Siang itu, IGD sudah dipenuhi hiruk pikuk. Pasien baru masuk, suara monitor berbunyi, dan perawat mondar-mandir membawa peralatan medis.
Finka berusaha fokus, meski sejak pagi jantungnya tak pernah tenang. Di sampingnya, Dokter Ines tampak begitu tenang dan cekatan. Rambutnya yang diikat rapi tak sedikit pun mengganggu pergerakannya saat memeriksa pasien.
“Pasien dengan luka sayat di tangan kanan. Tekanan darah normal. Perlu dijahit dua sampai tiga jahitan,” ujar Ines cepat setelah memeriksa.
“Baik, Dokter,” sahut Finka sambil menyiapkan alat.
Sinta yang ikut berjaga langsung berbisik ke Finka dengan suara menggoda,
“Fin… liat nggak? Elegan banget ya Dokter Ines. Kebayang nggak kalau kerja bareng Kapten Arga? Duh, pasangan sempurna.”
Finka langsung salah ambil sarung tangan, malah ukuran kebesaran. Ia buru-buru mengganti sambil menunduk.
“I-iya, iya… fokus kerja dulu lah, Sin!”
Ines sempat menoleh. “Ada yang salah, Finka?”
“Nggak, Dok. Semua aman,” jawabnya dengan senyum kaku.
Proses berjalan cepat. Ines menjahit luka pasien dengan tangan stabil, sementara Finka membantu menyiapkan kasa dan menahan tangan pasien. Saat selesai, pasien berterima kasih.
Ines tersenyum hangat. “Cepat sembuh, ya. Jangan lupa kontrol beberapa hari lagi.”
Begitu pasien keluar, Sinta langsung berdecak kagum.
“Wah, Fin, aku jadi fans Dokter Ines deh. Kayak dokter di drama-drama.”
Finka hanya menghela napas, lalu menunduk sambil pura-pura merapikan alat.
Kenapa aku jadi merasa makin kecil di hadapannya…
Tiba-tiba, suara panggilan lewat pengeras terdengar:
“Perhatian, tim IGD. Akan ada kunjungan singkat dari perwakilan militer sore ini. Mohon semua siap.”
Finka spontan menoleh ke arah pengeras suara. Jantungnya berdegup kencang.
Perwakilan militer? Jangan-jangan… Kapten juga ikut?
Sementara Ines terlihat biasa saja, hanya mengangguk ringan dan kembali menulis laporan.
Sore itu, pintu IGD terbuka. Beberapa prajurit masuk lebih dulu, membawa map dan mencatat sesuatu. Dan di antara mereka… sosok yang begitu familiar muncul.
Kapten Arga.
Langkahnya tegas, tatapannya lurus ke depan. Seragamnya rapi, wajahnya tetap dingin seperti biasa. Tapi bagi Finka, dunia langsung terasa berhenti berputar.
Ya Allah… beneran dia…
“Selamat sore,” sapa dokter kepala sambil menyambut rombongan. “Silakan lihat-lihat, Kapten.”
Arga menunduk sopan, lalu menatap sekeliling. Pandangannya hanya sekilas menyapu ruangan, sampai akhirnya berhenti di satu titik—Finka, yang berdiri di samping troli pasien sambil memeluk map erat-erat.
Finka buru-buru menunduk, wajahnya panas. Jangan tatap aku, jangan tatap aku…
Tapi sebelum suasana makin canggung, Ines maju dengan senyum profesional.
“Kapten, kita bertemu lagi. Senang sekali bisa kerja sama di sini.”
Beberapa perawat langsung saling sikut.
“Wah, liat tuh… cocok banget, kan?”
“Drama Korea banget sumpah!”
Finka hanya bisa menggigit bibir, berusaha fokus merapikan alat medis. Tangannya gemetar sampai hampir menjatuhkan gunting kecil.
Arga menoleh ke Ines dan mengangguk singkat.
“Selamat bertugas, Dokter.”
Suaranya datar, tanpa ekspresi lebih.
Namun, ketika pandangannya sekilas kembali jatuh ke arah Finka, sesuatu yang samar melintas di wajahnya. Bukan dingin, bukan pula datar—hanya sepersekian detik, ada kehangatan yang tak disadari orang lain.
Finka menunduk makin dalam.
Ya Allah… jangan sampe ada yang sadar kalau aku deg-degan setengah mati begini.
Setelah berbincang singkat dengan dokter kepala dan Ines, Arga beranjak melangkah. Prajurit lain masih sibuk mencatat kondisi IGD, tapi ia memilih bergerak ke arah yang berbeda—tepat ke tempat Finka berdiri.
Finka yang masih sibuk pura-pura merapikan alat langsung membeku. Ya Allah, jangan ke sini… jangan ke sini…
“Perawat Finka.”
Suara berat itu terdengar tepat di hadapannya. Finka hampir menjatuhkan map yang ia peluk. Ia buru-buru berdiri tegak.
“S-siap, Kapten!”
Beberapa perawat langsung melirik-lirik dari jauh. Rina sampai menutup mulutnya dengan tangan agar nggak teriak kegirangan.
Arga menatap singkat map yang dipeluk Finka.
“Laporan pasien IGD sudah rapi?”
“I-iya, Kapten. Ini… ini sudah lengkap,” jawab Finka terbata, lalu buru-buru menyodorkan map itu.
Arga menerima, membukanya sebentar, lalu menutup kembali.
“Baik. Terima kasih.”
Ia tidak langsung pergi. Matanya menatap Finka sepersekian detik lebih lama, seakan ingin mengatakan sesuatu yang tak bisa diucapkan di depan orang banyak.
Finka menunduk, wajahnya merah padam.
“Sa… sama-sama, Kapten.”
Momen itu cepat berlalu, tapi cukup membuat ruangan IGD jadi ramai dengan bisik-bisik.
“Eh, kalian liat nggak? Kapten Arga ngomong langsung ke Finka!”
“Fix banget tuh, pasti ada sesuatu!”
Ines yang mendengar hanya tersenyum samar, lalu kembali menulis catatan. Namun ada sorot penasaran di matanya setiap kali melirik Arga dan Finka.
Arga akhirnya melangkah pergi, tapi sebelum keluar ruangan, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah Finka—diam-diam.
Dan itu cukup membuat Finka menunduk lebih dalam, berusaha menahan degupan jantung yang rasanya bisa terdengar seisi ruangan.
Malam itu, barak sudah sepi. Lampu redup, hanya beberapa prajurit yang masih berbincang pelan sebelum akhirnya tidur.
Arga duduk di ranjangnya, membuka seragam luar lalu menyandarkan punggung ke dinding. Tangannya masih memegang map laporan pasien yang tadi ia terima di IGD. Padahal, laporan itu sudah diperiksa sepintas oleh stafnya.
Tapi entah kenapa, matanya tetap berhenti di tulisan tangan kecil di pojok—catatan tambahan dari perawat jaga. Tulisan itu milik Finka.
Arga mendesah pelan. Dia masih sama seperti dulu… berantakan tapi penuh perhatian.
Tanpa sadar, ia teringat lagi ekspresi Finka saat tadi berdiri gugup di depannya. Pipi merah, tangan gemetar, tapi tetap berusaha profesional.
Arga menutup map itu, lalu mengusap wajahnya sendiri.
“Kenapa aku harus terus mikirin dia…” gumamnya lirih.
Bima yang tidur di ranjang sebelah mendengar samar.
“Kapten ngomong sama siapa tuh?” katanya setengah mengantuk.
Arga langsung diam, lalu berbaring memunggungi prajurit lain. Ia menarik selimut, mencoba memejamkan mata.
Namun bayangan Finka justru makin jelas.
Senyumnya, sorot matanya, bahkan suaranya yang terbata-bata tadi.
Arga menutup mata lebih rapat.
Terserah orang mau gosip apa. Aku cuma… nggak mau dia salah paham lagi. Apalagi sampai terluka.
Arga masih berbaring di ranjang, tapi matanya menolak terpejam. Suara dengkuran prajurit lain tak mampu menenggelamkan pikirannya yang berputar-putar pada satu nama: Finka.
Akhirnya ia bangkit, duduk kembali, lalu meraih ponselnya. Jari-jarinya sempat ragu, menggantung di atas layar.
Apa aku… terlalu bodoh kalau kirim pesan ini?
Tapi rasa ingin tahu dan cemasnya lebih kuat. Perlahan ia mengetik:
“Perawat Finka, apa kamu bisa bertemu sebentar setelah selesai kerja? Ada hal yang ingin saya bicarakan.”
Arga menatap layar lama sekali. Tangannya sudah siap menekan tombol kirim, tapi ia menarik napas dalam-dalam dulu.
Kalau aku kirim, dia mungkin salah paham lagi. Kalau aku nggak kirim… aku sendiri yang nggak tenang.
Akhirnya, dengan satu gerakan tegas khas seorang kapten, ia menekan send.
Pesan terkirim.
Arga menatap layar, menunggu tanda centang berubah. Namun menit berganti menit, tak ada balasan.
Ia menghela napas panjang, lalu bersandar kembali ke dinding.
“Mungkin dia sibuk… atau mungkin memang nggak mau.”
Tapi meski mulutnya bergumam begitu, ada sesuatu di dalam dadanya yang diam-diam berharap… pesan itu akan dibalas.
Di kamar kosnya, Finka baru saja selesai menata berkas pasien untuk laporan besok. Matanya lelah, tapi begitu ponselnya bergetar, ia refleks meraihnya.
Seketika jantungnya berdegup kencang. Nama yang muncul di layar membuat tangannya hampir menjatuhkan ponsel.
Kapten Arga.
Dengan tangan gemetar, ia membuka pesan itu.
> “Perawat Finka, apa kamu bisa bertemu sebentar setelah selesai kerja? Ada hal yang ingin saya bicarakan.”
Finka terpaku. Tubuhnya seperti membeku. Kapten Arga… mau ketemu? Sama aku?
Ia menutup mulut dengan kedua tangannya, takut suaranya keluar terlalu keras. Pipi hangatnya terasa memerah.
“Ya ampun… apa aku mimpi?” bisiknya lirih.
Setelah beberapa detik panik, ia meraih ponselnya lagi. Jari-jarinya bergetar hebat saat mengetik balasan. Ia bahkan menghapus tulisannya tiga kali sebelum akhirnya berani mengirim:
> “Baik, Kapten. Setelah kerja saya sempat. Tolong beri tahu jam dan tempatnya.”
Pesan terkirim.
Finka langsung menunduk, menutup wajahnya dengan bantal. Senyumnya tak bisa ia sembunyikan meski ada rasa takut bercampur harap.
Kenapa aku malah deg-degan begini? Jangan-jangan dia mau membicarakan sesuatu yang penting… atau…
Hatinya semakin bergetar, antara cemas dan bahagia.