa berjalan dengan bantuan tongkat. Dokter nyaris tidak percaya dengan kecepatannya pulih." "Tekad kuat seorang Prasetyo," Amira tertawa kecil, mengeluarkan lebih banyak barang dari kardus. "Dan mungkin juga surat-surat Sekar yang kubacakan tiap malam." Angin sepoi menyusup dari jendela, membelai wajah mereka dengan kelembutan yang membawa aroma roti bakar dari kafe di bawah. Suara denting sendok dan piring sayup-sayup terdengar, berpadu dengan kicauan burung gereja yang bersarang di atap. Irama pagi yang berbeda dari kebisingan Jakarta, lebih lembut namun sama hidupnya. "Ratna mengirim ini kemarin," Amira mengeluarkan sebuah bungkusan dari tasnya. "Tiba lewat pos pagi ini." Dibukanya kertas coklat yang membungkus, menampakkan sebuah buku sketsa usang dengan sampul kulit yang mulai mengelupas—buku sketsa pertama Sekar, berisi gambar-gambar awal rumah impiannya. Di dalamnya terselip secarik kertas dengan tulisan tangan Ratna: _"Untuk studio barumu. Agar impian Sekar turut hadir dalam setiap karya yang kau ciptakan."_ Amira mengusap sampul buku itu dengan ibu jarinya, merasakan tekstur kulit yang retak di beberapa bagian, merasakan kehangatan yang seakan terpancar dari dalamnya. Tak lagi terasa sebagai beban, kini kehadiran Sekar dalam hidupnya seperti lentera yang menerangi jalan yang sempat gelap. "Kau sudah memutuskan desain monumen untuk Sekar?" tanya Adara, mendekat untuk melihat buku sketsa itu. "Belum final. Tapi aku condong pada gazebo kecil di sudut taman belakang." Amira membuka buku sketsa, menunjukkan gambar yang telah dibuatnya. "Di bawah pohon flamboyan, menghadap ke timur tempat matahari terbit. Dengan puisi-puisinya terukir di tiang-tiang kayu. Sederhana tapi bermakna." Adara mengangguk, matanya menelusuri sketsa dengan seksama. "Dia akan menyukainya." Pagi bergulir menjadi siang. Mereka menghabiskan waktu menata studio, memasang rak-rak buku, meletakkan meja komputer di sudut yang tepat, menggantung papan inspirasi di dinding utama. Peluh membasahi dahi, tapi jenis kelelahan ini terasa memuaskan—kelelahan membangun, bukan melarikan diri. Tepat pukul dua, ponsel Amira berdering. Nomor tak dikenal dengan kode Jakarta. "Amira Prasetyo," jawabnya profesional. "Mbak Amira, ini Pak Mahendra." Suara di seberang terdengar bersemangat. "Saya sudah melihat revisi final desain rumah kami dari Pak Dimas. Luar biasa!" "Terima kasih, Pak. Saya senang Bapak menyukainya." Amira tersenyum, memberikan isyarat pada Adara bahwa ini klien Menteng-nya. "Tapi saya punya satu permintaan kecil," lanjut Pak Mahendra. "Bisakah pembangunan dimulai bulan depan saja? Kebetulan anak kami akan menikah bulan ini, jadi kami ingin fokus dulu ke sana." "Tentu saja, Pak. Tidak masalah." "Dan satu lagi," suara Pak Mahendra merendah, "saya dengar Mbak sudah pindah ke Bandung ya? Membuka studio sendiri?" Amira mengernyit, bertanya-tanya dari mana kliennya mendengar berita ini. "Benar, Pak." "Bagus! Kalau begitu, saya ingin Mbak yang langsung mengawasi pembangunannya nanti. Bukan tim dari Jakarta. Saya percaya dengan visi Mbak, dan Bandung-Jakarta tidak terlalu jauh kan untuk bolak-balik?" Diam sejenak. Amira menatap studio barunya yang mulai terbentuk, pada foto Sekar di rak dekat meja gambar, pada masa depan yang kini terhampar di depannya—masa depan yang dibangunnya dengan keberanian menghadapi masa lalu. "Saya tersanjung, Pak. Tentu saja saya akan mengawasi langsung." Setelah menutup telepon, Amira berdiri di depan jendela besar, menatap lanskap Bandung yang membentang di bawahnya—atap-atap rumah yang berjajar seperti kepingan puzzle, gunung-gunung biru di kejauhan, awan-awan putih berarak perlahan di langit cerah. Kota yang pernah ditinggalkannya kini memeluknya kembali, menawarkan kesempatan kedua yang tak semua orang peroleh. "Ayo pulang," ajaknya pada Adara. "Sudah cukup untuk hari ini. Aku ingin membacakan surat Sekar untuk Ayah sebelum tidur." Mereka mengunci studio, menuruni tangga kayu yang berderit menuju kafe di lantai bawah. Pemilik kafe—pria paruh baya dengan kumis tebal—menyapa ramah, menawarkan sepiring pisang goreng panas untuk dibawa pulang. "Untuk merayakan tetangga baru," ucapnya. Senja telah merambat ketika mereka tiba di rumah. Dari jauh tampak sosok Prasetyo duduk di beranda depan, tongkat kayu tersandar di sampingnya. Wajahnya yang dulu tirus kini berangsur berisi, matanya hidup kembali dengan percikan semangat yang familiar—percikan yang diwariskannya pada Amira dan Sekar. "Ayah sudah menunggu," gumam Adara. "Kurasa dia tahu kita akan pulang sore ini." Entah kenapa, pemandangan sederhana itu—ayahnya yang duduk menunggu di beranda—membuat tenggorokan Amira tercekat. Lima tahun lalu, ia pergi tanpa menoleh. Kini, sosok yang sama menunggunya pulang, hari demi hari, tanpa dendam atau syarat. "Pergilah duluan," kata Amira pada adiknya. "Aku ingin sebentar saja di sini." Amira berdiri di depan pagar, memandang rumah bergenting merah yang dulu ia tinggalkan dengan amarah. Atapnya masih sama, sedikit berlumut di tepian. Dinding putihnya mengelupas di beberapa bagian, menampakkan usia yang tak bisa disembunyikan. Bunga-bunga melati di pot samping tangga masih mekar seperti dulu, wanginya mengambang samar di udara senja. Rumah ini, dengan segala ketidaksempurnaannya, kini terlihat berbeda di matanya. Bukan lagi tempat penuh kebohongan dan luka, tapi wadah penyembuhan dan rekonsiliasi. Tempat di mana rahasia telah terungkap dan dimaafkan. Tempat di mana kepingan dirinya yang tercerai-berai kembali menyatu. Prasetyo menoleh, tatapannya menemukan Amira yang masih berdiri termangu. Tangannya yang keriput terangkat dalam lambaian kecil, senyumnya mengembang. "Mira," panggilnya, kini suaranya hampir kembali normal, "kenapa berdiri di sana? Ayo masuk. Rumahmu menunggu." _Rumahmu menunggu._ Kalimat sederhana yang menggetarkan sesuatu dalam d**a Amira. Ia melangkah masuk, menutup pagar perlahan di belakangnya. Setiap langkah terasa seperti kembali merajut benang-benang takdir yang sempat kusut, kembali ke tempat di mana seharusnya ia berada. Di beranda, ayahnya telah menyiapkan dua cangkir teh. Di atas meja kayu kecil, sebuah buku puisi terbuka—kumpulan sajak Chairil Anwar yang telah menguning. Dan di sampingnya, surat-surat Sekar disusun rapi, menunggu waktu pembacaan malam ini. "Aku pulang, Ayah," bisiknya, duduk di kursi kosong samping ayahnya. Matahari Bandung tenggelam perlahan di ufuk barat, melukis langit dengan semburat jingga dan merah muda. Cahayanya yang keemasan menyirami atap-atap rumah, menerobos celah dedaunan flamboyan, menciptakan pola-pola bergerak di lantai beranda. Di kejauhan, azan Maghrib mulai berkumandang, mengalun lembut dalam keheningan petang. Amira menatap cakrawala dengan mata baru, mata yang akhirnya melihat bahwa rumah bukanlah sekadar bangunan dengan atap dan dinding. Rumah adalah tempat kita membangun dan dibangun kembali. Tempat kita pergi dan kembali. Tempat luka diakui dan disembuhkan. Rumah adalah perjalanan pulang yang tak pernah benar-benar selesai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD