Anak Paling Pagi Datang ke Sekolah

1010 Words
"Eg ee Eg Eg," suara ayam diluar. Lah, bukannya suara ayam kukuruyuk kalau pagi ya? Beda brow, ini ayam impor dari Thailand. Makanya suaranya gitu. Sudah pagi, dan aku belum tidur sama sekali demi menunggui Bang Robin pulang. Aku tahu ini akan terjadi. Tiga atau empat kali seminggu dia pasti mabuk. Lainnya? Paling main sama Kak Tania. Jika aku harus memilih, jelas aku lebih suka saat dia tidak mabuk. Selain kesehatannya, aku jelas memikirkan waktu tidurku. Yang bener aja anak sekolah begadang sampe subuh. Kalo dia lagi nggak mabuk mah aku tinggal tepar aja. Sialnya, aku tidak tahu kemana dia. Jadi aku harus menunggunya hampir setiap malam. Ah, bukan waktunya mengeluh. Aku harus berangkat sekolah. Sepagi ini? Iya. Jarak sekolahku lumayan jauh. Maklum gess, disini bukan kota metropolitan. Cuman kota kecil. Naik apa ke sekolah? Haha, itu pertanyaan bagus. Aku naik mobil pengangkut air mineral yang nanti didistribusikan ke depot-depot. Sudah dua tahun begini. Dua tahun lalu saat orang tua kami meninggal. Mm, nanti kuceritakan soal itu. Sekarang aku ngantuk sekali. Bang Panjul juga sudah paham, setelah aku ceritakan saat pertama kali menumpang. "Bang, aku tidur dulu ya?" "Iya silahkan Van. Semalam begadang lagi ya?" "Iya bang, nungguin Bang Robin." "Oke oke, nanti sampe sekolah abang bangunin." "Makasi ya Bang." "Ah kamu Van. Santai aja." Syukurlah aku bisa cepat tidur. Di hari lain kadang tidur di mobil rasanya susah sekali. Setiap tikungan, selipan, dan olengan suka membangunkanku. Padahal Bang Panjul sudah berusaha mengemudikannya sebaik mungkin. Tapi yang namanaya dijalan, kita nggak pernah tau apa yang akan terjadi. Aku beruntung bertemu Bang Panjul, Bang Bogem, Bang Piki, dan banyak orang baik lainnya dalam kehidupanku. Setelah kejadian dua tahun lalu, semuanya nyaris berubah. Waktu itu, hari senin tanggal 13 November. Aku seperti biasa mempersiapkan diri menuju sekolah. Masih kelas 3 SMP akunya. Bang Robin yang baru tahun pertama di jurusan Arsitektur memutuskan mengantar kami. Kami? Yah, mengantar aku ke sekolah, juga ayah dan ibu ke terminal. Pagi itu jalanan belum begitu padat. Masih lancar jaya. Matahari belum menampakkan batang hidungnya soalnya. Dan di kota kami yang kecil ini, macet nggak dimulai dari sebelum fajar menyingsing. Paling jam 7 baru macet. Mobil Hyundai baru kami melaju cepat. Bang Robin sedikit tengil bermanuver di tikungan tajam. Tanpa sadar.... Sebuah truk melaju dari arah berlawanan, tidak kencang sih. Cukup qjq Cukup membuat mobil kami ringsek. "Van, udah nyampe Van." suara Bang Panjul membangunkanku. Astaga, kenapa aku mimpi soal itu lagi. Sering kali begitu. Kejadiannya terlihat nyata seolah baru terjadi kemarin. Kadang aku suka takut kalau mengingatnya. Emm, lebih takut lagi memikirkan dampak dari semuanya. "Oh iya, makasi ya Bang. Ini Bang aku ada rejeki lebih. Buat Abang aja," ucapku sembari menjulurkan selembar lima puluh ribuan. "Eh, jangan lah. Apa sih. Udah bawa aja," seru Bang Panjul dari dalam. "Nggak apa-apa Bang. Aku baru menang turnamen PS Bang. Itung-itung syukuran, hehe." "Yaudah, makasi ya." Ah Bang Panjul, baik sekali memang. Aku tau lima puluh ribu tetap nggak cukup untuk bayarin ongkos aku tiap hari. Memang ikhlas pengen bantu aja orangnya. Tipikal orang yang udah susah ditemui di dunia yang semakin berorientasi materi ini. Apalagi di kota besar, sulit sekali mencari orang-orang yang tulus. "Pagi Pak Bahar, " sapaku pada satpam yang baru saja membuka pagar sekolah. "Eh, kamu udah datang aja Rovan." "Haha, iya Pak. Mobilnya agak pagian soalnya." "Kamu harusnya udah masuk rekor sih. Siswa yang selalu datang paling pagi. Bahkan guru-gurupun belum ada yang datang lho?" "Ah Bapak bisa aja. Pak, saya numpang rebahan di pos bentar ya Pak?" Ahaha, aku memang sudah sedekat itu sama Pak Bahar. Tenang aja aku nggak lancang kok. Kalo kalian siswa yang sering digalakin satpam, coba deh datang paling pagi. Pasti image kalian bakal berubah. "Yaudah sana buru, nanti ada guru yang liat." "Gapapa Pak. Kan belum jam pelajaran ini." Baru setengah tujuh, ada empat puluh lima menit sebelum bel. Ah mayan rebahan lagi. Pos satpam sekolahku keren sih, kayak ada kamarnya gitu. Pak Bahas juga berdua sama Bang Adam. Hmm, mungkin bisa gantian nge-shift kali ya? Pihak sekolah yang baik. Nanti pas bel, aku pura-pura aja baru dateng. Jadi nggak bakal ketahuan aku molor di pos satpam. Ah tutup telinga dulu, sebenatar lagi polusi suara kendaraan pasti masuk ke pendengaran *** "Rovan, rovan. Lagi-lagi cuma nyalin soal. Mau jadi apa kamu ini?" Pak Hotmen ternyata langsung memeriksa jawabanku. "Jadi patung pancoran Pak," jawabku diikuti tawa siswa lain. "Makanya kalau sekolah itu fokus belajar, bukannya tidur." "Iya Pak." "Yasudah, jam pelajaran sudah habis. Kita ketemu lagi minggu depan." Aku mengangkat badan meski rasanya masih berat sekali untuk berdiri. Sudah jam istirahat. Nagadem dulu bentar boleh kali. Panas ini sudah lari-lari keliling lapangan. Oh iya, di sekolah kami agak unik. Istirahatnya setiap pergantian mata pelajaran. Agak manusiawi sih. Mungkin mengantisipasi otak kami ngebul ya? Kan kurikulum pendidikan di negara Wacanda nggak memihak siswa sama sekali. Pagi sampai sore sekolah, malam masih dilasih tugas segambreng. Eh jangan ngomongin ini ah, aku kan cuma siswa, apa hak ku mengomentari ketidak adilan? "Boy, kantin yuk?" seruku pada teman semejaku. Boy Junior Kurniawan. "Yuk, belum makan nih gue." "Ajak Eval juga tuh sama Si Bronby." "Okey." Kami ngelayap ke kantin beberapa saat kemudian. Tentu saja aku cuma mau pesen minuman dingin. Aku kan bawa bekal. Minum yang seger-seger sembari menikmati angin yang berhembus di kantin lantai dua memang satisfying rasanya. Privilege anak kelas sebelas. Dikadik kelas 10 nggak boleh kesini. Haram hukumnya. Jangan coba-coba. Membangunkan macan tidur adalah hal yang tidak boleh dilakukan. Disini memang nggak ada tawuran sih. Ada lah, cuman dikit.Tapi yang namanya bullying masih marak terjadi. Emm, kayaknya hampir di semua sekolah gitu deh. Aduh Mak, seger. Surga dunia ini mah. Ada rombongan anak kelas 12 di depan. Cuekin aja sih. Selama kita nggak cari ribut, mereka juga nggak bakal ganggu. Kecuali ada yang lagi pengen resek aja. Dua puluh menit yang begitu berharga. Cukuplah untuk kembali merefresh pikiran. Kalo untuk ngerjain tugas mapel berikutnya, aku nggak tau ya cukup atau enggak. Soalnya aku nggak sering ngelakuin itu. Karena sering begadang, otomatis tugas-tugas aku kerjain semua. Rajin? Mmm, gabut sih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD