Pagi itu Finka baru saja selesai membagikan obat ketika seseorang mengetuk pintu ruang perawat. Seorang prajurit muda masuk sambil memberi hormat.
“Perawat Finka, Kapten Arga meminta Anda datang ke kamarnya.”
Ruangan langsung gaduh. Rina dan perawat lain langsung menoleh dengan tatapan penuh arti.
“Woooow, dipanggil khusus…”
“Kapten ngajak kencan kali, Fin~”
Finka menepuk jidat. “Bukan gitu! Pasti soal jadwal pemeriksaan.” Tapi pipinya panas sendiri saat melangkah keluar.
Sesampainya di kamar, Arga duduk rapi di kursi dengan wajah serius. Ia menatap Finka yang berdiri canggung di pintu.
“Masuk.”
“Ada apa, Kapten?” tanya Finka hati-hati.
Arga mengambil sebuah amplop dari meja dan menyerahkannya. “Saya ingin Anda menemani saya ke acara korps militer malam minggu ini.”
Finka hampir menjatuhkan amplop itu. “Ha?! Acara… militer? Saya?!”
“Ya.” Suara Arga tetap tenang. “Saya membutuhkan pendamping. Atasannya menyarankan saya membawa seseorang, agar tidak terlihat terlalu kaku. Dan…” ia menatap Finka sebentar, “…Anda yang terpikirkan.”
Finka ternganga. Dia… mikirin aku?
“T-tapi… kenapa saya? Bukannya banyak orang lain yang bisa Kapten ajak?”
Arga mengangkat bahu. “Saya tidak suka basa-basi dengan orang asing. Dengan Anda, setidaknya saya sudah terbiasa berdebat.”
Finka melotot. “Itu alasan aneh sekali!”
Namun akhirnya ia menerima undangan itu, walau dengan hati berdebar.
****
Malam acara
Finka berdiri gugup di depan cermin ruang ganti, memakai gaun sederhana berwarna biru muda yang ia pinjam dari Rina. Rambutnya digelung rapi, wajahnya dipoles tipis oleh sahabatnya itu.
“Ya ampun, Finka, kamu cantik banget. Kapten Arga pasti klepek-klepek,” goda Rina.
“Berhenti ngomong begitu! Aku deg-degan tau!” Finka menepuk pipinya sendiri.
Tak lama, Arga muncul di depan rumah sakit dengan seragam resmi militer lengkap. Begitu melihat Finka keluar, ia terdiam sejenak. Tatapannya yang biasanya dingin sedikit melunak.
“Cantik,” gumamnya singkat.
Finka hampir terpeleset mendengar itu. “A-apa tadi?!”
“Cepat. Kita terlambat,” potong Arga buru-buru, meski telinga bagian atasnya terlihat memerah.
---
Di acara militer, semua mata tertuju pada mereka. Tentara-tentara lain berbisik, beberapa perwira senior tersenyum menggoda.
“Wah, Kapten Arga akhirnya bawa pendamping juga…”
“Siapa tuh? Perawat rumah sakit, ya? Cocok banget…”
Finka nyaris tenggelam di kursinya karena malu. Namun Arga tetap tenang, bahkan memperkenalkan Finka dengan mantap.
“Ini, perawat yang banyak membantu saya selama perawatan. Malam ini, dia menemani saya.”
Sekeliling langsung gaduh dengan tawa kecil dan tatapan penuh arti. Finka mencubit lengannya sendiri di bawah meja. “Kapten! Mereka semua salah paham!” bisiknya.
Arga hanya meneguk air mineralnya dengan tenang. “Biarkan saja.”
“Biarkan?!”
“Kalau saya menyangkal, gosipnya malah makin besar.”
Finka menatapnya tidak percaya. “Jadi Kapten… sengaja membiarkan orang-orang mengira saya ini pacar Kapten?”
Arga menoleh singkat, matanya tenang namun dalam. “Kalau memang begitu, apa kamu keberatan ?”
Deg. Finka tercekat, jantungnya seperti meloncat ke tenggorokan.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak punya jawaban.
Acara malam itu berlangsung meriah. Musik orkestra mengalun pelan, para perwira bercengkerama dengan keluarga masing-masing, dan hidangan prasmanan tersaji di meja panjang.
Finka masih duduk di kursinya, sibuk memainkan garpu karena gugup.
Astaga, kenapa semua orang lihat ke arah sini terus? Rasanya kayak jadi artis dadakan…
Sementara itu, Arga sempat dipanggil oleh seorang kolega perempuannya. Seorang mayor cantik bernama Luna, rambut hitamnya dikonde rapi, seragamnya terlihat elegan.
“Arga! Lama sekali kita tidak bertemu,” sapa Luna hangat sambil menepuk lengan Arga yang sehat.
Arga mengangguk sopan. “Mayor Luna. Senang bertemu kembali.”
Mereka berbincang santai, sesekali Luna tertawa kecil. Dari kejauhan, Finka memperhatikan dengan wajah yang—meski ia tidak sadar—sudah seperti anak kecil yang kehilangan permen.
“Hmmph… akrab sekali…” gumamnya sambil menusuk-nusuk kentang rebus di piring.
Rina (yang entah bagaimana menyusup ke acara itu sebagai tamu perawat cadangan) duduk di samping Finka dan langsung menangkap ekspresi sahabatnya.
“Eiiits, ada yang cemburu nih…” bisiknya menggoda.
“Siapa juga yang cemburu!” Finka buru-buru menyangkal, pipinya merah. “Aku cuma… ya heran aja, kenapa Kapten bisa senyum-senyum sama dia, padahal kalau sama aku jutek mulu.”
Rina ngakak pelan. “Nah itu namanya cemburu, sayang.”
Finka mendengus, lalu pura-pura sibuk minum jus. Tapi matanya tetap melirik ke arah Arga dan Luna yang tampak akrab. Dadanya terasa sesak aneh.
Beberapa menit kemudian, Arga kembali ke meja. “Maaf, ada sedikit urusan.”
Finka langsung menyilangkan tangan. “Oh, nggak apa-apa. Saya lihat Kapten senang sekali ngobrol. Sampai lupa ada orang lain yang nungguin.”
Arga menatapnya sebentar, lalu duduk. “Anda marah?”
“Siapa yang marah?” Finka cepat-cepat mengalihkan pandangan. “Saya kan cuma perawat yang jadi pendamping darurat. Bukan siapa-siapa.”
Arga terdiam. Tatapannya sedikit melunak. Lalu, tanpa diduga, ia mencondongkan tubuh dan berkata pelan, hanya cukup untuk Finka dengar.
“Kalau saya anggap Anda lebih dari sekadar perawat… apa itu masalah?”
Deg. Finka nyaris tersedak jus jeruk.
“Kap… Kapten ngomong apa sih?!”
Arga hanya bersandar tenang di kursinya, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi Finka yakin betul, sudut bibir pria itu terangkat tipis.
Rina yang duduk di belakang mereka nyaris menjerit kegirangan. Astaga, ini drama lebih seru daripada sinetron!
***
Malam itu, Finka pulang dengan hati berdebar kacau.
Kenapa aku harus kesal lihat dia sama wanita lain? Kenapa aku harus bahagia waktu dia ngomong gitu?
Dan tanpa sadar, ia mulai mengakui sesuatu pada dirinya sendiri:
Kapten Arga bukan lagi sekadar pasien keras kepala. Ia sudah mulai mengambil tempat di hatinya.