Cold-12

1935 Words
Byur …. Andrea terjingkat kaget ketika sebuah air mengguyur wajahnya. Dia pun langsung bangun dari tidurnya dan menatap sekeliling. Dan nyatanya tidak ada apa-apa. Tidak ada air, tidak ada yang mengguyurnya dengan air. Ketika wanita itu menoleh ke samping kiri, dia malah menemukan Cinta yang masih tertidur dengan lelapnya. Dan Andrea sadar jika itu hanyalah sebuah mimpi. Entah mimpi buruk atau tidak, Andrea juga tidak memahaminya sama sekali. Meraih gelas kosong di sampingnya, Andrea berdecak sebal. Dia harus turun ke bawah hanya untuk mengambil air minum. Tapi mau bagaimana lagi, tenggorokan Andrea juga sudah mengering dan dia membutuhkan air. Jangan sampai dia mati karena dehidrasi. Sesampainya di ujung tangga dan mencari saklar lampu. Andrea malah dikejutkan oleh Andrew yang berdiri di depan dinding kaca. Pria itu menatap ke arah luar dengan tatapan yang cukup serius. Andra mengabaikannya saja, mungkin kakaknya itu tidak bisa tidur, sehingga dia harus berdiri di dinding kaca dan menatap ke arah luar. Ketika dia kembali, Andrea masih melihat Andrew yang berdiri di tempat yang sama dengan tangan yang mengepal. Langsung saja karena penasaran, Andrea pun langsung menghampirinya dan menepuk bahu pria itu. Andrew sendiri yang tidak fokus, terjingkat kaget dan menolehkan kepalanya pelan. Dia pun menemukan Andrea yang lebih sibuk dengan air minumnya. "Kamu ngapain disini?" tanya Andrew bingung. "Kakak yang ngapain disini? Nggak bisa tidur apa?" tanya balik Andrea. Andrew menggeleng. Bukan masalah tidak bisa tidur. Pasalnya Andrew melihat sekelebatan orang yang masuk ke lingkungan rumah ini. Tapi ketika Andrew menajamkan penglihatannya orang itu malah menghilang. Dia hanya memastikan jika orang itu tidak akan berbuat jahat pada keluarga Andrew. Andrea meminta Andrew untuk kembali ke kamarnya. Dan meminta Andrew jugabunyuk tidur. Mungkin kakaknya itu lelah karena mengurus perusahaan. Dan menganggap angin atau hewan adalah manusia. Tapi yang ada Andrew masih ngotot dan ngeyel, jika apa yang dia lihat adalah manusia yang mengenakan baju hitam. "Mata Kakak kan minus. Bisa aja salah lihat." kata Andrea. "Tapi Ea … Kakak yakin, kakak yakin kalau itu orang." "Udah ya Kak. Balik kamar langsung tidur. Kan kakak besok juga harus kerja lagi. Mungkin Kakak lagi capek aja." Andrew ingin protes pada Andrea tapi dia urungkan. Mungkin apa yang dikata Andrea itu benar, jika Andrew tengah lelah. Itu sebabnya dia tidak bisa fokus dengan penglihatannya. Matanya juga kurang sehat, ketika dokter mata memberitahu minus Andrea dan juga silindernya. Makanya dia menganggap jika hewan atau apapun yang dia lihat adalah bayangan manusia. Tahu sendiri, jika mata silinder melihat apapun juga seperti bayangan yang bergerak. "Yaudah Kakak tidur dulu. Kamu juga tidur saja, besok harus ke kampus 'kan?" Andrea mengangguk kecil, sambik meneguk minumnya Andrea menatao Andrew yang masuk kedalam kamar. Lalu menatap keluar dinding kaca ini dan tersenyum. Dia salah mencari lawan kawan!! Berjalan tenang ke arah tangga, Andrea tersenyum kecil. Malam ini dia harus menemukan kesenangan yang harus dia dapatkan. Memasuki kamarnya dan mematikan lampu kamarnya, Andrea mengambil satu senjata yang ada di dalam kamarnya dan memasang peredam. Setidaknya, malam ini tidak ada yang tahu, jika Andrea tengah membunuh seseorang. Dan benar saja, ketika Andrea berdiri di balkon menghadap taman samping. Andrea malah dikejutkan oleh obat orang yang bersembunyi dibalik pohon pisang hias. Mereka mengenakan penutup wajah, sehingga hanya mulut dan juga mata saja yang terlihat. "So … saatnya bersenang-senang." pekik Andrea dengan suara kecil. Wanita itu mengarahkan pistolnya ke arah salah satu diantara empat orang itu. Menarik pelatuknya, hingga membuat orang itu terkapar tak berdaya. Tentu saja Andrea juga bisa melihat tiga orang itu yang panik mencari sumber peluru itu. Dan nyatanya tak ada satu orang pun yang bisa menemukan Andrea. Dengan tertawa kecil, sambil berpindah tempat. Karena musuhnya itu membawa pencahayaan yang langsung mengarah pada balkon kamar Andrea. Wanita itu lagi-lagi mengarahkan pistolnya ke tiga orang itu dan membuat salah satu diantara mereka tewas seketika. "Sial!! Dimana dia sebenarnya!! Kenapa kita tidak bisa menemukan wanita itu!!" seru salah satu diantara dua orang itu. Tidak semudah itu, jika ingin bertemu dengan Andrea. Dia harus memiliki banyak nyawa, jika ingin melihat bagaimana bentuk wajah Andrea. Lagian wajah Andrea itu sangat langka, dan sangat mahal jika harus dilihat. Tidak sembarang orang bisa melihat wajah Andrea. Dan dua orang bodoh itu ingin melihat wajah Andrea? Haha dalam mimpi!! melepas atau peluru ke arah salah satu diantara mereka. Dan melumpuhkan mereka semua Andrea pun tersenyum kecil. Siapa suruh tinggal satu orang dan ingin kabur? Menyimpan kembali pistolnya, dan menyalakan lampu Andrea malah dikejutkan Cinta yang tak ada di tempat tidurnya. Wanita itu menyalakan lampu utama kamar ini, dan mematikan lampu pinggiran tempat tidur. Dan menemukan Cinta yang baru saja keluar dari kamar mandi, menatap Andrea dengan tatapan herannya. "Ngapain kamu disana?" tanya Cinta sambil mengucek sebelah matanya. "Nutup pintu balkon sama tutup gorden." Cinta hanya bergumam sebagai jawaban, lalu kembali tidur dengan tengkurap. Sedangkan Andrea, dia sendiri langsung keluar kamar dan menatap empat orang itu terkapar tanpa bernyawa. Mengambil ponselnya dan mencari nomor ponsel seseorang. "Hallo Jo … " **** Keano menyisir rambutnya dengan klimis. Dia pun menyemprotkan parfum mahal pada baju merah yang dia kenakan. Lalu kembali merapikan bajunya serapi mungkin. "Mau kemana?" tanya Aloysius yang baru saja masuk ke dalam kamar Keano tanpa izin. "Setidaknya ketuk pintu dulu, sebelum masuk ke ruangan orang!!" cibir Keano. Aloysius menggeleng, bukan perkara ketuk pintu atau tidaknya. "Jangan bahas itu dulu. Ada hal penting yang pengen aku kasih tau ke kamu." "Apa?" Keano membalik badannya menatap Aloysius dengan serius. Apalagi mimik wajah Aloysius yang tidak bersahabat sama sekali. Aloysius pun memberitahu Keano, jika William akan datang hari ini. Jika Keano tidak ada di dah, itu akan memicu kemarahan William. Yang dimana, salah satu dari anaknya tidak ada dirumah ketika dirinya kembali. Sedangkan Keano sendiri berpikir, dia masih ingat betul. Ketika William bilang, jika dia akan datang minggu depan. Dan kenapa William tidak memberitahu Keano lebih dulu? Sedangkan pagi ini Keano berbuat untuk mengajak Andrea jogging. "Papa telepon aku, sepuluh menit yang lalu." jelas Aloysius. "Hah … " "Jangan pergi sebelum papa datang. Kamu tahu sendiri kan, apa yang terjadi kalau kamu nggak ada dan papa datang?" Tentu saja Keano tahu, apa yang akan terjadi jika Keano pergi lalu William datang? Tapi bagaimana dengan janjinya pada Andrea? Aloysius meminta Keano untuk melupakan janji itu. Atau mungkin meminta Keano untuk menelpon Andrea, dan meminta maaf karena tidak jadi datang ke rumahnya. Jika bukan perkara papanya, mungkin Aloysius juga akana bodo amat pada Keano. Pulang atau tidak juga urusan Keano, lagian dia itu sudah besar sudah tahu mana yang salah dan mana yang benar. Lalu untuk apa juga harus dikekang? Tapi nyatanya … hidup mereka tidak seperti yang mereka bayangkan. Sejak dulu, tidak hanya Aloysius dan juga Keano saja yang dikekang tapi juga dengan kelima saudaranya. Dimana hidup dan mati pun sudah ada targetnya. William telah memilih tujuh wanita yang dimana, katanya akan menemani hidup mereka sampai menua hingga tewas. William juga tidak membiarkan Keano dan juga lainnya memilih hidup mereka sendiri. Semuanya sudah disusun rapi ketika mereka lahir di dunia. Itu sebabnya, Keano lebih suka hidup berjauhan dengan William dibanding harus satu rumah atau mungkin satu lingkungan dengan William. Aloysius memilih pergi. Setelah itu barulah Keano duduk termenung di balkon kamarnya. Mungkin jika ibunya masih hidup hal ini tidak akan terjadi. Setidaknya Keano bisa memilih bagaimana hidupnya. "Mami … Keano kangen." lirih Keano sambil memejamkan matanya. Aloysius yang tidak benar-benar pergi hanya tersenyum kecil. Dia pun menutup pintu kamar ini dengan pelan. Aloysius tahu apa yang dirasakan oleh Keano. Aloysius juga tahu apa yang diinginkan Keano juga seperti apa. Tapi hidup mereka sudah teringat dengan benang kerah. Dimana hidup dan juga mati sudah ada garisnya. Jika Aloysius bisa … mungkin dia juga akan pergi dari tempat ini, dan memilih hidup seorang diri tanpa ayah ataupun ibu. Nyawanya tidak berharga di rumah ini. Jadi dia tidak memiliki banyak pilihan selain pasrah. **** Keano Aku ingin ke rumahmu, dan mengajakmu jogging. Tapi ayahku datang, dan aku tidak jadi ke rumahmu. Maafkan aku Ea. Alis Andrea mengernyit heran, untuk apa juga Keano harus meminta maaf jika pria itu tidak bisa datang ke rumahnya? Toh, dia datang juga dari awal tidak mengabari Andrea. Dan sekarang dia malah mengirim pesan seperti ini? Seolah dari awal mereka sudah memiliki janji, dan Keano tidak bisa memenuhinya. Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya kecil. Lalu meletak kan kembali ponselnya tanpa ada niatan untuk membalasnya. Keluar dari kamarnya, dan langsung menuju meja makan. Andrea malah menatap banyak orang yang ada di bawah sana sambil mengukur tubuhnya masing-masing. "Aku yang akan jadi Bridesmaids Uncle nanti ya.* kata Cinta bahagia. "Terserah kamu saja. Orang nggak boleh, kamu juga maksa kan?" Tentu saja hal itu akan terjadi. Cinta akan memaksa. Jika Leo menolak Cinta untuk menjadi Bridesmaids nantinya. Walaupun pernikahan kedua, tapi Cinta berharap pernikahan ini yang terakhir. Dan Tante Angel yang akan menemani Uncle Leo sampai tua nanti. Jika semua orang bahagia telah sudah mengukur baju merekam berbeda dengan Andrea yang hanya diam saja. Wanita itu hanya melewatinya begitu saja tanpa minat untuk bergabunglah m mengambil kunci mobilnya dan memilih pergi dari rumah ini. Disepanjang perjalanan, Andrea hanya diam saja dan lebih fokus pada halaman ibukota yang mulai ramai. Para pekerja, dan juga anak sekolahan pun sudah mulai ramai, dan memenuhi halaman Ibukota. Untung saja jadwal pagi ini Andrea kosong, karena beberapa dosen tidak ada yang masuk karena urusan penting. Menghentikan mobilnya di pinggiran jalan. Andrea pun membeli satu buket bunga lili dan juga mawar merah. Dia ingin pergi ke makam ibunya, sudah lama juga Andrea tidak pergi ke makam ibunya. "Mau tambah lagi?" tanya pemilik toko bunga ini. "Nggak. Itu aja." Andrea segera memasuki lingkup makam dengan berjalan kaki. Dia pun menitipkan mobil mewahnya di toko bunga yang jaraknya tidak begitu jauh dari makam. Bisa dibilang, pemilik toko itu sudah kenal akrab dengan Andrea. Dia hanya tahu jika Andrea datang pasti dia telah merindukan sosok ibu dalam hidupnya. Karena Andrea pernah bercerita, jika ibu Andrea meninggal karena tembakan. Wanita itu duduk di samping makam ibunya dan menaruh bunga lili di atas makam ibunya. Tak lupa juga Andrea menuangkan air ke atas makam ibunya agar terlihat sangat segar. Rumput yang panjang dan tinggi dibersihkan lebih dulu sebelum berdoa. “Hai mah … “ sapa Andrea tersenyum kecil. “Aku rindu.” katanya menahan air matanya. Wanita itu terus mencabuti rumput yang ada, sesekali menceritakan apa yang menjadi kegundahan hatinya. Dia bahkan juga memberitahu ibunya itu, jika Leo akan menikah kembali dan itu bersama dengan Angel sahabat dari ibunya. Selama ini Andrea tidak bisa menerima orang dengan begitu saja. Dia sangat sulit untuk berinteraksi, bahkan dengan Tante Angel pun Andrea sangat sulit untuk membuka diri. Itu sebabnya Andrea mengulur waktu pernikahan mereka. Hanya karena Andrea tidak ingin mamanya di gantikan sosok yang lain di rumah itu. "Mah … Ea juga nggak tau harus apa. Tapi Ea nggak suka kalau Papa nikah kembali. Tapi … Ea juga ingat janji Ea pada mama dulu. Kalau EA akan melakukan apapun untuk membuat Papa bahagia. Apa mungkin ini yang mana maksud dulu? Jika Ea harus mengizinkan papa menikah kembali?" ucap Andrea. Tidak hanya perkara Leo yang Andrea bicarakanlah. Tapi juga dengan Keano, pria yang terang-terangan mengganggu hidupnya selama ini. Bahkan ketika wanita itu tidak menganggapnya, Keano malah seolah tertantang dengan sikap Andrea yang terkenal cuek dan judes. Setelah banyak bercerita Andrea oun lebih memilih fokus untuk berdoa. Menjelang siang akan terasa panas, dan Andrea juga memiliki banyak urusan yang harus dia lakukan. Itu sebabnya dia harus segera pergi dari makam ini, sebelum ada banyak orang yang mengetahuinya. Lima belas menit telah berlalu. Andrea bangkit dari duduknya dan hendak pergi. Tapi yang ada Andrea malah dikejutkan seseorang yang berdiri tegak di hadapannya. "Kamu … ngapain disini?" -To Be Continued-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD