Bab 11

2000 Words
Amira duduk di beranda belakang rumah, menatap pohon flamboyan yang menari-nari lembut dibelai angin.Secangkir teh hangat mengepul di tangannya,uapnya menyentuh wajah bagai usapan lembut kenangan masa kecil. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar azan Isya, berpadu dengan bunyi jangkrik dan gemerisik daun kering yang tersapu angin. Dua hari telah berlalu sejak kepulangannya dari Jakarta. Dua hari yang terasa seperti berada di antara dua dunia—satu kaki di masa kini, satu kaki tersangkut di belantara masa lalu. Tiket kereta ke Yogyakarta telah ia pesan untuk lusa, keberanian untuk bertemu Ratna perlahan tumbuh seperti tunas yang merekah di tanah yang lama tandus. "Belum tidur?" Suara Adara mengalun dari ambang pintu. Adiknya berdiri di sana dengan piyama bermotif bunga dan rambut yang masih basah habis keramas. Amira tersenyum tipis, menepuk kursi rotan di sampingnya. "Belum bisa. Terlalu banyak yang kupikirkan." Adara duduk, menyilangkan kaki dengan gerakan yang mengingatkan Amira pada ibunya. Lima tahun terpisah, dan adiknya telah tumbuh menjadi wanita dewasa dengan pembawaan tenang yang dulu tak pernah ia miliki. Ada kedewasaan dalam matanya, mungkin hasil dari merawat ayah mereka, mungkin juga dari menanggung beban rahasia keluarga sendirian selama Amira melarikan diri. "Jadi, kau benar-benar akan ke Yogya?" tanya Adara, memecah keheningan. Amira mengangguk. "Aku perlu melihat makamnya. Perlu... menyelesaikan sesuatu." "Apa yang kau harapkan dari pertemuan dengan Ratna?" Pertanyaan yang mengambang di benak Amira sendiri selama dua hari ini. Apa yang ia harapkan? Pengampunan? Penjelasan lebih lanjut? Atau sekadar kesempatan untuk melihat wajah wanita yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kisah keluarganya? "Entahlah," Amira menyesap tehnya perlahan. "Mungkin memahami lebih baik tentang siapa Sekar sebenarnya. Atau mungkin..." ia terdiam, mencari kata-kata yang tepat, "mungkin memahami bagaimana cinta bisa begitu rumit dan tidak masuk dalam kotak-kotak yang kita buat." Adara menatapnya lama, matanya menyiratkan pemahaman yang melampaui usianya. "Kau tahu, setelah tahu kebenaran tentang Ratna dan Sekar, aku sempat sangat marah pada Ayah dan Ibu." "Kau? Marah?" Amira mengerjap tak percaya. Adara selalu terlihat sebagai anak yang sempurna—penurut, pengertian, tidak pernah membantah. "Tentu saja. Aku merasa dibohongi seumur hidup. Merasa seluruh kenangan masa kecilku dibangun di atas kebohongan." Adara menerawang ke arah pohon flamboyan. "Kurasa tidak jauh berbeda dengan yang kau rasakan." "Tapi kau tidak pergi," bisik Amira, rasa bersalah menyelinap dalam nadanya. "Tidak pergi, bukan berarti tidak marah." Adara tersenyum tipis. "Aku hanya... memilih cara berbeda untuk menghadapinya." Keheningan mengambang di antara mereka, hanya diisi oleh orkestra malam—jangkrik bersahutan, katak sesekali menimpali dari kolam kecil di sudut halaman, angin berbisik di antara dedaunan. Langit malam Bandung yang bersih dari polusi menampilkan taburan bintang, berkilauan seperti serpihan harapan di atas kain beludru hitam. "Dara," Amira memecah keheningan, suaranya hampir berbisik. "Apa kau pernah bertemu Sekar?" "Tiga kali." Adara mengangguk, tatapannya menerawang jauh, mungkin menyusuri lorong waktu ke pertemuan-pertemuan itu. "Pertama saat aku SMA, Ayah mengajakku ke Yogya dengan alasan studi wisata. Kedua saat Sekar sudah mulai sakit. Ketiga..." suaranya sedikit tercekat, "ketiga saat pemakamannya." Amira merasakan hatinya seperti diremas. "Seperti apa dia?" "Mirip denganmu, tapi lebih... lembut mungkin? Lebih tenang. Dia suka menulis puisi, melukis juga." Adara tersenyum mengenang. "Dan dia sangat ingin menjadi arsitek, sepertimu." "Arsitek?" "Ya. Katanya terinspirasi olehmu. Dia selalu meminta foto-fotomu dari Ayah, terutama saat kau mulai kuliah arsitektur." Adara menatap kakaknya. "Dia sangat mengagumimu, Mira. Entah bagaimana, kau menjadi semacam pahlawan baginya." Air mata mendesak di pelupuk mata Amira. Seorang gadis yang tak pernah ia temui, seorang saudari yang bahkan tak ia ketahui keberadaannya, telah menjadikannya inspirasi. Sementara ia sendiri menghabiskan lima tahun terakhir melarikan diri dari kenyataan, dari tanggung jawab, dari kesempatan untuk menjadi sosok kakak yang seharusnya. "Dia menggambar sketsa rumah yang ingin dibangunnya suatu hari nanti," lanjut Adara. "Di salah satu bukunya. Rumah dengan banyak jendela besar, teras luas menghadap ke gunung. Dia bilang suatu hari akan meminta bantuanmu untuk mewujudkannya." Amira tidak mampu menahan air matanya lagi. Ia terisak pelan, membayangkan seorang gadis dengan wajah mirip dirinya, duduk di meja belajar, membuat sketsa rumah impian yang tak pernah terwujud. "Saat pemakaman," bisik Adara, "Ratna membagikan lembaran kertas kecil untuk setiap orang yang hadir. Berisi puisi terakhir Sekar. Aku masih menyimpannya." "Boleh aku lihat?" Adara bangkit, masuk ke dalam rumah, kembali beberapa menit kemudian dengan secarik kertas yang sudah menguning di tepian. Dengan hati-hati ia menyerahkannya pada Amira. Kertas itu bertuliskan puisi pendek dengan tulisan tangan yang rapi namun sedikit bergetar—tulisan tangan seseorang yang sedang sakit, mungkin: *Jarak* *Saat kunanti sosokmu di ambang pintu,* *Tapi hanya bayangmu yang datang dan pergi.* *Kurangkai kata, menjelma jembatan panjang* *Merentang di atas jurang waktu yang menganga.* *Kudengar namamu disebut angin,* *Kulukis wajahmu dari cermin dan cerita.* *Kau ada, namun tiada.* *Kita dekat, namun berjarak.* *Suatu hari, di kehidupan lain mungkin,* *Kita akan duduk bersebelahan,* *Tanpa jarak, tanpa nama,* *Hanya dua jiwa yang akhirnya bersua.* *-- Sekar, 2018* Amira membaca puisi itu berulang-ulang, setiap kata menusuk semakin dalam ke hatinya. Puisi seorang gadis yang merindukan pertemuan dengan kakaknya, yang mungkin menulisnya di ranjang rumah sakit, menunggu donor yang tak pernah datang. "Aku tidak pantas menerima kekagumannya," bisik Amira, suaranya pecah oleh isakan tertahan. "Kau tidak tahu, Mira," Adara menggenggam tangan kakaknya. "Kau tidak diberi kesempatan untuk tahu." Malam semakin larut. Angin bertiup lebih kencang, menggoyangkan pohon flamboyan dengan lebih ganas. Beberapa kelopak bunga merah berjatuhan, melayang-layang sejenak sebelum mendarat lembut di tanah berumput—seperti kenangan yang terlepas dari dahan waktu, jatuh ke tanah kenyataan dengan anggun namun tak dapat ditarik kembali. "Dara," panggil Amira setelah lama terdiam. "Apa kau membenciku karena pergi?" Adara menatap kakaknya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Dulu, ya. Sangat." Ia tersenyum tipis. "Tapi kebencian itu perlahan berubah menjadi semacam... kesedihan. Lalu pengertian. Lalu penerimaan." Ia menghela napas. "Kurasa kita semua punya cara masing-masing menghadapi luka." Dari dalam rumah terdengar langkah kaki pelan, lalu pintu beranda terbuka. Ibu mereka berdiri di sana, mengenakan daster warna ungu tua dan selendang kecil yang melilit bahunya. "Kalian belum tidur?" tanyanya, nada khawatir yang familiar terselip dalam suaranya. "Sebentar lagi, Bu," jawab Adara. Hapsari melangkah ke beranda, berdiri membelakangi mereka, menatap langit berbintang. Punggungnya tampak lebih kecil dari yang Amira ingat dulu, tapi tetap tegak—simbol ketegaran yang tak pernah goyah meski badai kehidupan menerjang bertubi-tubi. "Kalian membicarakan Sekar," ucapnya, bukan pertanyaan. Amira dan Adara saling berpandangan. "Ya," jawab Amira. "Dara memberiku puisi yang ditulisnya." Hapsari berbalik, menatap putri sulungnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Dia gadis yang berbakat. Sepertimu." "Kenapa Ibu tidak pernah berusaha mempertemukan kami?" tanya Amira, pertanyaan yang selama ini menggantung di benaknya. Ibunya duduk di kursi lain, tangannya yang mulai keriput mengelus-elus lengan kursi dengan gerakan mekanis. "Kami berusaha, Mira. Tapi harus selalu diam-diam, hati-hati. Kakekmu masih hidup saat itu, masih punya pengaruh besar di fakultas tempat ayahmu mengajar." "Tapi setelah kakek meninggal—" "Pola sudah terbentuk," potong ibunya lembut. "Rahasia itu seperti tanaman rambat yang tumbuh terlalu lama, akarnya melilit hingga sulit diurai tanpa merusak dinding tempatnya bergantung." Ia menarik napas dalam. "Lalu Sekar sakit. Kebutuhan donor itu membuat Ratna mengirim surat padamu, berharap kau cukup dewasa untuk memahami." "Dan aku malah melarikan diri," bisik Amira. "Kau anak 16 tahun yang dunianya runtuh seketika," Hapsari mengoreksi dengan lembut. "Reaksimu wajar, meski menyakitkan." Keheningan kembali menyelimuti mereka. Di langit, awan tipis mulai berarak, sesekali menutupi bulan dan menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di halaman. Angin malam semakin dingin, membelai wajah ketiga wanita yang terjaga dalam keheningan pencarian makna. "Ibu," Amira memecah keheningan. "Bolehkah aku bertanya sesuatu yang mungkin sangat pribadi?" Hapsari mengangguk, ekspresinya tenang meski matanya menunjukkan kewaspadaan. "Apakah... apakah Ibu mencintai Ratna? Seperti Ayah mencintainya?" Pertanyaan itu mengambang di udara seperti kabut tipis, nyata namun sulit digenggam. Adara tampak menahan napas, tidak menyangka kakaknya akan mengajukan pertanyaan seintim itu. "Cinta," ucap Hapsari perlahan, "memiliki banyak wajah, Mira. Tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata." Ia tampak mencari kata yang tepat. "Apa aku mencintai Ratna? Ya. Tapi tidak seperti caraku mencintai ayahmu. Lebih seperti..." ia terdiam sejenak, "lebih seperti menemukan bagian diriku yang lain dalam dirinya. Bagian yang tidak pernah bisa kuungkapkan, tidak pernah bisa kukembangkan karena pilihan hidup yang kuambil." "Lalu kenapa Ibu memilih hidup seperti ini? Menikah dengan Ayah, sementara ada... pengaturan lain yang mungkin?" Hapsari tersenyum getir. "Dunia kita tidak siap, Mira. Lima puluh tahun lalu, bahkan kurang. Keluargaku sangat terpandang, sangat kaku dengan nilai-nilai tradisional. Ayahmu baru memulai karirnya di fakultas." Ia menarik napas panjang. "Kami memilih jalan yang memungkinkan kami semua bertahan, meski tidak sempurna. Meski penuh kompromi." Amira menatap ibunya dengan pemahaman baru. Wanita ini, yang selama hidupnya ia lihat sebagai sosok konvensional dan patuh, ternyata memiliki keberanian luar biasa dalam caranya sendiri. Keberanian untuk mencintai tanpa pola, untuk menerima tanpa penghakiman, untuk bertahan meski dunia tak memahami. "Sekar punya albummu, lho," kata Hapsari tiba-tiba, mengubah arah pembicaraan. "Album berisi semua foto-fotomu yang pernah dikirim ayahmu. Bahkan kartu ulang tahun yang kau buat untuk ayahmu saat kelas tiga SD. Yang bergambar rumah dengan cerobong asap itu." Amira mengerjap kaget. "Ayah memberikannya pada Sekar?" "Fotokopi," jawab ibunya tersenyum. "Aslinya masih tersimpan di kotak kenangan ayahmu." Ingatan tentang kartu itu melintas di benak Amira. Gambar rumah sederhana dengan cerobong asap yang mengepul, padahal rumah-rumah di Indonesia jarang punya cerobong. Pengaruh buku cerita anak-anak terjemahan, mungkin. Ia menggambarnya dengan krayon warna-warni, menuliskan "Selamat Ulang Tahun Ayah Tersayang" dengan huruf besar-besar yang tidak lurus. "Sekar sangat terkesan dengan bakatmu menggambar rumah sejak kecil," lanjut Hapsari. "Dia bilang pada Ratna bahwa kelak dia ingin menjadi sepertimu." Amira menunduk, merasakan rasa bersalah dan kehilangan yang membuncah seperti air bah. Kenapa ia baru tahu semua ini sekarang? Kenapa takdir begitu kejam, menyembunyikan seorang saudari selama bertahun-tahun, lalu mengambilnya bahkan sebelum mereka sempat bertemu? "Aku akan ke Yogya lusa," ucap Amira, mengangkat wajahnya dengan tekad baru. "Aku ingin bertemu Ratna, ingin mengunjungi makam Sekar." Hapsari mengangguk. "Ratna akan senang bertemu denganmu. Dia selalu menanyakanmu setiap kami bertemu." "Ibu masih sering bertemu dengannya?" "Setiap beberapa bulan. Biasanya di Yogya, kadang di Jakarta saat Ratna ada urusan di sana. Kami tetap berhubungan, meski... berbeda setelah Sekar tiada." Mata Hapsari menerawang, mungkin melintas ke pertemuan-pertemuan itu. "Katanya, kau mirip sekali dengan Sekar. Bukan hanya fisik, tapi juga semangat dan keras kepalamu." Amira tersenyum tipis, membayangkan saudarinya yang tak pernah ia kenal namun kini terasa begitu dekat. "Mira," Adara angkat bicara setelah lama diam. "Mau kutemani ke Yogya?" Tawaran itu mengejutkan Amira. "Kau? Tapi bagaimana dengan kantormu? Dengan Ayah?" "Aku bisa ambil cuti sehari. Ibu bisa menjaga Ayah." Adara tersenyum. "Kurasa... kita perlu melakukan ini bersama. Sebagai saudara." Hapsari mengangguk setuju. "Pergilah berdua. Akan lebih baik begitu." Malam semakin dalam. Bulan telah bergeser, kini bersembunyi di balik awan tebal yang berarak pelan. Suara jangkrik perlahan tergantikan oleh keheningan menjelang dini hari. Ketiga wanita itu duduk dalam kesunyian yang nyaman, masing-masing tenggelam dalam pikiran dan perasaan mereka sendiri. "Kita sebaiknya tidur," ucap Hapsari akhirnya, bangkit dari kursinya. "Besok Ibu akan menelepon Ratna, memberitahunya kalian akan datang." Adara ikut berdiri, menguap kecil. Tapi Amira tetap duduk, wajahnya terangkat ke langit malam. "Aku mau di sini sebentar lagi, Bu," ucapnya pelan. Ibunya mengangguk pengertian, mengusap lembut rambut Amira sebelum masuk ke dalam rumah bersama Adara. Sentuhan itu mengingatkan Amira pada masa kecilnya—saat ibunya mengelus rambutnya sebelum tidur, memberikan rasa aman yang tak tergantikan. Sendirian di beranda, Amira membiarkan dirinya tenggelam dalam keheningan malam. Kertas berisi puisi Sekar masih tergenggam di tangannya, kata-kata yang terukir di sana terasa hidup dan bernapas. *Kita dekat, namun berjarak.* Betapa tepat deskripsi itu untuk hubungan mereka yang tak pernah terwujud. Besok, ia akan mulai menyiapkan diri untuk perjalanan ke Yogya, untuk berhadapan dengan bagian lain kisah keluarganya. Untuk bertemu Ratna, wanita yang pernah ia benci tanpa pernah ia kenal. Untuk mengunjungi makam Sekar, saudari yang hilang sebelum ditemukan. Pohon flamboyan di halaman berdiri dalam keheningan, daun-daunnya tak lagi bergerak karena angin telah mereda. Bunga-bunganya yang merah tampak hitam dalam keremangan malam, seperti tetesan darah yang membeku di waktu—pengingat akan ikatan yang tak terputus oleh jarak maupun kematian. Amira menatapnya lama, lalu berbisik pada keheningan malam: "Aku akan menemuimu, Sekar. Meski terlambat, meski hanya nisanmu yang bisa kusentuh. Aku akan datang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD