Kalau Nggak Tidur, Pasti...

1037 Words
Habis, jam istirahat selesai.Semua siswa berlarian kembali ke kelas. Emm, nggak semua lari sih. Cuma yang ditungguin guru killer bin on time aja yang buburu (belibetnya jangan dibawa ke narasi dong?) Yang lainnya praktis cuma jalan santai, menyusuri koridor dengan tap tap sepatu sekolah yang menunjukkan perbezaan kasta. Ah, kadang aku bingung kenapa orang dirasisin langsung sensi. Padahal gaya hidup setiap harinya juga udah diskriminatif. Liat aja, yang sepatunya kinclong marinclong pasti orkay. Yang B aja, pasti anak menengah. ah kalo kucel dan bararau tanah, kalian bisa simpulkan itu kenapa. Apalagi sekolah ini terbilang longgar urusan warna sepatu. Jadilah itu prinses-prinses sekolah sepatunya ngeblink pisan. Kadang warna pink, kadang kuning, ah sudahlah. Bahas rasis terus nanti di somasi di negara Wacanda. Pas sekali pelajaran berikutnya PPKn (tulisannya benerr gitu kan ya?) Saatnya disadarkan kembali betapa besarnya bangsa ini. Dengan semua kompleksitas dan keruwetan hidup dan tatanannya. Ngantuk sudah hilang, saatnya menunjukkan sesuatu kepada orang-orang yang yang meragukan. Hmm, salah sih. Percuma juga membuktikan sesuatu untuk orang lain. Yang suka sama kuta nggak perlu itu, dan yang emang dasarnya nggak suka mah pasti bodo amat. Mayan kan manjang-manjangin paragraf? haha. Aku lagi kuis mendadak PPKn nih, udah selesai sih dari tadi. Tapi belum aku kumpulin, tunggu yang lain gerak dulu kayaknya. Takut ah diliatin anak sekelas dengan tatapan mencurigation. "Dih, shombong amat?" atau "Ah palingan nyalin soal lagi?" Ssst, kerjain aja kenapa sih? *** "Suster, kok aku disini?" "Ini rumah sakit, kamu dan keluargamu tadi kecelakaan." "Keluarga?" Suster mengangguk. "Dimana mereka sekarang Sus?" "Kakak laki-lakimu ada di ruangan sebelah. "Ayah dan Ibuku?" "Mereka sudah diantar pulang." "Boleh aku pulang sekarang Sus?" "Boleh, tapi saya selesaikan berkas laporan pasiennya dulu ya?" "Oh oke baik Sus." "Bang Robin, ayo pulang. Ayah sama Ibu sudah dirumah katanya," ucapku saat sampai di ruang rawatnya Bang Robin. "Pulang?" jawabnya lirih. "Iya pulang?" aku menegaskan. "Kamu saja yang pulang duluan. Abang masih harus dirawat." "Oh gitu, abang belum boleh pulang ya?" sambutku yang hanya dibalas anggukan oleh Bang Robin. *** "Oy Van, nggak ngumpulin?" Bronby menepuk pundakku. "Eh iya," jawabku. Tanpa kusadari, satu kelas sudah bergerak mengumpulkan kuis. Yah gagal deh jadi assabiqunal awwalun. Rapopo lah. Next time bisa kali. Aku yakin semua jawaban kuis tadi bener sih. Orang soalnya mirip banget sama yang di buku tugas halaman 26. Emang Bu Reni belum nyuruh ngerjain sampai halaman 26, akunya aja iseng kemarin coret-coret ngerjain. Itulah aku, kadang aku merasa bisa aja kalau dikasih kuis atau ujian. Di lain waktu aku bisa kikuk setengah mati. Alah, paling nyontek. Hmm, sorry brow. Menyontek bukan jalan ninja kami. Di SMA ini, menyontek adalah perilaku asing. Ada sih yang masih melakukannya. Contoh nya geng-geng cewek eksis di kelasku. Hanya saja siswa disini mayoritas percaya pada kemampuannya sendiri. Walau kadang kami tahu, kami ujian fisika disamping si jago fisika, ujian matematika di depan anak olimpiade. Tidak banyak yang berani bertanya. Lebih ekstrim lagi, OSIS bahkan menggalakkan kampanye menyontek sama dengan korupsi. Masuk akal sih, anak SMA seperti kami mencontek, karena memang itu lahannya. Mau korupsi apa? Dana OSIS yang nggak seberapa itu? Dana pensi? atau iuran kelas yang dipake buat besuk temen sakit? Receh sekali. Kalau elite negara? Memang lahannya korupsi. Mereka nggak mungkin nyontek kan? Laporan keuangan? Indeks ketercapaian program kerja? Mereka bisa bayar orang buat bikin. Bahkan kalau mau, datanya juga bisa dimanipulasi sekalian. Di Wacanda lho ya? Eh ada sih nyonteknya, aku lupa. Nyontek kebiasaan temennya korupsi. Kalau ada di departemen sebelah yang korup, diikutin dah tu. Tak peduli obrolan jalanan menghujat tajam. Yaiyalah, siapa yang mau dengar suara rakyat yang nyampur sama deru jalanan? Nggak mungkin sampai ke atas gedung pencakar langit milik Washington DC-nya Wacanda Seperti obrolan Bang Bogem dan kawan-kawan di Warkop saat aku pulang sekolah. Maklum, disini nggak banyak kafe, adanya warung kopi lengkap dengan sett donino dan layar tancap buat nonton bola. "Kemana lu Van?" buka Bang Bogem sesantuy itu. "Mau turnamen lagi bang. Biasa cari cuan," jawabku.. "Kita temenin ya Van?" sambung Bang Anhar temannya Bang Bogem. Beliau (ce elah beliau) kayaknya masih ingat saat aku di 'curangi' panitia turnamen. Yang bener aja setelah dikasih uang lalu aku dipalak di luar arena pertandingan (aka rental). "Abang-abang nggak sibuk?" tanyaku melanjutkan. "Nggak kok," kata Bang Bogem Memang sejak kejadian aku dipalak, abang-abang ini seolah jadi bodyguard aku kalau ke turnamen. Kadang aku ajak secara formal (formal yang tidak formal) kalau turnamennya agak besar. Nanti cekeran-cekerannya aku kasih mereka. Lumayan buat nyebat. Kalau turnamennya keckl, paling aku pergi sama teman. Cuma kali ini aja aku rencananya pergi sendiri. Eh taunya ada yang mau nemenin. Yaa gasskeun bosque. "Main pake apa nanti Van?" Bang Anhar kepo juga. Abang ini juga suka main di rental Bang Piki sih, lumayan jago lah. "Mungkin MU bang. Pake apa aja sama aja sih sebenernya." "Waah ada Ronaldo tuh. Siuuu." "Iya bang, nendang auto goll wkwk." Turnamennya mulai tepat waktu. Judi nggak tuh? Nggak lah, disini turnamen sekelas PS pun pake sponsor. Bukan pake insert. Ada sih insertnya, cuma buat formalitas bayar sewa rrental aja. Paling dua ribu. Karena kota ini walau nggak besar, sudah cukup mapan. Aku sempat berpikir kayaknya enak jadi walikota disini. Tinggal duduk-duduk doang nggak usah capek mikir buat improve. Karena kotanya sendir udah setrle. Nggak ada walikota pun ku rasa kotanya bakal sama aja. Maapkeun slur, aku nggak jelasin turnamennya. Kasian reader yang cewek-cewek nggak ngerti. Jadi aku bahas kota aja. Kalo bahas kita kan nggak bisa, kita siapa soalnya? Lebih baik bahas kota daripada bahas kita. Udah aja aku keluar sebagai juara. Template sih. Aku bahkan lupa aku terakhir kalah itu kapan? Di level turnamen ya, kalau di rental mah sering. Mm, sering 'ngalah' sih. Biar orang tetap mau main sama aku. Kalo aku menang terus mereka jadi nggak mau main dong? Alhamdulillah cepet selesainya. Aku sempat menang bay tadi soalnya. Setelah ngopi-ngopi sama Bangabang ini, aku bisa langsung pulang. Baguslah ada kesempatan tidur dulu. Nanti malam pasti harus nungguin Si Bangor Robin lagi. Duh capek. "Assalamu'alaykum " ujarku pada rumah yang aku kira kosong. "Woy, bisa nggak kalau masak itu nggak nasi goreng?" Todong seseorang dari dalam rumah. "Ayam goreng kek, pizza kek?" "Uangnya nggak ada Bang." "Halah ba*ot, menang turnemen sering." "SERING KAU AMBIL JUGA YA BUAT MABUK?" Teriakku kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD