bab 6

1973 Words
Kotak kayu berukir itu terbuka di pangkuannya. Amplop coklat muda dari Ratna Dewanti tergeletak di atas seprai, seolah memiliki beban tersendiri yang membuat kasur melesak di bawahnya. Lima tahun Amira menyimpannya. Lima tahun pula ia melarikan diri dari kebenaran yang mungkin terkandung di dalamnya. "_Janji... padaku. Kau... akan... baca... surat... itu._" Kata-kata ayahnya bergema dalam ingatannya, diucapkan dengan suara yang begitu lemah namun mengandung urgensi yang tak terbantahkan. Amira mengelus permukaan amplop itu, merasakan tekstur kertasnya yang mulai rapuh di tepian. Jarinya menyusuri tulisan tangan rapi di pojok kiri atas: Ratna Dewanti, Jalan Kaliurang, Yogyakarta. Nama yang telah mengubah hidupnya. Nama yang membuat ia meragukan seluruh fondasi kehidupannya. Dengan jari yang sedikit gemetar, Amira membuka segel amplop yang sudah melemah oleh waktu. Di dalamnya, beberapa lembar kertas yang dilipat rapi dan sebuah foto hitam putih yang sudah menguning. Ia mengeluarkan semuanya dengan hati-hati, seperti menjinakkan bom yang bisa meledak kapan saja. Foto itu diambil dulu, sangat lama—mungkin di awal tahun 90-an, terlihat dari gaya pakaian dan kualitas cetaknya. Menampilkan tiga orang: ayahnya yang masih muda dengan rambut lebat dan kacamata tebal, ibunya dengan sanggul tinggi dan senyum yang jarang Amira lihat belakangan ini, dan seorang wanita lain di antara mereka. Wanita dengan rambut panjang tergerai dan mata yang tajam namun hangat. Ratna. Ketiga orang dalam foto itu berdiri berdampingan, tersenyum lebar ke kamera, lengan saling merangkul bahu seperti sahabat lama. Tidak ada tanda-tanda permusuhan. Tidak ada tanda-tanda pengkhianatan. Hanya kebahagiaan tulus yang terpancar dari wajah masing-masing. Tenggorokan Amira tercekat. Ini tidak sesuai dengan narasi yang selama ini ia pegang—tentang w*************a yang menghancurkan rumah tangga orang lain, tentang ayah yang berselingkuh dan mengkhianati keluarganya. Dengan tangan gemetar, ia membuka lipatan surat. Tulisan tangan rapi memenuhi halaman, tinta biru yang sedikit memudar di beberapa bagian. _Untuk Amira yang saya kenal melalui cerita-cerita ayahmu,_ _Mungkin surat ini mengejutkanmu. Mungkin kau telah membuangnya tanpa membaca. Jika kau membacanya, terima kasih telah memberikan kesempatan pada kebenaran yang terlalu lama disembunyikan._ _Saya bukan penggoda suami orang seperti yang mungkin kau pikir. Saya bukan antagonis dalam kisah keluargamu. Hubungan saya dengan ayahmu—dan ibumu—jauh lebih rumit dari yang bisa dijelaskan dalam satu surat pendek. Tapi saya akan mencoba, karena kau berhak tahu._ _Saya, Prasetyo, dan Hapsari adalah sahabat sejak kuliah di Yogya. Tiga sekawan yang tak terpisahkan. Mimpi-mimpi kami sama—dunia sastra, buku, dan kata-kata. Kami hidup dalam puisi dan bernapas dalam prosa._ _Lalu, cinta tumbuh di antara lingkaran kami. Cinta yang tidak sederhana, tidak konvensional. Prasetyo mencintai Hapsari. Hapsari mencintai Prasetyo. Dan saya... saya mencintai keduanya, dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh norma masyarakat kita._ _Kami bertiga tahu dan memahaminya. Untuk beberapa waktu, dalam gelembung dunia kami sendiri di Yogya, semuanya baik-baik saja. Tapi dunia luar tidak akan mengerti. Keluarga tidak akan menerima. Masyarakat akan menghakimi._ _Maka dibuatlah keputusan. Prasetyo dan Hapsari akan menikah, seperti yang diharapkan semua orang. Saya akan menjadi "teman" yang selalu ada dalam kehidupan mereka. Rencana yang tampak sempurna, hingga saya mengetahui bahwa saya mengandung._ Amira berhenti membaca, napasnya tertahan di tenggorokan. Dadanya terasa seperti dihimpit beban berat. Ia mengangkat wajah, menatap keluar jendela tempat langit mulai menggelap. Matahari terbenam, membawa bersamanya kepastian-kepastian yang selama ini ia pegang teguh. Ia membasahi bibirnya yang kering, lalu kembali pada surat itu, membaca kata demi kata yang mengubah seluruh pemahaman tentang keluarganya. _Anak itu, Sekar, lahir enam bulan sebelum kau. Dalam dunia ideal, dia akan dibesarkan oleh kami bertiga. Tapi dunia kita tidak ideal. Orang tua Hapsari sangat konservatif dan berpengaruh. Mereka tidak boleh tahu. Jika mereka tahu, pernikahan Prasetyo dan Hapsari akan hancur, karir Prasetyo di fakultas akan tamat, dan masa depan kalian semua akan terancam._ _Maka dibuatlah keputusan lain. Saya akan membesarkan Sekar sendiri, jauh dari Bandung. Prasetyo akan mengirim uang tiap bulan dengan diam-diam. Hapsari—ibumu yang luar biasa—bahkan membantu saya mendapatkan pekerjaan di Yogya._ _Tahun-tahun berlalu. Sekar tumbuh mirip ayahnya—cerdas, sensitif, dengan mata yang sama yang kau warisi juga. Dia tahu siapa ayahnya. Dia mengerti situasinya—setidaknya versi yang pantas diketahui anak kecil. Bahwa ayahnya punya keluarga lain yang harus dilindungi. Bahwa situasi kami rumit namun penuh kasih sayang._ _Lalu Sekar sakit. Leukemia. Saat usianya sama denganmu—16 tahun._ Amira menahan napas. Enam belas tahun. Usia yang sama saat ia menemukan surat pertama dari Ratna, surat yang membeberkan keberadaan "anak lain" ayahnya. Surat yang membuatnya membenci ayahnya, meragukan seluruh masa kecilnya, dan akhirnya mendorongnya pergi dari rumah. _Sekar butuh donor sumsum tulang. Pihak rumah sakit mengatakan bahwa kemungkinan terbesar mendapatkan kecocokan adalah dari saudara kandung. Itulah mengapa saya mengirim surat pertama itu ke rumahmu—bukan untuk menghancurkan keluargamu, tapi untuk menyelamatkan putriku. Putri Prasetyo juga._ _Apa yang terjadi selanjutnya di luar dugaan saya. Kau menemukan surat itu sebelum ibumu. Kau menghadapi ayahmu dengan kemarahan yang bisa saya pahami. Kau merasa dikhianati, dibohongi. Dari yang dikatakan Prasetyo, kau pergi dari rumah, menolak bicara dengannya selama berbulan-bulan. Saat akhirnya ia memberanikan diri menjelaskan tentang Sekar yang sekarat, kau sudah terlanjur membangun tembok kebencian yang tak bisa ditembus._ _Dia tidak pernah bisa menjelaskan semuanya padamu. Tentang cinta kami bertiga yang rumit tapi tulus. Tentang pengorbanan ibumu yang luar biasa—yang tahu segalanya sejak awal dan memilih bertahan dengan kebesaran hati yang tidak semua orang miliki. Tentang Sekar yang tidak pernah menjadi rahasia di antara Prasetyo dan Hapsari, hanya rahasia dari dunia luar yang tak akan mengerti._ _Tapi sekarang kau harus tahu. Sekar meninggal dua bulan setelah kau pergi dari rumah. Tanpa donor yang dibutuhkannya. Tanpa kesempatan untuk bertemu saudara perempuannya._ Bulir air mata jatuh ke atas kertas, membuat tinta biru sedikit menyebar. Amira bahkan tidak menyadari kapan ia mulai menangis. Dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah yang tiba-tiba menyeruak seperti ombak besar, menghantam pertahanan yang selama ini ia bangun. _Saya tidak menyalahkanmu. Kau hanya seorang gadis 16 tahun yang dunianya tiba-tiba terbalik. Kau bereaksi seperti yang bisa diharapkan. Prasetyo dan Hapsari juga tidak menyalahkanmu. Mereka mengerti kemarahanmu._ _Saya menulis surat ini bukan untuk membuat lubang lebih dalam di hatimu. Tapi saat menghadiri pemakaman Sekar, melihat Prasetyo dan Hapsari berdiri di sana dengan wajah hancur, saya sadar bahwa mereka kehilangan dua putri sekaligus—Sekar oleh kematian, dan kau oleh kesalahpahaman._ _Saatnya kebenaran terungkap sepenuhnya. Bukan setengah-setengah seperti yang kau dengar lima tahun lalu._ _Saya harap suatu hari kau bisa memaafkan kami bertiga—ayahmu, ibumu, dan saya—yang mencoba melindungimu dengan cara yang ternyata salah. Kami pikir kebohongan putih adalah pilihan terbaik, sampai kami lupa bahwa kebohongan, sekecil apapun, tetaplah kebohongan._ _Prasetyo sangat menyayangimu. Hapsari adalah ibu yang luar biasa. Dan saya... saya selalu menganggapmu seperti putri saya juga, meski dari jauh, meski hanya melalui cerita-cerita dan foto-foto yang dibagikan ayahmu._ _Kau tidak perlu menghubungi saya jika tidak ingin. Saya hanya berharap surat ini bisa membantumu berdamai dengan keluargamu. Dengan dirimu sendiri._ _Dengan kasih, Ratna_ Surat itu berakhir. Amira duduk diam, sementara senja berganti malam di luar jendelanya. Seluruh tubuhnya terasa kaku, tapi batinnya bergolak oleh badai yang lebih dahsyat dari hujan tadi siang. Enam belas tahun lalu, ia berdiri di ruang kerja ayahnya, mengacungkan surat dari Ratna, berteriak dan menuntut penjelasan. Yang ia ingat hanya pengakuan terbata-bata ayahnya tentang "hubungan lain" dan "anak di luar nikah." Kalimat-kalimat terpotong yang ia tafsirkan sebagai pengkhianatan, perselingkuhan, kebohongan. Ia tidak pernah memberi ayahnya kesempatan untuk menjelaskan seluruhnya. Tidak pernah bertanya tentang sikap ibunya yang anehnya tenang menghadapi badai dalam rumah tangganya. Tidak pernah bertanya-tanya mengapa ibunya tidak tampak terkejut atau marah. Karena ibunya sudah tahu. Selalu tahu. Ketukan di pintu menyentaknya dari lamunan. "Mira?" suara Adara terdengar dari luar. "Makan malam sudah siap." "Sebentar," jawab Amira, suaranya serak. Dengan tangan gemetar, ia melipat kembali surat itu, memasukkannya ke dalam amplop bersama foto. Seluruh tubuhnya terasa berat saat ia beranjak dari tempat tidur, seperti menanggung beban dosa yang selama ini tidak disadarinya. Di cermin, pantulan wajahnya tampak asing. Mata sembab, pipi basah oleh air mata. Tapi ada sesuatu yang berbeda di sana—sebuah pemahaman baru yang mengubah seluruh ekspresinya. Amira keluar dari kamar dengan langkah gontai. Di tangga, ia berpapasan dengan ibunya yang baru turun dari kamar ayahnya. "Ibu," panggilnya pelan. "Apa Ibu selalu tahu tentang... Ratna?" Hapsari berhenti, menatap putrinya dengan mata yang tiba-tiba waspada. "Kau sudah membaca suratnya." Bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Amira mengangguk pelan. Ibunya menghela napas panjang. "Ya, Mira. Selalu tahu." "Kenapa Ibu tidak marah? Tidak merasa dikhianati?" tanya Amira, suaranya bergetar. "Bagaimana bisa merasa dikhianati oleh sesuatu yang sudah kita ketahui dan terima sejak awal?" Hapsari tersenyum tipis, senyum sedih yang sarat pengalaman hidup. "Hidup tidak selalu hitam dan putih, Mira. Kadang ada warna abu-abu yang hanya bisa dimengerti oleh orang yang mengalaminya." "Tapi Ibu menerima... semua itu? Bahwa Ayah punya... anak lain?" Ibunya menatapnya lembut. "Sekar bukan sekadar 'anak lain', Mira. Dia adalah bagian dari kisah kami bertiga yang rumit tapi tulus. Dunia luar mungkin akan menghakimi, tapi kami mengerti satu sama lain. Itu yang penting." Amira menggelengkan kepala, masih berusaha mencerna. "Tapi kenapa Ibu dan Ayah tidak pernah bercerita padaku sejak awal? Kenapa harus menyembunyikannya sampai aku mengetahuinya dengan cara seperti itu?" "Karena kami pikir kami melindungimu," jawab Hapsari, matanya berkaca-kaca. "Orangtuaku sangat konservatif. Mereka bisa memisahkan kita jika tahu. Kami takut kau terlalu muda untuk memahami. Lalu waktu berlalu, dan kebohongan itu semakin sulit diungkapkan." Ia mengusap pipi Amira dengan lembut. "Kami melakukan kesalahan, Mira. Kesalahan yang membuatmu pergi." Sesuatu dalam d**a Amira seperti runtuh. Selama lima tahun ia membangun benteng kebencian, menjaga jarak, menolak penjelasan. Sementara di balik semua itu, ada kisah cinta yang rumit namun tulus, pengorbanan yang tak bisa ia bayangkan, dan seorang saudara perempuan yang tak pernah ia kenal—yang mungkin bisa ia selamatkan jika saja ia tidak terlalu cepat menghakimi. "Sekar," bisik Amira, nama itu terasa asing di lidahnya. "Aku bahkan tidak tahu wajahnya." "Mirip denganmu," kata ibunya pelan. "Mata yang sama. Dagu yang sama. Tapi rambutnya lebih ikal, seperti Ratna." "Ibu pernah bertemu dengannya?" "Beberapa kali, saat kami berkunjung ke Yogya. Selalu diam-diam, tentu saja. Sekar gadis yang cerdas dan penyayang." Hapsari tersenyum, tapi matanya basah. "Dia sangat ingin bertemu denganmu. Selalu bertanya tentangmu." Tangga tempat mereka berdiri tiba-tiba terasa seperti jurang dalam tanpa dasar. Amira merasa kepalanya berputar oleh semua informasi baru yang menghancurkan narasi kebencian yang selama ini ia bangun. "Kenapa Ibu tidak mengejarku?" tanyanya, suara hampir berbisik. "Saat aku pergi, kenapa Ibu tidak memaksaku mendengarkan?" "Karena kau begitu marah, Mira. Begitu terluka. Kadang orang perlu waktu dan jarak untuk bisa mendengar." Hapsari meraih tangan putrinya, menggenggamnya erat. "Dan kami selalu percaya kau akan kembali saat hatimu siap. Seperti sekarang." Dari lantai bawah, suara Adara memanggil mereka untuk makan malam. Tapi Amira tidak bisa beranjak. Kakinya seolah terpaku di anak tangga, sementara dunianya berputar dan berubah bentuk. "Adara," bisiknya tiba-tiba. "Apa dia tahu tentang semua ini?" Ibunya mengangguk. "Kami bercerita padanya saat ia kuliah. Kami tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama." "Dan dia... menerima begitu saja?" "Tidak langsung. Dia marah, tentu. Bingung. Tapi tidak sepertimu, dia tinggal dan mendengarkan." Hapsari menatap Amira dengan tatapan penuh arti. "Dia mengerti bahwa dunia tidak sesederhana yang kita pikirkan saat muda." Air mata yang sedari tadi Amira tahan akhirnya tumpah. Ia terisak pelan, tubuhnya gemetar oleh kesadaran dan penyesalan yang datang terlambat. Lima tahun. Lima tahun ia membuang-buang waktu dengan kebencian, sementara di rumah ini, keluarganya menunggunya untuk memahami. Ibunya memeluknya erat, seperti yang tak pernah dilakukannya sejak Amira kecil. Di dalam pelukan itu, Amira merasakan semuanya—kasih sayang yang tak pernah pudar, kesabaran yang tak terbatas, dan pengertian tanpa syarat yang selama ini ia tolak. "Aku perlu bicara dengan Ayah," bisiknya di tengah isakan. "Dia menunggumu," jawab ibunya lembut. "Selalu menunggu." Di luar, bulan muncul dari balik awan, menerangi tangga dengan cahaya keperakan yang lembut. Seperti kebenaran yang akhirnya menyingsing setelah lima tahun kegelapan. Seperti pengampunan yang akhirnya datang, meski terlambat bagi sebagian orang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD