Bab 13

1344 Words
Rumah Ratna di Kaliurang berdiri dengan kesederhanaan yang menenangkan—bangunan kayu dua lantai dengan teras yang menghadap ke lereng Merapi di kejauhan. Pepohonan rimbun menaungi pekarangan, menciptakan bayangan bergoyang di tanah kemerahan. Senja merayapi bumi saat mobil Ratna berhenti di halaman. "Rumah ini tempat Sekar tumbuh," ucap Ratna sembari membuka pintu. "Setiap sudut menyimpan jejaknya." Amira melangkah ragu ke dalam rumah yang menyambutnya dengan aroma kayu tua dan wangi dupa samar. Dinding-dindingnya dipenuhi lukisan dan foto-foto berbingkai. Matanya langsung tertuju pada satu foto besar di dinding ruang tengah—Sekar di usia sekitar lima belas tahun, tersenyum lebar ke arah kamera, duduk di bawah pohon dengan buku terbuka di pangkuan. Mata yang identik dengan miliknya menatap balik, penuh semangat hidup yang kini padam. "Mau melihat kamarnya?" tanya Ratna lembut. Amira mengangguk, tenggorokannya tercekat. Adara meremas bahunya, memberi dukungan tanpa kata. Tangga kayu berderit pelan saat mereka menaikinya. Sepanjang dinding tangga, deretan foto Sekar terpajang rapi—Sekar bayi dalam gendongan Ratna, Sekar kecil dengan seragam SD, Sekar remaja dengan seragam pramuka. Pertumbuhan seorang anak yang tak pernah Amira saksikan, tahapan hidup yang berlalu tanpa kehadirannya. Kamar di ujung koridor lantai dua masih tertutup rapat. Ratna berhenti di depannya, menarik napas dalam sebelum memutar kenop pintu. "Aku tidak mengubah apapun sejak kepergiannya," bisiknya. Pintu terbuka, menghadirkan pemandangan yang membuat jantung Amira seakan berhenti berdetak. Dinding kamar berwarna biru langit dipenuhi foto-foto yang dikenalnya—dirinya sendiri. Amira kecil dengan seragam SD, Amira remaja dengan piala lomba melukis, Amira di acara wisuda sarjananya. Foto-foto yang dikirim ayahnya selama bertahun-tahun, ditata rapi seperti altar penghormatan. Di sudut kamar, sebuah meja belajar penuh buku dan kertas-kertas yang tertumpuk rapi. Sebuah bingkai kecil di atas meja menampilkan kartu ulang tahun bergambar rumah dengan cerobong asap—kartu yang Amira buat untuk ayahnya saat kelas tiga SD. Amira mendekat ke meja, menyentuh permukaan kayunya dengan tangan gemetar. Di samping tumpukan buku, sebuah sketsa rumah tergeletak—rumah dengan banyak jendela besar dan teras luas, hampir identik dengan yang baru ia gambar untuk makam Sekar. Tulisan tangan rapi tertera di sudut kertas: _"Suatu hari, rumah impian yang akan Kak Amira bangunkan untukku."_ Pertahanannya runtuh. Amira jatuh berlutut, terisak tak terkendali. Air mata membanjiri wajahnya, melunturkan riasan tipis yang dipakainya pagi tadi. Badannya berguncang hebat, melepaskan kesedihan yang selama ini terbendung. "Dia sangat mengagumimu," Ratna berlutut di sampingnya, tangannya mengusap punggung Amira dengan gerakan melingkar yang menenangkan. "Setiap kali ayahmu mengirim foto atau cerita tentangmu, matanya berbinar seperti mendapat harta karun." "Kenapa?" isak Amira, suaranya pecah. "Aku bahkan tidak tahu dia ada. Aku tidak melakukan apapun untuk layak mendapatkan kekagumannya." "Karena kau adalah sosok kakak yang ia impikan—cerdas, berbakat, mandiri. Segala yang ia inginkan menjadi." Ratna tersenyum sedih. "Kau hadir dalam hidupnya meski tak pernah bertemu. Ayahmu membuat sosokmu begitu nyata lewat cerita-ceritanya." Amira mengusap air matanya, berusaha menenangkan diri. Pandangannya tertuju pada rak buku di sudut kamar. Buku-buku sastra, puisi, dan beberapa buku arsitektur dasar berderet rapi. Di sampingnya, sebuah kotak kayu berukir serupa dengan yang dimiliki Amira dari ayahnya. "Boleh aku...?" tangannya menunjuk kotak itu. Ratna mengangguk. Dengan tangan gemetar, Amira membuka kotak tersebut. Di dalamnya, tumpukan surat yang diikat pita biru. Surat-surat yang tak pernah terkirim—semua ditujukan padanya. _"Untuk Kakakku, Amira"_ tertulis di amplop paling atas. "Dia mulai menulis surat untukmu sejak usia tujuh tahun," jelas Ratna. "Berharap suatu hari bisa memberikannya langsung padamu." Amira membuka surat teratas, membaca tulisan tangan rapi yang mengingatkannya pada tulisannya sendiri di usia muda: _"Kakak yang belum pernah kutemui,_ _Hari ini aku melihat fotomu memakai toga. Ayah bilang kau lulus dengan nilai tertinggi. Aku sangat bangga menjadi adikmu, meski kau mungkin tidak tahu aku ada. Aku berharap suatu hari nanti kita bisa duduk bersama, membicarakan arsitektur dan puisi, hal-hal yang sama-sama kita cintai._ _Apa kau juga kadang membayangkan pertemuan kita? Apa kau juga kadang merasa ada sesuatu yang hilang, sepotong puzzle yang belum melengkapi hidupmu?_ _Dokter bilang penyakitku semakin parah. Ibu mencoba tegar, tapi aku tahu dia menangis diam-diam setiap malam. Aku ingin bertahan cukup lama untuk bisa melihat wajahmu sekali saja, Kak. Hanya sekali saja._ _Dengan rindu,_ _Sekar"_ Air mata kembali menggenang di pelupuk mata Amira, menetes ke atas kertas, membuat tinta sedikit luntur. Surat yang ditulis Sekar saat ia sekarat, menunggu donor yang tak pernah datang—donor yang mungkin bisa Amira berikan jika saja ia tidak terlalu cepat menghakimi, terlalu keras kepala untuk mendengarkan. "Jangan menyalahkan dirimu," Ratna seakan membaca pikirannya. "Kau hanya anak enam belas tahun yang dunianya runtuh seketika. Reaksimu wajar." "Tapi akibatnya—" "Takdir," potong Ratna lembut. "Ada hal-hal yang di luar kendali kita, Amira." Adara yang sejak tadi berdiri di ambang pintu melangkah masuk, duduk di ranjang Sekar yang tertata rapi. "Mira, lihat ini." Di tangannya, sebuah album foto terbuka, menampilkan kolase foto Amira dalam berbagai kesempatan. Di salah satu halaman, tempelan kliping koran tentang kompetisi desain yang Amira menangkan dua tahun lalu. Judulnya dilingkari dengan spidol merah: _"Arsitek Muda Berbakat Amira Prasetyo Memenangkan Kompetisi Desain Nasional"._ "Dia mengikuti karirmu dari jauh," kata Ratna. "Merasa seperti ikut meraih kesuksesan itu bersamamu." Amira menutup matanya, membayangkan seorang gadis yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, membaca berita tentang kakak yang tak pernah ditemuinya, tersenyum bangga seolah kemenangan itu miliknya juga. "Aku ingin menginap di sini malam ini," ucap Amira tiba-tiba. "Bolehkah?" Ratna mengangguk, senyum hangat menghiasi wajahnya yang lelah. "Tentu saja. Ini rumahmu juga, Amira." Matahari telah sepenuhnya tenggelam saat mereka turun ke ruang makan. Ratna menyiapkan makan malam sederhana—nasi, sup sayur, dan tempe goreng. Amira membantu menata meja, sementara Adara membantu menuangkan air minum. Ketiganya duduk dalam formasi segitiga tak sempurna—tempat keempat dibiarkan kosong, seakan menanti kehadiran yang tak akan pernah datang. "Bagaimana ayahmu sekarang?" tanya Ratna, memecah keheningan. "Masih lemah, tapi dokter bilang ada harapan pemulihan." Amira mengaduk supnya tanpa nafsu. "Stroke-nya cukup parah." Ratna mengangguk, matanya menerawang. "Pras selalu keras kepala soal kesehatannya. Terlalu sibuk mengurus orang lain hingga lupa merawat diri sendiri." "Seperti seseorang yang kukenal," Adara melirik Amira penuh arti. Mereka tertawa kecil, tawa yang terasa seperti oase kecil di tengah gurun kesedihan. Amira menatap Ratna—wanita yang selama lima tahun terakhir ia benci tanpa pernah mengenalnya. Wanita yang kini duduk di hadapannya dengan keanggunan yang tenang, dengan cinta yang tak pernah luntur meski takdir tak berpihak padanya. "Apa kau tidak pernah...membenciku?" tanya Amira ragu. "Karena aku tidak datang saat Sekar membutuhkanku?" Ratna meletakkan sendoknya, menatap Amira dengan kelembutan yang menyayat. "Benci tidak akan mengembalikan putriku, Amira. Dan kau pun korban dalam kisah ini—korban dari keputusan kami untuk merahasiakan semuanya terlalu lama." Diam merayapi ruangan, hanya diisi oleh dentingan sendok dan piring. Di luar, suara jangkrik dan kodok bersahutan, menciptakan simfoni malam yang khas pedesaan Jawa. "Dulu, saat kalian bertiga kuliah," Amira memecah keheningan, "bagaimana semuanya bermula?" Ratna tersenyum, matanya menerawang jauh ke masa lalu. "Tiga sekawan yang tak terpisahkan—begitu mereka menyebut kami di kampus. Pras dengan puisi-puisinya, Hapsari dengan lukisan-lukisannya, dan aku dengan novel-novelku. Kami hidup dalam gelembung dunia sastra yang memabukkan." Amira mendengarkan dengan seksama saat Ratna bercerita tentang masa muda mereka—tiga jiwa muda yang terikat dalam cinta yang melampaui definisi konvensional, yang terjebak dalam masyarakat yang belum siap menerima. Tentang keputusan berat yang diambil untuk melindungi karir Prasetyo dan nama baik keluarga Hapsari. Tentang pengorbanan yang dilakukan dengan nama cinta. "Ibumu adalah wanita paling berani yang pernah kukenal," ucap Ratna. "Dia yang memikirkan 'pengaturan' itu. Dia yang bertahan dengan kepalanya terangkat meski dunia mungkin akan menghakiminya jika tahu." Amira tertegun, membayangkan ibunya yang selama ini ia anggap konservatif dan penurut, ternyata memiliki keberanian yang jauh melampaui zamannya. Keberanian untuk mencinta dengan caranya sendiri, untuk menentang norma tanpa perlu meneriakkannya pada dunia. Malam semakin larut ketika akhirnya mereka beranjak tidur. Amira memilih tidur di kamar Sekar, dikelilingi foto-foto dirinya sendiri dan barang-barang peninggalan saudarinya. Di tengah keheningan, ia berbaring menatap langit-langit, membayangkan Sekar melakukan hal yang sama bertahun-tahun lalu—menatap titik yang sama, mungkin membayangkan pertemuan yang tak pernah terwujud. "Aku di sini sekarang, Sekar," bisiknya pada kesunyian. "Maaf terlambat begitu lama."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD