part 7

815 Words
Hari itu, ruang perawat ramai sekali. Semua orang bersemangat membicarakan gosip baru yang entah dari mana asalnya. “Eh, kalian udah dengar belum?” bisik salah satu perawat, Sinta. “Kapten Arga yang galak itu… katanya sekarang deket banget sama dokter cantik di markas militer sana.” “Astaga! Dokter siapa?” sahut perawat lain. “Namanya Dokter Ines. Katanya sih pinter, anggun, anak pejabat pula.” Seketika ruang jaga meledak dengan suara “Waaah” dan “Pantas aja belum nikah, ternyata nunggu jodohnya sepadan.” Finka yang baru masuk sambil bawa map pasien, langsung terpaku di pintu. “Ap… apa?” Rina, yang duduk sambil ngemil gorengan, langsung melirik ke arah Finka. Wajah sahabatnya itu sudah berubah pucat seperti habis melihat hantu. “Eh, Fin… kamu nggak apa-apa? Kok kayak abis ditinggal tunangan lari sama driver ojol?” “Rina ! Jangan sembarangan!” Finka berusaha menutupi rasa kagetnya. “Mana mungkin Kapten galak itu… deket sama dokter cantik. Nggak mungkin.” Tapi pikirannya langsung membayangkan seorang dokter cantik, anggun, duduk manis di samping Arga. Sementara dirinya? Perawat bawel, sering salah jalan, dan ceroboh tingkat dewa. Finka memukul kepalanya sendiri dengan map. “Ya Allah, kenapa aku jadi mikirin begini sih?! Aku siapa dia siapa!” Finka menutup wajahnya. “Aku nggak patah hati! Aku cuma… cuma… yaaa…” Suara kecilnya makin hilang, “cuma kangen aja…” Di sisi lain, gosip itu memang beredar. Dokter Ines memang sering ditempatkan di tenda medis bersama Arga untuk menangani prajurit yang cedera. Ines ramah, sering menyapa, bahkan kadang menawarkan makanan. “Kapten, jangan lupa makan. Saya bawain bekal, nih.” Arga hanya mengangguk dingin. “Terima kasih, Dokter.” Lalu… diam lagi. Dalam hatinya, ia menghela napas. Kenapa semua orang sibuk ngurus saya dekat dengan siapa? Kalau perawat itu tahu, jangan-jangan dia salah paham lagi… Arga merogoh saku, menyentuh kertas kecil dengan tulisan tangan Finka yang ia simpan. Dan entah kenapa, senyum samar muncul. Malam itu, Finka rebahan di ranjang, menatap langit-langit. “Ya Allah… kalau Kapten beneran sama dokter cantik itu… kenapa hatiku sakit banget ya?” Rina yang sudah setengah tidur, hanya bergumam, “Karena kamu jatuh cinta, Finka. Titik. Hari Senin pagi, Finka baru saja selesai ronda malam di rumah sakit. Matanya sayu, rambut awut-awutan, dan wajah tanpa make up. Saat duduk di ruang perawat, tiba-tiba Sinta mendekat dengan ponsel. “Fin, liat deh! Foto Kapten Arga sama Dokter Ines ! Romantis banget.” Satu layar ponsel ditunjukkan ke wajah Finka. Terlihat Arga dan seorang dokter cantik berambut panjang duduk berdampingan di tenda medis. Si dokter sedang menyodorkan botol minum ke Arga. Sinta berseru, “Wah, cocok banget kan mereka? Kayak drama Korea tentara-dokter itu loh!” Finka langsung kaget. “Apa?! Drama apaan?! Bukan, itu cuma… cuma… tugas medis biasa! Ya kan?!” Nadanya meninggi sampai semua orang menoleh. Rina buru-buru nutupin mulut Finka pakai tisu. “Ssst! Fin,, suara kamu kedengeran sampe ke IGD!” Masalahnya nggak berhenti di situ. Waktu istirahat siang, Finka tanpa sadar curhat keras-keras di kantin rumah sakit. “Ya Allah, kalau Kapten Arga beneran suka sama dokter itu… ya sudahlah… aku ikhlas. Walau hatiku remuk… walau jiwaku hancur… aku tetap bisa berdiri… walau goyah—” Semua orang di meja sebelah menatap. Dan ternyata… di meja pojok, ada seorang prajurit militer yang sedang makan. Prajurit itu menoleh sambil nyengir. “Eh, kamu kan perawatnya Kapten Arga? Wah, jadi gosip itu bener dong ya?” “Gosip apa lagi?!” Finka hampir keselek bakso. “Ya itu, Kapten Arga lagi deket sama Dokter Ines. Tadi saya aja liat mereka makan bareng.” Finka langsung tersedak. “MAKAN BARENG?!” suaranya melengking sampai sendok orang lain jatuh. --- Di markas, Arga lagi-lagi duduk dengan Dokter Ines. Dokter itu menawari makanan. “Kapten, cobain ini. Saya bawain kue.” Arga cuma melirik, lalu menjawab singkat. “Saya nggak suka manis.” Tapi karena tatapan si dokter menunggu, akhirnya ia mengambil satu potong. “Terima kasih.” Di luar tenda, beberapa prajurit yang kepo langsung bisik-bisik. “Liat tuh, Kapten lagi makan kue dari Dokter Ines. Wah, fix udah jadian.” Arga yang mendengar malah menepuk jidat. Astaga… beginilah gosip bisa menghancurkan hidup seorang kapten. Malam itu, Finka benar-benar nggak tahan. Ia mengetik pesan di HP, tanpa berpikir panjang: “Kapten! Jadi bener ya gosipnya??!” Belum sempat ia kirim, Rina merebut HP-nya. “Fin,, sadar diri! Masa kamu nanya langsung gitu?! Ntar dikira kamu cemburu berat!” Finka panik. “Tapi… tapi… kalau aku nggak nanya, hatiku bisa meledak Rin!” Rina mendesah. “Udah lah, kamu tuh lagi jatuh cinta parah. Mending ngaku aja sekalian.” Finka langsung nutup wajah dengan bantal. “NGGAKK!! Aku nggak siap!” Di dua tempat berbeda, gosip terus menyebar. Finka makin galau, Arga makin pusing. Dan sepertinya… hanya masalah waktu sebelum mereka berdua terjebak dalam salah paham konyol yang lebih besar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD