Bab 7 - Mendadak Baik?

1342 Words
Sudah tiga hari berlalu semenjak Adhera diculik dan di bawa ke kamar Apartemen asing ini. Tapi sampai saat ini Galih masih belum mau mengatakan siapa orang yang membayarnya untuk melakukan ini kepada Adhera. Jangankan itu, bahkan ketika Adhera hanya meminta sedikit informasi mengenai siapa dirinya atau bagaimana kesehariannya ketika di kampus, dia sama sekali tidak mau mengatakannya. Malahan dia menjadi sangat marah dan memukul serta menendangnya dengan kasar. Selama tiga hari ini, entah sudah berapa banyak air mata yang sudah ia keluarkan. Entah sudah berapa banyak lebam atau goresan yang ia dapatkan. Adhera sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Melawan hanya akan membuat Galih semakin menyiksanya. Ya, ia memang dibayar untuk melakukan itu padanya. Tapi sampai kapan? Adhera sudah sangat tersiksa disini. Ia bahkan tidak ingat makan, tidak ingat membersihkan diri. Yang ia lakukan hanya berbaring di atas ranjang, meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan. Adhera menatap ke arah kaca jendela yang terbuka lebar menyajikan pemandangan langit malam dengan kerlap-kerlip lampu jalan. Tidak ada bintang di langit, yang ada hanya awan gelap. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Atau mungkin badai? Syukurlah jika begitu. Semoga saja alam semesta akan segera mengambil alih badai yang sudah tiga hari ini menghujani dirinya. Beberapa menit kemudian, rintik hujan mulai terlihat menyiprat ke bagian luar kaca jendela di hadapan Adhera. Gadis itu menghela napas perlahan sambil memejamkan mata, berharap agar perasaannya menjadi jauh lebih baik ketika melihat pemandangan hujan turun. Tapi tidak. Itu sama sekali tidak membantu. Malahan semakin membuatnya ingin menangis. Dadanya begitu nyeri rasanya. Lalu rasa nyeri itu perlahan menjalar hingga ke sekujur tubuhnya. Beginikah rasanya sakit hati? Tidak. Ini lebih parah dari itu. Ini penderitaan namanya, bahkan lebih. Entahlah apakah ada sebuah kata yang cocok untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Rasanya begitu pelik. Ingin menangis pun seperti sudah tidak ada lagi air mata yang tersisa. Sebuah suara ‘pip’ dari pintu Apartemen yang terbuka mendarat di telinga Adhera. Matanya langsung mendelik terbuka. Ia segera bangkit mendudukkan tubuhnya, lalu meringkuk di ujung ranjang sambil menutupi dirinya dengan selimut. Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Ya, tentu saja itu Galih. Dia terlihat memakai jeans hitam dan kaos putih polos yang dibalut dengan jaket hitam. Di punggungnya tersampir sebuah ransel hitam. Ia lalu duduk di tepi ranjang sambil melirik Adhera sekali. Adhera pun semakin meringkuk takut dan bergerak minggir menjauhinya. Galih tidak menghiraukannya. Ia sibuk dengan dirinya sendiri, membuka sepatu sneakers hitamnya lalu setelah itu membuka ranselnya dan mengeluarkan kantung kresek putih yang sepertinya berisi makanan. Itu terlihat dari merek brand yang tertera di kantung plastik tersebut. Pria itu menoleh pada Adhera lalu menyerahkan kantung plastik itu padanya. Tapi bukannya menerima, Adhera malah semakin meringkuk takut. Tubuhnya terlihat gemetar saat ini. “Ambil,” pinta Galih pelan namun terdengar begitu mengintimidasi. “Lo harus makan biar nggak mati. Kalo lo mati gue nggak akan di bayar lagi sama Zoe.” Adhera menggeleng cepat. Galih menghela napas malas. “Udah tiga hari lo belum makan. Bahkan minum pun enggak, kan? Bukannya apa, mending kalo langsung mati. Kalo sakit dulu, kan gue yang ribet.” “Ka-kalo gitu kenapa kamu nggak bunuh aku aja? Kenapa malah siksa aku kayak gini? Ini jauh lebih menyakitkan dibandingkan kematian, asal kamu tahu.” Adhera menjawab dengan nada bergetar. “Kan udah gue bilang, gue dibayar untuk siksa lo, bukan bunuh lo. Jadi lo nggak boleh mati. Paham?” Galih menatap Adhera tajam untuk beberapa detik. Adhera kembali meringkuk melihat tatapan menyeramkannya itu. Galih yang tidak sabar, ia mendengus kasar. “Buruan makan, gue bilang! Apa perlu gue yang paksa masukin makanan ini ke mulut lo?” Adhera masih diam. Galih semakin tidak sabar. “Cepat makan!!!” serunya lantang. Adhera langsung terlonjak kaget dan mau tidak mau mengambil kantung plastik berisi makanan itu lalu membukanya dan segera memakannya. Tangannya menyuap makanan itu ke dalam mulutnya dengan bergetar. Matanya sesekali melihat ke arah Galih dengan perasaan takut yang begitu besar. “Habisin!” seru Galih dengan nada pelan tapi terdengar menakutkan bagi Adhera. “Gue mau mandi dulu. Pokoknya gue kelar mandi itu makanan harus udah habis. Kalo belum, apalagi kalo ternyata lo buang makanan itu, lo yang bakal habis sama gue malam ini. Ngerti?” Adhera mengangguk sekali sambil terus menyuap makanan ke dalam mulutnya. Galih pun akhirnya pergi meninggalkannya ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian, Galih keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang menutupi bagian perut ke bawah. Sementara bagian perut ke atas dibiarkan terbuka, menunjukkan otot perut dan dadanya yang sedikit berisi. Tangan kekarnya terulur ke atas sambil memegang handuk putih kecil, mengeringkan rambut basahnya. Kulit sawo matangnya yang masih sedikit basah terlihat agak mengilap di terpa cahaya lampu ruangan. Galih menghampiri Adhera dengan santai, mengecek apakah gadis itu menuruti permintaannya atau tidak. Sementara Adhera, dia terlihat semakin menunduk ketika melihat Galih yang hanya berpenampilan seperti itu mendekat ke arahnya. Kosong, ya, kotak sisa makanan yang di berikannya kepada gadis itu kini sudah kosong. Yang tersisa hanyalah beberapa butir nasi serta tulang ayam di sana. Galih pun tersenyum. Ia lalu berjalan mendekat ke arah tempat sampah yang ada di ruangan itu lalu mengecek ke dalamnya. Tidak ada sampah makanan disana. Ia semakin tersenyum. “Gitu, dong. Nurut,” katanya. “Kan enak, lo jadi nggak tersiksa.” Adhera menunduk sekali. Tapi ia bergumam pelan, “Makasih,” “Udah minum?” Galih bertanya. Adhera menjawabnya dengan gelengan. “Oke sebentar, gue ambilin.” Galih berjalan ke arah dapur kecil yang berada di sisi kiri Apartemen. Ia lalu mengambil gelas dan mengisinya dengan air hangat dari dispenser. Jika kau berpikir ia sudah selesai dengan pekerjaannya sekarang, sayangnya kau salah besar. Galih tersenyum licik. Ia lalu membuka rak kayu kecil ber-cat putih yang menempel di dinding, kemudian mengambil sebuah botol biru kecil yang berujung agak lancip. Isinya adalah sebuah cairan bening seperti air. Galih meneteskan cairan itu ke wadah gelas yang sudah berisi air hangat untuk Adhera. Satu, dua, tiga, hingga lima tetes, Galih berhenti. Tapi kemudian, senyum liciknya semakin tersungging lebar. Ia kembali menuangkan lima tetes lagi cairan yang entah apa itu ke dalam gelas minuman Adhera. Ia kemudian mengaduknya sedikit dengan sendok, lalu berjalan kembali ke kamar dan memberikannya kepada Adhera. “Nih, minum.” katanya. “Habis ini tidur, istirahat, jangan banyak pikiran. Gue capek lihat lo nangis. Dan gue lagi nggak mood untuk marah-marah saat ini. Jadi tolong nurut.” Adhera mengambil gelas itu tanpa rasa curiga. Galih terus menatapnya seolah memaksa untuk segera meminumnya. Adhera yang masih takut melihat tatapan seram Galih, ia hanya menurut dan menenggak minumannya sampai habis. Hah, lega rasanya kembali merasakan air mengalir di tenggorokannya setelah tiga hari tidak merasakan itu. Bukannya ia tidak haus, tapi rasa frustasinya seolah mendominasi dirinya lebih dari rasa dahaga itu. Tak sadar, bibirnya sedikit menyunggingkan senyum. Galih mengambil gelas kosong di tangan Adhera dan menaruhnya kembali di dapur. Setelah itu ia kembali berjalan ke kamar dan mengenakan jubah tidurnya tanpa mengenakan apa-apa lagi di dalamnya, kemudian langsung membaringkan diri di sebelah Adhera. Ia memiringkan tubuhnya ke sisi yang berlawanan dengan gadis itu. Melihat Galih yang tampak tidak menunjukkan tanda-tanda akan kembali melakukan sesuatu padanya, tanpa ragu Adhera ikut berbaring di sebelahnya. Tentu saja dengan memberi jarak yang cukup lebar. Ranjang ini cukup besar untuk itu. Jika kau bertanya-tanya mengapa Adhera mau tidur bersamanya, itu karena ia sudah terbiasa. Selama ia berada di tempat ini Galih selalu memaksanya untuk tidur bersamanya. Kalau Adhera tidak menurut dia mengancam akan mengikatnya dan memperkosanya lagi seperti malam itu. Begitulah, mangkanya ia mau menurut. Ia tidak mau di perkosa lagi. Rasanya begitu menyakitkan. Harga dirinya seolah diinjak dan dijatuhkan serendah-rendahnya. Adhera mulai memejamkan matanya. Tubuhnya ia miringkan berlawanan arah dengan Galih. Ia sedikit lega malam ini. Entah kenapa Galih sedikit bersikap baik padanya. Ya, apa pun itu alasannya, siapa peduli? Yang terpenting ia bisa tidur dengan nyenyak untuk malam ini. Nikmatilah waktu tenang walau mungkin ini hanya berlangsung sebentar. Adhera pun tersenyum tipis. Batinnya berharap, ‘semoga dia tetap seperti ini sampai aku bisa kabur dari tempat ini.’ Sementara itu, Galih yang ternyata masih belum tidur, ia terus menatap jarum detik berjalan pada jam beker di atas meja yang ada di hadapannya. Lima menit, sepuluh menit, hingga lima belas menit pun berlalu. 'Sebentar lagi, batinnya. ‘Sebenar lagi kita  akan kembali bersenang-senang, Adhera.’ ♡♡♡
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD