Sepekan berlalu sejak kepulangan Amira dari Yogyakarta. Langit Bandung pagi itu cerah tak berawan, matahari mengintip malu-malu dari sela dedaunan flamboyan yang menari ditiup angin. Amira duduk di beranda belakang, jemarinya menari lincah di atas laptop, mengetikkan surat pengunduran diri yang telah ia susun berulang kali dalam benak.
"Dengan ini saya menyatakan mengundurkan diri dari posisi Arsitek Senior..." Kalimat-kalimat formal mengalir dari jemarinya, begitu kontras dengan gelora emosi yang berkecamuk dalam dadanya. Lima tahun ia membangun reputasi di firma itu, lima tahun bergelut dengan tenggat waktu dan ekspektasi kesempurnaan. Kini ia melepaskannya, seperti burung yang terbang dari sangkar emas—sakit namun membebaskan.
"Sudah selesai?" Adara muncul dari dapur membawa dua cangkir teh melati, uapnya mengepul tipis seperti kabut pagi di perbukitan.
"Hampir." Amira menekan tombol terakhir, membaca ulang pesannya sekali lagi. "Rasanya seperti menutup sebuah bab penting."
"Dan membuka yang baru."
Amira mengangguk, menyesap tehnya perlahan. Hangat membasahi tenggorokannya, menjalar ke d**a yang kini terasa lebih lapang, seakan beban tak kasat mata telah terangkat darinya. Di taman belakang, seroja dalam kolam kecil merekah sempurna, menampakkan mahkota merah muda yang kemarin masih ragu membuka diri.
"Firma di Jakarta menelepon tiga kali kemarin," Adara menyibakkan rambutnya yang kini sedikit lebih panjang dari saat pertama Amira pulang. "Kau belum memberitahu mereka?"
"Aku ingin memikirkan kata-katanya dengan tepat." Amira menatap layar laptopnya, jarinya menggantung di atas tombol kirim. "Lima tahun bukan waktu yang singkat."
"Tapi sepuluh menit sudah cukup untuk melarikan diri dari rumah ini dulu," goda Adara, senyum menggantung di sudut bibirnya.
Amira tertawa kecil, tawa yang kini lebih sering terdengar di rumah bergenting merah itu. "Aku memang selalu pandai melarikan diri." Ia menekan tombol kirim dengan mantap. "Tapi kini saatnya belajar bertahan."
Email terkirim, menandai keputusan final yang telah diambil. Sejak kembali dari Yogyakarta, Amira tak hanya membawa pulang surat-surat Sekar, tapi juga keteguhan baru—untuk membangun kembali hidupnya di tanah kelahiran, untuk memperbaiki ikatan yang nyaris putus, untuk menghadapi alih-alih melarikan diri.
"Bagaimana kabar Ayah pagi ini?" tanya Amira, menutup laptopnya.
"Lebih baik. Dia bisa makan sendiri tadi." Adara tersenyum, kerut lelah di sekitar matanya sedikit memudar. "Dokter bilang perkembangannya mengejutkan."
"Kuasa doa dan keinginan bertahan," gumam Amira. "Dan mungkin juga pengaruh surat-surat Sekar."
Setiap malam sejak kembali dari Yogyakarta, Amira membacakan satu surat Sekar untuk ayahnya. Surat-surat sederhana penuh kerinduan, impian, dan pengharapan. Prasetyo selalu mendengarkan dengan mata berkaca-kaca, kadang tertawa lemah mendengar cerita lucu Sekar, kadang terisak pelan saat kata-kata putrinya menyentuh titik terdalam hatinya.
Amira bangkit, membereskan cangkirnya yang telah kosong. "Aku harus memeriksa beberapa tempat hari ini. Kemarin agen properti menghubungiku, ada tiga bangunan yang mungkin cocok untuk studio."
"Secepat itu? Kau benar-benar tidak main-main."
"Lima tahun melarikan diri sudah lebih dari cukup." Amira menyampirkan tas selempang ke bahunya. "Sampaikan pada Ayah, aku akan pulang sebelum makan malam. Hari ini giliranku menyuapinya."
Jalanan Bandung menyambut dengan kesibukan yang tak pernah berubah. Becak motor berseliweran, pedagang kaki lima menawarkan dagangan dengan teriakan-teriakan khas, aroma gorengan dan sate mengambang di udara. Amira menaiki angkot jurusan Dago, duduk di dekat jendela, membiarkan wajahnya dibelai angin dan kenangan.
Dulu, sebelum ia meninggalkan kota ini, Amira sering memimpikan studio arsitekturnya sendiri. Tempat di mana ia bebas berkarya tanpa terikat birokrasi firma besar, tempat yang menjadi rumah kedua bagi mimpi-mimpi dan idealismenya. Lalu kehidupan berbelok, dan ia justru memilih jalan yang lebih aman—bekerja untuk orang lain alih-alih membangun mimpinya sendiri.
Lokasi pertama yang dikunjunginya terletak di kawasan Ciumbuleuit, sebuah rumah tua bergaya kolonial yang sebagian telah diubah menjadi kafe. Pemiliknya, lelaki paruh baya dengan kumis tebal dan senyum ramah, menawarkan lantai dua yang belum termanfaatkan.
"Dulu ini kamar anak saya," jelasnya, membuka pintu yang menjerit engselnya. "Sekarang mereka semua di Jakarta, rumah sebesar ini terlalu luas untuk ditinggali sendiri."
Amira melangkah masuk, disambut ruangan luas dengan jendela-jendela tinggi yang membingkai pemandangan Bandung dari ketinggian. Lantai kayunya berderit di beberapa bagian, dindingnya mengelupas di sudut-sudut, tapi cahaya yang masuk menciptakan atmosfer hangat yang langsung mengundang.
"Saya suka ruangan ini," gumam Amira, berjalan mendekati jendela. "Cahayanya sempurna untuk meja gambar."
Pikirannya mulai menari, membayangkan tata letak ruangan—meja gambar besar di dekat jendela, rak-rak buku menjulang di dinding utara, meja kerja komputer di sudut dengan pencahayaan yang tepat. Jari-jarinya tanpa sadar bergerak seperti menggambar di udara, kebiasaan lama saat idenya mengalir deras.
"Kapan saya bisa mulai menyewa?" tanyanya, telah membuat keputusan.
Matahari sudah bergeser ke barat saat Amira menyelesaikan urusannya. Tempat sudah didapat, kontrak ditandatangani, uang muka dibayarkan. Seminggu lagi ia bisa mulai menempati studio barunya. Kakinya melangkah ringan menyusuri Jalan Dago, berhenti sejenak di toko buku yang dulu sering dikunjunginya bersama ayah.
Di etalase, beberapa buku arsitektur terpampang, salah satunya tentang rumah tradisional Indonesia. Tanpa ragu Amira melangkah masuk, membeli buku itu bersama beberapa novel dan kumpulan puisi. Nostalgia memeluknya saat aroma kertas dan tinta menyapa indra penciuman—aroma masa kecilnya, saat ayahnya mengajaknya berkelana dari satu toko buku ke toko buku lain.
Senja mulai merayap saat Amira tiba di rumah. Dari kejauhan ia bisa melihat lampu-lampu rumah telah menyala, asap tipis mengepul dari jendela dapur tempat ibunya pasti sedang menyiapkan makan malam. Langkahnya dipercepat, rindu tiba-tiba menyelinap untuk rumah yang dulu pernah ia tinggalkan tanpa menoleh.
"Aku pulang," serunya, mendorong pintu depan yang tidak dikunci.
"Di dapur," sahut ibunya.
Amira melangkah ke dapur, menemukan ibunya sibuk mengaduk kuah sayur yang mengepul, aroma rempah-rempah mengambang pekat di udara. Tanpa kata, Amira meletakkan tasnya, meraih pisau dan mulai memotong-motong lauk di atas telenan kayu—gerakan sederhana yang kini terasa begitu bermakna, seperti kembali menemukan tempatnya dalam harmoni rumah.
"Bagaimana pencarian studionya?" tanya ibunya, masih fokus pada masakannya.
"Sudah dapat." Amira tersenyum, mengiris tempe dengan gerakan terampil. "Di Ciumbuleuit, lantai dua rumah kolonial yang sebagian jadi kafe. Cahayanya bagus, pemandangannya juga."
Hapsari melirik putrinya, senyum tipis menghiasi wajahnya yang mulai keriput. "Kau benar-benar serius dengan keputusan ini."
"Aku lelah melarikan diri, Bu." Amira mengangkat bahu. "Dulu kukira Jakarta adalah jawaban untuk lukaku. Ternyata justru di sinilah proses penyembuhannya."
Mereka bekerja berdampingan dalam keheningan yang nyaman, sesekali bertukar kata atau senyum. Di luar, langit semakin menggelap, bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu—titik-titik harapan di kanvas kelabu.
Makan malam berlangsung hangat di kamar ayahnya. Prasetyo kini bisa duduk bersandar di ranjang, tangannya yang masih lemah menggenggam sendok dengan bantuan Amira. Wajahnya yang tirus berangsur berisi, senyumnya lebih segar dari hari ke hari.
"Tadi bertemu Pak Ridwan," ucap Amira sembari menyiapkan nasi dan lauk di piring kecil. "Dosen kita dulu di mata kuliah Sejarah Arsitektur. Dia ingat padaku, bahkan ingat maket kuil miniatur yang kubuat untuk ujian akhir."
"Dia... memang... punya... ingatan... tajam," ucap Prasetyo, suaranya masih tersendat namun lebih jelas. "Bagaimana... studionya?"
"Sudah dapat tempat. Minggu depan bisa mulai ditempati." Amira menyuapkan sesendok nasi dan sayur ke mulut ayahnya. "Kali ini Ayah harus ikut memberi masukan untuk desain interiornya."
"Dengan... senang... hati."
Usai makan, tibalah waktu yang dinanti Prasetyo—saat Amira membacakan surat Sekar untuknya. Malam ini adalah surat ketujuh, ditulis saat Sekar berusia empat belas tahun, bercerita tentang kunjungan pertamanya ke pameran arsitektur di Yogyakarta.
"_...Aku terpana melihat maket-maket bangunan itu, Kak. Seperti dunia mini yang bisa kupegang dengan tanganku. Aku membayangkanmu merancang bangunan-bangunan indah suatu hari nanti, dan aku akan dengan bangga berkata pada semua orang: itu karya kakakku._"
Suara Amira tercekat di akhir kalimat, emosi menggumpal di tenggorokannya. Ia menatap ayahnya yang menangis tanpa suara, air mata mengalir perlahan di pipinya yang keriput.
"Aku ingin kita buat sesuatu untuk Sekar," ucap Amira lembut, menggenggam tangan ayahnya. "Sebuah monumen kecil, atau mungkin taman. Tempat yang menghormati keberadaannya, meski ia tak pernah hadir secara fisik dalam hidup kita."
Prasetyo mengangguk, meremas lembut jemari putrinya. "Gagasan... bagus. Dia... akan... senang."
Lampu-lampu satu per satu dimatikan saat malam semakin larut. Amira berdiri di ambang jendela kamarnya, menatap langit Bandung yang bertabur bintang. Angin malam menyusup lembut melalui celah jendela, membawa aroma melati dari pot di beranda—wangi masa kecil yang tak pernah gagal menenangkannya.
Di tangannya, sketsa awal studio barunya mulai terbentuk—garis-garis lembut yang membentuk ruang, jendela-jendela besar yang membingkai langit, dan di sudut kanvasnya, ia menggambar sebuah rak kecil dengan foto berbingkai kayu. Foto Sekar, yang kini akan selalu hadir dalam studinya, dalam karyanya, dalam hidupnya.
Kehidupan terus bergulir, luka perlahan sembuh meski bekasnya tak pernah sepenuhnya hilang. Tapi malam itu, di kamar lamanya dengan pohon flamboyan yang berbisik di luar jendela, Amira merasa damai. Ia telah menemukan kembali definisi rumah—bukan sekadar tempat berlindung, tapi tempat untuk pulang, untuk menghadapi, untuk membangun kembali dari puing-puing masa lalu.