Bab 3 -Kumohon Jangan ... ('M')

1878 Words
Adhera mengerjapkan matanya beberapa kali, membiasakan diri dengan cahaya yang masuk menembus retinanya. Kepalanya terasa pening, pandangannya berputar-putar. Ia kembali menutup matanya untuk beberapa detik, kemudian membukanya lagi. Saat itu barulah Adhera sadar kalau kini ia tengah berada di sebuah ruangan yang sangat asing baginya. Tubuhnya langsung terduduk siaga. Bola matanya bergerak mengelingi setiap sisi sebuah ruangan yang cukup besar bergaya modern, ia juga sedikit terlonjak kaget ketika mendapati tubuhnya tengah berada di atas ranjang double-bed berseprai putih. Pandangannya kembali menyapu setiap inci dari ruangan ini, berharap ia dapat mengenalinya. Sayangnya tidak. Tempat ini begitu asing baginya. “Ini dimana?” Ia bergumam pada dirinya sendiri. Ia lalu segera berjalan mendekat ke arah kaca jendela besar yang terbentang di hadapan ranjang tempat ia terbaring tadi, lalu segera menyibakkan gordennya agar ia dapat melihat pemandangan seperti apa yang ada dibaliknya. Begitu gordennya sudah terbuka sempurna, matanya langsung melebar seketika, mulutnya terkatup rapat dan wajahnya menampakkan ekspresi ketakutan yang begitu kentara saat melihat keluar sana. Di depan sana, ia menatap pemandangan gedung-gedung tinggi di tengah langit ibukota yang menampakkan kombinasi warna biru keabuan, berpadu dengan semburat jingga di kaki langit. Ya, kini Adhera tahu ia sedang berada dimana. “Ini ...,” gumamnya lagi. “Apartemen?” “Apalagi memangnya kalo bukan Apartemen?” Sebuah suara berat tiba-tiba menyahut dari belakangnya. Adhera segera berbalik dan terlonjak seketika. “Si-siapa kamu?!” Ia berseru takut sambil bergerak mundur ke belakang sampai mentok ke arah kaca jendela. Sosok itu, seorang pria tinggi berisi yang memiliki kulit sawo matang dan rambut hitam acak-acakan, yang kini terlihat hanya memakai kaos beserta celana jeans hitam, ia berjalan mendekati Adhera dengan seringai penuh maksudnya yang membuat jantung gadis itu semakin berdegup dengan kencang. Ingatan Adhera mendadak beralih ke waktu beberapa jam lalu. Ya, ia ingat sekarang. Terakhir kali ia tengah dikejar-kejar oleh sosok pria misterius lalu ia dipukul keras di bagian tengkuknya. Setelah itu ia tidak tahu lagi apa yang terjadi. Apa pria dihadapannya itu adalah orang yang sama dengan orang yang semalam mengejarnya? Apa dia yang membawanya ke tempat ini? “Ma-mau apa kamu?!” seru Adhera lagi. Kakinya mulai gemetar karena rasa takut yang begitu besar. Bahkan sampai ia jatuh terduduk, tidak sanggup menopang berat tubuhnya lagi. Pria itu berdecih. Tangannya lalu terulur untuk menyentuh dagu Adhera, lalu mencengkeramnya kuat-kuat. “Mau apa lo bilang?” jawabnya sambil menatap Adhera bengis. “Jelas gue mau menjalankan tugas gue yang udah tertunda semalaman gara-gara nunggu lo bangun.” Napas Adhera mulai menderu cepat. Air matanya mulai keluar sedikit. Tidak, itu bukan air mata kesedihan. Itu adalah air mata dari emosi rasa takutnya yang begitu dahsyat saat ini. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Tidak ada jalan keluar, tidak ada orang yang bisa dimintai pertolongan. Ia terjebak. Pria itu tersenyum miring ketika melihat raut wajah Adhera yang begitu ketakutan melihatnya. Ia lalu melepas cengkeramannya pada dagu Adhera dengan kasar. “Bangun,” katanya pelan, namun begitu menusuk. Adhera tertunduk. Bukannya menuruti perkataannya, ia malah semakin meringkuk dan menyembunyikan wajahnya di lututnya. Pria itu menggeram kesal. Ia lalu menendang tubuh Adhera dengan kasar sambil berteriak, “Gue bilang bangun! Ngerti nggak, sih?!” Adhera terkejut. Tubuhnya dengan refleks segera berdiri mengikuti perintahnya. Ia mulai terisak tertahan. Tangan pria itu kini mulai mencengkeram lengan Adhera lalu menariknya kasar dan melemparkan tubuhnya ke ranjang. Adhera meringkuk mundur hingga sampai pada sandaran ranjang. Ia lalu menutup tubuhnya dengan bantal untuk melindungi diri. Pria itu mulai maju perlahan sambil memberi tatapan nakalnya pada Adhera. Ia mulai melepas kaosnya dan melemparnya sembarang, lalu kemudian mulai melepas ikat pinggangnya dengan gerakan kasar tidak sabaran. Jantung Adhera semakin berdegup kencang. Ekspresi wajahnya mulai menegang. “Mau apa kamu?!” serunya dengan suara gemetar. Pria itu tersenyum miring. “Mau bersenang-senang, lah!” Mendengar jawabannya itu, d**a Adhera naik turun lantaran rasa takut dan marah yang bercampur menjadi satu. Apalagi ketika melihat gerakan tangannya yang mulai menunjukkan gerak-gerik untuk membuka celananya. Adhera semakin takut. “Nggak,” ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kamu nggak boleh melakukan itu ke aku! Nggak boleh!” Pria itu hanya tertawa meremehkan ketika mendengar Adhera mengucapkan itu. Ia tidak menjawabnya. Ia hanya terus fokus untuk membuka celananya. Tangan Adhera mulai bergerak melakukan perlawanan. Ia melempari tubuh pria itu yang semakin lama semakin dekat dengannya dengan bantal. Ia lalu menoleh ke kanan dan mendapati sebuah lampu meja bertengger di atas sana. Ia meraihnya, lalu melemparkannya ke arah pria di hadapannya itu. Beruntung, serangannya itu tepat mengenai kepalanya. Pria itu meringis kesakitan dan memegang sisi kiri keningnya. Ada darah segar yang mengalir disana. Melihat tindakannya itu berhasil, Adhera segera melempar barang-barang berat lainnya yang berada di atas meja kanan dan kiri ranjang. Sepeeti buku, telepon, hingga gelas kaca, semua ia lempar ke arah pria itu. Itu berhasil. Dia tampak mengalami beberapa luka dan benjol di kepalanya. Adhera menggunakan kesempatan itu untuk segera berlari ke arah pintu keluar. Namun sial, pintu itu ternyata terkunci menggunakan sebuah kode yang ia tidak tahu sama sekali. Berkali-kali Adhera mengetikkan kode secara asal berharap itu bisa terbuka tapi ternyata tidak berhasil. Ia pun semakin histeris ketakutan. Apalagi kini pria itu sudah mulai bangkit kembali dan melangkah ke arah Adhera dengan wajah marahnya yang seolah siap untuk menerkam Adhera. Adhera terpojok di pintu. Ia kembali menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi. Air matanya sudah banjir entah sejak kapan. Pria itu langsung menjambak rambut Adhera ketika ia sudah tiba di dekatnya. Adhera berteriak kesakitan tapi ia tidak peduli. Ia malah menggeret Adhera kembali menuju ranjang dan kembali melempar tubuh Adhera dengan kasar. Pria itu menggeram marah. Dadanya yang sudah tidak tertutup pakaian lagi terlihat naik turun menahan emosi. “Dalam sejarah seorang Galih Ismael, nggak pernah yang namanya gue bisa berdarah kayak gini apalagi gara-gara cewek!” serunya begitu kencang dan membahana. “Berani, ya, lo main-main sama gue, hah?!” Pria itu, Galih, ia mulai menghampiri Adhera dengan cepat, lalu mencengkeram kedua tangan Adhera di atas kasur, mengunci posisi gadis itu agar tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Adhera memberontak. “Lepasin!!!” teriaknya sambil menangis. “Lepasin aku! Tolong jangan lakukan ini ke aku ... aku salah apa sama kamu sampai kamu ngelakuin ini ke aku ....” Adhera mulai sesenggukan. Apalagi ketika ia sadar kalau ia tidak bisa melawan tenaganya yang sangat kuat menahan gerak tangannya. Saat tenaga Adhera mulai melemah, Galih segera bergerak cepat ke samping sambil mengunci tubuh dan kedua tangan gadis itu dengan satu tangan dan kakinya. Tangannya yang satu lagi sibuk menggapai-gapai laci meja dan mengambil sebuah tali dari sana. Dengan lihai dan cepat, ia mulai mengikat tangan Adhera satu per satu ke pojok ranjang. Gadis itu semakin berteriak histeris atas tindakannya. Galih tersenyum senang saat ia berhasil melakukan itu dan membuat Adhera terbaring tak berdaya di atas ranjang miliknya. Ia lalu mulai menggerayangi tubuh Adhera, menciuminya dari atas hingga bawah. Teriakan Adhera semakin membuat nafsunya meningkat. “Berhenti!!!” pekik Adhera frustasi. Namun Galih tidak memedulikannya. Ia malah semakin asyik menelusuri tubuh Adhera yang hanya berbalut dress kuning selutut dengan tangan dan bibirnya, menghirup aroma segar khas tubuh wanita yang selama ini tidak pernah ia rasakan sebelumnya. “Berhenti aku mohon ....” Adhera semakin sesenggukan. Galih jadi semakin tertantang untuk melanjutkan aksinya lebih jauh lagi. Kedua tangannya mulai memegang ujung dress Adhera dengan kuat, lalu ... Breeet, terdengar suara robekan panjang. Ya, itu adalah suara dari dress Adhera yang dirobeknya dari ujung bawah ke atas. Dan dengan tidak sabar serta rasa nafsu yang menggebu-gebu, Galih langsung menyibakkan dress yang sudah robek itu, hingga terpampanglah tubuh mulus nan ramping Adhera yang kini hanya tertutup setelah pakaian dalam berwarna hitam. “Wow ... warna yang menantang,” gumam Galih sambil tersenyum nafsu. Tentu saja ia berpikir begitu. Warna hitam terlihat sangat kontras sekali dengan kulit putih Adhera. Adhera mulai meronta sambil terus menangis. “Kamu mau apa? Tolong jangan ... jangan lakukan ini ke aku. Aku salah apa? Tolong jangan ... aku mohon ...,” racaunya. Galih melotot kepada Adhera. Ia lalu menampar pipinya sangat keras hingga ceplak tangan membekas di pipi mulus gadis itu. Adhera pun seketika diam tak bergerak, namun semakin menangis tertahan. Tangan Galih kembali menjalar di atas tubuh Adhera. Mulai dari leher, berhenti di atas buah dadanya yang masih tertutup bra hitam, lalu meremasnya dengan ganas beberapa detik. Adhera menggigit bibirnya semakin frustasi. Galih kembali menggerakkan tangannya lagi turun ke perut Adhera, lalu kembali ke atas dengan cepat dan langsung merobek kain yang menutupi dua gunung kembar itu hingga menampakkan isinya yang membuat sesuatu yang berada di pangkal pahanya semakin membesar, memberontak untuk segera dikeluarkan dari sangkarnya. Karena nafsu yang sudah menggebu-gebu, Galih mulai mempercepat tempo permainan tangannya. Ia juga mulai kembali melibatkan bibir serta lidahnya untuk membuat Adhera semakin tidak karuan. Benar saja, gadis itu semakin menangis sambil menutup mata dan menggigit bibir bawahnya. “Enak, kan?” katanya sambil tersenyum miring menatap wajah Adhera. Gadis itu hanya menggelengkan kepala sambil meracau tidak jelas. Ia memang masih menangis tapi Galih rasa sepertinya Adhera mulai menikmati permainannya. Galih pun segera menghentikan permainan lidah dan tangannya di sekujur tubuh Adhera, lalu mengubah fokus matanya ke arah celana dalam Adhera yang masih bertengger disana. Tangan Galih mulai meraihnya lalu segera merobeknya dengan kasar. Mata Adhera langsung terbuka. Mulutnya ternganga. Ia lalu segera merapatkan kakinya berusaha menutup k*********a yang kini sudah terekspos di hadapan Galih. Galih yang tidak senang Adhera melakukan itu, ia mencengkeram paksa kedua lutut Adhera, lalu berusaha sekuat tenaga untuk menyibakkannya ke arah yang berlawanan. Tidak mau kalah, Adhera juga berusaha keras untuk mempertahankan posisinya. Bahkan ia tampak seperti mengedan ketika melakukan itu. Beberapa saat pun berlalu tapi keduanya masih sama kuat. Kedua lutut Adhera yang bertumpu menjadi satu itu hanya berhasil Galih buka sedikit saja. Ia pun kesal. Tapi kemudian, ia tersenyum jahil. Ia berhenti melakukan kegiatannya untuk membuka lutut Adhera. Tangan kirinya terulur ke arah samping kiri paha Adhera dan menyentuh kepunyaan gadis itu yang sepertinya sudah sedikit basah akibat ulahnya. Namun karena tindakan tiba-tiba itu, Adhera jadi refleks menendang wajah Galih dengan kaki kanannya. Galih pun tersungkur ke belakang. Mendapat perlakuan seperti itu, pria itu kembali murka. Bahkan kini terlihat lebih murka dari sebelumnya. Dengan cepat Galih bangkit berdiri lalu segera menanggalkan jeans dan celana dalamnya dengan gerakan cepat. Batang k*********a yang sudah mengacung tegak itu pun terekspos dengan bebas di hadapan Adhera. Gadis itu memekik tertahan. Ia mulai memberontak sebisa mungkin, tapi tidak bisa. Ia sudah terjebak dalam ikatan itu, tidak bisa kemana-mana. Adhera pun semakin frustasi. “Jangan ... tolong jangan ....” “Lo udah buat gue marah, Dher!” seru Galih tertahan. Giginya terlihat bergemeretak menahan emosi. “Tadinya gue mau bermain lembut. Tapi karena lo udah bikin gue marah ....” Ucapan Galih terputus. Dengan kasar ia langsung meraih kedua kaki Adhera dan menyibakkannya, membuka k*********a lebar-lebar. Adhera semakin memberontak sambil menangis histeris. Plak! Galih kembali menampar pipi Adhera dengan sangat keras hingga gerakan gadis itu berhenti. Saat itu juga, Galih langsung menembakkan batang k*********a masuk ke dalam lubang kemaluan Adhera dengan satu hentakan yang begitu keras. “Aaargh!” Adhera memekik dengan kencang lantaran rasa sakit yang begitu menyiksa ketika Galih melakukan itu padanya. Darah segar pun mengalir dari k*********a, m*****i seprai putih tempat mereka bergumul. Galih tersenyum senang menikmati penderitaan wanita di hadapannya. Ya, ia sudah menjalani tugasnya dengan baik hari ini. Ia sudah berhasil membuat Adhera benar-benar merasa tersiksa. Sekarang, tinggal menikmati bonusnya saja. Galih pun kembali melanjutkan permainan birahi ini dengan buas, tanpa memedulikan Adhera yang tampak begitu kesakitan menerima kepunyaannya yang cukup berpengaruh di dalam sana. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD