Finka pamit kepada orang tuanya dengan wajah pucat. Meski hatinya masih berguncang, ia memilih kembali ke kota malam itu juga. Tas kecil sudah ia siapkan, dan mobil travel yang dipesannya lewat telepon datang menjemput di depan rumah.
Perjalanan terasa panjang dan sesak. Lampu jalan yang berkelebat di kaca jendela seperti bayangan yang mengejarnya. Finka bersandar, matanya menatap kosong keluar jendela. Suara supir dan penumpang lain terdengar samar, tenggelam oleh pikiran yang berputar-putar.
Bagaimana kalau mereka tak mau menunggu lama? Bagaimana kalau orang tuaku dipaksa? Aku… apa aku tega menolak, sementara hutang itu bisa melumat semuanya?
Tangannya meremas ujung rok seragam yang masih ia kenakan. Sesekali ia menunduk, menutup wajah dengan telapak tangan agar orang lain tak melihat matanya yang mulai basah.
Saat mobil melintasi jalanan sepi, Finka menatap bayangannya sendiri di kaca. Wajah itu tampak lelah, seolah bukan dirinya.
“Aku cuma ingin hidup normal… bekerja, merawat pasien… kenapa harus serumit ini?” bisiknya lirih.
Ponselnya bergetar. Ada pesan dari seorang Rina di rumah sakit:
“Finka, besok pagi kita ada briefing. Jangan lupa hadir ya.”
Ia menatap layar lama sekali sebelum menjawab singkat:
“Iya, aku pasti datang.”
Namun jauh di dalam hatinya, Finka tahu besok bukan hanya tentang pekerjaannya. Bayangan pertemuan tadi dengan Pak Malik terus menghantui, membuat dadanya sesak.
Pagi itu, rumah sakit sudah ramai. Suara langkah kaki tergesa, panggilan lewat pengeras suara, dan dering telepon bercampur menjadi hiruk pikuk yang biasa. Namun bagi Finka, suasana itu terasa asing.
Ia melangkah ke ruang briefing dengan seragam putih rapi, wajah ditutupi senyum tipis agar tak ada yang curiga. Di dalam ruangan, beberapa rekan sejawat sudah duduk sambil membuka catatan. Kepala perawat, Bu Ratna, memimpin rapat dengan nada tegas.
“Besok kita kedatangan tim dari kementerian kesehatan. Jadi semua ruangan harus siap, laporan harus rapi, jangan sampai ada kesalahan.”
Finka mencatat dengan cepat, meski pikirannya terus melayang pada pertemuan kemarin dengan Pak Malik. Kata-katanya seperti gema yang tak mau hilang: “Hutang itu semakin hari semakin menekan…”
“Finka,” suara Bu Ratna tiba-tiba memanggil, membuatnya tersentak.
“I-iya, Bu?”
“Kamu yang pegang shift malam minggu ini, kan? Pastikan koordinasi dengan dokter jaga. Jangan sampai ada pasien terabaikan.”
“Siap, Bu.”
Rapat berlanjut, tapi jantung Finka masih berdebar kencang. Ia menunduk, pura-pura mencatat, padahal tangannya sedikit gemetar.
Setelah briefing selesai, Finka keluar lebih dulu, mencari udara. Ia berdiri di balkon lantai dua, menatap halaman rumah sakit. Udara pagi sebenarnya segar, tapi baginya tetap sesak.
Apa aku bisa terus sembunyi di balik pekerjaanku? Sampai kapan?
Saat itu, ponselnya kembali bergetar. Nomor tak dikenal muncul di layar.
Dengan ragu, ia angkat.
“Halo?”
Suara berat di seberang menjawab singkat, dingin.
“Ini hanya pengingat, Nona Finka. Keluarga kami menunggu jawaban Anda. Jangan terlalu lama.”
Sambungan terputus sebelum Finka sempat berkata apa pun. Ia menatap layar ponselnya, tubuhnya melemas.
“Ya Tuhan…” gumamnya, hampir berbisik.
***
Suasana barak sore itu penuh dengan suara riuh rendah para prajurit. Ada yang tertawa keras, ada yang asyik bercanda sambil main kartu, ada pula yang sibuk merapikan senjata sebelum disimpan.
Arga baru saja masuk setelah apel sore. Ia melepas topi militernya, lalu duduk di tepi ranjang sambil membuka botol minum. Dari luar, ia terlihat tenang seperti biasa. Tapi beberapa prajurit yang sudah akrab tahu, wajah dingin itu sedang menyembunyikan pikiran berat.
“Kapten, besok katanya ada jadwal latihan fisik gabungan, ya?” tanya salah satu anak buahnya, Bima, sambil ikut duduk di ranjang sebelah.
Arga hanya mengangguk singkat.
“Siap, jam lima pagi. Jangan ada yang telat.”
“Siap, Kapten!” jawab Bima tegak, tapi setelah itu nyengir. “Tapi… Kapten, saya penasaran. Gosip yang di luar tuh bener nggak, Kapten deket sama Dokter Ines?”
Seisi barak langsung menoleh, beberapa prajurit yang sebelumnya main kartu ikut tertawa.
“Wah iya tuh, Kapten. Katanya sering makan bareng, dapat bekal spesial segala…”
“Hahaha, fix Kapten bentar lagi nyusul kita yang udah punya pasangan!”
Arga mendesah panjang, memijat pelipisnya.
“Kenapa sih, kalian lebih semangat urusin gosip daripada latihan?”
“Lho, Kapten,” sahut prajurit lain, “kalo Kapten punya pasangan kan kita juga seneng. Jadi motivasi gitu.”
Arga berdiri, suaranya tegas.
“Cukup. Urus hidup kalian masing-masing.”
Suasana barak langsung hening, hanya terdengar suara kursi yang bergeser. Para prajurit saling melirik, lalu pelan-pelan kembali ke aktivitas masing-masing.
Arga berjalan keluar dari barak, mencari udara segar. Langkahnya membawa ia ke halaman, di mana langit sore mulai berubah jingga. Ia duduk di bangku panjang dekat tiang bendera, menatap jauh ke depan.
Tangannya refleks merogoh saku celana. Dari dalam, ia keluarkan kertas kecil yang sudah agak kusut — catatan dari Finka waktu itu. Tulisan tangannya sederhana, penuh coretan, tapi entah kenapa selalu bisa membuat bibir Arga melengkung samar.
Finka… apa kamu juga lagi mikirin sesuatu? Kenapa perasaan ini makin aneh tiap hari…
Arga menghela napas panjang. Ia menatap langit, seolah mencari jawaban di balik cahaya senja yang meredup.
Di markas militer, senja baru saja turun. Suara terompet tanda apel sore menggema di lapangan. Derap langkah prajurit terdengar serempak, teratur, menutup misi hari itu.
Kapten Arga berdiri tegak di barisan depan, wajahnya seperti biasa—dingin dan tanpa ekspresi.
Komandan peleton maju selangkah, suaranya lantang.
“Prajurit! Hari ini operasi pengamanan selesai tanpa korban jiwa. Kalian semua sudah bekerja dengan baik. Mulai malam ini, seluruh anggota kembali ke barak untuk masa istirahat!”
Sorak kecil terdengar dari barisan prajurit. Mereka saling melirik lega, ada yang menepuk bahu temannya, ada pula yang menahan tawa. Bagi mereka, kabar kembali ke barak adalah tanda bisa istirahat lebih nyaman.
Arga mengangguk singkat, lalu memberi hormat.
“Terima kasih atas kerja keras kalian. Laksanakan!”
Barisan bubar perlahan. Beberapa prajurit berlari kecil ke arah tenda untuk mengemasi barang, sebagian lagi langsung bercanda sambil menunggu transport ke barak.
Arga sendiri tetap diam, hanya menepuk debu di seragam lorengnya. Sejenak matanya melirik ke arah tenda medis—tempat gosip selama ini beredar. Ia bisa mendengar samar suara prajurit lain di belakang.
“Wah, berarti Kapten bisa makin sering ketemu sama Dokter Ines dong, ya?”
“Hus, jangan asal ngomong. Bisa disemprot Kapten, loh!”
Arga menghela napas dalam hati, menahan diri untuk tidak menegur. Kepalanya justru dipenuhi satu bayangan lain—perawat cerewet yang entah kenapa makin sering singgah di pikirannya.
Tangannya tanpa sadar meraba saku, memastikan kertas kecil dengan tulisan tangan Finka masih tersimpan aman.
Di balik wajah dinginnya, ada senyum tipis yang tak seorang pun sempat lihat.
Malam itu, setelah udara senja mulai berubah pekat, Arga kembali masuk ke barak. Beberapa prajurit sudah berbaring di ranjang masing-masing, ada juga yang masih bercanda pelan.
Bima sempat melirik ketika Arga masuk, tapi tak berani membuka percakapan lagi setelah teguran keras sore tadi.
Arga duduk di ranjangnya, melepas sepatu bot, lalu menatap langit-langit barak yang temaram. Seisi ruangan kembali terasa ramai oleh suara prajurit lain, tapi di telinga Arga, semua itu terdengar jauh.
Ia menghela napas dalam-dalam.
Kenapa hati ini malah makin penuh? Bukannya tenang setelah tugas selesai, tapi justru tambah sesak.
Tangannya kembali meraih kertas kecil di saku. Ia simpan di bawah bantal, seolah itu satu-satunya benda yang bisa membuatnya tidur malam ini.
“Besok akan panjang…” bisiknya lirih sebelum memejamkan mata.
---
Keesokan paginya, suasana rumah sakit berbeda. Di ruang perawat, Finka baru saja meletakkan map pasien ketika sebuah pengumuman lewat pengeras suara terdengar:
“Diumumkan kepada seluruh staf, mulai hari ini, Dokter Ines akan bergabung sementara di rumah sakit kita untuk membantu tim medis.”
Seketika ruang jaga meledak.
“Astaga! Jadi bener dokter cantik itu pindah ke sini?!” seru Sinta.
“Waduh, makin heboh deh rumah sakit kita!” sahut Rina sambil melirik Finka.
Finka yang baru saja menuang teh hampir tersedak. “Ap… apa? Dokter Ines? Di sini?”
Tak lama, pintu terbuka. Seorang perempuan anggun dengan jas dokter putih masuk, senyum ramah tersungging di bibirnya. Rambut hitam panjangnya tergerai rapi, dan wibawa yang dibawanya langsung membuat suasana ruangan hening.
“Selamat pagi, semuanya. Saya Ines. Senang bisa bekerja sama di sini,” ucapnya tenang.
Para perawat langsung berbisik kagum.
“Cantik banget, ya Allah…”
“Pantesan Kapten Arga aja bisa luluh.”
Finka menunduk, pura-pura sibuk mengaduk teh, padahal wajahnya merah padam. Dalam hati ia bergumam,
Ya Allah… kenapa dunia ini kejam banget sama aku?
Kepala perawat, Bu Ratna, masuk bersama dokter kepala. Keduanya berdiri di depan ruangan dengan wajah serius tapi penuh wibawa.
“Baik, semuanya,” ujar dokter kepala, “mulai hari ini, Dokter Ines akan bertugas sementara di rumah sakit ini. Beliau sudah berpengalaman di lapangan bersama tim militer, jadi saya harap kerjasama berjalan lancar.”
Ines tersenyum sopan, menunduk sedikit.
“Terima kasih atas sambutannya. Saya harap kita bisa saling membantu demi pasien.”
Para perawat bertepuk tangan kecil, suasana langsung hangat. Sinta dan Rina bahkan saling sikut sambil berbisik kagum.
“Liat deh… kayak dokter bintang iklan.”
“Ya ampun, pantas Kapten Arga digosipin.”
Finka pura-pura ikut tepuk tangan, tapi jantungnya seperti dipukul berkali-kali.
Jadi gosip itu… makin kuat bener dong. Mereka kerja bareng di lapangan, sekarang satu rumah sakit pula. Aku… kalah telak.
Bu Ratna melanjutkan, “Untuk minggu pertama, Dokter Ines akan ditempatkan di ruang IGD agar terbiasa dengan sistem di sini. Saya minta perawat senior mendampingi. Finka, kamu bisa?”
Finka hampir menjatuhkan gelas teh yang masih digenggam.
“S-saya, Bu?”
“Iya, kamu kan paling sering jaga di IGD. Tunjukkan semua prosedur ke Dokter Ines, ya.”
Semua mata langsung tertuju padanya. Rina menggigit bibir, mencoba menahan tawa sekaligus panik melihat wajah sahabatnya pucat pasi.
Finka mengangguk kaku. “B-baik, Bu…”
Dalam hati ia menjerit,
Ya Allah… kenapa harus aku yang segrup sama dia?! Aku bisa pingsan tiap hari kalau begini!
Sementara itu, Ines menoleh ke arah Finka dengan senyum ramah.
“Senang bisa bekerja sama denganmu, Finka. Tolong bimbing saya, ya.”
Finka membalas dengan senyum kaku, hampir seperti robot.
“I-iya… tentu, Dokter…”