part 12

1529 Words
Pagi itu, ruang perawat terasa lebih ramai dari biasanya. Kehadiran dokter Ines yang baru bergabung ke rumah sakit membuat semua orang heboh. Ia tampil anggun dengan jas putih rapi, rambut tergerai, dan senyum ramah yang seolah membuat suasana jadi lebih hangat. “Wah, dokter Ines beneran kerja di sini sekarang ya. Berarti sering ketemu Kapten Arga dong,” bisik salah satu perawat dengan nada penuh gosip. Finka yang sedang sibuk mencatat data pasien nyaris salah tulis karena telinganya panas mendengar nama itu. Pensilnya hampir patah. “Fin, kamu kenapa? Mukamu pucat banget,” tegur Rina sambil menyikutnya pelan. “Aku… nggak apa-apa,” jawab Finka cepat, meski jantungnya berdebar tak karuan. Dalam hati, ia gelisah. Ya Allah… gimana kalau Kapten beneran deket sama dokter itu? Tapi… nanti sore dia ngajak ketemu aku… apa maksudnya? Di lorong rumah sakit, suara lembut dokter Ines terdengar jelas. “Selamat pagi semuanya. Senang bisa mulai bekerja di sini. Mohon bimbingannya ya.” Para perawat menyambut dengan antusias. Finka pun ikut memberi salam, tapi suaranya nyaris hilang. Tatapannya tak bisa fokus, pikirannya melayang ke jam lima sore nanti. Waktu terasa berjalan lambat. Setiap kali melihat jam dinding, Finka hanya bisa menggigit bibirnya. Rina yang memperhatikan sahabatnya akhirnya menghela napas. “Fin, dari tadi kamu kaya orang pacaran yang lagi nungguin undangan kencan.” Finka tersentak. “Ap… apaan sih, Rin! Bukan begitu!” Tapi pipinya sudah memerah sampai telinganya. Kafe sore itu cukup ramai. Suara mesin kopi bercampur dengan obrolan para pengunjung. Di sudut dekat jendela, Arga sudah duduk lebih dulu, menatap jam tangannya sesekali. Ia bukan tipe pria yang mudah gelisah, tapi hari ini berbeda. Ada sesuatu yang menunggu di dadanya—sesuatu yang membuatnya lebih sering menatap pintu masuk kafe daripada kopi yang sudah mulai mendingin di meja. Beberapa menit kemudian, pintu berdering pelan. Finka masuk, dengan seragam perawatnya yang baru saja lepas shift. Rambutnya diikat seadanya, wajahnya lelah tapi tetap cantik di mata Arga. Arga menegakkan tubuhnya, bersiap menyambut. Namun sebelum Finka sempat melangkah ke arahnya— “Kapten!” Suara lembut itu terdengar jelas. Dokter Ines muncul dari arah kasir, membawa minuman di tangannya, lalu menghampiri meja Arga dengan senyum manis. “Eh, kebetulan sekali. Saya kira Kapten sudah pulang ke barak. Ternyata di sini,” ujarnya ramah sambil menaruh minumannya di meja Arga, seolah sudah kenal dekat. Finka tertegun di tempat. Matanya membesar, jantungnya langsung jatuh ke perut. Ya Tuhan… bahkan di kafe pun dia bareng sama dokter itu? Arga sempat menoleh ke arah pintu—dan melihat Finka berdiri terpaku. Tatapan matanya langsung berubah, tajam dan penuh kesadaran. Ia segera bangkit dari kursi. “Dokter Ines,” suaranya terdengar datar, lebih dingin dari biasanya, “saya ada janji pertemuan. Mungkin lain kali kita bisa bicara.” Finka, yang merasa canggung, buru-buru ingin berbalik. Namun suara Arga menghentikannya. “Finka,” panggilnya tegas, seolah memastikan gadis itu tahu siapa yang sebenarnya ia tunggu. Ines melirik ke arah Finka, sekejap matanya menilai, lalu ia tersenyum tipis. “Oh… baiklah, Kapten. Kalau begitu saya tidak akan mengganggu.” Ia pamit dengan anggun, tapi meninggalkan jejak pertanyaan besar di kepala Finka. Arga menoleh penuh pada Finka. “Kenapa berdiri di sana? Duduklah.” Jantung Finka masih berdebar kacau. Ia melangkah pelan ke meja, mencoba menyembunyikan kegugupan, meski hatinya dipenuhi satu kalimat: Jadi… Kapten benar-benar menungguku? Finka berdiri kaku di dekat pintu kafe. Jantungnya masih belum bisa menerima kenyataan barusan: Ines bersama Arga, terlihat begitu akrab. Rasanya seperti dadanya diremas. Ia menunduk, pura-pura sibuk merapikan tasnya. Ngapain aku di sini? Aku jelas cuma orang ketiga di antara mereka. Dengan langkah pelan tapi mantap, ia mulai berbalik menuju pintu keluar. Lebih baik pulang saja. Aku nggak sanggup lihat ini. Namun baru dua langkah ia ambil— “Finka!” Suara berat itu menggema jelas di tengah kafe. Semua orang spontan menoleh, termasuk Finka yang langsung membeku. Arga berdiri dari mejanya, menatap tajam ke arahnya. “Ke sini,” ucapnya lagi, kali ini lebih pelan tapi penuh perintah. Finka menggigit bibir, hatinya berkecamuk. Separuh dirinya ingin tetap pergi, tapi separuh lain… tak kuasa menolak panggilan itu. “Kapten… saya… saya kira sudah ada yang menemani,” katanya dengan suara kecil, berusaha menahan getaran di tenggorokannya. Tatapan Arga melembut, meski tetap tegas. Ia melangkah mendekat, membuat jarak di antara mereka semakin sempit. “Kalau saya menunggu orang lain, saya tidak akan berdiri dan memanggilmu seperti ini.” Kata-kata itu menohok tepat ke hati Finka. Matanya membesar, pipinya memanas, tapi rasa kecewa yang tadi menyesakkan perlahan berganti dengan bingung—dan harapan kecil yang tak berani ia akui. Dengan langkah ragu, Finka akhirnya mengikuti Arga kembali ke meja. Namun sebelum ia sempat duduk, Ines sudah kembali membawa minumannya, seolah belum benar-benar berniat pergi. “Oh, jadi ini pertemuan yang Kapten maksud,” ucap Ines ramah, tatapannya bergeser singkat ke arah Finka. “Perawat… Finka, ya? Kita sering ketemu di rumah sakit.” Finka memaksa tersenyum dan mengangguk sopan. “Iya, Dokter. Senang bertemu lagi.” Tapi hatinya gemetar. Duduk di meja yang sama dengan Arga dan Ines membuatnya seolah menjadi orang asing di tengah dua dunia yang berbeda. Arga menarik kursi untuk Finka. “Duduklah.” Nada suaranya jelas, menandakan siapa yang sebenarnya ia tunggu. Ines memperhatikan gerakan itu dengan seksama. Ekspresinya tetap hangat, tapi matanya menyipit tipis, seolah menangkap sesuatu. Obrolan berlangsung singkat. Ines banyak berbicara tentang pekerjaannya di rumah sakit, sesekali menyinggung betapa sulitnya tugas militer. Arga hanya menjawab seperlunya, sementara Finka lebih sering menunduk, mengaduk minuman yang sudah dingin. Namun setiap kali Finka menghela napas atau tanpa sadar melirik ke arah Arga, Ines tidak melewatkan satu pun ekspresi kecil itu. Dan saat Arga menoleh sebentar ke Finka untuk memastikan gadis itu baik-baik saja, Ines makin yakin ada sesuatu yang berbeda di antara keduanya. Senyum Ines menipis, berganti dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Dalam hati ia bergumam, Jadi bukan cuma rumor… perawat ini memang punya perasaan pada Kapten. Suasana meja itu pun berubah. Obrolan ringan seolah hanyalah lapisan tipis, sementara di bawahnya ada arus yang tak terlihat—persaingan diam-diam antara dua perempuan yang sama-sama tahu siapa yang jadi pusat perhatian. Ines meletakkan cangkir kopinya perlahan, menatap Finka dengan senyum ramah yang entah kenapa terasa menusuk. “Finka, ya? Kamu sudah lama kenal Kapten Arga?” Pertanyaan sederhana itu membuat Finka hampir tersedak minumannya. “Eh? A… apa?!” Arga sempat melirik cepat ke arah Ines, wajahnya menegang, tapi ia belum sempat menyela. Finka berdeham gugup, mencoba menata wajahnya. “Biasa saja, Dokter. Kami… hanya kenal karena tugas medis.” Namun nada suaranya jelas bergetar. Ines mengangguk pelan, matanya tak lepas dari Finka. “Oh begitu… tapi sepertinya kamu cukup mengenalnya. Waktu di rumah sakit, aku sering lihat kamu yang paling cepat mengerti maksud Kapten, bahkan sebelum dia bicara.” Pipi Finka merona. Tangannya meremas ujung rok seragamnya di bawah meja. “Ka… karena sudah terbiasa kerja bareng. Itu saja.” Arga mendengus pelan, seolah tak nyaman dengan arah pembicaraan. “Dokter Ines, sepertinya itu pertanyaan yang tidak perlu.” Ines menoleh padanya dengan senyum tipis. “Oh maaf, Kapten. Saya hanya penasaran. Lagipula… kadang kita bisa melihat siapa yang benar-benar peduli dari cara dia memperhatikan, bukan?” Kata-kata itu dilemparkan sambil sekali lagi melirik Finka. Finka menunduk dalam, wajahnya semakin panas. Ia ingin menghilang saja dari meja itu. Arga mengetuk jarinya di meja, suaranya lebih berat dari tadi. “Cukup. Ini pertemuan pribadi. Kalau dokter tidak keberatan, izinkan saya dan Finka melanjutkan pembicaraan berdua.” Ines terdiam sejenak, lalu tersenyum lembut, meski jelas ada kilatan lain di matanya. “Tentu, Kapten. Saya tidak mau mengganggu. Senang bertemu lagi, Finka.” Ia bangkit dengan anggun, meninggalkan meja itu. Namun sebelum benar-benar pergi, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah Finka—tatapan yang seolah berkata: Aku sudah tahu rahasiamu. Begitu pintu kafe berdering menutup di belakang Ines, suasana meja itu berubah drastis. Hening. Finka masih menunduk, jarinya sibuk mengusap gelas yang sudah basah oleh embun dingin. Wajahnya panas, tapi hatinya penuh campuran rasa: malu, gugup, sekaligus… kecewa. Arga duduk tegak, kedua tangannya bertaut di atas meja. Ia menatap Finka lekat-lekat, tapi gadis itu sama sekali tak berani menoleh. Beberapa detik terasa seperti menit panjang. Hingga akhirnya, suara berat itu pecah. “Kenapa kamu mau pergi tadi?” Finka tersentak. Ia menggigit bibir, berusaha menyusun jawaban. “A… aku kira Kapten sudah ada yang menemani. Jadi aku…” suaranya mengecil, “…nggak pantas duduk di sini.” Arga menarik napas dalam. Tatapannya tajam, tapi suaranya lebih lembut dari biasanya. “Kalau aku ingin ditemani orang lain, aku tidak akan mengirim pesan padamu, Finka.” Finka terdiam. Kata-kata itu menohok langsung ke dadanya, membuat jantungnya berdegup kencang. Perlahan, ia mengangkat wajah, menatap mata Arga yang serius. Ada kejujuran di sana. Dan juga sesuatu yang membuatnya sulit bernapas. “Ka… Kapten…” Finka berbisik, suaranya bergetar. Arga menghela napas, lalu bersandar sedikit. “Aku tahu ada banyak gosip di luar sana. Tentang aku. Tentang dokter itu. Tapi aku tidak peduli. Yang kupedulikan… hanya orang yang duduk di depanku sekarang.” Finka membeku, matanya membesar. Pipinya memerah, bibirnya hampir tak bisa bergerak. Ia tak tahu harus menjawab apa—karena hatinya sudah lebih dulu menjawab dengan berdebar kacau.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD