Beberapa hari setelah acara militer itu, rumah sakit kembali ke rutinitas biasa. Finka mencoba fokus bekerja, tapi pikirannya sering melayang ke ucapan Arga malam itu.
“Kalau saya anggap Anda lebih dari sekadar perawat… apa itu masalah?”
Setiap mengingatnya, wajah Finka otomatis merah. Ia bahkan sampai salah menulis laporan: menulis “vitamin hati” alih-alih “vitamin C”.
“finka, kamu kenapa sih? Senyum-senyum sendiri terus,” goda Rina sambil menyenggolnya.
“Enggak! Aku cuma… lagi inget resep dokter,” Finka cepat-cepat menutupi wajah dengan map.
Tapi semua pikiran itu buyar saat kabar datang: Kapten Arga mendapat panggilan misi ke luar kota.
Kabar Mengejutkan
Finka sedang mengecek infus ketika melihat Arga duduk di ranjangnya, sedang berbicara dengan seorang perwira pembawa surat tugas. Wajah Arga serius, sorot matanya tegas seperti biasa.
Setelah perwira itu pergi, Finka masuk dengan hati-hati.
“Kapten… barusan itu apa?”
Arga menoleh singkat. “Surat perintah. Saya harus berangkat minggu depan.”
Finka tercekat. “T-tapi… luka Kapten belum sepenuhnya sembuh!”
“Saya tidak bisa menolak perintah. Tentara harus siap kapan saja.”
Finka menggigit bibir, menahan kata-kata yang ingin meluncur. Ya ampun, kenapa harus sekarang?
Arga memperhatikan ekspresinya. “Anda tampak khawatir.”
“Siapa juga yang khawatir?!” Finka buru-buru menatap catatan pasien. “Saya cuma… ya, sebagai perawat saya tahu kondisi Kapten belum sembuh total. Itu saja.”
Arga mengangkat alis. “Hanya sebagai perawat?”
“Ya dong!” Finka nyaris meledak, pipinya panas.
Arga terdiam, lalu berdiri pelan, mendekat satu langkah hingga Finka mendongak kaget.
“Kalau begitu, bolehkah saya meminta… doa dari perawat saya?”
Suara berat itu membuat Finka membeku. Jantungnya berdegup kencang, tangannya gemetar saat menutup buku catatan.
“D-doa? Tentu… semoga Kapten sehat dan selamat. Jangan bandel. Jangan bikin orang lain… khawatir.”
Arga menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan. “Itu sudah cukup.”
*****
Malam sebelum keberangkatan
Finka lembur lagi di ruang jaga. Ia berpikir Arga sudah istirahat di kamarnya, tapi ternyata pria itu muncul dengan membawa dua gelas plastik berisi minuman.
“Kopi untuk saya, cokelat panas untuk Anda. Supaya tidak salah lagi.”
Finka menatapnya tak percaya. “Kapten… beliin minuman buat saya?”
Arga hanya mengangkat bahu. “Anggap saja… ucapan terima kasih.”
Finka menerima gelas itu dengan senyum kikuk. “Ya ampun, Kapten… kalau begini terus, saya bisa salah paham loh.”
Arga menatapnya serius. “Kalau itu terjadi… apakah buruk?”
Deg. Lagi-lagi, Finka tidak bisa menjawab.
Malam itu, saat Arga kembali ke kamarnya, Finka menatap minuman cokelat panas di tangannya.
“Ya Allah… kenapa hati aku begini banget sih? Aku takut dia pergi, tapi aku juga nggak bisa melarang… apa aku beneran jatuh hati sama tentara keras kepala itu?”
Dan untuk pertama kalinya, Finka merasa… jawaban itu bukan lagi “mungkin”, tapi iya.
Hari keberangkatan itu akhirnya tiba. Sejak pagi, rumah sakit terasa lebih sepi dari biasanya bagi Finka. Padahal, suara mesin, langkah kaki perawat, hingga panggilan dokter tetap sama riuhnya. Tapi buat Finka, semua terdengar hampa.
Ia menyiapkan perlengkapan medis terakhir untuk Arga sebelum ia dilepas. Tangannya sibuk, tapi hatinya kacau.
“Jangan tegang begitu. Saya berangkat perang, bukan menikah,” canda Arga sambil memasang seragam hijau militernya yang sudah rapi.
Finka nyaris menjatuhkan gunting perban. “Ya ampun Kapten, bisa nggak sih bercandanya jangan di momen genting gini?!”
Arga hanya tersenyum tipis. “Anda yang terlalu serius.”
Momen Hangat di Tengah Ketegangan
Sebelum benar-benar pergi, Arga memandang Finka lama.
“Terima kasih sudah merawat saya. Kalau bukan karena Anda, mungkin saya belum bisa berdiri tegak hari ini.”
Finka tercekat. Ia ingin membalas dengan kata-kata manis, tapi yang keluar malah,
“Ya jelas dong. Kalau bukan saya, Kapten pasti udah jadi pasien bandel kelas berat.”
Arga tertawa kecil, suaranya berat tapi hangat. “Benar juga.”
Sejenak, keduanya terdiam. Hanya ada tatapan yang tak terucap.
Di balik candaan, Finka ingin sekali berkata “hati-hati, saya takut kehilangan kamu”.
Tapi bibirnya tak sanggup.
****
---Di Depan Barak
Sore itu, bus militer sudah terparkir di depan barak. Para tentara satu per satu naik, suasana penuh disiplin.
Finka berdiri agak jauh, sambil pura-pura sibuk mengatur scarf putihnya. Rina (yang entah bagaimana lagi-lagi ikut) berbisik,
“Ayo lah Fin,, kalau kamu nggak ngomong sekarang, kapan lagi?”
Finka gelagapan. “Ng-nggak! Nanti aja pas dia balik. Kalau dia balik…”
Saat itu Arga lewat di depannya, menenteng tas ransel. Ia berhenti sebentar.
“Perawat Finka.”
Finka mengangkat wajah, jantungnya seperti dipukul bedug.
“Ya, Kapten?”
Arga menatapnya dalam. “Jangan lupa jaga diri. Dan… jangan terlalu merindukan saya.”
Finka nyaris meledak. “S-siap! Maksud saya… siapa juga yang mau merindukan Kapten?!”
Tentara lain yang mendengar cekikikan kecil, sementara Arga hanya menggeleng pelan, lalu menaiki bus.
---
Setelah Bus Berangkat
Asap knalpot memenuhi udara, bus itu perlahan menjauh. Finka melambaikan tangan kecil, meski ia tak yakin Arga melihatnya.
Begitu bus benar-benar hilang dari pandangan, ia menunduk, menggenggam erat scarfnya.
“Ya Tuhan… tolong jaga dia. Dan… kalau bisa, kembalikan dia ke sini. Karena aku belum sempat bilang…”
Air matanya jatuh, tapi Finka buru-buru menghapusnya.
“Astaga, Finka. Nangis di depan barak tentara? Mau dibilang drama queen sekecamatan apa?!”
Rina merangkul bahunya sambil menahan tawa. “Tenang, nanti aku beliin bakso biar nggak mellow.”
Finka mengangguk cepat. “Setuju. Tapi… tetep aja. Hatiku kok kayak ketinggalan di bus itu ya, Rin?”
---
Bus itu melaju entah ke mana, membawa seorang Kapten keras kepala yang tanpa sadar sudah jadi pusat dunianya.
Dan untuk Finka, hari itu meninggalkan sebuah janji dalam hati:
kalau Arga kembali… ia akan memberanikan diri untuk jujur.