Part 12, Terjebak...

746 Words
Villa... Bram mengirimkan semua kejadian tadi pagi kepada Adrian. Adrian menggenggam hpnya melihat video Adriana dan Mark tanpa henti, terus berulang. Terasa seperti mimpi. Adrian memeluk erat Bram, tangis yang tak dapat dibendung. "Sudahlah... ini kenyataan, harus kita hadapi." Bram menenangkan Adrian. "Apa tujuan Mami menemui Mark.?" beribu pertanyaan ada dikepala Adrian. "Kita tunggu Daddy, beliau akan menjelaskan." Bram meninggalkan Adrian. Adrian berteriak agar melegakan hatinya yang hancur. Bram masuk kevilla mencari Fene. "Vin, Fene dimana.?" Bram mengambil paksa hp Kevin. "Aaaaagh lo... sini hp gue..." kesal Kevin. "Fene..." Bram seolah akan melemparkan hpnya, memberikan hp Kevin kembali. "Mana gue tau, sama Adrian kali." senyum Kevin. Bram ngeloyor kepala Kevin berlalu pergi. "Feen... Fene." Mata Bram tertuju pada pemandangan tidak biasa, 'Fene bersama Adrian.' Geram Bram. 'Perasaan tadi Adrian sendiri, kok sekarang Fene sudah ada disana.' gerutu bram. Bram menghampiri Adrian dan Fene. "Heeeeiii... sweety." Bram memeluk tubuh Fene dari belakang. "Hmmmm, kamu tu yah." Fene melepaskan pelukan Bram. "Kirain tadi didalam." Bram mengalihkan tatapan Fene. "Adrian lagi sendiri, tadi aku dibalkon, aku samperin aja." Fene memeluk lengan Bram manja. "Makasih yah, kalian udah menghibur gue." Tatapan Adrian kosong, hati terasa hampa. Berbagai kejadian selama mereka di eropa, Adrian merasa lelah, terlarut akan keadaan. "Dri... dari awal gue udah bilang, kita ini memegang teguh kebersamaan. Mungkin ini lebih baik dari pada nanti jadi berlarut-larut." Senyum Fene menatap Adrian. "Veni tu..." Bram menyadari kehadiran Veni semakin mendekat. "Apakan aku melewatkan sesuatu sayang.?" Veni memeluk Adrian, mencium bibirnya. "Hmmmm... lagi menikmati keindahan saja." Adrian tersenyum dihadapan Veni. "Kevin main game mulu, kasihan." Bram melihat Kevin dari kejauhan. "Biarin, dari pada rewel..." tawa Fene. Bram merangkul Fene, sesekali mencium bibir Fene tanpa disadari, Edward memperhatikan mereka dari kejauhan. Adrian berusaha tetap tenang dan tegar walau hati diselimuti kemarahan. "Apa kalian senang disini.?" Edward mengejutkan Bram, Fene, Adrian dan Veni. "Eeeeh... senang dad." Bram menatap mata Edward. "Syukurlah, kalau kalian senang, ayo masuk, cuaca sangat dingin." Edward merangkul kedua putranya. Mengalihkan pikirannya dari segala permasalahan yang dia hadapi. Begitu berat, karena akan menghadapi perceraian. "Bisa kita bicara nanti Bram.?" Edward mengajak Bram bicara empat mata berlalu meninggalkan anak asuhnya. "Oke dad, aku segera menyusulmu." Bram, berbisik ketelinga Fene, akan menemani daddy dilantai atas. Fene mengusap lembut punggung Bram. "Dad..." Bram mengetuk pintu sedikit terbuka, Edward sedang bersantai. "Ya, masuklah, tutup dan kunci pintunya." Edward merapikan kemejanya, duduk dihadapan Bram. "Saya akan berpisah dari Adriana, saya harap, kamu menjaga Adrian." Edward tertunduk mengusap wajahnya. "What...!! Apakah tidak ada jalan lain dad.?" Tanya Bram. "Hmmmm... Adriana telah menghianati aku." Edward mencoba bersahabat dengan hatinya. "Apa kamu serius dengan Fene.? Apa kamu mencintainya.?" Edward mengalihkan pembicaraannya. "Of cours dad, aku sangat mencintainya." Jawab Bram yakin. "Apa kamu sering menghabiskan waktu bersama Fene.?" Tanya Edward. "Hmmmm... Jujur setelah disini saja dad, apa ada yang mengganggu.?" Bram mencari tau, maksud dari pertanyaan Edward. "Bram, kamu adalah anak ku, Adrian juga anak ku, bedanya kamu anak kandungku, aku sangat memahami Adrian." Edward mengalihkan pandangannya. "Mmmm... maksud daddy.?" "Aku tidak ingin, apa yang terjadi padaku, terjadi pada mu. Aku sudah mendengar semua tentang Fene dan Adrian." Jelas Edward. "Hmmmm... aku mencintai Fene dad, sangat mencintainya." tegas Bram. "Oke, pertahankan, aku akan terus menjaga kalian. Apa kamu siap dengan semua kejutan.?" Edward tersenyum merangkul bahu Bram. "Maksud daddy.?" "Aku akan mengirim Fene menemui Mark, ditemani Adrian. Aku akan membuka tabir lebih kejam lagi, aku sudah mendapatkan bukti." Bram menelan salivanya, mendengar ucapan Edward, seakan-akan menakutinya. "Aku percaya pada Fene dad, Aku yakin. Fene wanita baik, tidak mudah di jebak." Tegas Bram. "Tapi Fene Terjebak dalam permainan ini Bram." Senyum Edward sinis. Bram mengehela nafas panjang bersandar di sofa. Mata Edward menatap Bram. "Apa kamu akan menikahi Fene.?" "Ya dad... Aku akan menikahi Fene, setelah misi ini selesai." Bram berdiri, memeluk Edward. "I love you dad. i love you so much." "I love you to son..." Edward membendung air matanya. Sesungguhnya hati Edward sangat rapuh. "Apa kita bisa menghabiskan malam bersama.?" Pinta Bram. "Why not." Edward merangkul bahu Bram, menuju ruangan keluarga dimana anak asuhnya berkumpul. "Uncle... kita akan berpesta.?" teriak Kevin. "Benarkah.?" Edward disambut hidangan mewah malam ini. 'Begitu hangat bersama mereka, setidaknya dapat melupakan semua kepenatan pikiranku.' "Guuuuys.... Erotis Netherland..." Kevin menggunakan pakaian erotis pria mencoba menari-nari dihadapan para sahabat. Semua tertawa bahagia, Kevin mempertontonkan gaya-gaya menggairahkan. "Ingat pesan Adrian, jangan jadi pecandu jika ingin kaya." Banyolan Kevin membuat keluarga menjadi hangat dengan tawa canda. Edward mendengar kata-kata itu tertawa seketika. 'Rasanya aku tidak ingin melepaskan mereka.'***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD