Bab 12

1237 Words
Kereta meluncur meninggalkan Bandung, membelah perbukitan hijau yang berselimut kabut pagi. Amira menatap keluar jendela, memperhatikan bagaimana lanskap secara berangsur berubah—kota yang menghilang, digantikan oleh hamparan sawah berjenjang dan pepohonan yang melebur menjadi garis-garis kabur. Di sampingnya, Adara tertidur pulas dengan kepala bersandar pada bahu kakaknya, napasnya teratur bagai detak metronom. Matahari merayap naik, mengirimkan cahaya keemasan yang menari-nari di lantai gerbong. Amira mengeratkan genggaman pada tasnya, merasakan bobot amplop berisi surat Ratna dan potongan puisi Sekar di dalamnya. Dua puluh empat jam. Hanya dua puluh empat jam yang ia habiskan untuk perjalanan ini, namun terasa seperti hendak mengarungi samudera tak bertepi. "Kau tidak tidur semalaman, ya?" Adara yang terbangun mengusap matanya, menguap kecil. Amira menggeleng pelan, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. "Terlalu banyak yang kupikirkan." "Tentang Ratna?" "Tentang semuanya," bisik Amira. "Tentang kehidupan yang tak pernah kita ketahui selama bertahun-tahun. Tentang Sekar yang tak pernah kukenal. Tentang... diriku sendiri." Keheningan merayap di antara mereka, hanya diisi oleh derak lembut roda kereta yang bergesekan dengan rel. Pelayan kereta lewat mendorong troli berisi sarapan. Adara membeli dua porsi nasi goreng dan teh hangat. Aroma rempah menguar, mengambang di udara yang dingin oleh pendingin gerbong. "Kau tahu," Adara memecah keheningan sembari menyendok nasi gorengnya, "Ratna itu orang yang menyenangkan. Sedikit eksentrik seperti penulis-penulis pada umumnya, tapi hangat." Amira menatap adiknya, mencoba membayangkan sosok yang selama ini hanya hidup dalam kebenciannya. "Apa dia... mirip Ibu?" "Tidak, sama sekali berbeda. Ibu adalah air yang tenang dan dalam. Ratna lebih seperti api—berpijar, hidup, kadang tak terduga." Adara tersenyum kecil. "Tapi mereka punya satu kesamaan yang aneh: cara mereka menatap Ayah dari jauh. Dengan pandangan yang sama." Gambaran itu menusuk Amira dengan pemahaman baru. Dua wanita berbeda yang mencintai pria yang sama, masing-masing dengan caranya, masing-masing rela berbagi ruang dalam hidup satu sama lain. Sebuah bentuk cinta yang melampaui pemahaman umum, melampaui batas-batas konvensional yang selama ini ia kenal. Kereta memasuki terowongan, menciptakan kegelapan sesaat. Amira memejamkan mata, membiarkan gelap itu melingkupinya, seakan ia sendiri tengah melintasi terowongan waktu—ke masa lalu yang tak pernah ia jalani, ke pertemuan yang tak pernah terjadi. "Dara, menurutmu... Sekar akan membenciku?" pertanyaan itu meluncur dari bibirnya, sebuah ketakutan yang selama ini bersembunyi di sudut hatinya. Adara menatapnya lama, mata mereka beradu dalam pemahaman yang tak perlu kata-kata. "Orang yang menyimpan setiap fotomu, yang menulis puisi tentang pertemuan yang diimpikannya, yang menjadikanmu inspirasi... Menurutmu itu wujud kebencian?" Kereta keluar dari terowongan, cahaya kembali membanjir masuk, menyiram wajah mereka dengan kehangatan. Pemandangan kembali terhampar—kali ini ladang tebu yang membentang hingga kaki gunung di kejauhan. Di beberapa titik, petani terlihat seperti titik-titik kecil bergerak di antara hijaunya tanaman. "Yogya satu jam lagi," ucap Adara, melirik arlojinya. Amira mengangguk, jantungnya berdentum semakin keras. Yogyakarta. Kota yang tak pernah ia kunjungi tapi menyimpan bagian penting dari kisah keluarganya. Kota tempat saudarinya dilahirkan, tumbuh, dan akhirnya dimakamkan. Ketika kereta akhirnya berhenti di Stasiun Tugu, Amira melangkah turun dengan kaki gemetar. Udara Yogya menyambutnya—lebih kering dari Bandung, lebih hangat, dengan aroma khas tanah vulkanik dan wangi gudeg yang mengambang samar dari warung-warung sekitar stasiun. "Dia bilang akan menjemput di depan," Adara memimpin jalan, berjalan cepat menembus kerumunan penumpang yang turun dari kereta. Di pelataran stasiun, seorang wanita berdiri di samping sedan putih. Rambutnya yang panjang bergelombang diikat longgar, tubuhnya ramping dibalut tunik sederhana berwarna biru tua. Matanya tajam namun hangat, mencari-cari di antara lautan manusia. Waktu seakan melambat ketika mata mereka bertemu. Amira merasakan jantungnya berhenti berdetak sejenak, napasnya tertahan di tenggorokan. Wanita itu—Ratna—tersenyum ke arahnya, senyum yang anehnya familiar meski mereka tak pernah bertemu. "Amira," panggil Ratna, suaranya dalam dan melodik, persis seperti yang dibayangkan Amira dari seorang pengajar sastra. Langkah Amira terasa berat, seakan ada gravitasi yang menahannya, membuat tiap gerakan membutuhkan usaha berlipat. Adara mendorongnya lembut dari belakang, memberinya dorongan kecil yang ia butuhkan. Mereka berdiri berhadapan. Ratna menatapnya lekat, matanya berkaca-kaca, tangannya terulur ragu. "Kau persis seperti yang kubayangkan," ucap Ratna lembut. Amira tidak tahu apa yang mendorongnya—mungkin tatapan itu, mungkin suara itu, atau mungkin rasa kehilangan yang tiba-tiba menusuk tajam untuk pertemuan yang terlambat bertahun-tahun. Ia melangkah maju, memeluk wanita itu erat. "Maaf," bisiknya, kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya. "Maaf aku tidak datang lebih cepat." Ratna membalas pelukannya, tangannya yang kurus namun kuat menepuk-nepuk punggung Amira dengan kelembutan seorang ibu. "Kau datang sekarang. Itu yang penting." Mereka berkendara melintasi jalan-jalan Yogyakarta yang dipenuhi bangunan-bangunan tua bergaya kolonial dan kampung-kampung padat yang tersembunyi di balik tembok-tembok tinggi. Ratna mengemudi dalam diam, sesekali melirik Amira yang duduk di sampingnya, seakan tak percaya dengan kehadiran wanita yang selama ini hanya dikenalnya lewat foto. "Kita ke rumah dulu atau langsung ke..." Ratna tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi Amira mengerti. "Langsung saja," jawabnya pelan. "Aku ingin... menemuinya dulu." Mobil berbelok memasuki jalan menuju pemakaman di pinggiran kota. Pepohonan keras tumbuh di sepanjang jalan, menciptakan terowongan hijau yang meredam suara dari luar. Amira merasakan tenggorokannya seperti dicekik seiring menipisnya jarak menuju tujuan. Pemakaman itu tertata rapi, dibatasi pagar rendah dengan gerbang besi yang dibiarkan terbuka. Beberapa peziarah terlihat meletakkan bunga atau menyiram nisan kerabat mereka. Ratna memimpin jalan, melangkah di antara deretan makam dengan langkah yang pasti—jalan yang jelas sering ia tempuh. Mereka berhenti di sebuah makam sederhana. Nisannya dari marmer putih, dengan nama terukir dalam huruf tegak: Sekar Ratnaningsih. 2002-2018. Di bawahnya, sebaris kalimat kecil: _"Penyair yang pulang sebelum sempat menyelesaikan sajaknya."_ Amira berlutut di samping makam, jemarinya yang gemetar menyentuh permukaan nisan yang dingin. Adara meletakkan buket bunga yang mereka beli di stasiun, lalu mundur beberapa langkah, memberi ruang untuk kakaknya. "Halo, Sekar," bisik Amira, suaranya pecah oleh isakan tertahan. "Maaf aku terlambat." Angin sepoi bertiup, menggoyang dedaunan pohon kamboja di dekat makam. Kelopak-kelopak bunga putih berjatuhan, melayang-layang sejenak di udara sebelum mendarat lembut di atas nisan—seperti salam perkenalan yang terlambat dari alam. "Aku membawa sesuatu," Amira mengeluarkan sebuah sketsa dari tasnya—gambar rumah yang ia buat semalam, rumah dengan banyak jendela dan teras luas menghadap gunung, persis seperti yang dideskripsikan Adara tentang impian Sekar. "Rumah yang kau impikan. Aku sudah mendesainnya untukmu." Air mata mengalir deras di pipinya, jatuh menetes ke atas sketsa, membuat beberapa garis tinta luntur sedikit. Amira meletakkan gambar itu di samping buket bunga, menatapnya sejenak sebelum kembali mengusap nisan. "Dia akan menyukainya," suara Ratna terdengar dari belakangnya. "Dia selalu mengatakan bahwa jika kalian bertemu, hal pertama yang akan dimintanya adalah membuatkan desain rumah impiannya." Amira mendongak, menatap wanita yang kini berlutut di sampingnya. Wajah Ratna basah oleh air mata, tapi senyumnya hangat, dipenuhi kenangan dan cinta yang tak lekang oleh waktu. "Ceritakan padaku tentang dia," pinta Amira. "Ceritakan segalanya." Ratna tersenyum, matanya menerawang ke masa lalu yang hanya ia yang mengenalnya. "Dia bangun pagi-pagi sekali setiap hari, selalu ingin melihat matahari terbit. Katanya, itu mengingatkannya bahwa setiap hari adalah kesempatan baru..." Suaranya mengalun lembut, membawa Amira ke dalam kehidupan yang tak pernah ia kenal, membuka jendela ke masa lalu yang tak pernah ia alami. Di bawah rimbun pohon kamboja, di samping makam saudari yang tak pernah ditemuinya, Amira merasakan sesuatu dalam dirinya mulai mencair—tembok pertahanan yang dibangunnya selama lima tahun, kebencian yang kini terasa tak beralasan, ketakutan yang selama ini menahannya. Matahari Yogyakarta bersinar terang di atas mereka, membasuh tanah makam dengan cahaya keemasan yang hangat. Seperti pengampunan yang datang, meski terlambat. Seperti pertemuan yang akhirnya terjadi, meski hanya lewat kenangan dan air mata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD