Bab 4 - Siapa Zoe Sebenarnya?

1584 Words
Kelopak mata Adhera mulai terbuka perlahan. Ia mulai meluruskan posisi tidurnya yang semula miring menjadi berbaring lurus. Saat itu, rasa nyeri mulai membanjiri sekujur tubuhnya. Mulai dari pipi, pergelangan tangan, otot paha, tulang punggung bahkan sampai alat vitalnya, rasanya begitu nyeri tak terhingga. Ia meringis kesakitan sampai kepalanya ia tekan cukup keras ke bantal, berharap itu dapat mengurangi rasa sakitnya. Beberapa menit pun berlalu, ia mulai terbiasa dengan rasa sakit itu. Perlahan Adhera mulai mendudukkan tubuhnya dan bersandar di dinding ranjang. Ia menatap tubuhnya yang kini sudah terbalut dengan piyama asing itu dengan mata berkaca-kaca. Ditambah lagi ketika matanya tidak sengaja menemukan bercak darah di atas seprai tepat pada posisi yang barusan ditidurinya, air mata Adhera pun menetes. Ya, ia ingat semuanya. Tadi pagi ia dihajar habis-habisan oleh seorang pria asing yang namanya saja baru ia ketahui beberapa jam lalu. Ya, Galih. Ia bahkan sampai pingsan dibuatnya. Air mata Adhera pun semakin banjir ketika mengingat hal menjijikkan itu. Pikirannya terus bertanya-tanya kenapa semua hal buruk terjadi padanya saat ia baru saja bangun dari koma. Pertama, ia mengalami amnesia. Kedua, tidak ada seorang pun yang mengaku sebagai keluarganya. Diberi alamat tempat tinggal pun ternyata itu hanyalah rumah kosong tak berpenghuni. Ia tidak punya cukup uang untuk menyewa kontrakan sampai ia terlunta-lunta di jalanan dan akhirnya bertemu dengan sosok pria yang kini telah benar-benar menghancurkan hidupnya. Adhera bertanya-tanya kenapa semua itu harus terjadi padanya? Kalau ia harus mengalami penderitaan yang segini besarnya ketika ia bangun dari koma, kenapa ia tidak mati saja? Kenapa para dokter malah mempertahankan hidupnya? Untuk apa itu? Setelah beberapa menit meratapi nasib, Adhera mulai menenangkan diri dan menghapus air matanya. Ia menoleh ke segala arah, berusaha menemukan sosok lain di sekitar ruangan. Tapi tidak ada. Adhera pun mulai bangkit berdiri sambil meringis menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia berjalan ke arah meja rias yang berada di sebelah kanannya, lalu menatap nanar pantulan dirinya di depan cermin. Mengenaskan. Itulah kata pertama yang terlintas dalam pikirannya ketika melihat keadaannya saat ini. Matanya sembab, pipinya merah bengkak, rambutnya berantakan, dan kedua pergelangan tangannya sedikit memar bekas ikatan. Lagi-lagi mata Adhera berkaca-kaca. Ia jadi kembali terbayang dengan kejadian beberapa jam lalu. Ia benar-benar tidak sanggup membayangkan itu. Rasanya sakit, luar dan dalam. Adhera kembali berusaha menenangkan diri. Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Tangannya terulur untuk menghapus air matanya. Adhera lalu berbalik, menatap jendela besar yang terbentang dengan gorden yang sudah terbuka lebar, menyajikan pemandangan kota di sore hari yang dipadati berbagai kendaraan di jalan. Ia mulai melangkah perlahan sambil menahan rasa sakit yang masih tersisa di daerah vitalnya. Langkahnya begitu kaku lantaran kedua kakinya yang harus memberi jarak lebih besar dari biasanya untuk mengurangi rasa sakit itu. Adhera menatap pemandangan langit sore dengan cahaya keemasannya yang sedikit menenangkan batinnya. Matanya terpejam, merenungi nasibnya yang entah bagaimana kedepannya nanti. Apakah ia akan terus terjebak disini? Apakah sudah menjadi takdirnya kalau ia tidak akan pernah bisa menemukan jati dirinya yang sebenarnya? Membayangkannya saja menyakitkan rasanya. Bibir Adhera pun kembali bergetar menahan tangis. Namun, sebuah suara samar yang tiba-tiba melintas di gendang telinganya berhasil membuat Adhera terenyak dari lamunan kepedihannya. Ia segera menatap ke arah sumber suara dan mulai menajamkan pendengarannya. Sepertinya, suara itu berasal dari ruang depan yang berada di sebelah kanan ruangan ini. Adhera tahu ruangan itu. Ya, itu ruang tamu dari Apartemen ini. Tadi pagi ia juga sempat berlari ke pintu keluar Apartemen yang ada di ruangan itu. Adhera pun mulai melangkah perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun. Ia melihat sosok pria yang tidak lain adalah orang yang sama dengan orang yang telah memperkosanya tadi pagi, tengah berdiri di depan kaca jendela sisi kanan Apartemen sambil menggenggam ponsel di telinganya. "Udah beres," katanya, bicara di telepon. "Adhera udah gue siksa habis-habisan tadi pagi. Lo bisa cek bukti foto yang udah gue kirim ke lo." "..." Pria itu, alias Galih, diam mendengarkan lawan bicaranya di telepon. Raut wajahnya tampak terlihat senang. Matanya menatap lurus ke luar jendela sambil fokus mendengarkan. Adhera mendengar itu dengan mulut ternganga. Ia terus melangkah maju perlahan, berharap ia juga bisa menangkap suara dari lawan bicara Galih di telepon. Tapi tentu saja itu mustahil. "Oh, jelas ... gue juga udah dapat bonusnya, dong." Galih bicara lagi. Kali ini terlihat sedikit tertawa. "Gila, Zo, ternyata dia masih perawan. Sempit banget." "..." "Oh, bukan enak lagi. Banget! Nggak nyesal gue terima job dari adik tingkat kayak lo. Udah bayarannya gede, dapat Apartemen, dapat perawan pula. Makin cinta gue sama lo, Zo." Adhera semakin terkejut mendengar itu. 'Jadi dia berbuat kayak gini ke aku karena disuruh seseorang?' Batinnya. 'Tapi siapa? Dan atas dasar apa dia mengutus cowok ini untuk siksa aku kayak gini? Aku salah apa sama dia?' "Eh, tapi gue masih bingung sama lo," Galih bicara lagi. Adhera kembali fokus mendengarkan. "Kenapa lo pengen gue buat perhitungan ke Adhera sampai segitunya? Jujur aja, nih. Gue agak takut karena biar gimana pun juga Adhera 'kan seangkatan sama gue. Gimana kalau tiba-tiba ingatannya dia pulih, terus dia ngelaporin Gue? Gue bisa di D.O. nanti. Dan lagi, dia ka—" Ucapannya terputus. Ekspresi Galih menunjukkan seperti orang yang terkejut karena dimarahi atau dibentak oleh seseorang. Tapi bukan itu yang menjadi fokus Adhera. Melainkan pernyataan Galih yang semakin membuatnya terkejut. 'Jadi ternyata dia kenal sama aku? Bahkan dia bilang aku seangkatan sama dia? Berarti dia tahu siapa keluarga aku, kan? Aku harus tanya ke dia.' Batin Adhera lagi. Ia mulai memberanikan diri melangkah semakin dekat ke tempat Galih berada. Tapi kemudian langkahnya langsung terhenti begitu mendengar Galih kembali berbicara dengan orang di telepon. Dan kali ini, hal itu benar-benar mengejutkan Adhera. "Oke, oke, gue nggak akan banyak tanya lagi. Tapi gue peringatin ke lo, semakin lama gue menahan Adhera disini, semakin banyak pula jumlah yang harus lo bayar ke gue ...." Galih menahan kalimatnya untuk sejenak, lalu setelah beberapa detik ia melanjutkan satu kata terakhir dengan nada sarkas. "... Zoe." Saat itu juga Adhera syok. Ia tidak tahu kenapa ia merasa begitu. Rasanya, nama itu seperti tidak asing baginya. Dan rasanya juga sedikit menyakitkan mendengar fakta kalau seseorang bernama Zoe ini lah yang mengirim orang seperti Galih untuk menyiksanya. Itu agak aneh sebenarnya. Tapi Adhera tidak tahu kenapa ia merasa begitu. Sebenarnya siapa Zoe sebenarnya? Bahkan matanya jadi berkaca-kaca entah kenapa. Tidak sadar, Adhera menyeruput hidungnya yang mulai mengeluarkan cairan bening, menimbulkan suara yang cukup bising di ruangan sunyi ini. Galih yang mendengar suara di belakangnya, ia langsung menoleh waspada, lalu menutup ponselnya. Ia menghampiri Adhera dengan raut marahnya. "Lo nguping pembicaraan gue di telepon?!" Ia berseru kepada Adhera. "Lancang banget lo! Apa aja yang udah lo dengar, hah? Apa aja?!" "Zoe ... kamu orang suruhan Zoe? Siapa dia sebenarnya?" Adhera balik bertanya, mengabaikan pertanyaan Galih. Galih semakin kesal karena merasa di acuhkan. Ia semakin maju mendekati Adhera lalu menjambak rambutnya kasar. "Kalau ditanya, tuh, jawab! Bukannya malah balik tanya! Punya otak nggak, sih?" Adhera mulai menangis ketakutan. Tapi ia berusaha memberanikan diri untuk mempertanyakan apa yang telah didengarnya barusan. "Aku mohon tolong kasih tahu aku siapa Zoe sebenarnya?" pinta Adhera memohon. "Entah kenapa aku ngerasa nggak asing dengan nama itu. Bahkan d**a aku rasanya sesak ketika dengar kalau nama itu yang kamu sebut sebagai orang yang membayar kamu untuk siksa aku kayak gini. Tolong jawab ... aku mohon ...." Galih yang semakin kesal, ia melepas jambakannya pada rambut Adhera itu dengan kasar lalu menendangnya cukup keras hingga Adhera meringkuk ketakutan. Galih lalu meremas pipi Adhera dengan kuat. "Jangan. Ikut campur. Masalah. Gue," ucapnya penuh penekanan. Giginya bergemeretak menahan emosi saat mengucapkan itu. "Tapi aku berhak tahu!" jawab Adhera berusaha ngotot agar terlihat tegas. Namun tetap saja, ekspresi ketakutan tampak sangat kentara di wajahnya. Ia lalu kembali bicara sambil menunduk. "Kamu bilang kamu seangkatan sama aku? Lalu kamu bilang Zoe adik tingkat kamu? Kalau begitu artinya kita bertiga satu kampus, kan? Itu artinya kamu tahu siapa keluarga aku, kan? Tolong kasih tahu aku. Aku mohon ...." Galih melempar wajah Adhera dengan kasar. Ia lalu tersenyum miring mengejek. "Itu rahasia bisnis, lo nggak perlu tahu," katanya. "Sekarang mending lo balik ke kamar sebelum gue hajar lagi kayak tadi pagi. Mau?" Mendengar ancaman itu Adhera langsung meringkuk ketakutan seketika. Galih pun mencibir mengejek melihat itu. Tapi kemudian, Adhera memberanikan diri untuk menentang. Ia berpikir, toh hidupnya sudah terlanjur hancur. Jadi sekalian saja, kan. "A-aku bakal turutin semua yang kamu mau asal kamu mau kasih tau info tentang keluarga aku. Bahkan termasuk yang tadi pagi itu, aku mau ngelakuin itu lagi. Aku mohon kasih tahu aku, Galih. Itu 'kan nama kamu?" Kali ini Galih menatap Adhera terheran-heran, lalu tertawa kemudian. "Heh, asal lo tahu, ya. Tanpa gue turutin permintaan lo itu, gue tetap bisa menikmati tubuh lo kapan pun gue mau. Itu udah termasuk dalam perjanjian. T*l*l banget, sih!" Galih pun mulai berjalan mendekati pintu keluar, hendak menghindari pertanyaan-pertanyaan Adhera yang begitu mengganggunya. Namun Adhera segera merunduk sambil memegangi sebelah kakinya. "Aku mohon, Galih ... tolong kasih tahu aku sedikit aja. Aku butuh info itu. Tolong, Aku mohon ...." "Lepasin!" seru Galih pelan namun menusuk. Matanya menatap bola mata Adhera yang begitu terlihat tersiksa. Diam-diam, ada rasa iba di hati Galih saat menatap Adhera seperti itu di hadapannya. Namun ia segera mengenyahkan pikiran itu. Ia lalu melepaskan kakinya dari genggaman Adhera dengan kasar, membuat gadis itu terjungkal jatuh ke belakang. "Minggir lo!" serunya. Ia lalu berjalan menjauhi Adhera yang semakin menangis tersedu karenanya. Menghilang dari Apartemen untuk beberapa jam ke depan, membiarkan Adhera terkunci sendirian disini sampai malam. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD