Bab 8

1990 Words
Saya akan melanjutkan bab novel ini dengan gaya yang diminta: bahasa Indonesia yang kaya, ekspresif dan natural, dengan ritme dinamis, variasi struktur kalimat, dan kata kerja yang kuat. Saya akan fokus pada kedalaman karakter, monolog interior, dan detail sensoris yang spesifik. Saya akan menghindari bahasa Inggris dan kata sifat berlebihan. Berdasarkan alur cerita sejauh ini, saya perlu menyambung dari Bab 7 dimana Amira memutuskan akan pergi ke Jakarta besok untuk menemui klien, tapi berjanji akan kembali ke Bandung. Dia baru saja mengungkap kebenaran tentang keluarganya, Ratna, dan Sekar (saudari tirinya yang sudah meninggal). Untuk Bab 8, saya akan menceritakan: 1. Perjalanan Amira ke Jakarta dan kontras antara kehidupannya di Jakarta dengan Bandung 2. Pertemuannya dengan klien dan kesulitan fokus karena pikirannya masih tertinggal di Bandung 3. Mungkin bertemu dengan rekan/teman di Jakarta yang menyadari perubahan dalam dirinya 4. Refleksi internal tentang identitasnya, kehidupannya yang selama ini dibangun di atas kebencian dan kesalahpahaman 5. Keputusan yang harus diambil terkait karirnya dan keluarganya Kereta melaju membelah kabut pagi yang masih menggantung di lembah-lembah Priangan. Amira menyandarkan dahi pada jendela, merasakan getaran halus logam yang bergesekan dengan rel. Di luar, hamparan hijau sawah berlarian mundur, sesekali diselingi atap-atap rumah dan puncak pohon kelapa yang menjulang. Langit pagi berwarna kelabu dengan semburat jingga di ufuk timur, mencipratkan warna hangat pada genangan air bekas hujan semalam. Perpisahan tadi pagi terasa berbeda. Ibunya membekali nasi uduk dan telur balado dalam rantang plastik berlapis koran. Adara mengantar sampai depan pagar, bahkan memeluknya singkat—pelukan canggung yang terasa seperti langkah pertama jembatan yang sedang dibangun kembali. Ayahnya sudah bangun saat Amira pamit, matanya berkaca-kaca mengusap rambut putrinya dengan tangan yang gemetar. "Jaga dirimu," pesan ibunya, merapikan kerah kemeja Amira seperti yang selalu dilakukannya dulu. "Telepon kalau sudah sampai." Kata-kata sederhana yang biasa, tapi terasa seperti pelukan hangat di pagi yang dingin. Kereta semakin mendekati Jakarta, pemandangan hijau perlahan berganti dengan warna-warna beton dan baja. Padatnya rumah-rumah tanpa jarak. Gedung-gedung pencakar langit yang menyembul di kejauhan. Langit yang semakin keruh oleh polusi. Seolah alam dan kesejukannya tertinggal jauh di belakang, seperti masa kecilnya di Bandung. Ponselnya bergetar. Pesan dari Dimas. "Sudah dalam perjalanan? Jangan lupa meeting dengan klien Menteng jam 2 siang. Persiapkan diri, mereka tidak sabar bertemu denganmu langsung." Amira menatap pesan itu tanpa segera membalas. Lima hari lalu, pesan seperti ini akan langsung membuatnya tegang, berdebar dengan antisipasi dan kecemasan akan tenggat waktu dan ekspektasi sempurna. Kini entah mengapa terasa jauh, seperti menyentuh duri melalui lapisan sarung tangan tebal. Kereta melambat memasuki Stasiun Gambir. Riuh rendah ibukota menyeruak masuk begitu pintu terbuka—denting pengumuman stasiun, seruan pedagang, derap langkah para penumpang yang tergesa, deru mesin kendaraan dari luar stasiun. Amira menyandang ranselnya, menggenggam erat pegangan koper kecilnya, lalu melangkah keluar ke arus manusia yang bergerak seperti air bah tanpa henti. Jakarta menyambut dengan tamparan panas dan kelembaban yang menyesakkan. Begitu berbeda dari sejuknya pagi Bandung yang baru ia tinggalkan beberapa jam lalu. Ia menyetop taksi, menyebutkan alamat apartemennya di Kuningan. Mobil melaju di antara kemacetan yang sudah mulai terbentuk meski hari masih pagi. "Dari Bandung, Bu?" tanya sopir taksi, mencoba membuka percakapan. "Iya," jawab Amira singkat. "Saya juga asli Bandung. Sudah lima belas tahun di Jakarta." Sopir itu melirik dari kaca spion. "Dulu sering pulang, sekarang setahun sekali paling pas Lebaran. Tapi kadang kangen juga sama Bandung. Udaranya masih bisa dihirup." Amira hanya tersenyum tipis, tidak melanjutkan percakapan. Pikirannya melayang pada tahun-tahun ia menghindari pulang bahkan saat Lebaran. Alasan pekerjaan, proyek yang tidak bisa ditinggalkan—semua hanya tameng untuk menutupi luka yang tak mau dihadapinya. Apartemennya menyambut dengan keheningan dan udara pengap. Amira membuka jendela, membiarkan angin Jakarta yang panas namun lebih baik dari udara yang terkurung berhari-hari. Debu tipis menyelimuti perabotan. Beberapa tanaman dalam pot kecil di ambang jendela telah mengering, mati kehausan selama ditinggal pemiliknya. Ia menatap ruangan itu—ruangan yang selama lima tahun menjadi tempat persembunyiannya, tempatnya membangun identitas baru sebagai Amira sang arsitek berbakat, bukan Amira si anak yang terluka. Tapi kini tempat itu terasa asing, seperti kamar hotel yang pernah ia singgahi namun tak benar-benar mengenalnya. Dengan gerakan mekanis, Amira mandi, berganti pakaian, dan menyiapkan berkas-berkas untuk pertemuan nanti. Laptop dibuka, file-file proyek Menteng diakses kembali. Matanya menyusuri gambar-gambar tiga dimensi rumah mewah dengan konsep tropis modern—garis-garis bersih, ruang terbuka yang menyatu dengan alam, permainan cahaya dan bayangan. Proyek yang selama ini menjadi obsesinya, yang membuatnya tidak tidur berhari-hari demi mencapai kesempurnaan. Namun kini matanya melihat menembus gambar-gambar itu, melihat sesuatu yang lebih dalam. Rumah. Apa makna rumah sesungguhnya? Bukan sekadar susunan batu bata dan beton. Bukan hanya permainan estetika dan fungsi. Rumah adalah orang-orang di dalamnya. Hubungan-hubungan yang dibangun di antara dindingnya. Kenangan-kenangan yang meresap ke dalam setiap sudutnya. Amira memejamkan mata, membiarkan benaknya mengembara ke rumah di Bandung. Rumah dengan tangga yang berderit, dengan pohon flamboyan di halaman belakang, dengan aroma masakan ibunya yang mengisi setiap sudut ruangan. Rumah tempat ayahnya kini terbaring sakit, menunggunya kembali. "Fokus, Mira," gumamnya pada diri sendiri, membuka mata dan memaksa konsentrasinya kembali pada layar. Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas. Masih ada tiga jam sebelum pertemuan dengan klien. Jemarinya bergerak di atas keyboard, menyempurnakan beberapa detail, menambahkan catatan untuk revisi yang diminta. Tapi pikirannya berkhianat, terus melayang pada percakapan semalam dengan ayahnya, pada surat Ratna, pada foto Sekar yang tak pernah ia temui. Ponselnya berdering. Nama Reza berkedip di layar. "Halo?" "Mira! Akhirnya kau kembali!" Suara Reza terdengar lega. "Dimas hampir gila menghadapi klien sendirian. Kau sudah siap untuk meeting nanti?" "Sedang menyiapkan presentasinya," jawab Amira, suaranya lebih tenang dari yang ia perkirakan. "Aku akan menjemputmu. Kita bisa makan siang dulu sebelum ke Menteng. Ada kafe baru di dekat kantormu, katanya bagus." "Boleh." "Oh, dan Mira..." Reza terdiam sejenak. "Maaf soal ayahmu. Bagaimana keadaannya sekarang?" Pertanyaan sederhana yang membuat tenggorokan Amira tercekat. "Masih sama. Tapi setidaknya stabil." "Syukurlah. Kau akan kembali ke Bandung setelah ini?" "Ya. Lusa paling lambat." Keheningan sejenak di seberang telepon. "Wow, itu... tidak seperti kau yang biasanya. Biasanya kau selalu menghindari pulang ke Bandung." Amira tersenyum tipis. "Banyak yang berubah, Rez." "Ceritakan nanti saat makan siang. Aku penasaran." Reza terkekeh. "Ngomong-ngomong, aku akan sampai di apartemenmu sekitar jam satu. Bersiaplah, Nyonya Arsitek!" Telepon ditutup. Amira menatap ponselnya beberapa saat, menggenggamnya erat. Jarinya bergerak membuka galeri foto, menelusuri folder-folder lama hingga menemukan satu foto yang hampir terlupakan—foto wisuda sarjananya enam tahun lalu. Satu-satunya acara keluarga yang ia izinkan mereka hadiri setelah "pengkhianatan" ayahnya terungkap. Ia berdiri di tengah, jubah hitam dan toga, diapit Adara dan kedua orangtuanya. Senyumnya kaku, matanya dingin. Sebuah formalitas tanpa kehangatan. Kini ia melihat foto itu dengan mata berbeda. Mata ibunya yang bangga namun sedih. Senyum ayahnya yang tulus meski terlihat lelah. Adara yang canggung tidak tahu harus bersikap bagaimana. Mereka semua berdiri dengan jarak yang nyaris kasat mata, seperti keluarga yang disatukan paksa oleh fotografer pernikahan. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Lima tahun terbuang percuma. Lima tahun yang tak bisa dikembalikan. Amira menutup galeri foto, kembali ke file proyek Menteng. Tangannya bergerak lebih cepat sekarang, menyelesaikan detail-detail terakhir dengan efisiensi yang datang dari pengalaman. Ia akan menyelesaikan proyek ini dengan baik, memastikan klien puas, lalu kembali ke Bandung secepat mungkin. Prioritas hidupnya telah bergeser, seperti bumi yang bergerak di bawah kaki tanpa disadari. Sebelum berangkat, ia menyempatkan diri menelepon ibunya, memberitahu bahwa ia sudah sampai dengan selamat. Obrolan singkat yang diakhiri dengan "Sampaikan salam untuk Ayah dan Adara" — kalimat sederhana yang tak pernah terucap dari bibirnya selama lima tahun. Tepat pukul satu, bel apartemen berbunyi. Reza berdiri di sana dengan senyum lebar yang familier dan dua cup kopi panas di tangan. "Kupikir kau butuh ini," ucapnya, menyodorkan salah satu cup. "Perjalanan kereta pasti melelahkan." Amira menerima kopi itu dengan senyum terima kasih. Mereka turun bersama ke lobi, menuju mobil Reza yang terparkir di depan. "Jadi," Reza memulai begitu mobil melaju menembus jalan-jalan Jakarta yang padat, "ceritakan padaku tentang Bandung. Lima hari di kampung halaman yang selalu kau hindari pasti punya cerita." Amira menatap ke luar jendela, ke gedung-gedung tinggi yang menjulang seperti sentinela bisu. Bagaimana ia bisa menjelaskan perubahan drastis dalam hidupnya hanya dalam beberapa hari? Bagaimana menjelaskan bahwa seluruh fondasi kehidupannya selama lima tahun terakhir ternyata dibangun di atas kesalahpahaman? "Aku bertemu keluargaku," ucapnya akhirnya, suaranya tenang. "Benar-benar bertemu, maksudku. Bukan hanya hadir secara fisik seperti yang kulakukan selama ini." Reza meliriknya sekilas, alisnya terangkat. "Itu... dalam?" "Memang dalam," Amira tersenyum tipis. "Tapi yang penting, aku menemukan beberapa jawaban yang selama ini kucari." "Dan itu mengubahmu?" "Ya." Amira mengangguk. "Sangat." Reza tidak bertanya lebih jauh, membiarkan keheningan nyaman mengisi perjalanan mereka menuju kafe. Itulah yang Amira selalu hargai dari pertemanan mereka—Reza tahu kapan harus bertanya dan kapan membiarkan. Kafe itu ramai dengan pekerja kantoran yang sedang makan siang. Musik jazz mengalun lembut, berpadu dengan dengung percakapan dan dentingan sendok garpu. Amira dan Reza duduk di sudut, memesan pasta dan salad. "Jadi, soal klien Menteng," Reza melanjutkan, kembali ke mode profesional. "Mereka masih bersikeras dengan konsep terbuka tapi privasi tetap terjaga. Kurasa itu agak kontradiktif, tapi kau tahu lah, klien selalu benar." Amira mengangguk, mengaduk pastanya tanpa nafsu. "Aku sudah revisi beberapa bagian. Menambahkan layering untuk area pribadi tapi tetap mempertahankan koneksi visual dengan taman." "Sempurna. Mereka pasti suka." Reza mengunyah saladnya. "Ngomong-ngomong, perkembangan lain selama kau pergi. Dimas menyebut-nyebut promosi untuk proyek berikutnya. Kalau Menteng ini berhasil, kau mungkin akan diberi project lead untuk kompleks apartemen di BSD." Dulu, berita seperti ini akan membuat Amira melompat kegirangan. Promosi. Proyek lebih besar. Pengakuan atas kerja kerasnya. Tapi kini ia hanya mengangguk, tersenyum sopan. "Itu bagus." Reza mengamatinya dengan tatapan penuh selidik. "Ok, siapa kau dan apa yang kau lakukan pada Amira yang kukenal? Biasanya kau akan langsung minta detail proyeknya, membayangkan konsep, bahkan menggambar sketsa di serbet." Amira tertawa kecil, tawa yang terasa asing di telinganya sendiri. "Mungkin aku memang berubah." "Karena ayahmu sakit?" "Bukan hanya itu." Amira menatap ke luar jendela, ke jalanan Jakarta yang berdebu dan dipenuhi kendaraan. "Aku hanya... melihat sesuatu dengan lebih jelas sekarang." "Dan itu adalah...?" Amira terdiam, mencari kata-kata yang tepat. "Bahwa kadang kita membangun hidup di atas fondasi yang salah. Bahwa kadang kita perlu menghancurkan semuanya untuk membangun kembali dengan benar." Reza menatapnya lama, mengerjapkan mata. "Wow. Itu filosofis sekali untuk makan siang di hari Senin." Mereka berdua tertawa, meredakan kedalaman momen itu. Pembicaraan beralih ke hal-hal lebih ringan—gosip kantor, proyek-proyek baru, film yang baru ditonton Reza. Tapi pikiran Amira tetap mengambang, seolah bagian terbesarnya masih tertinggal di rumah bergenting merah di Bandung. Jam di dinding kafe menunjukkan pukul setengah dua. Waktunya bersiap untuk pertemuan dengan klien. Mereka membayar makanan dan bergegas menuju Menteng, ke rumah calon klien yang akan direnovasi. Jalanan Jakarta terasa lebih macet dari biasanya, atau mungkin Amira yang tak lagi terbiasa setelah ketenangan Bandung. Klakson bersahutan seperti orkestra kacau, asap knalpot menebal di udara yang panas dan lembab. Amira menyandarkan kepalanya ke jendela, menatap pemandangan kota yang dulu membuatnya terpesona tapi kini terasa terlalu keras, terlalu cepat. "Kau masih di Bandung, ya?" tanya Reza, menyadari kejauhan dalam tatapan Amira. Amira menoleh, tersenyum tipis. "Terlihat begitu, ya?" "Sangat. Tapi tidak apa-apa. Fokus saja untuk pertemuan ini, lalu kau bisa kembali ke sana." Mobil akhirnya tiba di sebuah rumah besar bergaya kolonial di kawasan Menteng. Halaman luas dengan pohon-pohon rindang dan air mancur kecil di tengahnya. Tempat yang kontras dengan kepadatan Jakarta di luarnya, seperti oase kecil di tengah gurun beton. Amira menarik napas dalam, menegakkan bahunya, dan melangkah masuk dengan Reza di sampingnya. Di dalam, Dimas sudah menunggu dengan wajah lega melihat kedatangan mereka. "Akhirnya!" bisiknya, menjabat tangan Amira erat. "Klien sudah menunggu di ruang tengah. Mereka tidak sabar melihat revisimu." Amira mengangguk, menyiapkan mentalnya. Ini adalah Amira yang lain—Amira sang profesional, percaya diri, dan fokus. Amira yang membangun reputasi di Jakarta selama lima tahun. Ia melangkah memasuki ruang tengah dengan langkah tegap, senyum sempurna terlukis di wajahnya. "Selamat siang, Pak Mahendra, Bu Ratih. Senang bertemu langsung dengan Anda berdua."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD