Amira berdiri di ambang pintu, jemarinya mencengkeram kusen dengan kuat seolah takut terhanyut jika melepaskannya.
Ayahnya terbaring dengan mata terbuka, menatap langit-langit. Wajahnya yang tirus dimandikan cahaya temaram lampu tidur, menciptakan lekuk dan bayangan yang membuatnya tampak lebih ringkih dari siang tadi. Namun ketika menyadari kehadiran Amira, matanya berubah hidup—seperti lilin yang tiba-tiba menyala dalam ruangan gelap.
"Mira," ucapnya, suaranya serak namun lebih jernih dari biasanya, seolah keinginan untuk berbicara dengan putrinya memberikan kekuatan pada pita suaranya yang lemah.
Amira melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan gerakan lambat yang sengaja diperpanjang—mengulur waktu, mencari keberanian. Surat Ratna masih terasa membakar dalam saku kemejanya, kata-kata yang tertulis di dalamnya terus bergema di kepalanya seperti mantra yang tak bisa diusir.
"Aku sudah membacanya," ucapnya akhirnya, suaranya nyaris berbisik.
Prasetyo mengangguk lemah, matanya tidak lepas dari wajah putrinya. "Duduklah."
Amira duduk di kursi samping ranjang, kursi yang sama yang diduduki Adara dan ibunya bergantian selama dua minggu ini. Kursi yang kini terasa seperti kursi pengakuan dosa—tempatnya menghadapi kebenaran yang telah ia hindari selama lima tahun.
"Kenapa Ayah tidak memaksaku mendengarkan?" tanyanya, pertanyaan yang sama yang ia ajukan pada ibunya di tangga tadi. "Lima tahun lalu, ketika aku menuduh Ayah... kenapa Ayah membiarkanku pergi begitu saja?"
Prasetyo memejamkan mata sejenak, seolah mengumpulkan kekuatan. "Karena... kau... mirip... denganku." Ia menarik napas dalam-dalam. "Keras... kepala. Perlu... waktu... sendiri."
Jawaban sederhana yang menusuk tepat ke jantung kebenaran. Amira menunduk, menatap tangannya yang kini bergetar di pangkuan. Benarkah ia begitu mirip dengan ayahnya? Pria yang selama lima tahun ini ia hindari, ia salahkan atas kehancuran yang ia rasakan?
"Sekar," nama itu meluncur dari bibirnya, terasa asing namun anehnya familiar. "Ceritakan tentang dia."
Wajah ayahnya berubah, campuran antara kerinduan dan kesedihan yang begitu dalam hingga Amira harus memalingkan muka. Prasetyo mengulurkan tangannya yang lemah, membuka laci nakas di sampingnya. Dengan jari gemetar, ia mengeluarkan selembar foto yang sudah lusuh di tepiannya.
"Ini... dia," ucapnya, menyerahkan foto itu pada Amira.
Gadis dalam foto itu mungkin berusia enam belas tahun—usia yang sama saat ia meninggal, usia yang sama saat Amira menemukan surat pertama dari Ratna. Rambutnya ikal panjang, tersenyum lebar ke arah kamera dengan mata yang familier—mata yang sama yang dimiliki Amira, mata ayahnya.
Amira merasakan dadanya sesak. Ini adalah saudarinya. Darah dagingnya. Seseorang yang tidak pernah ia kenal, namun kini mengirimkan rasa kehilangan yang aneh dan pahit.
"Dia... suka... melukis," kata Prasetyo perlahan. "Seperti... kau... dulu."
Tenggorokan Amira tercekat. Benar, ia dulu suka melukis sebelum memilih arsitektur. Lukisan-lukisannya masih tergantung di kamarnya, tersimpan rapi meski sudah bertahun-tahun tak tersentuh.
"Apa dia tahu tentangku?" tanyanya lirih.
"Selalu... bertanya." Prasetyo tersenyum tipis. "Selalu... ingin... bertemu."
Air mata menggenang di pelupuk mata Amira, jatuh tanpa bisa ditahan. Lima tahun ia memendam kemarahan, menolak memaafkan, membangun tembok pemisah yang tinggi. Sementara saudarinya di sana menanti pertemuan yang tak pernah terjadi, menunggu donor sumsum tulang yang mungkin bisa menyelamatkan hidupnya.
"Maafkan aku, Ayah," bisiknya, suaranya pecah oleh isakan. "Aku tidak tahu... aku tidak mau mendengar... aku—"
"Bukan... salahmu," potong Prasetyo, suaranya lemah namun tegas. "Kami... yang... salah. Menyembunyikan... terlalu... lama."
Dari luar jendela, angin malam berhembus lembut, menggoyang-goyangkan daun flamboyan yang bergesekan, menciptakan bisikan samar seperti orang-orang yang berbisik rahasia. Rahasia keluarga yang kini terbongkar, meninggalkan luka dan penyesalan yang terlambat.
"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang," aku Amira jujur. "Selama lima tahun aku hidup dengan kebencian yang salah sasaran. Aku membangun hidupku di Jakarta, karirku, semua didasari keinginan untuk lari dari sini." Ia menggelengkan kepala. "Dan sekarang setelah tahu kebenarannya... rasanya seperti berdiri di tanah yang runtuh."
Prasetyo menatapnya dengan kelembutan yang membuat Amira merasa seperti anak kecil lagi—anak kecil yang datang pada ayahnya dengan lutut berdarah, mencari penghiburan dan jawaban.
"Kadang... kita... harus... runtuh... dulu," kata ayahnya perlahan. "Untuk... membangun... kembali... lebih... kuat."
Metafora yang tepat dari seorang pengajar sastra. Dari seorang ayah yang tahu persis bagaimana menyentuh jiwa putrinya dengan kata-kata yang tepat.
"Ratna," Amira mengucapkan nama itu dengan hati-hati. "Apa dia... bagaimana kabarnya sekarang?"
"Masih... di... Yogya. Mengajar... sastra... juga."
"Apa dia masih... bagian dari keluarga kita?" tanya Amira ragu.
Prasetyo mengangguk lemah. "Selalu. Dia... keluarga... kita."
Konsep itu terasa asing bagi Amira—keluarga yang melampaui batas-batas konvensional, cinta yang tidak masuk dalam kotak-kotak yang disediakan masyarakat. Namun melihat mata ayahnya yang berkaca-kaca saat menyebut nama Ratna, ia mulai memahami bahwa cinta memang tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata atau aturan.
"Ibu mencintainya juga? Ratna?"
Ayahnya terdiam sejenak, matanya menerawang jauh. "Cinta... punya... banyak... wajah, Mira. Tidak... selalu... romantis. Kadang... persahabatan... yang... begitu... dalam... hingga... tak... terpisahkan."
Hujan mulai turun di luar, lembut mengetuk-ngetuk atap seperti jemari yang tidak sabar. Bandung dan hujannya—perpaduan yang selalu mengiringi kenangan masa kecil Amira. Aroma tanah basah merayap masuk melalui ventilasi, membawa bersamanya memori-memori yang lama terpendam.
"Aku harus kembali ke Jakarta besok," ucap Amira tiba-tiba, teringat telepon dari Dimas tadi siang. "Hanya dua hari. Ada klien yang harus kutemui."
Kekecewaan melintas singkat di wajah ayahnya, tapi segera berganti dengan pengertian. "Pergilah. Kerjamu... penting."
"Aku akan kembali," janji Amira, menggenggam tangan ayahnya. "Aku tidak akan menghilang lagi."
Prasetyo tersenyum, senyum yang mengingatkan Amira pada masa kecilnya—saat ayahnya duduk di tepi ranjang, membacakan puisi sebelum tidur, mata berbinar penuh keajaiban kata-kata.
"Aku... percaya... padamu," ucapnya, setiap kata adalah perjuangan. "Selalu... percaya."
Kepercayaan—sesuatu yang Amira rasa tidak pantas ia terima setelah semua yang terjadi. Namun di sinilah ayahnya, memberikannya dengan tulus tanpa syarat, seperti yang selalu dilakukannya sejak dulu.
"Doakan aku berhasil menyelesaikan proyek ini, Yah," bisik Amira, suaranya bergetar. "Ini kesempatan besar untuk karirku."
"Kau... pasti... bisa." Tiga kata yang sama yang diucapkan ayahnya tadi siang, tapi kini terasa berbeda. Kini terasa seperti berkat, seperti doa, seperti pegangan yang selama lima tahun ini ia rindukan tanpa sadar.
Mereka terdiam bersama, mendengarkan hujan yang semakin deras di luar. Prasetyo perlahan memejamkan mata, kelelahan yang tak terelakkan mulai menguasai tubuhnya yang masih lemah. Jemarinya tetap menggenggam tangan Amira, seolah takut putrinya akan menghilang jika ia melepaskan.
"Tidurlah, Yah," bisik Amira lembut. "Besok kita bicara lagi."
Namun ayahnya membuka mata sejenak, menatapnya dengan tatapan penuh makna. "Jangan... benci... dirimu... sendiri... terlalu... lama."
Kata-kata itu menghantam Amira seperti gelombang. Bagaimana ayahnya bisa tahu bahwa selama lima tahun ini, di balik kemarahan pada keluarganya, ada kebencian pada diri sendiri yang lebih dalam dan gelap? Kebencian karena telah meninggalkan, karena tidak mendengarkan, karena terlalu cepat menghakimi.
"Aku akan mencoba," bisiknya, mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
Prasetyo tersenyum lemah sebelum matanya kembali terpejam, kali ini dalam tidur yang damai. Napasnya menjadi teratur, dadanya naik turun perlahan di bawah selimut tipis.
Amira duduk di sana lama sekali, menatap wajah ayahnya yang tertidur, merasakan jemarinya yang kini terkulai lemah dalam genggamannya. Wajah yang dulu selalu tampak kuat dan tak terkalahkan kini terlihat begitu rapuh, begitu fana.
Di luar, hujan masih turun, mencuci bersih debu dan kotoran kota. Mencuci bersih prasangka dan kesalahpahaman lima tahun. Mencuci, namun tidak sepenuhnya menghapus.
Perlahan, ia mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi tiket kereta. Jakarta menunggu. Klien menunggu. Proyek yang menjadi penentu karirnya menunggu. Tapi hatinya kini telah terbagi, sebagian tertinggal di rumah ini, di samping ranjang ayahnya yang sakit.
Dari lantai bawah terdengar denting piring dan obrolan samar Adara dan ibunya. Kehidupan keluarga yang selama lima tahun coba ia lupakan kini memanggil-manggil, mengundangnya kembali ke dalam lingkaran yang dulu ia tinggalkan dengan marah.
Amira berdiri perlahan, mengecup kening ayahnya dengan lembut, lalu berjalan ke pintu. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, menoleh ke belakang. Dalam keremangan kamar, sosok ayahnya yang tertidur terlihat seperti lukisan dalam bingkai waktu—rapuh namun abadi, lemah namun kuat dalam caranya sendiri.
"Aku mencintaimu, Ayah," bisiknya pada keheningan, kata-kata yang selama lima tahun terpendam di dadanya, kata-kata yang selama lima tahun berharap diucapkan.
Lalu ia melangkah keluar, menutup pintu perlahan di belakangnya. Ada dunia baru yang menanti di depan—dunia yang sama, tapi kini dilihat dari mata yang telah terbuka oleh kebenaran. Dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih seperti yang dulu ia bayangkan.
Di tangga, ia berpapasan dengan Adara yang sedang naik membawa segelas air.
"Ayah sudah tidur?" tanya Adara, suaranya lebih lembut dari biasanya.
Amira mengangguk. "Baru saja."
Adara menatapnya sejenak, matanya menyiratkan pengertian yang tidak perlu diucapkan. "Kau sudah tahu semuanya."
"Ya," jawab Amira sederhana. "Aku minta maaf, Dara. Aku tidak tahu..."
"Sudahlah," potong Adara, mengibaskan tangannya. "Yang penting kau sudah di sini sekarang." Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan lembut, "Kau sudah pulang."
Pulang. Kata itu terdengar berbeda kini. Tidak lagi menakutkan. Tidak lagi menyakitkan.
"Aku harus ke Jakarta besok," ucap Amira. "Hanya dua hari. Ada klien yang harus kutemui."
Adara mengangguk, tidak tampak terkejut. "Kau akan kembali?"
"Tentu," jawab Amira tegas. "Aku sudah berjanji pada Ayah."
Adara tersenyum—senyum tulus pertama yang Amira lihat sejak ia tiba di rumah ini. "Bagus. Karena aku ada rapat penting hari Rabu. Aku butuh seseorang untuk menjaga Ayah."
Interaksi yang sederhana, percakapan biasa tentang pembagian tugas. Namun bagi Amira, ini adalah tanda penerimaan kembali. Tanda bahwa Adara percaya ia tidak akan melarikan diri lagi.
"Sekar," ucap Amira tiba-tiba. "Kau pernah bertemu dengannya?"
Adara terdiam, matanya menerawang sejenak. "Beberapa kali. Terakhir saat dia sudah sakit. Aku ke Yogya dengan Ibu." Ia menatap Amira dengan campuran kesedihan dan penyesalan. "Dia ingin sekali bertemu denganmu, tahu."
Perkataan itu menusuk Amira seperti belati, mengingatkannya kembali akan kesempatan yang telah hilang selamanya, pertemuan yang takkan pernah terjadi.
"Dia menyimpan semua fotomu," lanjut Adara pelan. "Di dinding kamarnya. Foto-foto yang dikirim Ayah. Kau saat wisuda SMA, saat lomba melukis, saat ulang tahunmu yang ke-16." Adara terdiam sejenak. "Dia menganggapmu pahlawan, entah kenapa. Selalu berkata bahwa suatu hari kakaknya yang pintar dan berbakat akan datang menemuinya."
Air mata kembali menggenang di pelupuk mata Amira. Gambaran seorang gadis yang tidak pernah ia temui, terbaring sakit, menatap foto-fotonya dengan harapan dan kekaguman, terasa seperti mimpi buruk yang tidak bisa ia bangunkan.
"Maafkan aku," bisiknya, lebih kepada Sekar yang tak pernah ia temui daripada kepada Adara.
Adara mengangkat bahu. "Kita tidak bisa mengubah masa lalu." Ia menepuk lembut bahu Amira. "Tapi kita masih punya masa depan. Ayah masih ada di sini. Ibu masih ada. Aku masih ada."
Dari luar terdengar guntur menggelegar, diikuti kilat yang menerangi tangga tempat mereka berdiri, menciptakan bayangan-bayangan tajam yang menari di dinding. Hujan semakin deras, memukul-mukul atap seperti ribuan jemari tak sabar.
"Sebaiknya kita turun," kata Adara. "Ibu menyimpan makan malam untukmu. Kau belum makan sejak siang."
Amira mengangguk, mengikuti adiknya menuruni tangga yang berderit pelan. Di bawah, lampu dapur masih menyala, menerangi sosok ibunya yang sedang membungkus sisa makanan.
"Mira sudah mau makan, Bu," ucap Adara, masuk ke dapur.
Hapsari berbalik, wajahnya melembut melihat Amira. "Duduklah. Masih hangat."
Amira duduk di kursi yang sama seperti tadi siang, menatap ibunya yang kini menghangatkan kembali semangkuk soto yang tersisa. Gerakan-gerakan efisien yang familiar, yang telah ia saksikan sejak kecil. Gerakan seorang ibu yang telah membesarkannya dengan kasih sayang yang tak pernah berubah, meski dunia di sekitar mereka terus berubah.
"Bu," panggil Amira pelan. "Aku harus ke Jakarta besok. Hanya dua hari."
Ibunya mengangguk tanpa menoleh, terus mengaduk soto di atas kompor. "Hati-hati di jalan. Bawa payung, cuaca tidak menentu."
Perhatian sederhana yang selama lima tahun ini tidak ia dapatkan. Perhatian yang dulu sering ia anggap menyebalkan, tapi kini terasa seperti selimut hangat di malam dingin.
"Aku akan kembali," tambah Amira, ingin memastikan ibunya tahu ini bukan perpisahan seperti dulu.
Hapsari akhirnya berbalik, menatap putrinya dengan senyum bijak. "Tentu saja kau akan kembali. Kau sudah dewasa sekarang."
Kalimat sederhana yang sarat makna. Dewasa berarti menghadapi, bukan melarikan diri. Dewasa berarti menerima, bukan menolak. Dewasa berarti memahami bahwa dunia tidak sesederhana hitam dan putih.
Soto disajikan di hadapannya, masih mengepul hangat. Amira menatap kuah bening kekuningan dengan potongan ayam dan tauge yang mengambang. Makanan rumah yang selama ini ia rindukan tanpa sadar. Ia menyendok perlahan, merasakan rempah-rempah yang familiar di lidahnya. Rasanya seperti kembali ke masa kecil, seperti menemukan kembali bagian dirinya yang hilang.