Pukul 11 pagi di pinggir jalan kota Jakarta. Ervin memarkir mobil SUV putihnya di depan sebuah jajaran ruko sejauh mata memandang. Di hadapannya terbentang sebuah ruko sederhana dengan banner bertulisan ‘Era Cafe’.
Setelah selesai memarkir mobilnya dengan tertib, ia segera berjalan memasuki pintu kaca ruko di hadapannya itu sambil bersiul santai. Rambut merah marun-nya yang terpapar cahaya matahari terlihat semakin kontras dengan kulit putihnya.
“Hi, Koh,”
“Koh Ervin apa kabar?”
Terdengar berbagai suara sapaan yang menyambutnya ketika ia baru saja tiba di dalam. Ervin tersenyum lebar dan menyapa kembali. Namun itu hanya di depan saja. Sebenarnya, saat ia berjalan ke bagian meja bar di belakang dan hendak membuat segelas es kopi, ia sibuk mendumal sebal dengan dirinya sendiri.
“Koh, Koh, dikira gue orang chinese, apa?!” dumalnya. “Orang asli Palembang gini juga di panggil Kokoh. Emang ya, susah kalo jadi orang lokal yang ganteng.”
“Pffft.” Terdengar suara tawa tertahan dari belakangnya. Ervin pun menoleh dan menemukan seorang pria gembul yang sedikit kemayu. Dia terlihat memakai kemeja coklat berlogo ‘Era Cafe’. Ya, tentu saja dia adalah salah satu pekerja Cafenya.
“Kenapa lo ketawa?” tegur Ervin galak. “Udah mulai berani sekarang?”
“Ih, apaan sih, Koh. Ge-er banget, deh,” jawabnya ngeles.
“Heh, heh, ngomong apa lo barusan, Cong?”
“Eh, salah, ya. Maaf deh, Kak Ervin yang gantengnya sedunia.” Pria kemayu itu meledek dengan suara manjanya yang terdengar agak menjijikkan bagi Ervin.
“Lebay lo!” seru Ervin sebal. Ia lalu berjalan keluar meja bar sambil membawa es kopi di tangannya dan duduk di salah satu kursi kosong yang ada di Cafe miliknya ini.
Ervin menyeruput kopinya dengan nikmat. Ia lalu membuka Laptop-nya dan mulai berkutat dengan benda itu. Ya, beginilah rutinitas sehari-harinya. Datang ke Cafe-nya yang ada di sana-sini, menerima laporan penjualan dan stok barang yang kurang, serta menghitung pemasukan dan pengeluaran dari usaha miliknya ini. Agak membosankan memang. Tapi Ervin menyukainya.
Sebenarnya dulu Ervin sama sekali tidak minat dengan usaha semacam ini. Ia lebih tertarik untuk menjadi pekerja kantoran. Entah kenapa baginya itu terlihat keren. Seperti peran utama dalam drama Korea. Apalagi kalau ia yang jadi CEO-nya. Wah, senang sekali membayangkan itu. Jadi CEO muda dan tampan, lalu bertemu dengan sekretaris cantik kemudian terlibat drama cinta yang romantis. Indah sekali kehidupan seperti itu.
Sayangnya ini bukan dunia drama. Tidak semudah itu baginya untuk menjadi seorang CEO walaupun ia cerdas dan kaya. Nyatanya itu sangat mustahil terjadi padanya yang hanya berasal dari keluarga pebisnis kuliner. Jadi ya, nikmati saja apa yang ada saat ini. Toh ini juga warisan berharga yang di tinggalkan oleh mendiang kedua orang tuanya. Ia harus menjalaninya dengan senang hati. Lagi pula usaha seperti ini juga sudah lebih dari cukup untuk membuatnya hidupnya bergelimang harta. Kalau urusan terlihat keren atau tidaknya, ia sangat yakin kalau penampilannya tidak kalah keren dengan aktor-aktor Korea yang berperan sebagai CEO. Justru Ervin merasa kalau dirinya lebih menarik. Lihat saja sekarang, Cafenya semakin ramai kalau ada dirinya di deretan meja makan yang berjajar rapih di ruangan yang tidak terlalu luas ini.
“Sibuk ya, Koh?” terdengar suara wanita dari sebelah kanannya. Ervin menoleh. Itu adalah salah satu customer langganannya yang sepertinya hampir tiap hari mejeng di Cafe kecilnya ini.
Ervin segera menutup Laptopnya lalu menghadap ke arah wanita itu sambil menyeruput cup es kopi-nya. Kepalanya ia sandarkan ke tangan kanannya yang bertumpu pada meja.
“Enggak, kok. Biasa aja,” jawabnya sambil tersenyum dan memberikan tatapan mematikannya pada wanita itu.
Wanita itu yang mendapat perlakuan seperti itu ia jadi bergerak-gerak salah tingkah. “Ih, Kokoh jangan lihat aku kayak gitu, dong. Malu tahu.”
“Malu kenapa? Santai aja kali.”
“Malu lah, habisnya Kok Ervin makin ganteng aja.”
Ervin tertawa kecil. “Bisa aja. Gimana kopinya? Enak? Ada yang kurang nggak?”
Wanita itu mengangguk semangat. “Enak, kok. Rasa pahit dan manisnya pas dan kopinya juga nggak asam. Enak deh pokoknya. Mangkanya aku nggak bosan tiap hari minum disini.”
Ervin manggut-manggut senang. “Kalo mau pesan untuk acara bisa loh. Atau kalo mau franchise juga boleh. Murah, kok.”
“Kalo untuk pesan buat acara sih aku mau kapan-kapan, Koh,” jawab wanita itu tersenyum. “Tapi kalo untuk franchise nggak dulu deh, Koh.”
“Kenapa?”
“Aku ‘kan masih kuliah. Dan lagi, nanti kalo aku sibuk franchise malah nggak bisa ketemu sama Koh Ervin disini.”
Ervin tertawa lebar. “Bisa aja kamu,”
Wanita itu pun ikut tertawa. Setelah itu, seorang pelanggan lain ikutan menyapanya juga. Ervin pun menoleh sambil memasang senyum memikatnya.
“Ganti warna rambut, Koh?” tanyanya.
Ervin mengangguk. “Iya. Baru tadi sore. Bagus, nggak?”
“Bagus, kok. Tapi aku lebih suka yang kemarin, Koh. Hijau daun, jadi mirip Oh Sehun.”
Kali ini Ervin sedikit terbahak. “Hahaha, masa?”
“Serius.”
“Benar tahu, Koh,” sahut yang lain lagi. Kali ini dari seorang gadis yang kelihatannya masih pelajar SMA, yang tengah duduk di pojok kanan ruangan. “Aku setuju tuh sama Kakak itu. Yang rambut hijau kemarin jadi mirip sama Sehun waktu rambut dia warna hijau.”
“Kalo sekarang mirip siapa?”
Ketiga wanita yang sedari tadi mengobrol dengannya itu tampak berpikir. Lalu kemudian wanita pertama yang tadi mengobrol dengannya itu menjawab.
“Ah, Donghae! Iya, Koh Ervin jadi agak mirip sama Donghae Super Junior pas dia cat rambut merah marun kayak gitu. Benar, nggak?”
Yang lain ikutan mengangguk-angguk. Ervin lagi-lagi hanya bisa tertawa melihat para customer langganannya itu terus menyemainya dengan idol-idol K-Pop.
“Apaan, sih.” Barista pekerja Ervin yang agak kemayu itu tiba-tiba ikut nimbrung dalam percakapan. “Kak Ervin yang amburadul gini disamain sama abang-abang ganteng itu. Jauh banget.”
Ervin menoleh dan mendelik tidak senang.
“Sirik aja lo b*****g,” katanya. “Urusin tuh stok barang. Apa aja yang kurang buruan catat!”
“Galak banget, sih. Jadi makin kelihatan tuh buluknya,” jawab barista itu sambil berbalik menuruti perintah bos-nya.
“Idih, buluk teriak buluk. Nggak malu, Mbak?”
Yang lain tertawa mendengar candaan Ervin dengan karyawannya yang sudah seperti teman sendiri. Ya, itu juga alasan mereka sangat suka berada di Cafe ini. Selalu ramai dan penuh canda tawa dari Agus, barista yang agak kemayu itu, juga Ervin yang merupakan bos ganteng tapi sedikit urakan. Penampakan seperti itu jarang sekali ada di tempat-tempat lain. Bahkan sepertinya tidak ada.
Ervin lalu berpamitan pada para customernya itu dan segera menyusul Agus ke meja bar.
“Gimana, stok barang aman?” tanyanya. “Ada yang kurang nggak?”
“Ada, sih, Kak,” jawab Agus. “Nanti aku buat list-nya, ya.”
Ervin mengangguk sekali, lalu kembali bertanya. “Ifa udah datang?”
“Udah. Lagi di belakang tuh, siapin menu snack buat jam 12 nanti.”
“Oke, udah bisa ditinggal, kan?”
Agus mengangguk. Ervin lalu membereskan barangnya dan bersiap-siap untuk pergi mengunjungi cabang Cafenya yang lain. Tapi belum genap langkahnya sampai pada pintu meja bar, ia berhenti lalu berbalik menatap Agus. Ia kemudian menunduk dan mengisyaratkan Agus untuk ikutan menunduk juga.
“Ada apa?” bisik Agus.
“Bisa, nggak, nanti lo bilangin ke para customer genit itu untuk jangan panggil gue Kokoh. Jijik banget tau gue dipanggil kayak gitu. Gue berasa kayak jadi g***n mereka, tahu nggak!”
Mendengar itu Agus tertawa tertahan. Sementara Ervin, ia langsung mendelik tidak senang.
“Heh, serius!”
“Sory, Kak. Habisnya gemes banget, sih,” jawab Agus meledek. Tapi ternyata Ervin malah semakin memberinya tatapan ancaman. Agus pun dengan cepat langsung mengiyakan. “Iya, nanti aku bilangin ke mereka. Sekalian aku kasih tahu mereka juga kalo Kak Ervin tuh nggak ada keturunan chinese sama sekali melainkan asli orang Palembang.”
“Bagus,” jawab Ervin tersenyum lega, lalu berdiri dan kembali mengambil barang bawaannya yang tadi sempat ia letakkan di atas meja. “Entar gue kasih bonus kalo berhasil, ya.”
“Beneran, Kak?” tanya Agus tampak berbinar senang.
“Serius. Udah sana, kerja yang benar, ya!”
“Yeay! Thanks, Kak.”
Setelah itu, Ervin pun segera pergi meninggalkan Cafe. Batinnya berharap, semoga saja Agus berhasil membuat para customer langganannya itu berhenti memanggilnya dengan sebutan ‘Kokoh’ layaknya orang chinese. Risih sekali rasanya.
♡♡♡