Bab 10

1992 Words
Fajar menyusup malu-malu dari celah tirai, menyiram lantai apartemen dengan cahaya keemasan yang tipis. Amira terjaga sejak subuh, duduk di tepi ranjang dengan secangkir teh yang menguarkan kepulan uap hangat. Matanya menerawang ke arah koper yang telah siap di sudut ruangan—tidak besar, hanya berisi seperlunya, seperti tekadnya yang kini lebih jelas namun tak perlu gemerlap. Amira menyesap tehnya perlahan. Rasa hangat menjalar di tenggorokan, turun ke d**a, mencairkan kebekuan yang terasa seperti telah menggumpal selama lima tahun terakhir. Fragmen percakapan semalam dengan ibunya masih menggema dalam benaknya. Ayahnya membaca puisi lagi. Chairil Anwar. Puisi yang sama yang selalu dibacakan untuknya saat kecil. _Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang..._ Bukankah itu dirinya selama lima tahun ini? Binatang jalang yang memilih terbuang dari kumpulannya sendiri? Sinar matahari semakin terang, membentuk pola-pola cahaya di lantai kayu apartemen. Amira bangkit, meregangkan tubuh yang terasa kaku. Ia mendekat ke jendela, membuka tirai sepenuhnya. Jakarta terbentang di depannya—lautan beton dan kaca yang berkilauan tertimpa matahari pagi. Begitu berbeda dengan Bandung dan perbukitannya yang biru di kejauhan. Ponselnya berdering. Nama Adara muncul di layar. "Halo?" Amira mengangkat telepon, sedikit terkejut menerima panggilan dari adiknya sepagi ini. "Mira." Suara Adara terdengar serak dan napasnya tak beraturan. "Ayah... Ayah mimisan sejak subuh. Dokter sedang memeriksanya." Jantung Amira seolah berhenti berdetak. Cangkir teh di tangannya nyaris terjatuh, isinya tumpah sedikit ke lantai. "Seberapa parah?" tanyanya, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski tangannya gemetar. "Tidak tahu. Dokter masih di kamar Ayah." Adara terdiam sejenak. "Ibu bilang sebaiknya kau segera pulang." "Aku sudah pesan tiket kereta jam sembilan." Amira melirik jam dinding. Masih tiga jam lagi. Terlalu lama. "Aku akan cari kereta yang lebih awal, atau taksi jika perlu." "Kabari kalau sudah berangkat." Sambungan terputus. Amira berdiri diam beberapa detik, kepalanya terasa berputar. Mimisan. Pada pasien stroke, itu bisa jadi pertanda berbagai komplikasi. Seluruh tubuhnya seolah diselimuti es—dingin, kaku, dan terasa rapuh. Dengan gerakan tergesa, ia meraih ponsel kembali, mencari aplikasi transportasi. Kereta paling pagi sudah penuh. Taksi antarkota terlalu mahal dan belum tentu lebih cepat mengingat kemacetan pagi hari. Bis? Terlalu lama. Travel? Ada yang berangkat setengah jam lagi dari pool dekat apartemennya. Tanpa pikir panjang, Amira memesan kursi. Ia menyambar kopernya, meraih tas ransel berisi laptop dan dokumen penting, lalu bergegas keluar. Apartemennya ia tinggalkan begitu saja—lampu masih menyala, jendela masih terbuka, secangkir teh yang tak habis masih mengepul di meja. Lobi apartemen masih sepi. Satpam mengantuk mengangguk sopan saat Amira tergesa menuju pintu depan. Di luar, udara pagi Jakarta menyambut—lengket oleh polusi dan embun yang belum sepenuhnya menguap. Taksi daring yang dipesannya tiba lima menit kemudian. Sepanjang perjalanan ke pool travel, Amira duduk tegang di kursi belakang, jemarinya tak berhenti mengetuk-ngetuk pegangan koper. Berbagai skenario buruk berputar dalam benaknya seperti film horor yang tak bisa dihentikan. Bagaimana jika ia terlambat? Bagaimana jika ayahnya pergi sebelum ia sempat mengatakan semua yang perlu dikatakan? Sebelum ia sempat meminta maaf dengan benar? Sebelum ia sempat memeluknya sekali lagi? Lima tahun ia membuang waktu dengan kemarahan dan penolakan. Lima tahun yang tak akan pernah kembali. Sopir taksi meliriknya dari kaca spion. "Mbak mau ke Bandung pagi-pagi begini?" Amira mengangguk singkat, tidak ingin terlibat percakapan. "Ada urusan mendesak ya? Jarang ada yang berangkat sepagi ini." _Ayahku sekarat_, hampir saja kata-kata itu meluncur dari bibirnya. Tapi ia hanya mengangguk lagi, lalu mengalihkan pandangan ke jendela, menatap gedung-gedung yang mulai bermandikan cahaya matahari pagi. Pool travel masih lengang saat ia tiba. Hanya ada beberapa penumpang yang sudah menunggu—seorang ibu dengan anak kecil yang tertidur di pangkuannya, sepasang lansia dengan tas belanja besar, dan seorang pria muda dengan ransel besar yang tampak seperti mahasiswa pulang kampung. Amira mendaftarkan diri di loket, membayar tiket, lalu duduk di salah satu kursi tunggu. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan ponsel, bermaksud menghubungi Adara untuk memberi kabar. Namun urung dilakukan saat melihat satu pesan masuk dari nomor tak dikenal. _Ini Ratna. Ibumu memberi nomor kontakmu. Kudengar kau sudah tahu semuanya. Apa kita bisa bertemu suatu saat?_ Amira menatap pesan itu lama, jantungnya berdegup kencang. Ratna. Wanita yang selama lima tahun ia benci tanpa pernah bertemu. Wanita yang ia anggap perusak keluarganya, yang kini ia tahu adalah bagian dari kisah yang jauh lebih rumit dan mendalam dari yang pernah ia bayangkan. Ibu dari Sekar. Jemarinya bergetar saat mengetik balasan. _Ya. Aku juga ingin bertemu. Tapi sekarang aku harus pulang ke Bandung. Ayahku sakit._ Ia mengirim pesan itu, lalu menghela napas panjang. Satu jembatan lagi yang mulai ia bangun, satu koneksi lagi yang mungkin akan melengkapi puzzle kehidupannya yang selama ini terasa tak lengkap. Tepat pukul tujuh pagi, sebuah mobil travel berwarna silver berhenti di depan pool. Amira dan beberapa penumpang lain bergegas naik. Ia mendapat kursi di deretan tengah, di samping jendela. Posisi yang biasanya ia sukai untuk menikmati pemandangan, tapi kini hanya memberinya refleksi wajahnya sendiri yang pucat dan tegang. Mobil mulai bergerak, menerobos lalu lintas Jakarta yang mulai padat. Jalanan macet di beberapa titik, membuat Amira menggigiti kuku—kebiasaan lama yang muncul saat ia cemas, kebiasaan yang sudah lama ia tinggalkan seiring pertumbuhan karirnya yang menuntut kesempurnaan. Setelah hampir dua jam berkelok-kelok di antara kemacetan, akhirnya mobil travel meninggalkan Jakarta, memasuki tol menuju Bandung. Pemandangan perlahan berubah—gedung-gedung tinggi digantikan pepohonan, udara keruh kota berangsur menjadi lebih jernih. Amira merasakan sebagian ketegangan dalam tubuhnya sedikit mengendur, seperti tanaman layu yang mendapatkan percikan air pertama setelah kemarau panjang. Ponselnya bergetar. Pesan dari Adara. _Dokter sudah pulang. Tekanan darah Ayah mendadak tinggi semalam, menyebabkan pembuluh darah di hidung pecah. Sudah distabilkan dengan obat. Sekarang tidur._ Amira memejamkan mata, menghembuskan napas lega yang terasa seperti telah ditahannya selama berjam-jam. Ayahnya masih ada. Masih ada waktu. _Aku dalam perjalanan. Sampai kira-kira dua jam lagi._ Ketika mobil travel melewati Cimahi, hujan rintik-rintik mulai turun. Titik-titik air mengetuk kaca jendela seperti jemari tak sabar yang mengingatkan. Langit kelabu menggantung rendah, memeluk perbukitan Bandung dengan kelembutan yang kontras dengan kegusaran dalam d**a Amira. Ia mengeluarkan sesuatu dari ranselnya—amplop coklat berisi surat Ratna. Dibacanya kembali surat itu, kata demi kata, seolah mencari petunjuk yang mungkin terlewat pada pembacaan pertama. Matanya terpaku pada satu kalimat: _"Sekar meninggal dua bulan setelah kau pergi dari rumah. Tanpa donor yang dibutuhkannya. Tanpa kesempatan untuk bertemu saudara perempuannya."_ Air mata merebak di pelupuk matanya. Ia membayangkan seorang gadis, sangat mirip dirinya namun dengan rambut ikal, terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Menunggu donor yang tak pernah datang. Menunggu pertemuan yang tak pernah terjadi. Apakah Sekar membencinya? Apakah di saat-saat terakhirnya, gadis itu menyimpan dendam pada saudara yang tak pernah berusaha menemuinya? "Maaf," bisik Amira pada kaca jendela yang berembun, pada hujan yang semakin deras, pada sosok yang tak pernah ia kenal namun kini terasa begitu dekat. "Maafkan aku, Sekar." Ponselnya bergetar lagi. Kali ini nomor Ratna. _Kuharap ayahmu lekas membaik. Doaku menyertaimu. Dan Amira... Sekar tak pernah membencimu. Sampai akhir, dia selalu percaya suatu hari kalian akan bertemu._ Perkataan itu menghantam Amira seperti gelombang pasang, menyapu bersih benteng pertahanan terakhirnya. Air mata mengalir deras, ia terisak pelan, menutupi wajah dengan telapak tangan. Penumpang di sebelahnya—ibu dengan anak kecil yang tertidur—melirik khawatir tapi tak berani bertanya. Hujan semakin lebat saat travel memasuki kawasan Lembang. Ketika akhirnya mobil travel tiba di Bandung, hujan telah mereda menjadi gerimis lembut. Amira turun di pool dekat Dago, langsung memesan taksi untuk menuju rumahnya. Semuanya terasa seperti déjà vu—hujan, taksi, jalan-jalan Bandung yang berkilau basah, hanya saja kali ini ada urgensi yang menusuk-nusuk punggungnya seperti ribuan jarum tak kasat mata. Taksi berbelok memasuki kompleks perumahan, melambat di jalan kecil yang diapit pepohonan rindang. Amira merasakan jantungnya berdebar semakin kencang seiring semakin dekatnya jarak ke rumah. Bagaimana kondisi ayahnya sekarang? Apa yang akan dikatakannya nanti? Apakah masih ada waktu untuk segala penyesalan dan permintaan maaf? Dari kejauhan, atap merah rumah keluarganya muncul di antara pepohonan. Sebuah ambulans terparkir di depan pagar, pintunya terbuka. Amira merasa dunianya runtuh. "Berhenti! BERHENTI!" teriaknya pada sopir taksi yang langsung menginjak rem. Tanpa menunggu taksi benar-benar berhenti, Amira membuka pintu, menyambar tasnya, melemparkan beberapa lembar uang ke kursi depan, lalu berlari ke arah rumahnya. Kopernya tertinggal di taksi, tapi ia tak peduli. Kakinya berlari secepat yang pernah ia lakukan, napasnya memburu, pandangannya mengabur oleh air mata dan hujan yang membasahi wajahnya. Beberapa petugas medis berseragam putih berdiri di teras rumah. Pintu depan terbuka. Amira menerobos masuk, menabrak seorang perawat yang berdiri di ambang pintu. "Ayah!" panggilnya, suaranya pecah oleh isak tertahan. "AYAH!" Adara muncul dari tangga, wajahnya pucat tapi tidak menunjukkan tanda-tanda berduka. Matanya melebar saat melihat Amira berdiri di ruang tamu dengan napas terengah dan wajah basah oleh air mata. "Mira? Kau sudah sampai?" "Ayah..." Amira tak mampu melanjutkan kata-katanya, tubuhnya gemetar hebat. "Ayah baik-baik saja," Adara menuruni tangga, menghampiri kakaknya. "Dokter hanya melakukan pemeriksaan rutin. Ambulans itu datang karena Ayah butuh CT-Scan, tapi setelah diperiksa, dokter merasa kondisinya belum cukup stabil untuk dibawa ke rumah sakit. Jadi mereka melakukan pemeriksaan di rumah saja." Amira merosot ke lantai, lututnya lemas seperti agar-agar. Campuran lega dan kelelahan membuat seluruh tubuhnya terasa seperti kapas. "Aku pikir... aku pikir..." "Kau pikir yang terburuk," Adara menyelesaikan kalimatnya, berlutut di samping Amira. "Maaf tidak mengabarimu tentang ambulans. Kami tidak sempat karena dokternya buru-buru." Ibunya muncul dari arah dapur, mengikuti suara ribut-ribut. Wajahnya tampak lelah namun terkejut melihat Amira yang basah kuyup terduduk di lantai. "Mira? Kau sudah sampai? Ya Tuhan, kau basah semua." Amira menatap ibunya, air mata masih mengalir di pipinya. "Aku takut terlambat, Bu," bisiknya. "Aku takut Ayah..." Hapsari menghampiri putrinya, membantunya berdiri. "Ayahmu masih di sini. Dia menunggumu." Suaranya tegas namun lembut, seperti yang selalu Amira ingat dari masa kecilnya. "Ganti bajumu dulu. Kau akan masuk angin." Amira mengangguk, membiarkan dirinya dituntun ke tangga. Kakinya masih terasa lemas, tapi ada kelegaan yang membuat langkahnya terasa lebih ringan. Ayahnya masih ada. Masih ada waktu. Ketika akhirnya ia masuk ke kamar ayahnya—setelah berganti pakaian dan menenangkan diri—Prasetyo sedang tidur. Wajahnya tampak lebih pucat dari yang Amira ingat dua hari lalu, bibirnya sedikit kebiruan, tapi dadanya naik turun dalam ritme yang teratur. Hidup. Masih hidup. Amira duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan ayahnya yang terasa dingin. "Mira..." suara lemah ayahnya mengejutkannya. Mata lelaki itu terbuka perlahan, pupilnya melebar saat mengenali putrinya. "Kau... sudah... pulang." Amira mengangguk, tak mampu berkata-kata. Tenggorokannya tercekat oleh emosi yang membuncah—lega, sedih, takut, bahagia, semua bercampur menjadi satu. "Aku... membaca... puisi... tadi," ucap Prasetyo dengan susah payah, jemarinya yang lemah meremas tangan Amira. "Untuk... Sekar." Nama itu membuat air mata Amira kembali mengalir. "Sekar suka puisi juga, Yah?" Prasetyo tersenyum lemah, matanya berkaca-kaca. "Sangat. Dia... menulis... juga. Seperti... kau... dulu." Amira teringat buku-buku hariannya yang penuh puisi amatir, tersimpan entah di mana di kamarnya yang lama. Tulisan-tulisan remaja yang penuh perasaan dan metafora berlebihan, yang dulu ia anggap memalukan tapi kini terasa seperti bagian berharga dari dirinya yang terlupakan. "Aku ingin ke Yogya, Yah," kata Amira tiba-tiba. "Aku ingin mengunjungi makam Sekar." Mata ayahnya melebar, cahaya pengertian berkilat di sana. "Kau... sudah... bicara... dengan... Ratna?" "Belum bertemu. Baru bertukar pesan." Amira mengusap air mata dengan punggung tangannya. "Dia ingin bertemu." "Pergilah," bisik Prasetyo. "Dia... akan... senang... bertemu... denganmu." "Tapi Ayah—" "Aku... tidak... ke... mana-mana," ayahnya terkekeh lemah, suara yang terdengar seperti daun kering bergesekan. "Masih... kuat." Amira menatap ayahnya—pria yang dulu dalam ingatannya begitu kuat dan tangguh, kini terbaring rapuh dengan tubuh yang semakin kurus. Namun matanya, mata yang sama yang diwariskan pada Amira dan Sekar, masih bersinar dengan kecerdasan dan kedalaman yang sama. "Ayah istirahat dulu," kata Amira lembut, mengusap rambut putih ayahnya yang menipis. "Kita bicara lagi nanti." Ia bangkit, mencium kening ayahnya, lalu berjalan ke pintu. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, menoleh ke belakang. Ayahnya menatapnya dengan senyum lemah, tangannya yang kurus terangkat sedikit dalam lambaian kecil. "Mira," panggilnya pelan. "Terima... kasih... sudah... pulang." Amira mengangguk, tak mampu berkata-kata. Ia menutup pintu perlahan, berdiri diam di koridor dengan punggung bersandar pada dinding.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD