Ruang tengah rumah keluarga Mahendra dipenuhi cahaya sore yang merembes melalui jendela-jendela tinggi bertirai tipis. Aroma kayu jati dan lilin aromaterapi lembut mengambang di udara yang sejuk oleh pendingin ruangan. Amira duduk tegak di sofa kulit berwarna krem, berhadapan dengan sepasang suami istri yang menatapnya penuh harap. Di depannya, layar laptop menampilkan rancangan rumah yang telah direvisinya berulang kali hingga nyaris sempurna.
"Konsep layering yang Anda usulkan menarik sekali, Mbak Amira," ujar Pak Mahendra, pria paruh baya dengan kacamata berbingkai tebal dan wajah tegas yang melunak ketika tersenyum. "Ini persis seperti yang kami bayangkan—terbuka tapi tetap menjaga privasi."
Amira mengangguk, jemarinya dengan terampil menggeser tampilan dari satu sudut ke sudut lainnya, menjelaskan bagaimana permainan dinding kaca dan panel kayu menciptakan lapisan-lapisan visual yang memungkinkan penghuni rumah melihat keluar, tapi orang luar tidak mudah melihat ke dalam.
"Prinsipnya sederhana," Amira menjelaskan, suaranya jernih dan profesional. "Rumah adalah tempat kita membuka diri sekaligus berlindung. Lapisan-lapisan ini memberi Anda kebebasan memilih—seberapa banyak yang ingin Anda bagikan, seberapa banyak yang ingin Anda simpan untuk diri sendiri."
Kata-kata itu meluncur dari bibirnya dengan lancar, namun terasa getir di lidahnya sendiri. Bukankah itu yang dilakukan keluarganya selama bertahun-tahun? Lapisan-lapisan rahasia, kebenaran yang tersembunyi di balik dinding-dinding kokoh, hanya terlihat oleh mereka yang berada di dalam lingkaran inti?
"Saya suka area transisi ini," Bu Ratih, wanita anggun dengan gelang perak yang berkelontang pelan setiap ia bergerak, menunjuk ke bagian antara ruang keluarga dan taman belakang. "Seperti berada di antara dua dunia, tidak sepenuhnya di dalam, tidak sepenuhnya di luar."
Dimas, yang duduk di samping Amira, mengangguk bersemangat. "Itulah keahlian Mbak Amira—menciptakan ruang-ruang peralihan yang terasa alami." Ia melirik Amira dengan tatapan bangga campur lega, tahu bahwa klien mereka mulai terpikat.
Amira tersenyum tipis, meneruskan presentasinya dengan keahlian yang telah terasah selama lima tahun membangun reputasi di Jakarta. Bibirnya berbicara tentang material lokal, tentang pencahayaan alami, tentang sirkulasi udara yang optimal. Tapi pikirannya mengembara ke rumah bergenting merah di Bandung, ke ayahnya yang terbaring lemah, ke surat Ratna Dewanti yang masih terasa membakar dalam ingatannya.
_Sekar. Namanya Sekar._
Nama itu terus bergema dalam benaknya, nama yang belum pernah ia ucapkan, nama yang kini membawa rasa kehilangan yang aneh untuk seseorang yang tak pernah ia temui.
"Mbak Amira?"
Suara Bu Ratih menyentaknya kembali ke ruang tengah keluarga Mahendra. Amira mengerjap, menyadari keheningan yang menggantung di udara, menunggu jawabannya.
"Maaf, bisa diulangi pertanyaannya?" Ia meminta, merasakan wajahnya memanas.
"Saya tanya, apakah ada alternatif untuk material lantai di area transisi ini? Ibu saya akan tinggal bersama kami, dan beliau sudah sepuh. Saya khawatir kalau terlalu licin."
Amira mengangguk, kembali ke mode profesional. "Tentu. Kita bisa menggunakan batu alam dengan tekstur lebih kasar atau kayu komposit dengan finishing anti-slip."
Percakapan mengalir kembali, diskusi tentang material, warna, dan detail-detail teknis yang dulu selalu memikat seluruh perhatiannya. Tapi kini, setiap kata terasa seperti gaung dari kejauhan, seolah bagian terbesar dirinya telah tertinggal di rumah lama dengan tangga kayu yang berderit dan pohon flamboyan di halaman belakang.
"Jadi, kapan kita bisa mulai pembangunannya?" tanya Pak Mahendra, matanya berbinar dengan antusiasme seorang anak yang tak sabar membuka hadiah.
Dimas menjawab cepat, "Segera setelah desain final disetujui. Mungkin dua minggu dari sekarang?"
Dua minggu. Amira merasakan keringat dingin merembes di punggungnya. Dua minggu berarti ia harus bolak-balik Bandung-Jakarta, atau lebih buruk lagi, tinggal di Jakarta sementara ayahnya masih terbaring sakit.
"Mbak Amira akan mengawasi langsung, tentu saja," lanjut Dimas penuh keyakinan.
Amira menelan ludah, terjebak antara komitmen profesional dan kebutuhan personal. "Sebenarnya..." ia memulai ragu, merasakan tatapan terkejut Dimas dan Reza. "Saya sedang dalam situasi keluarga yang mengharuskan saya berada di Bandung beberapa waktu. Ayah saya sakit."
Keheningan menyusul pengakuan itu. Pak Mahendra dan Bu Ratih saling berpandangan, sementara Dimas terlihat seperti baru saja tersambar petir di siang bolong.
"Tapi tentu saja," Amira cepat menambahkan, "saya akan memastikan proyek ini berjalan sempurna. Reza sangat kompeten dan dapat mewakili saya di lapangan ketika saya tidak bisa hadir langsung."
Reza, yang sejak tadi lebih banyak diam, tersenyum tipis. "Saya sudah bekerja dengan Mbak Amira selama empat tahun. Saya mengenal baik visi desainnya."
Bu Ratih mengangguk penuh pengertian. "Keluarga memang penting, Mbak. Saya mengerti itu. Asalkan kualitas tidak berubah, kami percaya pada tim Anda."
Pertemuan berlanjut dengan diskusi detail, penentuan jadwal, dan penyesuaian terakhir. Ketika akhirnya selesai, Amira merasakan campuran lega dan bersalah yang aneh. Ia berdiri di teras rumah keluarga Mahendra, menatap taman depan yang tertata rapi dengan bunga-bunga tropis berwarna cerah. Rumah yang akan mereka bangun akan secantik ini, mungkin lebih cantik lagi. Tapi akankah itu benar-benar menjadi "rumah"? Atau hanya sekadar bangunan indah tanpa kehangatan ikatan keluarga di dalamnya?
"Jadi," suara Dimas memecah lamunannya. Mereka berjalan menuju mobil yang terparkir di luar pagar. "Kau sungguh-sungguh akan bolak-balik Bandung-Jakarta untuk proyek ini?"
Amira mengangguk, merasakan angin Jakarta yang panas dan pengap membelai wajahnya. Betapa berbeda dengan angin Bandung yang sejuk. "Aku harus ada untuk ayahku, Mas. Waktu kami tidak tak terbatas."
Dimas menghela napas panjang, menggaruk bagian belakang kepalanya dengan gestur bingung. "Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya, Mira. Lima tahun aku mengenalmu, kau selalu menempatkan pekerjaan di atas segalanya."
Amira tersenyum tipis, mengingat dirinya yang lama—Amira yang melarikan diri dari masa lalu, yang membangun tembok tinggi antara dirinya dan keluarganya, yang menenggelamkan diri dalam pekerjaan untuk melupakan luka.
"Orang berubah," katanya singkat.
"Dalam seminggu?" Dimas mengangkat alis, tak percaya.
"Kadang kita butuh waktu bertahun-tahun untuk berubah," Amira menatap jauh ke deretan gedung pencakar langit yang menjulang di kejauhan. "Kadang hanya perlu satu momen."
Mereka tiba di mobil. Reza sudah menunggu di kursi pengemudi, jendela terbuka, AC menyala penuh untuk mengusir hawa panas Jakarta. "Bagaimana?" tanyanya saat Amira dan Dimas masuk.
"Klien puas," jawab Dimas, masih tampak bingung dengan perubahan prioritas Amira. "Tapi kita punya... penyesuaian jadwal. Mira akan bolak-balik Bandung-Jakarta."
Reza mengangguk, seolah sudah menduga. Ia menjalankan mobil, memasuki arus lalu lintas Jakarta yang padat dan perlahan-lahan bergerak. "Jadi, kau akan kembali ke Bandung besok?"
"Ya," Amira menjawab, menatap keluar jendela ke bangunan-bangunan beton dan kaca yang berjajar di sepanjang jalan. Betapa ia dulu mengagumi struktur-struktur modern ini, menganggapnya sebagai simbol kemajuan dan keindahan. Kini entah mengapa terlihat dingin dan tanpa jiwa.
"Menurutmu," ia bertanya tiba-tiba, "apa yang membuat sebuah bangunan menjadi rumah?"
Pertanyaan itu mengambang di udara, membuat Dimas dan Reza saling berpandangan bingung.
"Penghuninya, tentu saja," jawab Reza akhirnya, matanya tetap fokus ke jalan. "Rumah terindah pun hanya kotak kosong tanpa orang-orang yang tinggal di dalamnya."
Amira mengangguk perlahan. Selama ini ia telah merancang rumah-rumah untuk orang lain—ruang-ruang yang fungsional, estetis, dan nyaman. Tapi ia sendiri telah menolak untuk benar-benar "tinggal" di rumahnya sendiri, rumah masa kecilnya, rumah yang menyimpan bukan hanya kenangan buruk, tapi juga kasih sayang yang tulus.
Langit Jakarta mulai memerah di ufuk barat, matahari terbenam di balik bayangan gedung-gedung tinggi. Hari telah berlalu dengan keberhasilan profesional—klienpuas, proyek berjalan, promosi mungkin menanti di depan mata. Dulu, ini semua akan terasa seperti kemenangan besar. Kini terasa hambar dibandingkan rekonsiliasi kecil yang terjadi di kamar ayahnya semalam.
Ketika mobil berhenti di depan apartemennya, Amira mengucapkan terima kasih dan pamit. Dimas masih tampak bingung dengan perubahan sikapnya, tapi Reza sepertinya mulai memahami.
"Jaga dirimu di Bandung," pesannya saat Amira keluar dari mobil. "Dan sampaikan salam untuk keluargamu."
Amira mengangguk, menutup pintu mobil perlahan. Ia menatap gedung apartemen yang menjulang di hadapannya—tempat yang selama lima tahun ini ia sebut sebagai "rumah". Dinding-dinding putih yang dingin, perabotan minimalis yang dipilih dengan hati-hati, ruang-ruang yang dirancang untuk kenyamanan tapi entah mengapa selalu terasa seperti hotel—tempat singgah, bukan tempat tinggal.
Ia masuk ke lobi, menaiki lift ke lantai 12, dan membuka pintu apartemennya. Keheningan menyambutnya, begitu kontras dengan rumah di Bandung yang selalu memiliki suara—langkah kaki Adara di tangga, denting peralatan masak ibunya di dapur, bahkan keheningan kamar ayahnya terasa hidup dengan napasnya yang teratur.
Amira meletakkan tasnya di sofa, lalu berjalan ke jendela besar yang menghadap ke panorama Jakarta di malam hari. Lampu-lampu gedung berkilauan seperti bintang-bintang buatan, kendaraan bergerak seperti semut di jalan-jalan yang tak pernah sepi. Indah, tapi dingin. Megah, tapi tanpa kehangatan.
Tangannya merogoh saku, mengeluarkan ponsel dan mendial nomor yang baru saja ia simpan kembali dalam kontaknya setelah lima tahun dihapus.
"Halo?" suara ibunya menjawab setelah deringan ketiga.
"Bu," Amira berbisik, merasakan kerinduan tiba-tiba yang menusuk dadanya. "Ini Mira."
"Mira," suara ibunya melembut. "Bagaimana pertemuannya?"
"Lancar, Bu. Klien menyukai desainku." Ia terdiam sejenak. "Bagaimana Ayah?"
"Sudah tidur. Tadi sore sempat membaca puisi sedikit. Dokter bilang itu pertanda baik, otaknya mulai aktif kembali." Ada harapan dalam suara ibunya, harapan yang rapuh namun nyata.
"Puisi apa yang Ayah baca?"
"Chairil Anwar. 'Aku'. Kau ingat? Dulu Ayah sering membacakannya untukmu sebelum tidur."
Tentu saja Amira ingat. Bagaimana mungkin ia lupa? Ayahnya berdiri di ambang pintu kamarnya, buku puisi kumal di tangan, suaranya yang dalam mengalunkan kata-kata yang tak sepenuhnya ia pahami waktu kecil: _Kalau sampai waktuku, 'ku mau tak seorang 'kan merayu, tidak juga kau..._
"Besok aku pulang, Bu," kata Amira tiba-tiba, kata "pulang" terasa hangat di lidahnya.
"Kapan?"
"Kereta pagi. Akan sampai siang hari."
Ada keheningan sejenak di seberang telepon, lalu suara ibunya yang lembut: "Kami menunggumu, Mira."
Setelah menutup telepon, Amira berdiri lama di depan jendela, menatap kota Jakarta yang tak pernah tidur. Dulu ia menganggap kehidupan seperti ini—karir yang menanjak, apartemen di gedung tinggi, proyek-proyek prestisius—sebagai definisi kesuksesan. Kini ia tak lagi yakin.
Apa gunanya merancang rumah-rumah untuk orang lain jika ia sendiri takut menghadapi rumahnya sendiri?
Amira berbalik dari jendela, memandang ruang apartemennya yang terasa asing. Matanya tertumbuk pada satu-satunya foto keluarga yang ia izinkan hadir di ruangan ini—foto wisuda sarjananya. Ia mengambil bingkai itu, menatap wajah-wajah dalam foto tersebut dengan pandangan baru.
Ayahnya yang tersenyum bangga meski matanya menyimpan kesedihan. Ibunya yang berdiri tegak seperti pilar kokoh yang tak tergoyahkan. Adara yang canggung namun setia. Dan dirinya sendiri—Amira yang keras kepala, yang terluka, yang melarikan diri.
Malam itu, di tengah gemerlap Jakarta yang tak hentinya bergerak, Amira mulai mengepak barang-barangnya. Tidak banyak yang ia butuhkan untuk kembali ke Bandung kali ini. Hanya laptop untuk bekerja jarak jauh, beberapa pakaian, dan keberanian untuk menghadapi apa yang telah lama ia hindari—kebenaran tentang keluarganya, tentang Sekar, dan tentang dirinya sendiri.
Di luar, bulan separuh mengintip malu-malu di antara gedung-gedung tinggi, cahayanya lemah dibandingkan kerlip lampu kota. Tapi Amira tahu, bulan yang sama juga bersinar di atas rumah bergenting merah di Bandung, di atas kamar tempat ayahnya tertidur, di atas makam Sekar di Yogyakarta yang belum pernah ia kunjungi.
Satu langit menaungi mereka semua, mengikat cerita-cerita mereka yang terpisah namun tak pernah benar-benar terputus.