Sudah dua minggu sejak bus itu membawa Arga pergi.
Dua minggu tanpa wajah dingin yang selalu bikin Finka gemas.
Dua minggu tanpa suara berat yang sering muncul dengan komentar kaku, tapi entah kenapa bikin hangat.
Awalnya Finka mengira ia akan baik-baik saja. “Aku kan sibuk kerja, nggak bakal sempat kangen,” katanya pada Rina dengan percaya diri.
Nyatanya? Tiap malam, Finka menatap layar ponselnya, berharap ada notifikasi dari nomor tak dikenal yang ternyata Arga.
Tapi tentu saja, tak ada.
Rindu yang Aneh
“Fin, kok kamu melamun terus?” tanya Rina saat mereka makan siang di kantin rumah sakit.
“Siapa yang melamun? Aku cuma lagi mikirin… ehm… laporan pasien.”
Rina mengangkat alis. “Laporan pasien atau laporan Kapten?”
Finka tersedak bakso. “Astaga, Rin !! Bisa nggak sih nggak asal ngomong?!”
Rina tertawa ngakak. “Ya ampun Finka,, mukamu tuh udah kebaca... Kalau kamu lagi rindu berat sama kapten galak itu.."
“Rina..!! Finka sudah mau melempar sendok.
****
Gosip yang Beredar
Kekacauan Finka makin parah ketika salah satu tentara yang sering kontrol ke rumah sakit—Letnan Putra—secara terang-terangan berkata di depan semua orang,
“Eh, perawat cantik, kamu kan deket sama Kapten Arga ya? Katanya dia belum nikah tuh. Jangan-jangan kamu calonnya?”
Semua mata langsung melotot ke arah Finka.
Muka Finka memerah seketika. “Ha?! Nggak! Jangan asal ngomong, Pak Letnan! Saya cuma perawatnya kok!”
Tapi Letnan Putra malah nyengir. “Yakin cuma perawat? Kapten Arga tuh biasanya galak sama cewek, tapi kok sama kamu nurut?”
Rina yang duduk di belakang Finka langsung menutup mulut menahan tawa.
“Duh Fin, gosipnya udah menyebar tuh. Siap-siap aja jadi bahan obrolan se-ruang jaga.”
Finka hampir pingsan. “Ya Allah… hidupku hancur sudah.”
****
Malam Sepi
Malam itu, Finka pulang sendirian. Hujan turun deras, jalanan basah berkilau oleh lampu jalan.
Ia duduk di kamarnya, memeluk bantal.
“Kapten… kamu lagi di mana ya? Lagi makan dengan tenang, atau malah hujan-hujanan di lapangan?”
Suaranya tenggelam oleh suara hujan. Ia menutup mata, dan untuk pertama kalinya ia mengakui dalam hati:
“Aku beneran kangen dia…”
---
Namun, tanpa sepengetahuan Finka, di sebuah kota jauh, Arga duduk di dalam tenda sederhana.
Di tangannya ada secarik kertas kecil—sebuah notes yang diam-diam ia ambil dari meja medis Finka sebelum berangkat.
Tulisannya jelek, tapi ada coretan berbunyi: “Jangan bandel, istirahat yang cukup, jangan bikin saya repot.”
Arga menatap tulisan itu lama, lalu tersenyum samar.
“Perawat menyebalkan… ternyata bikin saya nggak tenang kalau jauh.”
****
Pov Finka....
Sudah hampir sebulan sejak Arga pergi.
Setiap malam, Finka membuka aplikasi pesan singkat di ponselnya.
Jempolnya bergerak menulis:
“Halo Kapten, sehat kan di sana?”
Lalu ia menghapusnya.
Mengetik lagi:
“Jangan lupa makan. Jangan bandel.”
Hapus lagi.
Mengetik lagi:
“Aku kangen…”
Finka langsung menjerit pelan, menutup wajah dengan bantal.
“Gila! Kenapa sih aku jadi norak gini?! Nggak bisa, nggak boleh. Masa aku duluan yang chat?!”
Rina, yang kebetulan numpang tidur di kos Finka, hanya berguling malas.
“fin, kalau kamu nunggu Kapten itu nge-chat duluan, sampai cicitmu lahir juga nggak bakal kejadian.”
“Rina !! Jangan ngomong serem-serem gitu dong!”
---
POV Arga....
Di seberang sana, Arga menatap sebuah buku catatan kecil yang sudah setengah terisi.
Isinya? Tulisan tangannya yang kaku, penuh coretan.
-- Finka, kalau kamu baca ini, mungkin aku sudah terlalu pengecut untuk mengatakannya langsung.
Terima kasih sudah merawatku. Aku benci mengakuinya, tapi aku mulai terbiasa dengan suaramu yang cerewet.
Dan entah kenapa… aku jadi ingin pulang. Bukan hanya ke rumah, tapi… ke kamu.
Arga berhenti menulis. Tangannya mengusap wajah, kesal sendiri.
“Ini apa-apaan, Kapten? Nulis kayak anak SMA baru jatuh cinta…”
Ia merobek halaman itu, memasukkannya ke saku.
Tapi ia tidak pernah mengirimnya.
---
Beberapa hari kemudian, Finka sedang bertugas di rumah sakit ketika menerima paket dari pos militer.
Isinya? Obat-obatan dan surat permintaan perawatan.
Saat ia membuka berkas-berkas itu, selembar kertas kecil jatuh.
Tulisan tangan Arga.
Namun, bukan surat cinta. Hanya kalimat singkat:
-- Perawat, jangan lupa makan. Jangan jatuh sakit. Saya tidak mau direpotkan kalau kembali nanti.
Finka terdiam, lalu tersenyum miris.
“Tulisan kaku begini aja bisa bikin aku deg-degan… Apalagi kalau dia beneran bilang langsung.”
Rina yang melihatnya langsung bertepuk tangan.
“Wah, romantis tingkat militer! Bikin jatuh cinta tanpa kata ‘aku cinta kamu’. Fin, kamu udah tamat!”
Finka memelototinya. “Rina, serius deh, kalau suatu hari Kapten balik, aku bakal… aku bakal…”
Ia menggantung kalimatnya, pipinya panas.
---
Hati yang Sama-Sama Diam
Malam itu, di dua tempat berbeda, Finka dan Arga sama-sama menatap tulisan yang tidak pernah terkirim.
Finka dengan pesan-pesan yang ia hapus.
Arga dengan catatan yang ia simpan rapat.
Keduanya ingin berkata.
Keduanya ingin jujur.
Tapi untuk saat ini… jarak masih membuat mereka hanya bisa diam.